
Akhirnya Flova kembali ke rumah yang tidak di harapkan sebelumnya. Ia melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki rumah Kai. Namun, ia berhenti sejenak ketika ia sampai di ruang tamu. Ada sedikit interior sederhana yang menambah kesan berbeda dari sebelumnya.
Ia melihat beberapa lukisan kecil Alena, foto-foto kebersamaan mereka bertiga serta sofa yang sebelumnya bernuansa hitam dan putih kini, berwarna hijau lumut.
"Apa ini benar, rumah kamu Kai?" tanya Flova dengan melihat foto-foto yang terpajang di meja ruang tamu.
"Rumah siapa lagi, dan ingat. Ini rumah kita bertiga, akan aneh jika tidak ada banyak foto-foto kita di rumah."
Flova melihat Kai dengan bingung yang berjalan mendahuluinya sembari menuntun Alena. Mereka bertiga pun lekas menuju ke kamarnya.
Flova mendahului masuk ke kamar utama, ia juga bingung, di kamar Kai, banyak interior design yang berubah, walaupun warna dinding masih serupa, namun interior berupa meja, serta sprei berubah menjadi warna biru tua. Matanya tertuju tajam ke arah sebuah foto berbingkai ukuran 15*20 berdiri tegak di atas nakas kamar Kai.
Matanya berbinar melihat foto kebersamaan antara Kai, Flova dan Alena di dalam gambar tersebut. Kebersamaan di atas ski yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan, tanpa ia sadari, seulas senyuman mengembang di bibirnya cantiknya.
"Bagaimana kau suka?"
Tiba-tiba saja Kai masuk dan membuat Flova gugup. Ia langsung saja menghindarinya. Namun, dengan cepat Kai meraih tangannya. Flova menghadap ke arahnya sembari meneguk salivanya kasar tanpa berani melihat wajahnya.
Flova berjalan mundur secara perlahan. Kai pun turut mengikutinya hingga Flova berhenti di depan tembok tepat di samping pintu kamarnya. Flova berfikir untuk kabur, namun Kai segera menghalanginya dengan tangan kanannya.
"Bukankah tadi kamu tersenyum?"
Pertanyaan Flova seketika membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Handphone Kai berbunyi, dan Flova pun teralihkan dengan suara dering handphone Kai.
"Han-handpone mu berbunyi."
Kai tersenyum miring dan memasukkan tangan kirinya ke dalam sakunya. Lagi-lagi Flova hanya bisa di buat diam tanpa bisa melihat wajahnya.
"Aku tau, handphoneku berbunyi karena detak jantungmu itu sedang menari-nari di dalam sana. Benar bukan."
Flova melihatnya sebentar, dan ingat bahwa ia masih memakai kalung Kai. Dan, lagi-lagi ia hanya bisa diam. Dan, karena sudah tidak lagi berfikir, ia pun mendorong tubuh Kai.
"Aku sesak napas, a-aku akan ke kamar."
Dengan wajah yang sedikit memerah, Flova pun masuk ke kamarnya dan lekas saja masuk ke kamarnya. Ia langsung mengatur nafasnya yang sedikit merasa sesak.
"Huh.. aku lupa dengan kalung ini. Dasar Kai, aku harus melepaskan kalung ini."
"Ingat! Jangan coba-coba melepaskan kalung itu, atau aku denda kau 50 juta setelah kontrak berakhir."
Suara teriakan Kai dari luar membuat Flova berdecak sebal sehingga ia mengurungkan niatnya untuk melepaskan kalung tersebut.
Di dalam kamar Alena, Alena sedang sibuk bervideo call dengan Nehra. Tertawa dan tersenyum bersama sembari bercanda di dalam obrolan mereka.
"Ayah dan bunda sudah bersama lagi sekarang, terimakasih ya kak."
__ADS_1
"Tidak masalah Alena, ini karena berkat ayah kamu sendiri yang perlahan sedang membuka hati untuk Bunda kamu." jawab Nehra di seberang.
"Eum.. kak, sofa di rumah dan foto-foto yang ada di ruang tamu, apakah kakak yang membantu ayah menggantinya?" tanya Alena penasaran.
"Ayah kamu hanya meminta beberapa sofa dan meja. Dan, tunggu foto-foto? Foto apa Alena?"
"Iya, ada banyak foto kami di ruang tamu."
"Yah.. memang ayah kamu sedang mencoba mendekati bunda kamu Alena. Tetapi, ayah enggan untuk mengungkapkannya kepada Flova. Karena, ayah kamu tidak tau apa itu cinta."
"Hehem.. baiklah kakak. Sebaiknya, kita terus dukung saja. Oke. Aku tutup dulu ya kak. Dah kakak.." ucapnya sembari terkekeh.
Alena melambaikan tangannya dan menutup teleponnya. Tak lama, Flova pun masuk ke kamarnya dan duduk di samping ranjang Alena.
"Bagaimana, Alena senang kembali ke sini?" tanya Flova.
