Unlimited Love

Unlimited Love
77. "Jangan di baca papaaaa..."


__ADS_3

Di bawanya Flova ke rumah sakit Pradipta. Ia langsung di tangani di ruang VIP dan memanggil dokter khusus untuk Flova. Ia duduk di luar dan menelepon seseorang.


"Hallo, tolong kamu periksa CCTV. Copy videonya dan kirimkan padaku." Ucapnya.


Dia langsung saja menutup teleponnya, dan tidak menunggu waktu lama, video tersebut di kirimkan. Ia pun kembali menaruh handphonenya di sakunya.


Tak lama kemudian, sang dokter keluar. Kai berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri sang dokter.


"Bagaimana dengan Flova dokter? Apa lukanya parah?" tanya Kai.


"Beruntung luka di kepalanya tidak cukup serius, tetapi tangan dan kakinya sedikit cidera. Jadi, nona Flova harus berjalan menggunakan kursi roda untuk sementara waktu. Serta, lengan kanannya juga harus di gips. Pastikan nona Flova tidak terlalu menggerakkan lengan dan kakinya, karena bisa membuat cedera yang lebih serius nantinya." jelas sang dokter dengan panjang lebar.


"Apa boleh saya menjenguknya?" tanya Kai.


"Tentu saja. Tetapi, Tuan harus tetap tenang karena nona Flova sedang beristirahat di dalam."


Kai mengangguk dan masuk ke ruangan Flova usai sang dokter pergi. Ia menghela nafas panjang melihat Flova terbaring di atas ranjang rumah sakit. Ia pun duduk di kursi yang ada tepat di samping ranjang Flova. Ia memegang tangan kirinya dengan lembut dan mengusap jari-jarinya.


"Aku akan terus menjagamu, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu dan keluargamu lagi. Aku akan benar-benar menjagamu agar kejadian itu tidak terjadi lagi. Aku janjikan hal itu."


Flova yang masih belum terlalu larut dalam tidurnya langsung membuka matanya melihat Kai. Ia menggenggam balik tangan Kai dan membuat Kai menoleh ke arahnya.


"Apa maksud perkataan mu tadi, Kai? Kau tau semua masa laluku?" tanya Flova.


Seketika Kai terdiam dan melepaskan tangannya dari genggaman Flova. Ia menelan salivanya kasar dan memilih melihat ke arah lain.


"Tidak Flova, aku tidak tau apapun." jawab Kai.


"Lalu, katamu di saat aku terjebak di sebuah ruang pendinginan? Bagaimana?" tanya Flova.


Kai terdiam sejenak. Ia hanya bisa menunduk dan kembali menghela nafas.


"Sepertinya aku salah mengenai hal itu. Ku rasa itu bukan kamu."


Flova menganggukkan kepalanya dan turut menghela nafas panjang. Ia tidak tau lagi harus berkata apa mengenai dirinya.


"Sepertinya benar. Kai mengetahui sesuatu tentang masa laluku dan kehidupan ku. Apa yang membuat Kai dengan gigih merahasiakannya dariku? Apa masa lalu kami terlalu buruk untuk di ingat lagi?" pikirnya.


"Sepertinya kau harus beristirahat. Aku akan keluar untuk mencari makan siang. Bila kau butuh sesuatu, pencetlah tombol di samping kirimu, atau kau bisa panggil aku. Aku akan menjagamu di ruangan sebelah sembari bekerja, agar aku tidak menganggu istirahat mu."


Flova mengangguk. Kai lekas berdiri dan tersenyum ke arahnya. Ia mengelus puncak kepalanya dengan pelan.


...*****...


Steffa tengah duduk di meja kerjanya sembari menyetok banyak makanan di dalam ruangannya. Mejanya saat ini penuh dengan beragam plastik snack yang ia makan selama makan siang berlangsung.


Ia duduk sembari melihat lihat berita di situs webnya. Tangan kirinya pun turut bergerak mengambil makanan yang ia suapkan ke mulutnya sendiri.


Nehra datang, ia kaget dengan kelakuan wanita yang dengan akrab di kenal sebagai sekretarisnya. Ia pun menghampirinya.

__ADS_1


"BRRAKK.."


Nehra yang berniat menggebrak meja, terlebih dahulu Steffa yang menggebrak meja tersebut. Nehra terperanjat kaget dengan ulahnya. Sementara Steffa masih fokus dengan handphone yang di pegangnya dengan tatapan serius.


"Steffa! Kenapa tiba-tiba kau memukul meja seperti itu?" tanya Nehra sembari memegang jantungnya.


"Bukan web mu, dan lihatlah apa yang ada di sana."


"Aku tidak ingin membukanya, memangnya ada apa?"


Steffa buru-buru membereskan semua sampah yang ada di meja kerjanya. Ia juga membereskan peralatan make up-nya ke dalam tasnya. Nehra hanya kebingungan tidak tau arah mengenai apa yang terjadi.


"Mau kemana kamu?"


"Flova jatuh dari eskalator kantor Kai, aku akan ke rumah sakit untuk menjenguknya. Kau bisa mengetahui informasi lengkapnya melalui internet. Aku harus pergi."


