
Flova memutuskan untuk kembali bekerja di kantor Kai. Tidak ada siapapun begitu ia masuk ke ruangan Kai. Ia pun duduk di sana dan menghela nafas panjang. Ia duduk di tempatnya dan mengelus meja yang sedikit kotor karena sudah beberapa hari ia meninggalkan tempat tersebut.
"Tok..tok.. tok.."
Baru saja ia akan membersihkan mejanya, seseorang mengetuk pintu ruangan Kai.
"Masuk, teriak Flova."
Flova berdiri untuk menyambut tamu tersebut. Mendengar jawaban tersebut, sang tamu pun masuk dan berdiri tepat di depan Flova. Flova heran dengan kedatangan Manda di kantor Kai. Ia hanya bisa diam sembari melihat dari ujung kaki hingga kepalanya.
"Nona Manda." ucap Flova.
"Oh.. Nona Flova ternyata. Apa Kai ada di sini?" tanya Manda langsung kepadanya.
"Kelihatannya dia belum datang. Apa Nona ada pesan untuknya, saya bisa menyampaikannya apabila Kai sudah kembali." jawab Flova.
"Tidak perlu."
Manda melewati Flova dan duduk di depan kursi yang ada di depan meja kerja Kai. Ia duduk sembari menyilangkan kakinya dan meletakkan tasnya di atas pahanya.
"Aku akan menunggunya di sini. Karena ini adalah urusanku dan Kai."
Flova hanya diam dan menundukkan kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya karena heran dengan tingkah lakunya. Tak lama kemudian, sang pemilik ruangan tersebut datang.
Flova melihat ke arah pintu, Kai berhenti sejenak melihat Flova dengan ragu. Melihat Kai datang, Manda langsung saja berdiri dan menyapanya.
"Hai Kai, akhirnya kau datang."
Kai hanya mengalihkan pandangannya dan berjalan melewati Flova. Flova pun kembali menghela nafas panjang dan duduk di meja kerjanya sembari menyusun laporan harian dan jadwal meeting Kai.
Kai duduk di tempatnya, Manda juga kembali duduk di tempatnya semula. Lekas saja Kai menghidupkan komputernya dan melihat ke arah Manda.
"Ada gerangan apa kau kemari lagi, nona Manda?" tanya Kai.
"Aku ke sini atas perintah Ayah. Ada proposal mengenai produk-produk yang telah di kembangkan di pabrik, ku pikir kamu bisa mencoba merancang beberapa produk untuk di gabungkan." ucap Manda sembari memberikan proposal yang di pegangnya.
Kai melihat dengan teliti proposal tersebut. Flova memilih diam dan tidak bergeming apapun di sana. Namun, yang ada Kai lah yang tidak fokus dengan pekerjaannya. Sesekali ia melihat Flova dengan tatapan memelas.
Manda mengetahui arah pandang mata Kai yang terus menerus melihat Flova. Rasa iri dan cemburu menggejolak di hatinya.
"Ehm.. Ehem.."
Manda berdehem dan membuat Kai kembali melihat ke berkas yang ia pegang. Manda hanya bersandiwara sembari memegang lehernya.
__ADS_1
"Kai, sepertinya aku haus. Aku butuh minum.", ucap Manda.
"Flova." panggil Kai.
"Iya." jawab Flova dan lekas berdiri.
"Buat kan aku kopi dan teh panas ke sini."
"Baiklah."
"Eummm... Aku ingin Starbucks. Belikan yang ada di kantin lantai 2 ya."
Flova mengangguk dan mengerjakan tugasnya. Kebetulan di saat ia akan menuju ke kantin, ia berpapasan dengan ibu Kai tepat di eskalator menuju ke lantai pertama.
"Tante, kebetulan sekali."
"Heh.. kebetulan apanya." jawabnya ketus.
"Tante Kenapa ada di sini?"
"Ini perusahaan milik suami dan anak saya. Tidak perlu untuk apa saya datang ke mari. Kau, urus saja dirimu sendiri." ucap Joanna.
Joanna hendak melewati Flova, namun Flova dengan sengaja menghalangi jalannya. Joanna langsung melihatnya sinis dan tidak suka kepadanya.
"Memang siapa tamunya?" tanya Joanna.
"Nona Manda. Sepertinya mereka sedang merencanakan produk baru selanjutnya." ucap Flova.
"Ooh.. Manda. Dia seperti anakku, jadi tidak apa. Aku tidak akan mengganggunya." ucapnya dengan senyum miring.
"Flova, kenapa lama sekali. Dimana Starbucks yang aku pesan?" ucap Manda yang datang sembari memarahinya.
