Unlimited Love

Unlimited Love
88. Rekaman kamera dasbor


__ADS_3

Ucapan Nehra seketika membuat ayahnya kaget bukan kepalang. Lantas membuatnya bangun dari tempat duduknya.


“Apa maksud dari ucapanmu Nehra?” “Sudah ku katakan dengan jelas bahwa Tuan Nelson masih hidup. Beliau adalah mertua Kai.”


Ayah Nehra menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas panjang.


“Dan sekarang, bagaimana kehidupannya? Sudah baik-baik saja?”


“Mereka baik-baik saja. Dan di sini aku akan turut membantu Kai untuk mengembalikan perusahaan RNB ke tangan mertuanya kembali."


“Sebelum melakukan itu, sebaiknya kau harus menemukan bukti-bukti yang benar-benar akurat. Tuan Nuan bukan lawan yang akan diam apabila tidak sekaligus kalian tuntaskan. Ia akan melakukan apapun sekalipun nyawanya terancam.”


Nehra mengusap wajahnya kasar mendengar penjelasan sang ayah. Ia mencoba berfikir keras namun yang di pikirannya sekarang hanya sebuah jalan buntu.


“Apa ayah tidak memiliki kaitan dengan masalalu Tuan Nelson sebelum kecelakaan itu terjadi?”


Ayah Nehra menghela nafas sejenak.


“Kamera Dasbor.” Ucapnya kemudian.


“Kamera Dasbor?” Jawab Nehra dengan bingung.


“Iya, kamera dasbor mobil yang di gunakan oleh mediang Tuan Danur.”


“Apa kaitannya dengan kecelakaan itu? Kamera dasbor hanya merekam kejadian di dalam mobil bukan, atau....”


Ayah Nehra kembali menghela nafas panjang.


“Kamera dasbor itu, bukan kamera biasa. Kamu belum tau betapa rinci dan cerdasnya seorang Danur, Nehra. Dia mampu menciptakan teknologi-teknologi yang canggih dan belum ada di pasaran. Dan bahkan, kamera dasbor itu ia sambungkan dengan beberapa perangkat kamera pengawas di sekelilingnya.” Jelas sang Ayah.


“Bagaimana ayah tau?”


“Perusahaan Ayah berdiri karena ajakan Tuan Nelson dan Tuan Carron. Dan Danur memberikan dana untuk membangun perusahaan ini. Setiap kali ayah berkunjung, Tuan Danur selalu sibuk dengan sebuah proyeknya yang ayah tidak tau sama sekali apa kegunaanya. Hingga suatu ketika ia bercerita bahwa kamera dasbor di dalam mobilnya menyimpan segalanya. Apa bila terjadi sesuatu di masa depan, ia meminta agar ayah menyimpan memori di dalam kamera tersebut dengan hati-hati. Dan, ia berkata ini adalah rahasia.”


“Jadi, ayah tau semuanya?” tanya Nehra.


“Iya, ayah tau. Dan mungkin ini waktunya ayah untuk membalas jasanya. Tetapi, kamu harus dengan siap, mengumpulkan semua data yang akurat. Dan ayah akan memberikan bukti utama itu.”


“Baik ayah.”


...*****...


FLASHBACK ON


Tuan Berlin mengendarai mobilnya di tengah hujan yang deras. Di malam itu, Berlin menjemput Kai dan Nehra setelah dari rumah sakit atas permintaan ayah Kai. Hingga di saat mereka tiba di sebuah persimpangan, terlihat sebuah mobil yang terbalik di pinggir jalan.

__ADS_1


“Sepertinya ada kecelakaan.” Ucap Berlin.


Dengan sigap Kai mengusap kaca yang berembun dan melihat ke arah luar.


“Paman, biarkan aku keluar.”


“Hujan sangat deras tuan muda.” Ucap Berlin.


“Aku akan memeriksa, paman panggil saja ambulan. Cepat!” Perintah Kai yang tidak dapat di bantahnya.


Tuan Berlin pun mengijinkannya keluar di susul oleh Nehra menggunakan payung yang ada di dalam mobilnya. Berlin pun dengan segera memanggil ambulan sesuai degan perintah Kai. Kai melihat ke dalam mobil dan terdengar tangisan anak kecil tepat di pelukan seorang gadis berusia 12 tahun. Kai berusaha untuk membuka pintu mobil tersebut, namun tidak berhasil.


“Kita harus menunggu ambulans Kai.” Ucap Nehra yang sama sekali tidak di dengar oleh Kai.


Kai melihat sekelilingnya untuk mencari sebuah batu, ia berusaha memecahkan kaca tersebut dengan hati-hati agar pecahan kaca tersebut tidak mengenai anak kecil yang ada di dalamnya. Kai berusaha dengan kuat hingga tak sadar tangannya ikut terluka. Nehra panik karena pergelangan tangan Kai berdarah.


“Kai, kau berdarah.” Ucap Nehra.


“Diamlah, jangan membuat bayi itu takut.” Perintahnya.


Tak lama Tuan Berllin menyusul. Dan Kai berhasil memecahkan kaca tersebut dengan sempurna. Dengan segera ia membopong dan menenangkan anak kecil tersebut. Namun, anak kecil itu ketakutan karena derasnya hujan. Kai melihat sekelilingnya hingga pandangannya teralihkan dengan sebuah boneka pororo yang ada di dalam mobil milik Berlin.


“Nehra, ambilkan boneka itu cepat.”


Nehra menuruti kata Kai. Berlin yang berusaha menyinari di dalam mobil langsung kaget melihat anak yang terlihat masih bernafas.