"Senang bunda. Bunda sendiri?" tanya Alena balik.
"Eum.. begitulah. Oiya, bunda akan keluar sebentar untuk mencari udara segar. Alena mau ikut?"
"Hm.. Baiklah."
...*****...
Mereka berdua duduk di bangku taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Beruntung cuaca tidak terlalu panas, sehingga mereka berdua tidak kepanasan.
Tak lama orang yang Alena tanyakan datang. Flova menunjuk ke arah orang tersebut sembari melambaikan tangannya.
"Hai, Flova. Hallo Alena." Sapa orang tersebut yang tak lain adalah Kevin.
"Kak Kevin." ucap Alena.
Kevin tersenyum mendekati mereka sembari menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
"Bawa apa kamu?" tanya Flova.
"Ttaarraa.. ini eskrim untuk gadis kecil yang cantik dan juga ibu tercantik dari gadis kecil ini."
Kevin memberikan es krim tersebut secara bergantian.
"Terimakasih Kakak." ucap Alena sembari melahap eskrim rasa coklat yang sudah di bukannya.
"Terimakasih Kevin." ucap Flova juga sembari membuka es krim tersebut.
Di sela sela Flova menikmati es krim sembari melihat pemandangan sekitar. Kevin melihat ke arahnya yang wajahnya di terpa angin kecil. Rambut Flova yang pendek dan ia gerai tersebut selalu menghalangi ia untuk menikmati es krim tersebut.
__ADS_1
Kevin mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan berdiri di belakang Flova sembari mengikat rambutnya. Flova tercengang, di tempat. Sedangkan Alena yang melihatnya hanya cuek.
"Setidaknya walaupun rambut kamu pendek, ini bisa membantu kamu untuk makan dengan dengan tenang."
Flova hanya diam menunggu Kevin menyelesaikan aktivitasnya. Kevin kembali duduk di tempatnya kembali usai mengikat rambut Flova. Dan, akhirnya Flova bisa makan dengan tenang.
"Terimakasih Kevin. Kamu memang tau apa yang selalu aku butuhkan."
"Hm.. sama-sama."
"Kakak, aku ingin tisu." ucap Alena di sela-sela pembicaraan kecil mereka berdua.
Kevin tersenyum melihat mulut Alena yang yang belepotan. Kevin pun mengambil sapu tangan dari dalam sakunya dan mengelap mulut Alena dengan telaten hingga mulut bocah tersebut bersih.
Bersamaan dengan itu, Flova juga menyelesaikan memakan es krimnya dan mengelap eskrim yang di sekitar mulutnya dengan tangan kosong.
"Bunda, habis ini kita kemana?"
"Kita akan jalan-jalan sebentar. Karena bunda kemarin terus berada di dalam rumah sakit, membuat bunda rindu dengan udara sekitar."
"Baiklah, ayo bunda." ajak Alena.
Flova menggandeng tangan Alena, dan Kevin pun juga menggandeng tangan Alena yang satunya. Mereka bertiga berjalan beriringan di sepanjang taman kecil tersebut.
Kurang lebih baru setengah jam lamanya mereka jalan-jalan, suara teriakan seseorang membuat langkah mereka bertiga terhenti.
"Flova, Alena."
Mereka bertiga seketika melihat ke belakang. Alena tersenyum ketika Kai datang ke taman tersebut. Alena lekas saja melepaskan tangannya dari kedua orang yang menggandengnya dan berlari ke arahnya.
"Aku cari kamu kemana-mana, ternyata kamu ada di sini." ucap Kai dengan tegas.
"Untuk apa kamu mencampuri urusanku. Aku ingin berjalan-jalan bersama temanku. Dan, kau tidak punya hak untuk melarang ku bertemu dengan siapapun." jawab Flova dengan nada yang sama.
"Aku tidak peduli. Ikut aku pulang sekarang."
Kai menggenggam tangan Flova dan menariknya. Sedangkan Alena berada di gendongnya. Flova melihat ke belakang dengan tatapan memelas karena Kevin yang yang tetap diam di tempat. Kevin hanya menghela nafas dan memilih untuk pergi dari taman tersebut.
Kai menurunkan tangannya begitu ia sampai di mobil. Flova pun terpaksa masuk ke dalam mobilnya, namun ia memilih duduk di bagian belakang bersama Alena.
"Kamu seharusnya mengatakan kepadaku bila kamu akan pergi ke suatu tempat."
"Apa itu penting bagimu?" jawab Flova.
"Itu penting bagiku karena kamu ber status istriku sekarang. Jangan pernah mengelak lagi, aku akan membawamu ke suatu tempat sekarang."
__ADS_1
Kai melajukan mobilnya dengan cepat dan beberapa kendaraan di depannya juga ia dahului. Flova hanya diam sembari menggandeng tangan Alena. Alena hanya diam melihat orang tuanya yang juga diam di dalam mobil tersebut.
//**//