
"Kak, kenapa kalian berdua diam? Apakah ada masalah?" tanya Alena memecahkan keheningan di dalam mobil yang ia tumpangi.
" Tidak apa, jangan di pikirkan Alena, ini adalah masalah kami berdua." jawab Nehra sembari melihat Steffa sinis, begitu pula dengan lawan yang ia tatap.
"Oiya, tumben hari ini kamu mengajak kakak jalan-jalan, apakah ada masalah dengan kedua orang tuamu?" tanya Nehra lagi.
"Benar, ayah dan bunda sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Dan, Tante lampir itu mencoba menggoda ayah tadi pagi, tetapi Grandpa memarahinya." kata curhatan Alena.
"Lalu, bagaimana sekarang?" tanya Nehra.
Mereka berdua terdiam. Orang yang duduk di samping Nehra, tidak fokus dengan apa yang di bicarakan oleh mereka berdua. Ia sibuk memegangi perutnya.
"Permisi, maaf ya Alena, bisakah kita mampir sebentar untuk membeli sarapan terlebih dahulu. Kakak belum sempat sarapan tadi."
"Iya kak ayo. Kak Nehra, kita ke restoran dulu."
"Okey nona kecil."
Nehra pun sedikit mempercepat laju kendaraannya menuju ke restoran terdekat di wilayah yang ia lalui. Hingga mereka berhenti di suatu restoran mewah yang menurut mereka cocok untuk sarapan.
Hingga saat hidangan di sajikan, mereka kembali memulai pembicaraan yang akan mereka bahas mengenai Kai dan Flova.
"Bagaimana sekarang? Apa yang harus kakak lakukan?" ucap Nehra yang kali ini sangat bingung.
"Memangnya ada apa?" tanya Steffa kemudian.
"Kak Steffa , ada berita baik dan juga berita buruk." Steffa melihat ke sampingnya dimana Alena sedang menunduk sedih.
"Sesungguhnya, Grandma sudah menerima Alena, tetapi tidak dengan bunda. Grandma masih tidak menyukainya. Dan, aku dengar dari Grandma dan kak Lampir, bunda ingin segera mengakhiri pernikahan dengan ayah. Mereka berdua juga ingin aku jauh dari bunda. Alena harus bagaimana?" ucap Alena sedih.
"Tenang sayang, ayah kamu tidak akan bisa jauh dari bunda. Kakak yakin, disaat mereka semakin menjauh, itu akan membuat hati mereka tergerak sendiri untuk saling mendekat. Alena jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."
Steffa mengelus pundak Alena dan mencoba menenangkannya.
"Kakak, ada satu cara agar ayah dan bunda Alena bisa semakin dekat." ucap Steffa untuk menyemangati diri Alena.
"Benarkah? Bagaimana?" ucap Alena antusias.
"Alena selesaikan makannya terlebih dahulu, baru kakak kasih tau rencananya."
Alena mengangguk dan lekas menyelesaikan sarapan paginya dengan semangat agar bisa langsung mendengarkan rencana dari Steffa.
...*****...
Di kediaman keluarga Kai, Flova sendiri memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar area rumah, melihat pemandangan sekitar taman belakang di rumah yang besar tersebut. Menikmati udara pagi yang segar sembari duduk di sebuah ayunan yang ada di taman tersebut.
"Alena sedang apa sekarang?" batin Flova.
Di saat Flova bersantai, orang yang tidak ia harapkan untuk datang seketika membuat moodnya berubah. Ingin pergi dari tempat tersebut, ia pun bangkit. Namun dengan cepat, Rosan menghentikan nya.
__ADS_1
"Nona Flova sudah sadar diri ya sekarang, aku datang, kau malah pergi." ucap Rosan yang bermaksud menyindirnya.
"Maaf Rosan, aku pergi karena kedatanganmu yang tidak tau diri itu terus saja mengganggu waktu bersantai ku. Lebih baik aku pergi, daripada aku muntah tepat di depan wajahmu yang tidak tau malu dan tidak tau diri itu."
"Jaga ucapanmu itu Flova. Aku sudah tau semuanya bahwa pernikahan kamu dan Kai adalah palsu. Lihat saja, siapa yang nanti akan tau diri. Karena kamu, pasti akan cepat tersingkirkan dari hidup Kai dan keluarganya."
Flova sedikit terkejut, namun ia berusaha tetap tenang, agar serangan yang di lontarkan dari mulut Rosan kepadanya membuat malu dirinya sendiri.
"Yah, walaupun pernikahan kami palsu, tetapi rasa sayang kami ke Alena bukanlah hal kepalsuan. Dan, melihat kamu yang seperti ini, aku berfikir bahwa Kai pasti tidak akan pernah jatuh cinta kepadamu."
"Jangan sombong kamu, belum tentu yang di katakan kamu itu benar. Dan lihat saja nanti, perlahan Kai akan meninggalkanmu dan memilih untuk menikah bersamaku."
Flova memilih pergi daripada terus-terusan berdebat dengan Rosan. Dan, ia pun akhirnya memilih untuk keluar mencari udara segar.
