Unlimited Love

Unlimited Love
84. Sebuah fakta


__ADS_3

H-15 masa Kontrak.


Tepat pada hari ini pula adalah hari terakhir Flova check up tangan dan kakinya. Namun di hari ini, ia tidak melihat Kai menunggunya.


"Cling."


Sebuah pesan masuk melalui ponselnya yang tak lain adalah dari Kai.


"Ada sebuah meeting penting. Mama akan datang menjemput mu bersama supir."


Flova pun memilih untuk menunggu di ruang tunggu usai membaca pesan tersebut. Ia melihat ke kanan dan kirinya untuk memastikan keberadaan mertuanya. Dan tepat beberapa menit kemudian mertuanya pun datang.


“Maaf menunggu lama.”


Flova pun berdiri sembari tersenyum.“Tidak apa mah.”


“Bisa berjalan kan?” tanya mertuanya.


“Bisa mah.”


Flova berjalan pelan meski tertatih. Joanna dengan perlahan pun ikut menggandeng tubuhnya.


“Mamah akan ajak kamu ke suatu tempat. Apa kamu tidak keberatan?” tanya Joanna.


“Iya mah, boleh saja.”


...*****...


Mereka memutuskan untuk mampir di S’cafe. Mereka memesan beberapa makanan ringan dan minuman dingin.


“Flova, mama minta maaf atas kejadian tempo hari. Mama rasa sangat-sangat bersalah kepadamu.”


“Tidak perlu minta maaf mah. Ngga papa.”


“Sebenarnya, mama ingin mengatakan satu hal penting. Untuk itu mama ajak kamu ke sini.”


“Tentang apa mah?”


“Tentang Kai dan juga kakak iparmu.”


Flova yang tengah mengaduk-aduk minumannya lekas saja berhenti dan melihat ke arah Joanna dengan bingung.


“Maksud mama?”


“Sebenarnya Kai dan mendiang kakak iparmu, mereka adalah sahabat. Mereka saling kenal, sejak perusahaan RNB dan X Group bergabung.”


“Perusahaan RNB? Sepertinya aku pernah mendengarnya.”

__ADS_1


“RNB adalah perusahaan yang di emban oleh ayahmu. Apa kau tidak tau itu?”


“A-aku tidak pernah mengetahui hal itu.”


“Sebelumnya mama sangat-sangat minta maaf atas hal kala itu. Mama juga kaget saat mengetahui fakta bahwa kamu merupakan anak dari Tuan Nelson. Dan mama juga minta maaf atas nama Kai akibat 5 tahun yang lalu.”


“5 tahun yang lalu?”


Joanna mengangguk dengan pasrah sembari menunduk. Ia pun menggenggam tangan Flova.


“Mama harap kamu tidak terlalu syok mendengarnya. Dan mama harap kamu tidak pernah marah dengan Kai karna hal itu.”


“Tidak apa mah. Aku siap mendengarkan.”


Joanna meneguk salivanya kasar , karena ragu dengan apa yang akan ia bicarakan.


“Mungkin ini adalah waktui yang tepat untuk memberitahumu. Mama harap kamu tidak terluka setelah mendengarnya.”


Flova hanya diam menunggu mertuanya berbicara. Joanna mengeluarkan beberapa secarik kertas dan di berikan kepada Flova yang berisi sebuah foto dimana di sana ada dirinya semasa kecil, dua remaja dan juga empat orang dewasa ada di dalam foto tersebut. Flova mengusap wajah kecil dirinya, dan beralih mengusap remaja yang ada di sampingnya.


“Ini kak Danur bukan? dan ini siapa?” tanya Flova.


“Dia adalah orang yang berstatus menjadi suamimu sekarang.” Jawabnya.


Flova tidak bisa berkata-kata setelah ia berhasil mengingat semua mimpi-mimpi samar yang terpendam di otaknya.


“Bisa jelaskan semuanya mah? Aku masih belum mengerti?"


“14 tahun yang lalu, Kai pernah menolongmu sewaktu kamu terkurung dalam sebuah ruangan pendingin.” Lanjutnya.


“Hah.. jadi itu bukan mimpi?” ucap Flova sembari mengingat kenangan yang mereka bicarakan.


“Entah kamu mengingatnya atau tidak, yang jelas itu bukan mimpi. Dan 5 tahun yang lalu, Kai juga yang menolongmu dan Alena dari kecelakaan maut yang menewaskan kakakmu dan kakak iparmu.” Jelasnya lagi.


“Dan waktu itu pula, Kai tidak bisa lagi menjadi dokter bedah karena tangannya ikut terluka.” Lanjut Joanna.


“Jadi baju itu adalah baju dokter. Untuk itulah dia selalu memajangnya.” Batin Flova.


