
Hari ini adalah hari dimana hasil juara lomba mewarnai antar sesama TK diumumkan. Hal membanggakan dikejutkan untuk keluarga Kai dan Flova, serta orang tua Desta, karena Alena mendapatkan juara pertama dan Desta di posisi kedua. Dengan hasil karya tangan mereka, mereka berhasil memamerkan piala kejuaraan kepada orang tua mereka.
"Ayah, bunda kami menang." Ucap Alena sembari membawa piala kepada orang tuanya yang menunggunya di depan pintu gerbang.
"Wah.. kalian hebat." Puji Luiz dan di sambut baik oleh putranya Desta.
"Papa..." Desta berlari dan langsung memeluk sang ayah.
"Tuan Luiz?" Ucap Kai dan Flova bersamaan.
"Saya tau pasti kalian kaget karena kedatangan saya ke sini. Melihat kalian selalu menjemput anak kalian setiap hari membuat saya tergerak untuk mengikuti apa yang kalian lakukan. Kasih sayang dan kedekatan kepada sang anak adalah hal yang paling penting. Dan obat di tengah-tengah kelelahan adalah melihat keluarga yang bahagia serta saling memeluk satu sama lain. Untuk itulah saya ada di sini." Terang ayah Desta dengan jelas.
"Benar sekali, mereka adalah segalanya." Ucap Kai.
"Tuan Kai, bagaimana jika kita mengadakan pesta kecil untuk kemenangan Alena dan Desta. Walaupun mereka mengikuti lomba yang terbilang sederhana, namun apresiasi kepada anak-anak harus di tuangkan agar mereka lebih semangat lagi kedepannya."
"Ide yang bagus. Bagaimana kita adakan nanti sore?" Tanya Kai.
"Tapi mas, mas banyak meeting nanti sore." Ucap Flova.
"Meeting kita tunda esok pagi. Saya akan membatalkan kelas. Kamu buat saja undangan untuk teman-teman Alena dan Desta. Aku juga akan mengundang beberapa karyawan." Ucap Kai.
"Wah.. Tuan Kai benar-benar rela melakukan apapun untuk sang anak. Baiklah, saya juga akan melakukan hal yang sama. Kita adakan di rumah tuan Kai saja. Saya akan mengirimkan dekorasinya dan anda menyiapkan catering serta bingkisannya." Ucap ayah Desta dengan lugas dan jelas.
Kai pun menyetujui perintahnya dan segera melaksanakan acara mendadak tersebut, namun Alena dan Desta menarik tangan mereka dan menggelengkan kepalanya.
"Ayah, aku maunya liburan..." Pinta Alena dan Desta secara bersamaan.
Flova dan Giana(ibu Desta) tersenyum. Sedangkan para ayah hanya saling memandang bingung.
"Mau liburan kemana?" Tanya ayah Desta.
"Taman liburan. Intinya yang banyak wahana seru itu." Pinta Desta.
"Alena? Liburan kemana?" Tanya Kai.
"Kita liburan bersama. Ayah janji kita liburan bersama dengan Desta." Pinta Alena.
"Baiklah, setelah pesta selesai, ayah akan bicarakan dengan ayah Desta." Jawab Kai.
"Assiikkk..." Alena dan Desta melompat kegirangan mendengar ucapan Kai.
*****
Di sore harinya, dekorasi beserta dengan isinya sudah lengkap. Gambar Alena dan Desta pun sudah terpasang dengan versi gambar yang lebih besar. Sedangkan gambar aslinya mereka simpan di tempat masing-masing.
Dua orang laki-laki berdiri di depan gambar yang terpajang di dinding. Melihat dengan kagum ke indahan karya tangan Alena.
"Wah.. anak umur 6 tahun aja bisa gambar kaya gini." Puji salah satu karyawan Kai.
"Benar, bos kita menikah dengan ibu dari anak genius." Jawab rekannya.
__ADS_1
Hal tersebut di dengar oleh Kai, ia pun lekas menghampiri dua orang tersebut.
"Ehm..hm.. Sudah ngobrolnya?"
Dua orang karyawan tersebut hanya tersenyum ketakutan dan lekas berpindah tempat. Flova dan Alena hanya tersenyum kecil melihat tingkah dua orang yang terlihat ketakutan tersebut.
Pandangan Alena tertuju pada seseorang yang juga sangat-sangat menyayanginya. Tak lain adalah Carron, ayah Kai.
"Grandpa.."
"Cucu grandpa."
Ia pun membuka kedua tangannya lebar dan menerima Alena yang berlari ke arahnya. Ia pun mencium pipinya. Ia memberikan sebuah kado untuk Alena usai berpelukan.
"Wah, ini apa grandpa?"
"Buka saja nanti ya."
Alena mengangguk. Tak lama, dua orang asing pun turut hadir diantara mereka.
"Mama, papa? Kalian datang." Ucap Flova senang.
"Tentu saja kami datang. Untuk cucu kami tercinta."
"Hah.. kakek.. nenek..."
Alena secara bergantian memeluk Nelson dan Kartika. Mereka juga memberikan kado untuk Alena. Kedua orang tua mereka memutuskan untuk saling berbincang. Kini tersisa keluarga kecil Alena.