"Huh, Rosan benar-benar membuat ku tidak tenang. Ingin sekali rasanya untuk pulang." Celotehnya di sepanjang jalan.
Tak sengaja, ia bertemu dengan Kevin yang sedang membawa seekor kucing kecil yang tengah ia gendong.
"Kevin.." panggil Flova.
Kevin melihat ke sumber suara, dan tersenyum sumringah saat melihat Flova. Flova pun langsung saja berlari ke arahnya.
"Hai Flova, kebetulan sekali. Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Kevin.
Flova melihat ke sekelilingnya dan tidak sadar ia sudah pergi jauh meninggalkan kompleks rumah keluarga Kai.
"Aku juga sedang jalan-jalan, dan tidak sengaja aku bertemu dengan kucing yang terlantar ini di jalan. Jadi, aku memutuskan untuk mengantarkan ke tempat penampungan hewan sekarang." jawab Kevin panjang lebar.
"Bolehkah, aku ikut?" tanya Flova sedikit canggung.
"Tentu saja. Ayo."
Flova tersenyum dan berjalan tepat di samping Kevin sembari memainkan kucing yang Kevin gendong.
"Oiya, ngomong-ngomong, Alena dimana? Tumben hari ini dia tidak bersamamu?" tanya Kevin sembari berjalan.
"Alena sedang liburan bersama Nehra dan Steffa. Ia ingin hari ini liburan dengan mereka berdua." jawabnya.
Kevin mengangguk paham, melihat Flova dengan senang bermain dengan kucing yang tengah ia gendong, ia pun memutuskan untuk Flova yang membawanya hingga sampai di tempat penampungan hewan terlantar.
Hingga tepat sampai di sana, terdapat papan nama bertuliskan penampungan hewan dan terdapat gambar Kevin di sampingnya. Flova sempat kaget dan tidak percaya sembari menatapnya.
"Jadi, kau yang mempunyai tempat ini?" ucap Flova sembari terkekeh.
Kevin hanya mengangkat bahunya, dan tersenyum kecil.
"Bagus Kevin. Ayo kita masuk. Aku ingin melihat berapa banyak kucing yang ada di sini." ajak Flova antusias.
Kevin mengangguk dan mengikuti Flova masuk. Flova kagum karena ruangan tersebut sangatlah rapi, dimana terdapat banyak fasilitas seperti dokter hewan, perlengkapan serta makanan untuk hewan yang di rawat di tempat tersebut dan tentu saja, tempat dimana hewan hewan itu berkumpul.
__ADS_1
Flova dan Kevin langsung saja pergi ke area belakang dan melihat begitu banyak kucing yang berkeliaran di tempat tersebut hingga membuat Flova kagum di buatnya.
"Wah.. banyak sekali. Bagaimana kamu bisa mengurus semua ini?" tanya Flova penasaran.
"Aku di bantu dengan beberapa pekerja di sini merawat kucing-kucing lucu ini. Jadi, aku tidak terlalu kelelahan." jawab Kevin.
"Sungguh menakjubkan."
"Mau bantu aku memandikan kucing ini?" tanya Kevin sembari menggendong kucing yang sudah berpindah ke tangannya.
Flova mengangguk dan memandikan kucing yang Kevin temukan di jalan tadi bersamanya. Saling tertawa bersama memandikan kucing itu hingga mereka ikut basah karena kucing tersebut rewel akibat takut dengan air. Hingga setengah jam kemudian, mereka berdua bisa mengeringkan kucing tersebut dengan hair dryer.
"Huh, akhirnya.." ucap Flova lega.
"Melelahkan bukan?"
Flova mengangguk sembari mengelap keringatnya. Kevin tersenyum dan memberikan hair dryer kepadanya. Kevin sendiri pergi dan mengambil tisu untuk mengelap keringat yang mengalir di wajah Flova.
Kevin menatapnya dalam, hingga ponsel Flova yang berdering membuat tatapannya langsung ia buang ke sampingnya.
"Sebentar, aku angkat telepon terlebih dahulu."
Kevin mengangguk dan Flova berjalan sedikit menjauh dari Kevin.
"Hallo, Kai. Ada yang perlu aku bantu di kantor?" tanya Flova.
"Alena hilang." jawab Kai di seberang.
Flova langsung saja membelalakkan matanya tak percaya.
"Apa! Alena menghilang?!"
Kevin pun turut kaget dan langsung menghampirinya. Serta mencoba menenangkan Flova.
"Baiklah, jemput aku di tempat penampungan hewan blok C."
Flova menutup teleponnya dan melihat ke arah Kevin dengan panik.
"Ada apa?" tanya Kevin yang turut panik.
"Alena menghilang. Aku harus mencarinya."
"Perlu aku bantu?"
"Aku akan mencari bersama Kai, kau urus saja kucing itu. Aku pergi dulu."
Flova berpamitan dan pergi keluar sembari menunggu Kai yang dalam perjalanan untuk menjemputnya.
//**//
__ADS_1