
Hari-hari berikutnya, Kai memutuskan untuk bekerja di rumahnya saja sembari memperhatikan Flova untuk istirahat lebih di dalam kamarnya.
Sudah dua hari Flova tidak keluar dari kamarnya. Dia bergerak sedikit, pun ketika mandi saja, tidak boleh ada hal lain yang dilakukannya.
Kai masuk ke dalam kamar Flova dan membawakan makan siang untuknya. Flova menghela nafas panjang sembari melihat Kai yang duduk di sampingnya.
"Bisakah aku keluar? Aku sudah sembuh sekarang? Aku bosan terus menerus ada di kamar. Apa kau tidak bosan bekerja di dalam rumah terus menerus seperti ini?"
Flova mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya dan menatap Kai dengan sebal. Kai hanya diam dan meletakkan makanan di atas meja makan khusus yang di letakkan di atas kasurnya.
"Aku akan memeriksa."
Kai pun memegang kakinya yang berangsur membaik sembari ia pijat secara perlahan. Melihat ekspresi Flova yang kesal sembari makan membuatnya bingung.
"Kenapa!? Bingung aku tidak berteriak! Aku sudah sembuh tuan Kai. Aku ingin keluar dari kamar ini." keluh Flova.
"Baiklah, besok kau baru boleh keluar dari kamar ini."
Flova melihatnya dengan kesal sembari mencabik-cabik daging yang sedang ia makan dan melapnya besar-besar.
"Perlahan saja, nanti kau tersedak."
Flova memicingkan matanya, dan segera mengunyah dengan cepat lalu melahap makanan terakhir yang ada di piringnya. Ia pun lekas minum dan meletakkan kembali di atas meja. Kai memberesi piring tersebut di atas nampan dan mengelap meja tersebut. Ia tidak menyadari bahwa Flova sedang menatapnya dengan dalam.
"Tuan Kai, mengapa kau begitu perhatian kepadaku? Kau tidak lupa kan, hubungan antara kita hanya sebatas kontrak saja?"
"Aku tidak lupa, istirahat saja untuk sekarang."
Kai langsung melenggang keluar dari kamar Flova begitu saja. Flova menghela nafas berat dan memilih untuk kembali mengutak-atik laptopnya.
Di luar kamar, tepatnya di ruang keluarga, Kai lebih memilih untuk bekerja di tempat tersebut.
"Ting..tong.." Suara bel pintu rumah Kai berbunyi. Bi Surti lekas berlari dan membuka pintu utama rumah Kai.
"Siang bi, apa Kai di rumah?" tanya seorang wanita yang berdiri menggunakan mini dress berlengan panjang berwarna pink di depan pintu rumah Kai.
"Ada nona. Ada perlu apa nona mencari tuan?" tanya bi Surti dengan ramah.
"Aku mantan kekasihnya, minggir. Biarkan aku masuk."
Orang yang tak lain adalah Rosan langsung masuk sembari mendorong pelan tubuh Bi Surti yang menurutnya menghalangi pintu masuk.
Rosan langsung menghampiri Kai yang ada di ruang keluarga dan duduk begitu saja di sampingnya. Kai yang terganggu pun akhirnya memilih duduk di sofa yang muat hanya untuk dirinya saja.
"Untuk apa kamu datang kemari?"
"Aku ke kantormu kemarin, tetapi kau tidak ada. Ku telepon pun kau tidak pernah mengangkat bahkan pesan yang aku kirim juga tidak kau baca. Dan hari ini juga, ku pikir setelah menjemput Alena, kau biasanya langsung ke kantor, tetapi setelah ku tunggu ternyata kau tetap tidak datang, jadi aku memutuskan untuk ke rumahmu saja untuk bertanya kepada Flova. Dan ku lihat kau di sini, jadi aku langsung menghampirimu saja." ucap Rosan panjang lebar yang entah di dengar oleh Kai atau tidak.
"Aku hanya bertanya untuk apa kamu datang kemari? Tidak cukup puas kamu menyakiti Flova?" ucapnya tanpa melihat ke arah Rosan sedikitpun.
__ADS_1
"Memangnya Flova belum sembuh? Apa separah itu?"
Kai menghela nafas panjang dan menutup laptopnya.
"Sebenarnya untuk apa kamu datang kemari, jika kau datang dan hanya berbasa-basi denganku, aku tidak bisa. Aku sibuk. Sebaiknya kau pulang saja."
"Benar, Kai tidak suka berbasa-basi. Aku langsung ke intinya saja." Rosan melihatnya dengan tajam dan meletakkan berkas yang sedari tadi ia pegang.
"Aku datang untuk membuat perjanjian promosi produk heartbeat ke negera B. Ini rancangan setiap scene yang akan dirancang untuk iklan perhiasan tersebut. Aku juga membutuhkan kelebihan produk heartbeat ini sebagai pendukung promosi, itu saja. Dan setelah ini, perusahaan B akan langsung membuat iklan dan mengirimkan hasil akhir kepadamu."
Kai menerima berkas yang di pegang oleh Rosan. Dan membacanya dengan teliti.
"Satu hal lagi, aku juga datang untuk meminta tanda tangan kerja sama untuk memamerkan kalung tersebut sebagai bentuk promosi dan pendukung di ajang pameran baju yang sudah aku rancang di negara US. Pameran itu akan di adakan satu bulan lagi. Ini berkasnya."
Kai menerima satu berkas lagi dari tangan Rosan.
"Tetapi, bukankah ibumu melarangmu untuk mendesain baju lagi?"
