
Sebuah mobil Mercedez Benz e-class berwarna hitam memasuki area gedung yang telah di hias dengan mewah. Kai turun terlebih dahulu dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Flova.
Alen terlebih dahulu turun dan menerima uluran tangan Kai. Ia memakai gaun silver berhias bunga dan senada dengan sepatunya. Kai tersenyum dan menggandeng tangannya dengan tangan kanannya. Giliran Flova sekarang untuk turun, ia kembali mengulurkan tangannya.
Dengan anggun, di pamerkannya sepatu hak tinggi berwarna silver dan sedikit mengangkat gaunnya yang menghalangi jalannya. Di ulurkan tangan Kai untuk membantunya berdiri.
Flova tersenyum dan keluar sempurna dari mobil mewah tersebut menggunakan pakaian yang senada dengan sepatunya. Gaun tanpa lengan berhias pita di pinggang kanannya serta pernak pernik yang membuat gaunnya sedikit berkilau menambah ke anggunan setiap langkahnya memasuki lorong gedung berhias bunga-bunga di setiap tembok.
Sesekali Flova menghela nafas panjang sembari berpegangan erat di lengan Kai. Hingga tak sadar mereka sudah menempati ruangan utama dimana pesta Tuan Nuan di adakan.
Kai kembali melihat ke arah Flova yang sedikit cemas. Kai pun menepuk punggung tangan Flova dan tersenyum ke arahnya.
"Apa kau takut?" tanya Kai.
"Aku tidak takut, karena ada kalian berdua di sampingku."
"Aku akan bawa kalian berdua untuk bertemu dengan tuan Nuan."
Flova tersenyum dan mengangguk. Mereka pun berjalan menghampiri tuan Nuan yang sedang menyapa para tamu.
"Permisi tuan Nuan."
Nuan yang membelakanginya pun menghadap ke arah mereka bertiga. Flova pun tersenyum ke arahnya dan melepaskan lengan Kai karena takut menghalangi mereka untuk bersalaman.
"Oh, tuan Kai. Akhirnya kau datang." sapa nya sembari berjabat tangan dengan Kai.
"Tentu tuan. Saya pasti datang dengan senang hati." jawabnya sembari tersenyum.
Nuan beralih ke arah Flova. Pria yang terlihat seumuran dengan ayah Flova pun tersenyum sumringah.
"Oiya, ini adalah istri saya, Flova."
Flova pun mengangguk dan tersenyum. Namun, ia melihat pria yang ada di depannya dengan tatapan yang berbeda.
"Sepertinya orang ini tidak asing."
Nuan mengulurkan tangannya dan bermaksud untuk bersalaman dengan Flova. Flova pun dengan senang hati menerima uluran tangannya.
"Kai mirip dengan putra rekanku dahulu. Tetapi sayangnya, aku tidak mengetahui kabarnya. Apakah ini putri kalian?" tanya Nuan.
Flova hendak menggelengkan kepalanya, namun Kai tersenyum ke arahnya.
"Iya, dia putri kami. Namanya Alena. Alena beri salam kepada tuan Nuan."
"Hallo, namaku Alena." sapa singkat Alena.
Nuan tersenyum dan mengelus rambut Alena yang di ikat dua serta berhias pita berwarna senada dengan bajunya.
"Hallo, kamu cantik sekali. Oiya, melihat kalian berdua, Flova kau panggil saja aku dengan paman. Supaya kau tidak asing dengan ku."
Flova melihat ke arah Kai dengan bingung. Kai pun memeluk pinggang Flova sembari mengangguk.
"Eum.. sebenarnya tuan.."
"Kai, bisa jelaskan kepada istrimu."
__ADS_1
Kai melihat ke arah Flova. "Tidak apa, katakan saja."
"Dengan senang hati, pa-man. Terimakasih banyak." jawabnya.
Tiba-tiba, seseorang yang terlihat seumuran dengan Rosan, menggandeng lengan Nuan dengan manja.
"Ayah, ternyata kau di sini." ucapnya dengan manja.
"Manda. Perkenalkan ini Tuan Kai dan ini adalah nyonya Flova. Serta ini merupakan anak mereka berdua."
Manda adalah putri semata wayang Nuan. Istrinya sudah meninggal saat berusia 49 tahun. Dan, Nuan memutuskan untuk tidak menikah lagi serta memilih fokus dengan putri semata wayangnya yang akan memegang perusahaannya.
Manda melihat satu per satu ketiga orang yang ada di depannya. Manda melihat ke arah Kai sedikit lama, dan melirik ke arah Flova dengan tajam.
Tak lama kemudian, seseorang menepuk pundak Flova. Lantas saja Flova melihat ke belakangnya.
"Nona Giana." ucap Flova dengan senang dan langsung memeluknya.
"Ternyata benar ini kamu. Cantik sekali hari ini." pujinya yang membuat Flova tersipu.
Luiz, sang ayah Desta juga turut hadir di antara mereka. Mereka bertiga lantas saja berbicara, tetapi pandangan Manda masih terus tertuju kepada Kai.
Hal itu di sadari oleh Desta dan Alena yang berdiri di antara orang dewasa yang sedang berbasa-basi.
"Sepertinya ada Tante lampir yang lain yang menginginkan paman Kai." bisik Desta.