Joanna pun menoleh ke arahnya yang tepat berdiri di sampingnya. Lantas saja, Joanna melempar senyuman kepadanya.
"Tante.." ucap Manda semangat.
"Iya, Manda. Sebenarnya ada apa?" tanya Joanna.
"Ini dia Tante. Aku memerlukan minum, tetapi dia tidak kunjung membawakannya ke atas. Dasar sekretaris tidak becus. Kau malah berbincang dengan orang lain." ucap Manda dengan kesal.
"Maaf Nona, saya akan segera memesankan minuman yang anda minta. Tolong tunggu sebentar, lagipula antrian di sini lumayan panjang." ucap Flova.
"Aku tidak peduli. Cepat! Pesankan aku Starbucks!" ucap Manda.
__ADS_1
Flova pun berbaris di belakang sekitar 4 orang. Hingga tak lama, Flova kembali dan membawakan Starbucks yang diminta oleh Manda. Manda langsung membukanya dan meminumnya di tempat. Tetapi ia langsung menjulurkan lidahnya.
"Bagaimana si kamu saat memesannya? Ini tidak sesuai harapanku! Ambil, dan belikan lagi dengan uang kamu." ucap Manda meremehkannya.
"Maaf Nona, anda sudah ada di sini. Anda pun juga punya kaki untuk berjalan. Dari sini ke sana hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja. Kau juga pun nya tangan untuk menerima dan memegang gelas itu. Dan, Kai pun punya mulut untuk berbicara, tetapi yang aku lihat ini satu anggota tubuhmu itu banyak ke kurangannya." ucap Flova yang membuat Manda dan Joanna diam.
"Mulutmu kurang filter. Setidaknya filter itu membantu untuk menyaring kata-kata yang perlu kau katakan selanjutnya. Sebaiknya, anda berfikir sebelum berbicara!" ucap Flova.
"Hei, siapa yang berani mengatur saya! Pangkat ku dan pangkatmu itu tidak selevel sama sekali. Kau hanya seorang sekretaris magang biasa di kantor ini, lagipula sebentar lagi kau akan berpisah dari Kai, jadi kau yang harus menjaga tingkah lakumu di sini!"
Seketika orang-orang melihat ke arahnya. Dia orang satpam yang ada di sana langsung menelepon Kai. Kai pun langsung mengangkatnya.
"Hallo.."
"Hallo Presdir, Saya akan melaporkan dari lantai dua, di ini ada sedikit perdebatan dari Istri Presdir dan nona Manda."
"Baiklah, aku akan turun dan mengeceknya sendiri." ucap Kai.
Kai langsung menutup teleponnya dan meninggalkan ruangannya. Dia menuju ke lantai dua dimana Flova dan Manda berada. Sesampainya di sana, terlebih dahulu Kai memantau dari kejauhan.
Flova diam terpaku dengan pernyataan Manda. Dan itu mengundang beberapa orang langsung menggunjing mereka.
"Wah.. benar Kan. Rumor itu benar kan? Kau hanya gadis biasa dan tentu saja Kai pasti lama kelamaan akan merasa bosan denganmu karena kamu selalu bergaya itu-itu saja."
"Nona Manda. Harap anda jaga ucapanmu itu. Belum tentu apa yang anda katakan itu benar. Dengan anda berkata seperti ini, anda sama saja mengakui bahwa anda adalah pelakor. Hubungan antara saya dan Kai masih sama seperti biasanya. Saya harap anda tau itu."
Orang-orang kembali berbisik. Dan kini langsung menggunjing Manda. Kai dari kejauhan tersenyum sangat manis ke arahnya. Omongan Flova pun juga membuat Joanna hanya bisa diam di tempat.
"Sudahlah, lebih baik kita ke ruangan Kai."
Joanna mencoba mendorong tubuh Manda, tetapi yang ada Manda terhuyung ke depan dan mendorong Flova. Alhasil membuat Flova terjatuh dari eskalator.
Semua orang berteriak histeris. Kai pun lantas saja berlari dan menghampiri Flova yang terguling di eskalator. Joanna dan Manda saling menutup mulut mereka tidak percaya.
"Kau mendorongnya!" ucap seorang pegawai.
"Aku terdorong oleh Tante Joanna. Aku tidak sengaja menyenggolnya." elak Manda.
"Jelas-jelas kau sudah mendorongnya!"
Seketika kantor ricuh dan heboh dengan kejadian tersebut. Semua keamanan di arahkan untuk melindungi Joanna dan Manda.
Kai khawatir dengan Flova. Tergeletak tidak berdaya di atas lantai dengan darah mengalir dari kepalanya. Langsung saja ia menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
//**//