
Hari ini tepat satu minggu pernikahan Kai dan Flova. Tepat di hari Minggu ini, dan sesuai dengan isi perjanjian yang sebelumnya mereka sepakati, mereka melaksanakan liburan bersama.
Di minggu pertama ini, mereka memilih untuk piknik di kebun raya kota J. Hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai di tempat tersebut. Mereka memutuskan untuk lesehan di bawah pohon rindang agar terlindungi dari sinar matahari yang terik pagi ini.
"Ayah, bunda. Kapan-kapan ajak Desta juga ya." pinta Alena yang sedang menikmati buah semangka.
"Iya sayang, pasti Desta kapan-kapan di ajak kok." ucap Flova sembari mengelap mulutnya yang penuh dengan air semangka.
"Flova, besok buatkan aku berkas kontrak kerja sama dengan perusahaan ayah Desta. Ayah Desta adalah pemilik dari perusahaan RNB yang mengelola tambang emas. Kita bisa bekerjasama sama sekaligus bisa menambah stok pembuatan kalung yang perusahaan X." ucap Kai.
"Baiklah. Oiya, kemarin aku sudah memeriksa berkas yang kamu berikan. Kelihatannya dari scene yang mereka buat, perlu di perbaiki lagi. Nanti sore akan aku beritahu."
Alena hanya melihat orang tuanya dengan bingung yang hanya memperhatikan sebuah pekerjaan.
"Ayah, bunda. Ini hari Minggu, bisakah kalian tidak membahas pekerjaan sekarang? Aku butuh ayah dan bunda. Aku ingin bermain-main dengan ayah dan bunda seperti mereka."
Alena menunjuk keluarga yang sedang bermain bersama dan saling mendorong di sebuah ayunan. Kai dan Flova hanya saling menatap bingung satu sama lain.
"Alena mau seperti itu?" tanya Kai sembari menatap mata Alena yang penuh dengan harapan sembari mengangguk.
"Baiklah, ayo ikut ayah."
Alena menggandeng tangan Kai, Flova hanya diam sembari memakan stroberi segar yang ia bawa di keranjang piknik. Kai pun menyodorkan tangannya pula kepada Flova. Flova hanya berkedip bingung dan kemudian memegang tangan Kai dan membantunya berdiri.
Kai menggendong tubuh Alena dan menggandeng tangan Flova dengan tangan kirinya dan berjalan ke tempat dimana banyak sepeda berjejeran.
"Kita naik sepeda bersama yuk." ajak Kai dan dengan semangat langsung diangguki oleh Alena.
"Cekrekk.."
Dari kejauhan, seorang fotografer memotret kebersamaan mereka yang akan menaiki sepeda. Kai hendak memberikan helm kepada Flova , namun Flova menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa bersepeda."
__ADS_1
Kai memicingkan matanya dengan bingung. "Naiklah bersamaku, taman kota ini sangat luas, akan lebih baik kita menikmati sembari bersepeda."
Flova mengangguki perkataan Kai. Tak lama, seorang fotografer yang memotret mereka menghampirinya.
"Permisi, tadi saya tidak sengaja memotret kalian. Barangkali fotonya mau di ambil."
Kai dan Flova hanya terdiam, namun Alena dengan semangat langsung menarik baju orang tersebut.
"Paman, bolehkah aku lihat?"
Sang fotografer tersebut pun akhirnya menunjukkan foto tersebut kepada Alena. Dia melihat gambar tersebut disaat Kai yang sedang memasangkan helm kepada Alena dan Flova yang tersenyum senang, sangat indah terpampang jelas di layar kamera fotografer tersebut.
"Aku ambil paman, oiya ikut kami juga ya. Paman abadikan momen kami di sini, bagaimana?"
Sang fotografer hanya kebingungan, karena hal itu diminta oleh anak kecil. Kai pun turun tangan dan mengangguk setuju dengan permintaan Alena.
"Kami ambil mas, ikuti saja ucapannya. Saya yang akan bayar semuanya nanti."
Mereka menikmati minggu pertama hingga sore hari. Dan berakhir untuk makan malam di sebuah restoran mewah di dekat taman kota. Alena makan dengan lahap sembari menikmati lampu kota yang terlihat dari gedung berlantai 7.
