Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 20


__ADS_3

Max masih setia berada di kamar itu menunggu Vioni. Hingga tanpa sadar dia terlelap tidur karena terlalu lama menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Mungkin pria itu tidak akan terbangun kalau tidak mendengar suara ketukan dari luar kamarnya.


"Tuan, Anda diminta untuk turut bergabung bersama Ruan Clif dan Nyonya Rosa," ucap salah satu pelayan wanita yang sedang berdiri di luar kamar.


Max segera menarik kesadarannya saat mendengar suara jelas pelayan itu. Dia berpikir bagaimana bisa suara pelayan dari luar bisa terdengar jelas ke dalam kamar, padahal kamar yang ditempatinya kini sedang tertutup rapat.


Astaga ... di sini benar-benar tidak kedap suara. Jika aku harus tinggal lama di sini, tentu saja aku tidak akan betah, batin pria itu.


"Tuan, apa Anda mendengar saya, ya? Tolong segera ajak Nona Vioni keluar dari kamar!" seru pelayan itu karena dia sudah biasa meremehkan Vioni di sana. Jadi, dia pun mengira kalau dirinya bisa memperlakukan Max sama seperti memperlakukan Vioni.


Max bisa merasakan kalau pelayan yang baru saja memanggilnya itu terdengar sangat meremehkannya. Hal itu tentu saja membuat dia kesal karena selama ini tidak ada orang yang berani meremehkan dia. Meskipun orang-orang di luaran sana memandang jelek reputasinya, tetapi tidak ada yang berani terang-terangan memperlakukan dia seperti itu. Pria itu pun segera bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri pintu.


'Brak'


Max membuka pintu kamar itu dengan kasar sehingga membuat sang pelayan terlonjak kaget saat mengetahui kalau Max lah yang kini sedang berdiri di hadapan.


"Tuan, kenapa Anda membanting pintu di hadapanku? Bagaimana kalau pintu kamar ini rusak? Apa Anda akan bertanggung jawab?" tanya pelayan itu sambil menatap kesal ke arah Max.


Max tidak menjawab pertanyaan dari pelayan itu. Dia hanya menatapnya dalam diam dengan sorot tatapan tajam yang membuat pelayan itu merasakan sedikit aura hitam yang menguar di sekelilingnya.


"T–tuan?" Pelayan itu mulai gugup dan gemetar melihat keterdiaman Max yang menatapnya dengan dingin.


"Kamu pelayan pertama yang berani-beraninya menggertakku seperti tadi. Aku salut padamu, nyalimu sangat besar, Nona," ucap Max tanpa mengubah tatapannya.


Mendengar suara yang Max tunjukkan padanya, tubuh pelayan itu jadi semakin gemetaran. Bahkan, Max bisa melihat keringat yang tiba-tiba mengucur di kening pelayan itu.


"Kamu akan mendapatkan penghargaan yang tidak akan mungkin kamu lupakan karena telah menyinggungku," sambung pria itu sebelum kembali menutup pintu kamar itu dengan kasar tepat di depan wajah sang pelayan.

__ADS_1


Setelah pintu kamar Vioni tertutup rapat, pelayan itu langsung meluruhkan tubuhnya dengan tangan gemetar yang menutupi wajah. Baru kali ini dia merasa ketakutan saat bekerja di rumah Clifford dan Rosa.


"A–apa yang baru saja aku lakukan?" gumam pelayan itu yang langsung segera pergi dari depan pintu kamar Vioni. Sepertinya ucapan terakhir Max tadi sangat berbekas di pikiran pelayan itu.


***


Di dalam kamar mandi, Vioni sempat mendengar sedikit keributan yang terjadi di depan pintu kamarnya, tetapi dia tidak bisa mendengar dengan jelas karena jaraknya yang tidak terlalu dekat, hanya saja dia bisa mendengar kalau pintu kamarnya dibanting oleh seseorang.


"Siapa yang datang kemari? Kenapa orang itu membanting pintu kamarku?" tanya Vioni yang kini masih belum selesai dengan kegiatan membuka gaunnya. Akh, ini bahkan sudah hampir 15 menit lamanya dia berada di kamar mandi dalam keadaan yang sama.