"Alena.." panggil mereka bersama.
Nehra dan Steffa hanya saling melirik dengan tajam, namun kembali fokus kepada Alena.
"Ini hadiah dari kakak untuk Alena."
Steffa memberikan sebungkus kado untuk Alena dan juga Desta. Di susul kado dari Nehra yang memberikan dua kotak kecil untuk mereka berdua.
"Hm.. kenapa sangat kecil kak?" Tanya Alena dengan kecewa.
"Hm.. buka saja terlebih dahulu."
Alena dan Desta pun membuka kotak kecil yang diberikan oleh Nehra. Sedangkan kotak hadiah dari Steffa mereka serahkan kepada pelayan.
"Kunci?" Tanya Desta sembari menenteng hadiah tersebut.
"Hanya sebuah kunci saja kak?"
Pertanyaan Alena hanya diangguki oleh Nehra. Kemudian Alena dan Desta pun di bawanya keluar dan langsung di buat kagum dengan dua mobil-mobilan besar yang cukup untuk mereka berdua tumpangi.
Dua mobil berwarna merah dan juga biru berdiri di depan rumah Kai. Alena dan Desta pun langsung memeluknya.
"Terimakasih kakak.." ucap mereka.
__ADS_1
Nehra mengelus kepala mereka berdua dan kembali ke tengah ruangan yang ramai.Kakek dan nenek Alena juga turut hadir di acara pesta tersebut. Flova menyambutnya dengan senang hati begitu pula dengan Alena.
"Kakek, nenek. Kalian juga datang?" tanya Alena dengan mata berbinar.
"Tentu saja kami datang, kamu cucu kesayangan kakek dan nenek. Selamat atas kemenangan kamu ya."
Alena mengangguk dan mencium pipi kakek dan neneknya. Kedatangan mereka menambah keceriaan suasana di sana, kecuali seseorang yang tidak ingin diharapkan oleh Alena datang ke acara tersebut dan seketika menjadi bening.
"Rosan? Kamu datang?" tanya Kai.
"Tentu saja. Aku datang untuk mengucapkan selamat sekaligus meminta maaf atas kejadian kemarin. Ini Alena, selamat atas kejuaraan kamu, maafin tante juga ya."
Alena memalingkan wajahnya dengan acuh hingga yang menerima hadiah tersebut pun terpaksa di terima oleh Flova.
"Hm.. terimakasih."
Rosan langsung meninggalkannya dan berdiri di samping Kai. Ibu Flova langsung mendorong Flova untuk mendekati Kai, tetapi yang ada Flova hampir terjatuh dan membuat Kai harus menopang tubuhnya.
"Hati-hati."
Flova langsung di berdiri dan melihat ibunya dengan bingung, namun sang ibu hanya terkekeh. Ibu Flova berpindah di sebelah Kai, berniat untuk menghalangi Rosan untuk dekat dengannya.
"Permisi nona, Kai sudah menikah dengan putri saya, hendaknya anda harus jaga jarak dengannya agar tidak menimbulkan kesan yang tidak enak untuk dipandang oleh mata para tamu."
Rosan memutar bola matanya dan terpaksa menggeser posisinya berdiri. Rangkaian acara demi acara terus berlanjut hingga pukul tujuh malam. Dan selama itu pula, sang ibu Flova terus menjaga menantu dan putrinya dari Rosan yang berusaha mendekati mereka.
Usai acara selesai, mereka berkumpul di ruang tamu dan berpamitan. Flova di Tarim tangannya oleh sang ibu saat ia ada di dapur untuk menyiapkan minuman.
"Hati-hati dengan wanita itu. Sepertinya dia berniat untuk merebut posisimu sebagai istri dari Tuan Kai. Kamu harus berhati-hati."
Flova hanya mengangguk. Ibu Flova kembali ke ruang tamu dan menarik tangan Rosan yang duduk di samping Kai.
"Nak Kai, kami harus pulang terlebih dahulu. Mengingat waktu sudah malam, kalian harus istirahat ya.."
Belum sempat Kai menjawab, ayah dan ibu Flova sudah pergi meninggalkan rumah tersebut. Rosan berusaha untuk melepaskan tangan yang di genggam ibu Flova , namun gagal.
"Ish.. Anda siapa si, nyeret nyeret saya gitu aja."
"Ingat ya nona, tuan Kai adalah orang yang sudah memiliki istri. Sebaiknya anda tau diri dan tidak perlu dekat-dekat dengan nya. Dan jangan pernah berfikir untuk menggantikan posisi Flova di samping Kai. Sebaiknya kamu pulang!"
Ibu Flova mengangkat tangannya yang menunjukkan pintu keluar.
"Anda siapa menyuruh saya! Dasar orang tua tak tau diri!"
"Dasar perempuan!!!"
Rosan langsung pergi begitu saja dari depan ibu Flova yang tentu saja sudah di landa amarah. Suaminya dengan sekuat tenaga pun memegang istrinya yang hendak memukulnya.
"Sudah-sudah.. lebih baik kita pulang."
Ibu Flova mengangguk dan meninggalkan rumah kediaman Kai.
__ADS_1
//**//