Kai pun melihatnya dari luar dan mengangguk setuju dengan pernyataannya.


“Maaf tuan Berlin, bisakah kamu masuk ke dalam dan membuka pintu nya. Aku tidak bisa masuk karena anak ini menggenggamku dengan sangat erat. Tapi tolong dengan cepat.” Ucap Kai.


Dia pun menuruti perintah Kai lagi. Begitu ia masuk dan mencoba membuka pintu, betapa terkejutnya ia saat mengetahui pengemudi di dalam mobil tersebut, yang tak lain adalah Danur dan istrinya.


“Tuan Danur? ” ucapnya.


Dengan segera ia pun mengecek nafas dan nadi di leher Danur dan Dara. Tuan Berlin seolah berhenti berfikir di saat ia mengetahui bahwa kondisi mereka sudah tewas. Melihat hal itu, ia pun teringat wejangan Danur kala itu.


“Tuan dan Nyonya Danur sudah meninggal di tempat kejadian.” Ucapnya menghadap ke kamera dasbor di mobil tersebut.”


Setelah merasa terekam, Ia pun segera mengambil memori di kamera dasbor mobil tersebut dan membiarkannya terbuka seolah isinya sudah hilang. Dan dengan segera ia membuka pintu mobil tersebut. Ia pun kemudian memeriksa gadis berusia 12 tahun tersebut. Nehra yang memberikan boneka pororo kepada Kai pun langsung teralihkan. Kai berusaha tetap tenang hingga balita yang di gendongannya berhenti menangis.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Kai.


“Dia masih hidup.”


Kai menghela nafas panjang dan menatap Nehra dengan serius. “Nehra, dia sudah tenang, bawa dia ke dalam mobil dan alihkan dengan film kartun dari boneka ini. Jangan sampai ia kedinginan.”

__ADS_1


Nehra hanya menurutinya. Kai pun mengambil alih ke dalam dan memeriksa gadis yang pingsan di dalam mobil tersebut.


“Paman, ambilkan peralatan dokterku yang ada di kursi belakang. Aku akan berusaha menyelamatkannya.”


Tuan Berlin menganggukkan kepalanya. Kai kini kembali fokus ke arah korban di kursi depan. Setelah melihatnya, ia pun sadar bahwa itu adalah Danur, sahabatnya dan di sampingnya merupakan istri Danur. Ia dengan segera memeriksa nadi Danur, namun tidak ada tanda-tanda mengenai kesadarannya. Kai hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia pun kembali melihat anak kecil tersebut dan memeriksanya tepat setelah ambulans datang.


“Permisi.”


Kai pun segera melilhat ke belakang. “Aku dokter dari rumah sakit Pradipta. Kalian segera angkat korban di depan sana, dan lakukan CPR segera.” Ucap Kai.


Para perawat pun segera menganggukinya. Kai hanya tetap fokus ke gadis tersebut dan memberinya suntikan infus.


“Aku akan langsung bawa anak ini ke dalam ambulans. Kalian cepatlah.”


Kai menggendong anak tersebut. Tuan Berlin ikut di belakangnya sembari memayunginya untuk menjaga anak itu agar tidak terlalu basah karena hujan yang masih sangat deras.


“Paman, ikutilah kami di belakang, dan periksalah balita itu dan pastikan ia baik-baik saja.”


Berlin menganggukinya. Pintu belakang ambulans pun di tutup. Mereka langsung bergegas menuju ke rumah sakit Pradipta. Hingga sampainya mereka di sana, mereka tak mengira bahwa Danur mengalami ROSC (Return Of Spontaneous Circulation) di saat ia akan di periksa. Langsung saja Kai yang bertanggung jawab sebagai dokternya merencanakan hal yang terduga, yakni Operasi.


“Apa! Operasi? Tuan Kai, pergelangan tangan anda sedang terluka sekarang. Ini adalah kondisi yang sangat berbahaya.” Ucap Tuan Berlin.


“Aku akan melakukan yang terbaik. Percaya saja padaku.” Jawabnya dan langsung masuk ke ruangan Operasi.


Melihat hal itu, Tuan Berlin hanya bisa menghela nafas panjang. Tidak ada lagi yang bisa ia lalukan. Dan tepat beberapa saat kemudian, Tuan Nelson beserta istri dan sekertarisnya datang ke tempat tersebut.


“Bagaimana, operasinya?” tanya ibu Kartika.


Tepat pada saat itu, Kai pun keluar sembari menunduk. Ia hanya bisa menghela nafas panjang di tempat. Keluarga Dara yang hadir pun menghampirinya.


“Bagaimana kondisi Danur dan Dara?” tanya ibu Kartika cemas.


“Maaf bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin.” Ucapnya.


Ibu Kartika seketika menjadi lemas, Tuan Nelson pun hanya bisa menghela nafas kasar.


“Bagaimana cara kerjamu Tuan Kai! Kau membunuh menantu dan anak keluarga Tuan Nelson. Dan lihat, kau bahkan menyentuhnya dengan tanganmu yang terluka itu.” Ucap Nuan.


“Aku tidak membunuhnya. Dia memilih menyerah dengan dunianya.” Jawab Kai.


“Tuan Nelson, sebaiknya kau tuntut saja dia!” Ucapnya. “Diam Nuan! Jika kau berbicara lagi, kamu, saya pecat!”


Tuan Nelson langsung saja pergi dari ruang tunggu Operasi bersama dengan istrinya yang syok. Nuan pun tersenyum miring melihat Kai yang hanya bisa menunduk pasrah.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


//**//


__ADS_2