Steffa langsung meninggalkannya begitu saja. Nehra tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Ia pun memilih membuka internetnya. Matanya langsung terbelalak melihat nama Flova dan Kai trending dan menjadi pencarian terpanas di internet. Ia langsung membuka berita tersebut dan membacanya.


"Orang ketiga dengan gamblang masuk ke kehidupan keluarga kecil Kai Balang Pradipta. Manda di sebut oleh pelakor oleh sang istri sah Presdir Kai. Sang istri perusahaan X di duga di dorong oleh sang pelaku dan langsung di larikan ke rumah sakit oleh suaminya."


Lekas saja Nehra pun mencoba menghubungi Kai, namun nomor nya tidak aktif. Ia pun meninggalkan ruangannya dan langsung turun menuju ke parkiran.


Tepat di samping mobilnya, Steffa masih berada di sana. Nehra melihat dari depan mobilnya. Steffa yang melihat Nehra pun langsung menurunkan kaca sampingnya. Nehra pun menghampirinya dengan bingung.


"Ada apa?"


"Sepertinya mobil ini mogok. Mesinnya tidak bisa menyala."


Steffa diam dan melamun. Nehra pun menarik tangannya dan membuat Steffa bingung.


"Tidak perlu banyak berfikir. Ini tentang sahabat baik kita." ucap Nehra.


"Kita harus menjemput orang tua Flova terlebih dahulu. Pastikan agar mereka tidak tau. Aku takut mereka akan syok apabila mendengar kabar ini." ucap Steffa.


Nehra mengangguk dan membukakan pintu untuk Steffa. Steffa pun duduk tanpa ragu di sampingnya.


Nehra mengendarai mobilnya dengan sedikit cepat, hingga tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah orang tua Flova.


"Selamat siang ma, pa. Kami datang untuk menjenguk kalian." sapa Steffa.


Nehra dan Steffa pun di persilahkan masuk oleh orang tua Flova. Ibu Flova sibuk mengupas apel dan ayah Flova sibuk meminum kopi sembari memegang koran.


Steffa yang melihat tentang berita Flova tepat menjadi berita utama lekas saja ia berlari dan merebut koran tersebut. Ia pergunakan sebagai kipas di depan wajahnya yang sudah sangat memerah.


"Kenapa Steffa?" tanya mama Flova.


"Maaf pah. Aku kepanasan. Biarkan aku mendinginkan diriku menggunakan koran ini." ucap Steffa.


Ayah Flova merebut kembali koran yang di pegang Steffa dan melihat tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Kau bisa pakai koran yang lama. Ambi saja di belakang. Aku harus membaca berita utama hari ini." ucap


Ayah Flova meluruskan koran yang ada di tangannya sembari meminum kopi. Steffa dengan sengaja menghentakkan kakinya dan membuat semua orang terperanjat kaget.


"Oh iya.."


Ayah Flova langsung membuat koran yang di pegangnya basah. Nehra hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah lakunya.


"Maaf pah, Steffa ngga sengaja. Sini biar Steffa yang bersihin."


Steffa ke belakang untuk mengambil lap. Ayah Flova mencoba membuang sisa kopi yang menetes di koran nya. Namun, matanya dengan jeli melihat putrinya di samping Kai.


"Ini Flova, ada berita apa dia?"


Steffa membelalakkan matanya ketika hendak pergi. Ia pun berbalik arah, namu sang Ayah Flova sudah terlebih dahulu memakai kacamata dan melihat berita tersebut.


"Rumah tangga Kai dan Flova kedatangan pelakor?"


"Jangan di baca papaaaa..."


Steffa hendak meraih koran yang di pegang oleh ayah Flova, namun yang ada, dia terjatuh akibat tersandung meja makan.


Nehra dan sang ibu Flova lekas membantu Steffa berdiri. Sedangkan ayah Flova membaca artikel tadi dan membuatnya terbelalak.


"Apa! Flova masuk rumah sakit? Nehra, Steffa antarkan kami ke rumah sakit Flova di rawat cepat!"


"Apa! Rumah sakit? Flova kenapa?" tanya ibu Flova dengan panik.


"Maaf Tante, Flova pasti baik-baik saja. Kalian tenang lah.." ucap Steffa sembari merangkul ibu Flova.


Steffa berdiri sendiri dan menghampiri ayah Flova.


"Antarkah Aku ke sana! Cepat."


Tidak ada cara lain yang harus di lakukan. Caroon langsung marah dan lekas menyuruh Nehra agar menyusul mereka.


"Tapi, mama dan papa janji jangan ganggu mereka."


"Dan Alena?" tanya ibu Flova.


"Dia akan ke rumah sakit dan di antarkan oleh Kevin. Kalian tidak perlu khawatir. Kita akan ke sana sama-sama." ucap Steffa.


"Apa kakimu baik-baik saja?" tanya Nehra.


"Tidak perlu khawatir. Sebaiknya bersiap. Kita harus cepat berangkat."


Kedua orang tua Flova langsung menuruti


nya. Dengan cepat, mereka langsung berangkat ke rumah sakit di mana Flova di rawat.

__ADS_1


//**//


__ADS_2