
Kini beralih kepada Nehra dan Steffa.
Steffa dan Nehra memutuskan untuk membawa mobil Kai sementara waktu karena Nehra terlihat lelah di saat ia tertidur di dalam mobil Kai. Steffa mengantarkan Nehra pulang ke rumahnya dengan alamat yang Kai berikan kepadanya.
"Wah.. apa ini rumah Nehra?" Ucapnya kagum saat masuk ke pekarangan rumah besar Nehra.
Waktu yang harus ia tempuh sekitar 20 menit perjalanan dari rumah Kai ke rumah Nehra. Steffa menepuk pelan pipi Nehra dan membangunkannya.
"Sudah sampai. Sekarang turunlah."
Nehra mengerjapkan matanya dan beberapa kali sembari mengucek matanya. Steffa membukakan pintu Nehra. Nehra pun bangun dengan setengah sadar.
"Dimana kita?" Tanyanya yang kemudian oleng seperti orang yang mabuk.
"Eh..eh.." Steffa segera menangkap tubuhnya yang sedikit lebih besar darinya dan perlahan memapahnya ke dalam rumahnya.
"Ini rumahmu. Tidak mungkin kau pulang ke rumahku."
"Aku tidak mau pulang, aku ingin pulang ke rumahmu saja." Rengek Nehra.
"Diamlah, badan kamu berat."
Steffa dengan susah payah memapahnya hingga ke depan pintu utama. Ia juga kesulitan memencet bel.
"Ting.. tong .."
Tidak ada siapapun yang merespon. Karena kesal, ia pun memencet bel berkali-kali hingga seseorang yang berpakaian seperti pembantu membukakan pintunya.
"Tuan Nehra, dia kenapa nyonya?" Tanya sang pembantu rumah Nehra.
"Dia sepertinya mabuk saat menaiki wahana roller coaster tadi. Tolong bantu saya bawa ke kamarnya ya Bi."
Dengan segera ia ikut merangkul Nehra hingga mereka tiba di kamarnya. Mereka berdua menidurkannya dengan pelan. Begitu Nehra berbaring di kasurnya, ia pun memijat pelan pundaknya yang pegal.
"Bi, tolong buatkan sup sekaligus ambilkan obat sakit kepala ya Bi."
"Baik Nyonya."
Pembantu Nehra langsung pergi dari kamar Nehra. Steffa menggulung lengan kemeja birunya yang panjang dan membantu melepaskan sepatu yang masih Nehra pakai. Ia juga membuka kancing baju Kai yang paling atas.
"Apa yang kau lakukan." Nehra mencegah tangan Steffa.
"Supaya kamu tidak tercekik. Tetaplah untuk diam dan jangan bergerak."
Nehra mengangguk sembari memejamkan matanya. Ia terus menggenggam tangan Steffa dan menyimpannya di atas dadanya. Detak jantung Nehra yang tidak karuan terasa di punggung tangan kanannya yang Nehra genggam.
Detak jantung tersebut seakan sengatan listrik yang langsung menyambung ke detak jantungnya dan berdetak secara bersamaan mengikuti irama jantung Nehra.
Entah berapa lama Steffa terpaku hingga sang pembantu Nehra kembali ke kamarnya dan membawakan makanan yang Steffa minta.
"Tok..tok.. tok.. permisi Nyonya."
Steffa langsung menghempaskan tangan Nehra begitu saja dan bergegas membukakan pintu. Ia pun menerima nampan yang dibawakan pembantu Nehra dan duduk kembali di sampingnya.
"Isi perutmu lagi dan minumlah obat ini agar kamu tidak sakit kepala lagi." Steffa mengaduk aduk nasi yang di siram dengan sup hangat dan meniup-niupkannya agar makan tersebut dingin.
__ADS_1
"Ayo duduk sebentar dan makanlah."
Steffa membantunya duduk, dan memainkan mata Nehra yang terpejam dengan malas.
"Aku tau kau berpura-pura. Setidaknya makanlah sesuatu."
Nehra melihatnya dengan mata yang sayu dan membuka mulutnya yang sangat enggan untuk mengunyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Kau tidak perlu mengurusku, kau bisa pergi dari sini dan beristirahatlah."
"Tetaplah diam dan makanlah, tidak perlu banyak berbicara."
Steffa dengan cepat-cepat menyuapkan sesendok makanan dengan kasar hingga membuat Nehra hampir tersedak.
"Hei, kau ingin membuatku mati?"
"Untuk itulah aku bilang tetaplah diam."
Nehra menghela nafasnya panjang dan kembali memakan suapan dari Steffa. Seketika ia pun tersenyum melihat wajah Steffa yang begitu perhatian.
"Kenapa senyam-senyum? Anda waras?"
"Aku tidak waras untuk sekarang."
