Unlimited Love

Unlimited Love
66. "Kamu Kenapa?"


__ADS_3

Kai dan Flova memutuskan untuk mampir ke rumah mertuanya atas kemauan Alena. Alena meminta mereka untuk mampir sekaligus mengantarkan kue kepadanya. Flova terkejut akan kedatangannya secara tiba-tiba.


"Kevin, bagaimana kau tau aku di sini?" tanya Flova sembari mengelap keringatnya dengan punggung tangannya.


"Aku bertanya kepada Alena tadi siang. Dia berkata bunda sedang latihan dansa untuk menghadiri pesta dansa. Jadi, aku memutuskan untuk ke sini."


Kevin memberikan air minum dan juga handuk kecil yang ada di atas tas milik Flova yang tergeletak di atas lantai.


"Terimakasih Kevin."


Flova duduk di atas lantai dan bersandar dinding. Kevin pun ikut duduk di sampingnya.


"Bagaimana latihan hari ini? Pasti sangat melelahkan ya, apalagi terus berpura-pura menjadi istri Kai." ucap Kevin.


Flova justru tersenyum kecil. Kevin menjadi kebingungan melihatnya. "Kenapa tersenyum?"


"Kami berkencan." ucapnya dengan senyum yang mengembang cerah tersirat di wajahnya.


'Deg.'


Tidak dengan Kevin, seketika rasanya seperti patah di dalam dadanya. Wanita yang ia kira bisa di dapatkan, terlebih dahulu di dapatkan oleh orang lain. Menyesal, karena tidak segera memberitahukan perasaannya kepada Flova terlebih dahulu.


"Kevin, apa kau masih menyimpan foto kita berdua saat masih kecil?" tanya Flova.


"Hm.. memangnya kenapa?" tanyanya kemudian.


"Apa aku boleh melihatnya?" tanya Flova.


Kevin pun mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah foto kepada Flova. Dengan segera, Flova membuka aplikasi percakapan mereka berdua. Beruntung, Kevin sudah menyimpan di ponselnya, sehingga dengan mudah ia memperlihatkannya.


"Kevin, anak kecil ini aku?" tanya Flova sembari terus memperhatikan ponselnya.


"Iya, itu kamu? Memangnya Kenapa? Apa kau tidak mengingat semua masa kecilmu?"


"Iya, aku tidak mengingat semuanya. Pikiran ku kosong saat aku akan mengingatnya. Memangnya aku Kenapa?" tanya Flova bingung.


Teringat saat Steffa melarangnya untuk mengingatkan Flova tentang masa lalunya, dengan segera ia pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa Flova. Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Kevin.


"Aku rasa ini bukan aku, yang aku lihat di sini, anak kecil ini menggunakan pakaian yang mewah , pada saat itu pasti harganya mahal. Tetapi, melihat kehidupanku, aku rasa bukan aku. Atau, aku memang anak yang di buang?" tanya Flova ngawur dan membuat Kevin tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha.. bicaramu sangat ngelantur Flova. Tentu saja bukan. Kamu anak paman Nelson dan bibi Kartika. Mungkin, pakaian ini di belikan oleh paman atau saudara ayahmu yang lain." jawab Kevin.

__ADS_1


Flova mengangguk setuju dengan apa yang Kevin katakan. "Oiya, apa benar, dahulu aku pernah masuk ke ruang pendinginan di saat aku umur 8 tahun?" tanya Flova lagi.


"Eum.. yang aku ingat, saat itu kau memaksa paman yang akan bekerja untuk ikut bersamanya. Kau bersikeras untuk ikut, padahal aku ingin bermain bersamamu sebelum aku ke luar kota. Namun, sore harinya di saat itu aku mendengar kamu masuk ke rumah sakit. Aku meminta kepada mama dan papa untuk menjenguk mu sekaligus berpamitan, tetapi di saat itu kamu tertidur pulas, sehingga aku memutuskan untuk menitipkan salam saja kepada paman dan bibi." ucap Kevin panjang lebar.


Flova mengangguki perkataan Kevin dan percaya dengan semua perkataannya. Tetapi, memang benar itu kenyataannya.


"Baiklah, aku harus pulang. Apa jawaban itu cukup untuk memenuhi semua pertanyaan yang ada di otak kamu?" tanya Kevin.


Flova mengangguk. "Hm.. sudah. Baiklah jika kau mau pergi. Berhati-hatilah."


Kevin mengangguk mengiyakan dan bangkit untuk meninggalkan Flova di ruang latihan. Flova pun kembali melanjutkan latihannya bersama dengan para pelatihnya.


...*****...


Kevin tak langsung pulang ke rumah, ia memilih pergi ke bar untuk menenangkan pikirannya.


Tak sengaja, Rosan pun kebetulan turut ada di dalam bar yang sama. Rosan pun menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Kevin, untuk apa kamu ada di sini?" tanya Rosan.


