Unlimited Love

Unlimited Love
44. Penawaran untuk Steffa


__ADS_3

Tuan Berlin, sang ayah Nehra dan juga pemilik rumah besar bernuansa biru itu, baru saja turun dari kamarnya lantas saja kebingungan melihat seorang wanita yang keluar dari rumahnya. Dia melihat bi Inah yang tepat berdiri di depannya dengan bingung.


"Bi, siapa yang datang tadi?"


"Nona Steffa tuan. Sepertinya kenalan tuan muda Nehra."


"Oo.. seperti itu." Ia manggut-manggut sembari menunjuk nampan yang di pegang bi Inah. "Nehra belum makan siang?"


"Sudah Tuan. Kata nona Steffa tadi, tuan Nehra mabuk karena naik wahana rollercoaster." jawab bi Inah.


"Baiklah. Bibi boleh pergi."


Bi Inah pun pergi dari hadapan sang majikan. Tuan Tio memilih untuk menemui putranya di kamarnya.


"Tok..tok..tok.." Nehra yang sedang berbaring di balik selimut hanya melirik ke arah pintu yang tertutup.


"Masuk saja." teriaknya karena malas membuka pintu.


Sang ayah pun masuk dan menyingkap selimut yang menutupi tubuh Nehra.


"Siapa wanita yang baru saja kemari? Kenapa tidak kenalkan kepada papa?"


"Dia teman dari istri Kai. Dia hanya mengantarku di sini dan dia juga bukan siapa-siapa ku, untuk apa aku kenalkan kepada papa." jawabnya sambil menutup matanya dan tetap berbaring.


"Oo.. kamu tidak suka padanya?" tanya sang ayah sembari menyilangkan tangannya di dadanya .


"Aku ingin menikmati hidupku terlebih dahulu. Lebih baik ayah pergilah. Aku ingin istirahat." Nehra kembali menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Anak siapa kau ini, benar-benar..."


"Aku anak papa lah, oh.." Nehra menyingkap selimutnya sendiri. "Jangan-jangan aku anak pungut?"


"Sembarangan kau. Terserah kau saja."


Tuan Berlin langsung keluar meninggalkan putranya. Begitu menjauh dari kamarnya, ia pun menelepon seseorang.


"Hallo.. tolong kamu cari tau tentang teman dari istri tuan Kai. Secepatnya."


Ia langsung menutup teleponnya dan pergi ke ruangan pribadinya.


...******...


Esok harinya, Steffa di kejutkan dengan kedatangan seseorang di tempatnya bekerja. Maudi dan Joe hanya memperhatikan dari tempat kasir sembari melayani pelanggan. Namun, telinga mereka fokus mendengarkan pembicaraan Steffa dengan orang misterius tersebut.


"Perkenalkan, nama saya Berlin dan saya adalah pemilik perusahaan M. Saya mau mengajak kamu untuk bekerja di perusahaan M."


"Tunggu, bagaimana Tuan mengenal saya?" tanya Steffa bingung.


"Saya adalah pemilik utama cafe ini. Melihat kinerja kamu di sini, saya rasa pantas menaikkan derajat kamu untuk bekerja di perusahaan saya."


"Tunggu tuan, saya masih berkuliah dan saya sedang menyelesaikan tugas skripsi saya. Apa tidak masalah akan hal itu?" tanya Steffa dengan ragu.

__ADS_1


"Tidak masalah bagi perusahaan kami. Karena saya yakin, kamu bisa mengimbangi hal tersebut."


Steffa manggut-manggut sembari berfikir. Tiba-tiba Tuan Berlin mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna coklat dan di letakkannya di depan Steffa.


"Ini adalah kontrak langsung untuk kamu. Jika kamu menyetujuinya, datanglah ke perusahaan dan bawa ini saat kamu sudah menandatanganinya."


"Tapi tuan.."


"Saya tidak bisa berlama-lama di sini. Saya juga masih ada urusan lain. Jika ada yang perlu di bahas lagi, datang saja ke perusahaan M. Dan ingat, apabila kontrak ini sudah kamu tandatangani."


"Baiklah, terimakasih tuan."


Tuan Berlin berpamitan pergi dari cafe tersebut. Maudi langsung saja berlari menghampirinya dan mencegahnya untuk berdiri.


"Wah.. kakak. Kakak sangatlah beruntung. Kakak langsung di datangi oleh pemilik utama cafe ini. Ini adalah kesempatan yang bagus kak."


"Sungguh, kakak sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan ini. Bagaimana, kalau kamu saja yang pergi?" tanya Steffa sembari memberikan amplop tersebut kepadanya.


Maudi lantas menggelengkan kepalanya dan mendorong amplop tersebut.


"Ini untuk kakak. Kakak sangat cocok menjadi bagian dari perusahaan M. Daripada kakak bekerja di cafe ini. Lagipula, pasti kalau kakak bekerja di perusahaan M, kakak tidak akan sering di temui oleh kak Nehra."


"Kau sedang merayuku atau kau di bayar tuan Berlin untuk melakukan hal ini?"