"Benar, ayah begitu tampan sehingga banyak orang yang menyukai pesona ayah." ucap Alena.
"Ayahku juga seperti itu, apabila aku tidak turun tangan, ayahku mungkin sudah di rebut oleh nenek sihir jahat." ucap Desta.
Manda mengangguk dan berpindah posisi ke tempat yang lebih sedikit luas. Kai tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyamai tingginya dengan Alena.
"Alena berdansa lah dengan Desta." perintah Kai dan kembali berdiri tegak.
Alena mengangguk dan menggandeng tangan Desta. Kini, Kai fokus dengan Flova. Ia mengulurkan tangannya tepat di depan wajah Flova. Flova pun tanpa ragu lagi menerima uluran tangannya.
Musik pun di mainkan, Kai dan Flova berdansa dengan anggun sembari memandang satu sama salin. Tatapan saling memuji yang tersirat, tampak jelas tergambar di mata mereka berdua.
Tanpa mereka sadari, mereka terus menari mengikuti alunan musik yang semakin memanas. Flova berputar dan jatuh tepat di tangan Kai. Melihat ke anggunan mereka menari membuat para tamu yang hadir menghentikan tarian mereka dan fokus kepada mereka berdua.
"Cih, tarian apa itu." cibir Manda yang melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan tak suka.
Begitu musik akan berakhir, Kai mengakhirinya dengan memegangi pinggang Flova seakan mereka akan terjatuh, namun mereka masih bisa mengimbangi badan mereka. Semua tamu bertepuk tangan melihat keduanya.
Lekas, Flova berdiri sempurna di samping Kai. Musik kembali di mainkan, dengan musik yang lebih ringan. Manda menghampiri Kai dan juga Flova.
"Tarian yang sangat bagus, terlebih lagi bila berdansa dengan ku."
Manda mengulurkan tangannya di depan Kai. Dan hal itu juga dilakukan tepat di depan mata Flova. Flova hanya bisa diam menunduk, sembari mengepalkan tangannya sembari meremas gaunnya.
Kai meraih tangan kiri Flova. Kai memperlihatkan tangannya yang menggandeng anggun tangan Flova sembari tersenyum miring.
"Pasangan dansa ku hanya istriku seorang."
Flova pun melihat ke arahnya. Matanya berkaca-kaca melihat Kai yang ada di depannya.
__ADS_1
Manda mengangguk dan menurunkan tangannya yang jelas di tolak oleh Kai. Kai pun kembali berdansa dengan Flova dan sedikit menjauh dari Manda.
"Tante, ayahku sudah milik bunda. Tante bisa cari orang lain yang lebih tampan dari ayah. Dan, di sebelah sana, sepertinya mereka cocok dengan Tante."
Alena menunjuk ke arah pelayan. Manda melihat Alena dengan kesal dan memilih menjauh dari area dansa tersebut.
"Kai, besok ulang tahun Alena. Aku belum menyiapkan semuanya."
Kai tersenyum dan menyingkirkan rambut Flova yang sedikit menutupi wajahnya.
"Aku sudah menyiapkan semuanya. Pesta ulang tahun Alena akan di adakan di hotel berbintang lima. Dan kebanyakan orang-orang di sini juga telah aku undang semua, termasuk guru dan teman-teman Alena." jawab Kai enteng.
"Kue?" tanya Flova lagi.
"Kue, gaun ulang tahun, dekor, makanan, hadiah, badut, serta gaun kita berdua juga sudah siap semua." jawab Kai.
"Aku sudah memiliki banyak gaun. Untuk apa kita membelinya lagi Kai?"
"Tidak apa, lagipula jerih payahku bekerja tidak akan sia-sia hanya untuk kamu."
"Terimakasih Kai."
Di sisi lain, Manda begitu kesal dan memilih untuk keluar dari pesta dansa tersebut. Pesta dansa yang diadakan oleh sang ayah untuk memperingati HUT perusahaannya menjadi tidak istimewa baginya.
Nuan mencarinya dan kebetulan ia menemukannya di taman. Di hampiri nya sang putri yang sedang duduk di sebuah bangku taman tersebut.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Nuan sembari merangkul putrinya.
Manda kesal dan menurunkan tangan Nuan dari pundaknya.
"Ayah, setahuku Kai itu baru menikah satu bulan yang lalu. Apa benar itu anak Kai?"
"Dia adalah anak dari keponakan Flova, istrinya. Memangnya kenapa Putriku." Nuan mengelus rambut Manda dengan manja.
"Aku ingin Kai, ayah."
Nuan di buat terkejut dengan pernyataan sang putrinya. Ia pun berdiri dan berjalan sedikit menjauh darinya.
Manda hanya menghela nafas panjang karena tau pasti sang ayah tidak akan setuju dengan permintaannya kali ini.
"Baiklah, dekati saja dia. Dan ayah juga akan sedikit membantumu untuk mendapatkannya."
Manda melihatnya dengan mata yang berbinar senang. Ia lantas berdiri sembari melihat sang ayah.
"Benarkah ayah?"
Nuan mengangguk dan dengan penuh semangat Manda memeluk sang ayah dari belakang.
"Terimakasih ayah" ucap Manda.
"Sama-sama, putriku."
Nuan mengusap kepala Manda dan mencium kening putrinya sembari tersenyum miring.
//**//
__ADS_1