Kevin meminum satu gelas minuman beralkohol hingga tandas dan menghela nafas panjang sebelum ia menjelaskan semuanya.


"Flova dan Kai sudah berkencan sekarang."


Rosan pun kaget mendengar pernyataannya. Sebuah rencana yang akan ia susun untuk mendekati Kai, gagal bahkan sebelum ia menjalankannya.


"Mungkin saja. Mereka berdua sebenarnya sudah menyukai satu sama lain, namun mereka memilih untuk meredam perasaan mereka. Dan kini, aku tidak bisa mendapatkan Flova lagi."


Kevin meminum satu gelas lagi di susul dengan Rosan yang juga ikut minum untuk menenangkan pikirannya. Namun, baru beberapa teguk ia minum, tangannya bergetar dan ia pun merasa cemas.


Kevin yang masih sadar pun memeluk pundaknya yang bergetar. Terasa juga, seluruh badannya ikut bergetar.


"Kamu kenapa?" tanya Kevin panik.


Rosan tidak bisa berkata apa-apa. Kevin pun memindahkannya ke ruang yang lebih sepi, kemudian memberinya air mineral.


"Kevin, tolong pesankan aku taksi. Aku ingin pulang."


"Bisa berjalan?"


Rosan menggelengkan kepalanya dan Kevin pun mengangkat tubuhnya. Ia pun membawanya ke depan bar dan menghentikan sebuah taksi untuknya. Di antarkan di dalam taksi dan di dudukkan secara perlahan.


"Terimakasih Kevin."

__ADS_1


Kevin mengangguk. "Berhati-hatilah."


Lekas saja sang pengemudi taksi tersebut menjalankan mobilnya meninggalkan Kevin.


Di dalam taksi, Rosan berusaha mengatur nafasnya agar dirinya bisa kembali tenang.


...*****...


Ponsel Rosan berbunyi beberapa kali. Usai ia membersihkan diri, lantas saja ia mengangkat ponselnya karena tak mungkin ia terus mengabaikan ibunya.


"Hallo ma? Ada apa menelepon?" tanya Rosan.


"Bagaimana? Kau sudah mendapatkan hati Kai?" tanya sang ibu Rosan.


Rosan meneguk salivanya kasar. Ia mengepalkan tangannya yang kembali mulai bergetar.


"Belum ma. Maaf. Dan, sekarang mungkin aku tidak bisa mendapatkannya karena ia sudah resmi berkencan dengan istri palsunya itu." jawab Rosan.


"Apa! Dasar anak tidak berguna! Sudah satu bulan lebih kau di sana dan hingga saat ini kau masih belum mendapatkannya! Jangan harap kamu bisa pulang, sebelum kamu mendapatkan Kai! Dan apabila masih belum bisa juga, jangan pernah datang ke rumah ini lagi!!"


Langsung saja sang ibu memutuskan teleponnya. Mendengar semua bentakan sang Ibunya. Rosan kembali lemas. Dengan segera, ia mengambil obat di kotak obatnya agar ia bisa kembali tenang.


"Aku harus bagaimana sekarang?"


...*****...


Kai sore ini sangat manja kepada Flova. Ia terus menerus tidur di pangkuannya bersama dengan Alena sembari memakan camilan. Namun, Flova merasa kesal karena ia tidak sedikit pun di perbolehkan mencicipi makanan yang tengah mereka makan.


"Bangun kalian berdua!"


Kai dan Alena pun bangun, namun tetap dengan memakan camilan yang Flova sediakan khusus di dalam rumah.


"Jika kalian ingin makan, berbagilah dengan orang di sekitar kalian. Beri aku sedikit, tolong." pinta Flova kemudian.


Kai melirik ke arah Alena. Alena pun mengambil satu camilan, dan menyuapkannya ke mulut Flova. Namun, begitu Flova membuka mulutnya, Alena memasukan camilan tersebut ke dalam mulutnya sendiri.


Flova kesal di buatnya dan hendak meninggalkan mereka berdua. Tetapi, Kai memegang tangannya sehingga ia terduduk kembali di tempatnya.


Kai mengambilkan satu buah camilan yang di pegangnya dan menyuapkannya kepada Flova. Flova ragu begitu camilan itu ada di depan mulutnya. Kai pun meyakinkan Flova sembari mengangguk dan Flova pun memakan camilan dari tangan Kai.


"Sudah, tidak perlu marah lagi ya nyonya Pradipta."


"Beri aku satu lagi."

__ADS_1


Kai menggelengkan kepalanya sehingga dengan cepat ia mendongakkan kepalanya ke atas dan menghabiskan camilan yang tersisa sedikit dengan cepat. Flova melihat ke arah Alena. Alena juga melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan oleh Kai. Flova hanya bisa menghela nafas pasrah, melihat ayah dan anak beda darah tersebut.


//**//


__ADS_2