Sementara itu, kesabaran Max sudah benar-benar habis karena dia masih belum juga melihat tanda-tanda Vioni akan keluar dari kamar mandi. Apalagi dia juga sama sekali tidak mendengar dan mericik air dari dalam sana.


"Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan di kamar mandi? Kenapa hanya mengganti pakaian saja dia sampai selama ini?" gumam Max seraya kembali berjalan menuju pintu kamar mandi.


Pria itu mulai mengetuk pintu kamar mandi yang terbuat dari plastik dengan tidak sabaran.


'Tok ... tok ... tok ....'


'Brak ... brak ... brak ....'


Max semakin memperkeras gebrakannya di pintu. Dia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya yang baru diketahui kalau Vioni sedang menderita suatu penyakit.


"Hei\, wanita\, apa kau benar-benar tidak mendengar pertanyaanku? Jika kamu tidak membuka pintu ini dalam hitungan ketiga\, maka aku akan mendobraknya. Aku tidak peduli meskipun saat ini kau sedang bert*lanj*ng sekalipun\," ancam Max.


Mendengar ancaman suaminya, Vioni pun bergegas bangun dari closet duduk yang sejak tadi dia duduki. Daripada nanti Max menghancurkan pintu kamar mandi rumah kedua orang tuanya, lebih baik dia sendiri yang langsung dimarahi oleh pria itu.


"Satu ... dua ... ti–" Max menghitung dengan perlahan. Dia yakin kalau Vioni tidak akan membiarkan pintu kamar mandi itu didobrak olehnya.

__ADS_1


'Ceklek'


Tebakan Max benar, tepat di hitungan sebelum ketiga, Vioni sudah membuka pintu kamar mandinya sambil menundukkan kepala.


"Maaf karena saya sudah membuat Anda kesal. Tapi, bisakah Anda tidak menghancurkan properti rumah ini? Ini rumah kedua orang tuaku, mungkin mereka akan marah jika mengetahui kau merusak pintunya," ucap gadis itu tanpa berani menatap wajah sang suami.


Melihat penampilan Vioni yang masih seperti sebelumnya, Max kembali terdiam. Apa yang dilakukan wanita ini selama 15 menit di dalam kamar mandi? Bahkan gaunnya pun masih menempel erat di tubuhnya. Apa dia benar-benar tidak berniat untuk ikut denganku? batin pria itu bertanya-tanya.


"Kenapa kau masih menggunakan gaun? Bukankah tadi kau berpamitan padaku untuk membersihkan tubuhmu? Lalu sekarang kenapa penampilanmu masih sama seperti tadi?" cecar Max.


Vioni tetap mendengarkan pertanyaan pria itu tanpa menjawab pertanyaannya. Tangan gadis itu semakin mencengkram erat gaun yang masih menempel di tubuhnya.


"Nona aku sedang bertanya padamu, lalu kenapa kau tidak menjawabnya?" tanya Max lagi yang mulai kesal karena melihat Vioni yang hanya terdiam.


"Maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu kesal. Tapi–"


"Tapi apa?"


"Aku ... aku kesulitan untuk membuka gaun ini. Tadi aku mau minta tolong padamu untuk memanggilkan seorang pelayan agar membantuku membuka gaun ini, tapi Anda menolaknya."


"Lalu, kenapa kau sendiri menolak tawaranku yang ingin membantumu?" Tatapan pria itu semakin tajam hingga membuat Vioni berkali-kali menghindari tatapannya.


"Aku ...."


"Apa kau takut padaku?"


Pertanyaan itu langsung membuat Vioni menatap pria di hadapannya. Dia tidak bermaksud untuk menyinggung Max dan bersikap takut padanya, tetapi sebagai seorang gadis yang tidak pernah berhubungan langsung dengan pria, Vioni merasa gugup serta ada ketakutan lain dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku ...."


"Aku tahu kita hanyalah dua orang asing yang sengaja dipersatukan dalam satu pernikahan oleh orang-orang terdekat kita. Tapi, apakah kau tidak berusaha untuk menerima pernikahan ini?"


__ADS_2