"Tentu saja tidak Kak. Ini adalah peluang yang bagus untuk kakak. Yah, aku hanya memberi saran saja. Apabila kakak tidak tertarik pun tak apa, kakak akan terus di sini bersamaku." ucapnya sembari terkekeh.


Steffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berdiri dari tempat duduknya. Maudi pun juga ikut berdiri.


...*****...


Dari sepulangnya ia bekerja, mulai di saat keluar dari cafe, ia terus menatap amplop tersebut. Penasaran akan isinya juga bingung apa yang haru ia pilih pada saat ini.


Hingga sampai di rumahnya, ia langsung duduk di meja makan dan menjatuhkan kepalanya di atas kertas tersebut.


"Ting..tong .."


Suara bel di pintu rumahnya membuatnya merasa sangat lelah. Ia menghela nafas berat dan dengan langkah gontai ia membuka pintu tersebut.


"Hallo kakak..." Sapa Alena.


Tau yang datang adalah Alena dan Flova, ia lantas memeluk Flova dengan erat. Lalu bergantian dengan Alena. Steffa langsung mengajak mereka masuk.


Flova yang membawa makan malam untuk Steffa, langsung ia tata di meja makan. Matanya teralihkan dengan berkas yang tergeletak di meja dan langsung mengambilnya.


"Ini berkas apa?"


Flova langsung saja mengambil amplop tersebut. Steffa hendak merebutnya, namun Flova dengan segera menghalanginya dan berusaha membuka amplop coklat tersebut.


Ia berusaha membaca sembari berlarian ke sana kemari untuk menghindari kejaran Steffa. Ia menghentikan langkahnya dan matanya terbelalak melihat isi dari amplop coklat tersebut.


Steffa langsung merebut kembali kertas yang di pegang oleh Flova dan memasukkannya kembali ke dalam amplop.

__ADS_1


"Wah.. ini peluang yang sangat bagus Steffa. Kau harus mengambilnya."


Steffa langsung saja menjatuhkan dirinya di atas sofa yang panjang dan menghela nafas panjang. Alena hanya diam duduk di sofa yang lain dan melihat mereka dengan bingung.


"Kenapa Steffa?"


"Huh.. Aku juga bingung Flova. Aku tidak begitu yakin. Apa aku harus menerimanya?" Steffa duduk di sofa sembari memakan kacang yang ada di toples yang ada di atas meja.


"Aku yakin kamu bisa Steffa. Kamu cantik dan berbakat, ku rasa kamu akan lebih cocok bekerja di sana."


Flova duduk di sampingnya dan mencubit pipi Steffa dengan gemas. Steffa menyingkirkan tangan Flova dan sibuk memakan camilan yang ada. Flova kembali mengambil amplop dan mengeluarkan isinya. Ia kemudian membaca dengan detail isi kertas tersebut.


"Lihat.." Flova menunjukkan bagian gaji yang tertera di kertas tersebut.


Steffa membelalakkan matanya dan menutupi mulutnya yang hampir tersedak. Flova pun mengambilkan minum untuk Steffa. Steffa kembali mengambil berkas tersebut dan melihatnya dengan lebar-lebar.


"10 juta setiap bulan? Apa tidak salah? Untuk aku seorang pemula?" tanya Steffa dengan menatap Flova tidak percaya.


"Tanyakan langsung pada orang yang mengajukan permintaan ini. Eum.. ngomong-ngomong siapa yang mengirimkan ini kepadamu?"


"Ini, langsung dari pemilik perusahaan M."


Flova menutup mulutnya tak percaya dan mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Terima saja Steffa , ini adalah kesempatan langka."


"Akan ku pikirkan lagi besok. Aku akan bersih-bersih terlebih dahulu."


Flova mengangguk dan menonton televisi bersama Alena. Di tengah mereka menonton, suara bel berbunyi membuat Flova harus membukakan pintu.


"Kai?" ucapnya kaget.


"Aku datang untuk menjemput, apa tidak boleh?" tanya Kai.


Kai langsung masuk ke dalam rumah dan melewati Flova yang berdiri di depan pintu begitu saja.


"Kami bahkan belum makan malam bersama."


"Oo, kamu tidak berniat mengajak suamimu sendiri untuk makan malam bersama?"


Flova menghela nafas kesal dan menutup pintunya kembali. Kai langsung saja duduk di samping Alena yang sedari tadi hanya menonton televisi.


Steffa yang baru keluar dari kamar mandi dan sudah lengkap menggunakan baju tidurnya, menatap kebersamaan Kai dan Alena yang duduk bersama. Terlihat Alena yang bersandar di samping Kai, membuat ia tersenyum tipis.


"Sangat terlihat, mereka berdua semakin dekat dan terlihat nyaman." Steffa melihat Flova yang hanya diam menunduk melihat Alena dan Kai.


"Untuk kali ini, aku akan mendukung Alena. Aku yakin, Flova pasti memiliki sedikit rasa kepada Kai. Begitu pula sebaliknya. Aku yakin itu."


Steffa pun melanjutkan langkahnya pergi ke kamarnya. Ia juga melihat amplop yang sudah ia letakkan di atas nakasnya dan menghela nafas panjang.


"Aku akan tanda tangani berkas ini."

__ADS_1


//**//


__ADS_2