"Ayah, pasti makanan di sini sangat enak, pasti sangat mahal. Apa tidak apa ayah?"
"Tidak apa, Alena makanlah yang banyak, besok Alena harus ikut lomba bukan?" Jawab Kai.
"Iya, besok ayah dan bunda datang kan?"
Kai hanya terdiam membeku, mengingat besok banyak jadwal meeting yang harus dilakukan dan juga pertemuan-pertemuan dengan beberapa klien yang tidak bisa ia tunda.
"Iya, besok ayah dan bunda pasti datang ke sana. Alena jangan khawatir ya." ucap Flova dan diangguki setuju oleh Alena.
...*****...
Di malam hari, Kai dan Flova menuntaskan pekerjaan mereka. Beruntung Flova mengosongkan jadwal untuk esok hari, sehingga ia hanya perlu menyusun jadwal padat di hari berikutnya.
__ADS_1
"Flova, besok aku banyak jadwal meeting bukan?"
"Aku kosongkan jadwal mu besok. Meeting diadakan lusa, dan hari-hari berikutnya agar dapat terlaksana dengan baik dan terorganisir. Aku sengaja menyusun jadwal mu agar tidak terlalu padat dan tetap bisa beristirahat walaupun hanya sebentar." ucap Flova sembari mengotak atik laptopnya.
"Kau mengaturnya dengan baik, bahkan lebih baik dari sekertaris sekertaris yang pernah ada di sampingku. Dan, ku rasa setelah ini aku tidak bisa melepaskan mu begitu saja. Sebelumnya aku tidak makan dengan baik, dan sering meninggalkan makan siang, tetapi berkat kamu, aku makan dengan teratur. Tunggu, kenapa tiba-tiba.."
"Dudug..dudug..dudug.." Suara jantung Kai terdengar dengan jelas di telinganya.
"Jantungku normal bukan? Apa aku tadi memujinya? Apa aku mengharapkannya?"
Kai melihat ke arah Flova yang sedang duduk di kursi depan meja kerjanya. Sedangkan ia memilih untuk mengerjakan pekerjaannya di ranjangnya sendiri.
"Oiya, aku tunjukkan sesuatu hal mengenai scene yang di berikan oleh Rosan."
Kai pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Flova yang sibuk di mejanya.
"Di bagian scene 5, tidak ada proporsi bentuk di setiap kalung yang diluncurkan. Di scene 10, seharusnya menambahkan beberapa orang untuk mencoba produk kalung ini, dan di scene 13, kurangi gaya pembicaraan yang terlalu bertele-tele. Hanya itu saja." ucap Flova yang diangguki oleh Kai.
"Baiklah, aku akan minta file dari Rosan, kamu atur saja, kirimkan padaku ketika semua sudah selesai."
Flova mengangguk dan melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia terlebih dahulu membuat proposal kerja sama yang tadi siang Kai perintahkan. Namun, pekerjaannya terhenti di tengah jalan karena rasa kantuk yang tidak tertahankan.
Kai tersadar Flova tak lagi bergerak dan tertidur di atas laptop yang masih menyala. Ia menggelengkan kepalanya dan terpaksa menggendong tubuh Flova ke kamarnya.
"Berapa kali lagi aku harus menggendong mu seperti bayi?"
Ia meletakkan tubuh Flova pelan dan menutup tubuh Flova sebelum meninggalkannya. Merasa ruangan tersebut dingin, Kai pun memutuskan untuk mengecilkan suhu di dalam kamar Flova.
Ia keluar dari kamar Flova dan mematikan laptop Flova yang masih menyala. Namun, ia berhenti sejenak di saat ia akan mematikan laptop Flova. Layar laptop Flova menyajikan gambar mereka bertiga di saat mereka sedang menikmati taman kota siang tadi.
Ia tersenyum sejenak dan memutuskan untuk mematikan laptop tersebut. Ia pun bergegas tidur untuk melanjutkan aktivitasnya di pagi hari untuk Alena.
//**//
__ADS_1