“Kai waktu itu berusaha menyelamatkan nyawa kakak mu, tetapi ia gagal karena tangannya ikut terluka. Dan sejak saat itu ia berhenti dan mengambil jurusan lain agar ia bisa memimpin perusahaan papanya.”


Flova hanya bisa diam sembari melihat kembali foto-foto yang ada di tangannya.


“Untuk itulah nak, mama sedikit takut apabila dia terus bersamamu, Kai akan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Mamah sangat merasa terhormat mengetahui kamu adalah anak Tuan Nelson dan Ibu Kartika. Dahulu kami bahkan berpikir untuk menjodohkan kalian walaupun terpaut dengan usia yang sangat jauh berbeda. Perlu kamu ingat, bukan maksud mama untuk memisahkan kalian ataupun mempengaruhi mu untuk menjauhi Kai. Yang mama harapkan adalah maaf darimu dan untuk tetap menghormati keputusan Kai apabila sesuatu terjadi pada Kai. Kamu pasti paham apa maksud mama.”


Flova mengangguk paham dan menggenggam tangan Joanna. “Aku paham mah. Dan seperti yang mama tau sebentar lagi kami akan mengakhirinya tepat setelah acara sekolah Alena.”


“Sering-sering bertemu yah, mama pasti akan kangen dengan Alena nanti.”

__ADS_1


“Iya, itu pasti. Ada satu hal lagi mah, bagaimana mama tau aku adalah putri dari ayah Nelson? Padahal aku sendiri tidak tau bahwa kami pernah memiliki perusahaan sebesar itu.”


“Ayahmu memang tidak memalsukan namanya, tetapi berita tentang kecelakaan pesawat 5 tahun yang lalu yang memberitakan bahwa ayah dan ibumu sudah tiada. Perubahan wajah dan tubuh mereka membuat kami semua pangling. Mama sebenarnya sedikit curiga saat kami bertemu di pernikahan kalian dan mama pun mulai menyelidiki dari hari itu, tetapi semuanya nihil, hingga saat kamu keluar dari rumah sakit, ayahmu memberitahu semuanya.”


FLASHBACK ON


Beberapa waktu yang lalu, sepulangnya dari rumah Flova, Carron memutuskan untuk mengantarkan orang tua Flova pulang ke rumahnya.


“Tanpa adanya campur tangan kita, akhirnya anak-anak kita menikah dan sekarang benar-benar menjadi besan.”


“Maksudnya?”


“Kau harus mampir ke rumahku untuk mengetahui semuanya.”


Sesaat setelah sampai di rumahnya, ayah Flova mengeluarkan sebuah kotak dari kamarnya. Di bukanya kotak berwarna biru itu dan di keluarkannya secarik kertas. Tanpa ragu ia memberikannya kepada Carron. Carron menyergitkan keningnya bingung melihat foto tersebut.


“Bagaimana kau bisa memiliki foto ini? Yang aku tau hanya aku dan mendiang Nelson saja yang memiliki foto ini.”


“Sudah sangat jelas Nelson masih hidup, enak saja kau sebut mendiang.” Ucapnya.


Lantas saja Joanna dan Carron pun mendongak kaget. “Kau Nelson Mahartono? Nelson, kau masih hidup?” ucap Carron tak percaya.


Nelson mengangguk dan lekas saja Carron memeluknya. Joanna sendiri tidak bisa berkata-kata dan hanya menutup mulutnya tak percaya dengan kenyataan yang ia dapatkan hari ini.


FLASHBACK OFF


“Kurang lebih seperti itulah cerita singkatnya.”


Flova mengangguk paham. “Sudah semakin sore, sebaiknya kita pulang.”


Joanna menyetujui permintaan Flova dan lekas pergi meninggalkan cafe tersebut.


...*****...


Kai lekas naik ke kamarnya setelah pulang kerja. Di dapatinya pula Flova tengah makan camilan di kamarnya.


“Sudah pulang? Lekas mandilah, aku ingin makan malam di luar jika boleh.” Ucap Flova.


Kai mengerutkan dahinya dan lekas saja mengangguk menurutinya.


“Tapi aku ingin makan malam bersama kak Stefa dan kak Nehra. Aku sangat rindu pada mereka. Apa boleh bunda?” pinta Alena yang langsung masuk ke kamar mereka berdua lengkap dengan baju yang sudah rapi.


“Alena? Kau mau nakal ya sama bunda?” Ucap Flova.


“Tidak, ayolah bunda. Alena mohon..”


“Baiklah, boleh saja, tetapi jangan pulang terlalu malam. OK” jawab Kai.

__ADS_1


Alena pun tersenyum senang dan berjingkrak-jingkrak di depan mereka berdua.


//**//


__ADS_2