"Aku menyamarkan nama ku, sebagai desainer louncier. Dan itu juga nama perusahaanku di kota US. Aku mengutus orang lain untuk berperan sebagai pengurus di sana, tetapi semua baju yang di rilis adalah rancangan ku, untuk itu aku butuh dukunganmu dalam hal ini."
Rosan memohon dengan tatapan mata memelas kepada Kai sembari memegang lengannya. Hal tersebut dilihat langsung oleh Alena dan dengan segera ia turun dari tangga dan melepaskan tangan Rosan dari lengan Kai.
"Ayah.... Tante ini jahat. Kenapa dia ada di sini?" ucap Alena dengan tatapan sinis menjurus kepada Rosan.
"Tante Rosan hanya memberikan berkas kepada ayah. Ada apa Alena ke sini? Sudah puas bermain?"
"Aku bosan, aku ingin bermain dengan ayah."
"Eh... tidak ada."
Kai bangkit dari tempat duduknya sembari membereskan berkas dan menumpuknya di atas laptopnya.
"Baiklah, aku masih sangat sibuk. Sebaiknya kamu pulang."
"Aku tidak boleh sia-siakan waktu ini untuk membalas bocah itu." Rosan menatap Alena tajam.
"Bolehkah aku menjenguk Flova?"
"Tidak perlu, bunda sedang istirahat. Sebaiknya ayah saja yang kembali ke kamar menemani bunda sembari bekerja. Tante saja yang menemani aku bermain, ayo tante."
Alena langsung menarik tangan Rosan begitu saja. Ia sempat kaget, namun ia langsung tersenyum puas.
"Kesempatan untuk membalas semakin besar."
Kai menghela nafas panjang dan kembali ke kamarnya. Ia langsung meletakkan berkas yang di bawa Rosan dan menjenguk Flova yang sedang beristirahat di kamar sebelahnya.
"Apa aku melakukannya secara berlebihan? Kenapa aku merasa bahwa aku khawatir berlebihan seperti ini?" batin Kai.
Kai pun memutuskan untuk menutup pintu kamar Flova kembali dan kembali bekerja di kamarnya sendiri.
__ADS_1
Di ruang sebelahnya, Alena kembali bermain dengan Rosan. Namun, bukan hal yang sedang ia lakukan yang Rosan inginkan. Kini ia kembali di kerjain oleh Alena.
"Tante.. aku tembak.. dor..dor..dor.."
"Aarrgghh... baju Tante basah Alena... hentikaann!!!"
Rosan mengejar Alena, dan "Hap..."
Rosan berhasil menangkap tubuh Alena , namun dengan cepat Alena melepaskannya dan membuat Alena terjatuh terbentur meja yang ada di depannya.
"Gubrak.."
Benturan keras tersebut terdengar hingga ke kemar Kai yang sengaja ia buka. Kai pun langsung bergegas ke ruang bermain dan melihat Rosan yang hendak meninggalkan ruangan tersebut.
"Mau kemana kamu?"
Kai menatapnya tajam dan pandangannya langsung teralihkan dengan Alena yang sudah tergeletak di pinggir meja. Ia pun memeriksa kepalanya dan menghela nafas panjang hanya luka lecet di dahinya.
"Apa yang sudah kau lakukan padanya?!" bentak Kai kepada Rosan.
"A-aku hanya mengejarnya, tetapi dia tersandung dan terjatuh." ucap Rosan gugup.
"Sekarang pergi dari sini! Sebelum aku muak melihat mu ada di sini lagi."
Rosan menelan salivanya kasar dan perlahan meninggalkan ruangan mereka. Ia tersenyum puas melihat Alena yang pingsan.
"Yes.. rencanaku berhasil." ucapnya lirih.
Kai yang khawatir lantas memeriksa keningnya dan detak nadinya. Ia pun mengobati luka di dahi Alena di kamarnya.
"Beruntung hanya pingsan. Huh.."
Melihat Alena yang tertidur, membuat Kai turut mengantuk. Usai membereskan kotak P3K, ia pun tertidur di sampingnya.
Flova yang baru bangun, diam-diam mengendap keluar dari kamarnya. Tak di lihatnya Kai di kamarnya, ia hanya acuh. Dia pun berpindah ke ruang bermain yang masih berantakan.
"Loh, Alena kemana? Apa Kai mengajaknya pergi?"
Flova pun mencoba untuk melihat di kamar Alena. Betapa terkejutnya ia melihat Kai sedang memeluk Alena yang tertidur pulas di sampingnya. Tak mau mengganggu, ia pun akhirnya meninggalkan kamar mereka.
Satu jam berlalu, Alena terlebih dahulu bangun dan berfikir untuk menemui Flova. Beruntung Flova baru saja keluar dari kamar mandi. Ia terkejut saat dahi Alena tertutup plaster.
"Dahi Alena kenapa sayang?" tanya Flova khawatir.
"Tadi, tante Rosan mengajakku bermain. Tetapi, dia sengaja membuatku terjatuh. Beruntung ayah langsung menolongku."
Flova pun bernafas lega karena Kai memperhatikan Alena. Ia pun langsung memeluk Alena dan mencium keningnya.
"Beruntunglah selalu ada Kai di sampingnya. Tapi, rasa ini hanya sementara. Aku harus lebih menjaganya karena kedepannya, hanya ada aku yang akan selalu ada di sisinya." batin Flova yang masih memeluk Alena dengan erat.
__ADS_1
//**//