
Di suasana pagi yang cerah, ruangan Flova di penuhi dengan karangan bunga dan berbagai keranjang buah di dalam ruang inapnya.
"Wah, banyak sekali." ucap Nehra.
"Jika kau mau bawa saja beberapa."
"Kau yakin Kaka ipar?" ucapnya semangat.
Steffa yang ada di sampingnya langsung saja memukul pundaknya dengan keras. Nehra mengaduh dan memegangi area yang di pukul oleh Steffa.
"Kalian berdua ini, selalu bersama tetapi terus saja bertengkar. Sebenarnya hubungan kalian ini bagaimana?"
"Maaf Bu, orang ini bukan tipeku." jawab Steffa.
"Terus saja seperti itu. Oiya, Kai kapan Flova akan pulang?" tanya ibu Flova kali ini kepada menantunya.
"Besok Flova sudah di perbolehkan untuk pulang. Dan setiap 3 hari sekali, Flova harus rutin memeriksa kaki dan tangannya." jawab Kai.
"Untuk hal itu, aku yang akan mengantarnya." timpal Steffa semangat sembari mendekati Flova.
"Tidak, Flova adalah istriku. Aku yang akan bertanggung jawab atas segala yang terjadi kepadanya sekalipun jika itu bukan salahku." jawabnya tegas.
"Sejak kemarin kau hanya menghandle pekerjaanmu dari sini, apa itu tidak mempengaruhi perusahaan mu Kai?" tanya ayah mertuanya.
"Tentu saja tidak ayah, perusahaan ku baik-baik saja." jawabnya percaya diri.
"Kau harus melihat ini agar kau tau apa perusahaanmu sedang baik-baik saja atau tidak untuk saat ini."
Lantas saja semua orang yang tersenyum di buat bingung olehnya.
"Maksudnya?"
"Coba lihat berita di media sosial kalian." jawab Nehra yang masih fokus melihat handphonenya.
Mereka langsung saja melihat handphone masing-masing. Semua orang terkejut tidak terkecuali dengan orang tua Flova. Flova yang tidak bisa melihat berita tersebut hanya duduk sembari kebingungan di tempatnya.
"Ada berita apa? Steffa, tunjukkan padaku."
Steffa , pun menunjukkan berita tersebut mengenai dirinya. Tak lain merupakan berita mengenai pernikahannya yang palsu dengan Kai. Flova membelalakkan matanya tak percaya. Flova melihat Kai sembari berkaca-kaca.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" ucapnya.
__ADS_1
"Kai! Apa berita ini benar!" ucap sang ibu dengan marah.
"Tentu saja tidak. Ini pasti ulah tuan Nuan. Dia pasti berniat membalas dendam mengenai rumor Putrinya itu. Sehingga ia memilih untuk membawa nama kami di sini supaya ikut tercemar."
Tatapan Kai seketika berubah menjadi tatapan yang sangat tajam begitu melihat berita tersebut.
"Semuanya, aku akan ke perusahaan untuk menyelesaikan hal ini. Aku titipkan Flova kepada kalian."
"Kai, aku akan ikut."
Kai mengangguki permintaan Nehra. Merekapun pergi dari ruangan Flova bersama-sama. Sementara itu, Flova hanya bisa diam tidak percaya dengan berita yang beredar.
"Apakah hubungan kami benar-benar akan berakhir?" Pikir di dalam batinnya.
"Flova, apa berita itu benar? tanya sang ibu.
"Eum.. maaf sebelumnya, tetapi sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas hal itu." Ucap Steffa yang mencoba meredam emosi ibu Flova.
"Sudahlah, ini pasti hanya jebakan. Jangan terlalu emosi, ini hanya akan merugikan diri kita sendiri."
Ayah Flova berusaha turun tangan untuk menenangkan istrinya. Flova hanya diam dan tidak merespon apapun mengenai berita tentangnya.
Kai sendiri sudah sampai di kantornya. Ia membuka pintu ruangannya yang besar itu dan terlihat Nuan sedang duduk di sofa yang sudah di suguhkan kopi oleh pegawainya. Nuan berdiri begitu ia melihat Kai datang menghampirinya. Mengetahui bahwa itu merupakan pertemuan pribadi, Nehra memilih untuk menunggu di luar ruangan.
"Duduk saja tuan." ucapnya.