Steffa memutar bola matanya malas dan menggidikkan bahunya. Ia memilih untuk diam hingga terlintas suasana terbesit di pikirannya.
"Kenapa kau membungkam mulutku saat di mobil tadi?"
"Alena memintaku untuk membuat Kai dan Flova benar-benar jatuh cinta."
"Maksud kamu? Mungkinkah Alena tau pernikahan Kai dan Flova itu hanya sebuah kontrak?"
FLASHBACK ON
Satu hari setelah acara perayaan kemenangan Alena dan Desta.
"Drrtt..drrtt ..drrtt...drrttt ...."
Ponsel Nehra berbunyi di saat ia sedang berkendara di jalan. Sebuah nomor tidak di kenal tertera di layar handphonenya dan karena ia penasaran, ia memilih untuk menjawabnya.
"Hallo.." ucap Nehra yang kebetulan berhenti di lampu merah.
"Hallo kak Nehra, ini Alena." jawab orang di seberang telepon.
"Oh Alena. Ada apa sayang?" tanya Nehra.
"Kakak datang ke perusahaan ayah yah, Alena di sini sendirian, tidak ada yang menemani Alena bermain. Kakak bisa datang kan?"
"Hm.. boleh saja. Kakak akan datang. Tunggu kakak ya.."
"Baiklah."
Nehra segera mematikan telepon tersebut bersamaan dengan lampu yang berubah menjadi hijau. Ia pun belok ke kanan dan membeli beberapa camilan untuk Alena.
...*****...
__ADS_1
Nehra langsung saja ke ruang bermain dimana Alena berada. Alena sedang sibuk bermain rumah-rumahan.
"Alena.."
Alena langsung melihat ke arahnya dan tersenyum senang melihat Nehra yang sudah datang ke ruangan tersebut.
"Sini kak."
Alena melambaikan tangannya dan Nehra pun menghampirinya. Ia meletakkan jas di tempat khusus dan duduk di sampingnya.
"Nih, kakak bawakan camilan untuk Alena."
"Wah, terimakasih kakak."
Alena segera membuka makanan ringan yang di bawakan Nehra dan langsung memakannya.
"Kak Nehra, maksud dari kontrak itu apa?" tanya Alena sembari memakan camilan.
"Kontrak itu sebuah perjanjian yang memiliki batas waktu tertentu." jawab Nehra.
"Seperti itu ya, jadi pernikahan ayah dan bunda itu memiliki batas waktu tertentu."
"Hm.. Kamu sudah tau semuanya?" tanyanya kaget.
"Hm.. sebelum pesta kemenangan lomba Alena dan Desta kemarin, Alena sempat denger percakapan ayah dan bunda. Mereka bilang, waktu itu hanya tinggal 98 hari lagi, jadi kemungkinan waktu mereka sekarang hanya tinggal 89 hari lagi." ucap Alena dengan sedih.
Nehra hanya bisa diam mendengar perkataan Alena yang sudah tau bahwa pernikahan orang tuanya hanya tinggal 89 hari lagi.
"Hm.. Tidak perlu sedih. Begini saja, apa ada hal untuk membuat Alena senang kembali?"
"Buat Ayah dan bunda jatuh cinta dalam waktu 89 hari."
"Untuk hal itu, kakak juga butuh bantuan Alena."
"No problem."
Alena membentuknya jarinya dengan Ok. Nehra pun ikut tersenyum dan mengelus kepala Alena.
FLASH BACK OFF
"Alena sudah tau semuanya. Kasihan dia." ucap Steffa.
"Untuk itulah, tidak ada cara lain. Aku akan berusaha membantu mereka sebisa aku. Karena itu juga tergantung dari hati dia insan masing-masing. Aku tidak dapat memaksanya."
"Hm.. Jadi, aku juga harus ikut turun tangan dalam hal ini. Cepat atau lambat, Alena juga pasti akan memintaku untuk mendekatkan mereka berdua. Hmm.. kalo di pikir-pikir cocok juga mereka berdua, tapi kenapa pake drama kontrak segala si. Heran..."Ucapnya sembari menggeleng.
"Orang kaya jatuh cintanya berbeda."
Steffa mengangguk membenarkan perkataan Nehra. Karena tak ada hal lain yang mereka bahas, Steffa pun memilih untuk lekas pulang dari rumah Nehra.
Ia membawakan nampan yang ada sebuah mangkok dan gelas yang sudah kosong ke luar kamarnya. Ia bertemu dengan pembantu rumah Nehra dan memberikan nampan tersebut kepadanya.
"Bi, saya pamit pulang ya. Nehra sudah makan dan sedang beristirahat. Saya pamit ya Bi."
"Iya Nyonya hati-hati."
__ADS_1
Steffa lantas saja pulang dengan mobil Kai dan meninggalkan pekarangan rumah besar Nehra.
//**//