Nuan mengangguk dan kembali duduk, diikuti oleh Kai yang duduk di sampingnya. Pegawainya dengan sigap pun turut menyuguhkan minuman untuk Kai. Sebelum memulai pembicaraan, Kai pun meminum teh yang ada di depannya.
"Bagaimana keadaan nona Flova?"
Kai meletakkan gelas yang telah ia minum di tempatnya kembali.
"Anda bisa mengunjunginya sendiri di rumah sakit, dan bisa langsung mengetahui keadaannya di sana."
"Dan mengatakan kepada keluarganya bahwa pernikahan kalian ini hanyalah sebuah kepalsuan?"
Nuan dengan tenang tersenyum miring sembari menyeruput secangkir teh yang di sajikan oleh pegawai Kai. Kai langsung saja mengerutkan keningnya sembari melihat tajam ke arahnya.
"Hubungan kami tidak lagi palsu sekarang. Kontrak itu hanyalah sebuah kertas yang sudah jelas membawa takdir kami untuk terus bersama. Dan karna kontrak itulah hubungan kami terjalin di dalamnya."
"Benarkah?"
__ADS_1
Nuan tersenyum miring dan meletakkan gelas yang telah ia minum. Ia melipat kedua tangannya sembari bersandar di sofa yang ia duduki.
"Lalu, bagaimana jika saya menyebarkan fakta mengenai anda tentang pembunuhan pasca operasi. Dan korban itu tidak lain adalah kakak dan kakak ipar istri anda sendiri."
Kai lantas saja membelalakkan matanya serta menoleh ke arah Nuan yang tersenyum miring.
"Kenapa kau begitu kaget? Apa kau tidak merasa bersalah?"
"Itu bukan salahku!" ucap Kai dengan lantang.
"Itu semua salahmu. Apa kau tidak ingat? Apabila waktu itu tanganmu yang terluka terlebih dahulu kau obati dan tidak ikut campur pasca operasi Danur dan Dara mereka pasti masih bisa selamat."
"Tidak, semua itu bukan salahku!" teriaknya lagi.
"Aku memiliki semua buktinya. Kau langsung mengakui kesalahanmu dan kau pun langsung resign dari rumah sakit yang ayah kamu buat khusus untuk mu. Tapi ternyata, kau malah membuatnya menjadi sia-sia."
Kai pun tertekan bahwa berita itu sudah di ketahui oleh rekan kerjasama kantornya.
"Aku tau kau pasti tertekan. Aku punya penawaran yang bagus agar istrimu itu tidak mengetahui semua hal itu."
Kai pun mendongak penuh dengan harapan kepadanya. Nuan tersenyum miring melihat Kai lemas tidak berdaya mengenai rahasia yang selalu ia tutupi kepada Flova.
"Kau akui saja bahwa pernikahanmu dan Flova hanyalah hubungan di atas sebuah kontrak dan menikahi Putriku sebagai tanda permintaan maaf mu dan Flova mengenai rumornya semalam. Atau kau memilih untuk tetap bersamanya tetapi semua masa lalu mu akan aku bongkar di hadapan publik serta menandatangani pemberhentian kontrak kerjasama perusahaan kita? Bagaimana?"
'Deg' pilihan yang sulit tentunya. Di sisi yang pertama ia sangat mencintai Flova, di dalam kedua pilihan tersebut akan sangat memberatkannya dan begitu pula dirinya.
"Apa tidak ada pilihan lain!" teriaknya lantang kembali.
Nuan hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum miring.
"Tidak ada." Nuan berdiri dari tempat duduknya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Aku tau ini pilihan yang sulit. Untuk itulah aku beri waktu hingga bulan depan sekaligus untuk memberikan waktu yang tersisa selama kontrak yang akan kalian jalani. Aku tunggu kabar selanjutnya."
Nuan langsung saja pergi setelah ia mengambil jasnya dan langsung pergi dari ruangannya. Begitu Nuan melenggang keluar dari ruangannya, Kai langsung frustasi di buatnya.
Jika ia memilih pilihan yang pertama, yang ada dia akan sangat menyakiti Flova, secara dengan jelas ia tau Flova sangat mencintainya.
Namun, apabila dia memilih pilihan yang kedua, itu juga akan menyakiti Flova tentang masa lalu yang pernah ia alami. Dia juga akan mengorbankan perusahaan yang selama ini dia bangun. Dengan adanya bukti dan berita itu nantinya, semua pasti menjadi sia-sia.
//**//
__ADS_1