
Bacanya pelan-pelan saja ya readers, biar paham 😗😗
Setelah melakukan ritual suami istri, dalam penyatuan tubuh, saling melepas dahaga, meneguk manisnya madu, hingga akhirnya bersama-sama mabuk kepayang
Anjar dan Puspa masih berada di atas ranjang menyembunyikan tubuhnya yang polos di balik selimut. Puspa yang berbaring miring ke kanan memeluk tubuh sang suami, sesekali tanganya memainkan bulu halus di dada suaminya
"Mas" panggil puspa
"Hemm"
"Kok bisa si, Cantika terima tamu dengan pakaian transparan seperti itu"
"Ya itulah Cantika, menurut mas, dia itu kaya depresi gitu dhe, Waktu itu dia juga pernah nyuruh mas menikahinya"
"Apa?" ucap Puspa seraya mengangkat tubuhnya, dengan siku tangan bertumpu pada kasur empuknya.
"Jangan kaget gitu sayang, sini peluk lagi"
"Mas Serius dia bilang gitu?"
"Serius lah, padahal mas sudah bilang kalau mas sudah punya istri"
"Kok berani banget si cantika?"
"Mas apa jangan-jangan, tadi dia sengaja berpakaian seperti itu, untuk menggoda mas?"
"Jangan Su'udzon kamu" ucap Anjar sambil mencubit hidung Puspa, "mungkin dia pikir, bibinya yang pulang"
"Tapi masa iya tidak memakai daleman, kan kelihatan mas, aneh tahu"
"Masa si, mas tidak lihat, tadi kan mas langsung puter balik dhe, hehe"
"Isshhh, pasti sekilas mas lihat kan, nampak gitu, masa tidak lihat"
"Udahlah dhe jangan bahas dia" gerutu Anjar
"Tapi mas, apa Cantika tahu kalau mas Anjar akan datang?"
"Tahu lah, kan mas sempat kirim pesan ke dia"
"Apa mas ngasih tahu juga kalau mas akan datang denganku?"
"Ishh kamu ini kaya wartawan"
"Ya sudah tinggal jawab saja kenapa si" ucap Puspa kesal.
"Tidak, mas cuma bilang kalau mas mau ngunjungin dia, gitu saja, terus dia balas, ok" pesennya juga belum mas hapus"
"Tepat sekali" sahut Puspa seraya duduk dengan menyilangkan kakinya
"Tepat apanya dhe, kamu ini aneh"
"Aku yakin mas, dia mau godain mas, dengan pakaian seperti itu, kesempatan buat dia kan mas, mumpung bibinya sedang tidak ada, dia sendirian di rumah
"Tapi ternyata mas malah datang sama kamu begitu" sahut Anjar
"Hu'umm" Aku tidak bisa bayangin kalau mas datang sendiri, kira-kira apa yang akan terjadi?"
"Udah stop jangan bahas dia, mas tidak suka"
"Tapi mas"
"Tidak ada tapi-tapian", potong Anjar.
Dengan sigap Anjar membaringkan tubuh Puspa dan mengambil posisi di atasnya, dengan kedua siku bertopang menahan berat badanya
"Hari ini, kamu sudah buat hari libur mas kalang kabut", seraya merapikan anak rambut Puspa yang menutupi matanya. Sekarang kamu harus bayar mahal untuk itu semua"
Seketika Anjar melahap bibir Puspa, menciumi ceruk leher istrinya, meninggalkan tanda merah di sekujur tubuhnya, Sedangkan Puspa hanya bisa Pasrah dengan kelakuan suaminya.
Entah butuh waktu berapa lama, benda pusaka milik Anjar sudah tertanam di bagian sensitif Puspa, Dengan ritme yang beraturan, bergerak naik turun, peluh yang membanjiri tubuh mereka, hingga rintihan dan ******* keduanya saling bersahutan menuntut agar gerakan lebih di percepat lagi, dan akhirnya, mereka mencapai puncak eferest untuk yang ke dua kalinya
Ritual suami istri sesi ke dua pun berjalan tanpa hambatan. Mereka tertidur dengan posisi saling berpelukan.
__ADS_1
Pagi harinya
Sebelum mereka berangkat kerja, mereka melakukan sarapan bersama, dengan menu makanan yang sudah di olah oleh Puspa. Tiba-tiba pesan masuk di ponsel Anjar.
Cantika
"Selamat pagi mas Anjar"
"Boleh minta No mba Puspa?"
Sekilas Anjar menatap Puspa, yang juga sedang menatapnya "Ada apa mas?" tanya Puspa
"Dhe, Cantika minta No ponselmu"
"Ya sudah kasih saja"
"Kamu yakin"
"Tidak apa-apa kasih saja" jawab Puspa
"Mas tifak yakin dhe" Mas khawatir dia berbuat macam-macam sama kamu"
"Macam-macam bagaimana maksud mas?"
"Dia itu terlalu nekad dhe, Contohnya kemarin, kamu lihat sendiri kelakuan dia kan"
"Yang penting mas jangan sampai tergoda"
"Yang penting kalau dia macam-macam sama kamu, kamu harus beri tahu mas"
"ishh mas, kata mas dia depresi, aku coba bersahabat dengan dia, supaya dia merasa punya teman untuk berbagi cerita" aku prihatin sama dia mas, dia itu cantik, masih muda lagi.
"Ya sudah mas kasih ya"
...@@@...
Di sebuah gedung lantai 7, yang merupakan ruang kerja Anjar, dia yang sedang sibuk dengan pekerjaanya, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.
"Bos hari ini ada pertemuan dengan para Investor" Sebenarnya yang harus datang Pak Dhaniswara selaku CEO, tapi Beliau menyuruhmu mewakilinya.
"Bukannya pertemuannya besok?
"Di Ajukan bos" Ucap Dirga makanya gue kesini
Tok,,tok,, tok
Anjar dan Dirga saling memandang
"Ya Masuk"
Muncul sosok Rafa yang tak lain adalah kakanya Anjar
"Eh bro" ucap Dirga "Apa kabar Pak dokter"
"Baik" Gimana dengan loe?
"Baik juga"
"Abang tumben kesini" sambar Anjar
"Abang dari Rumah Sakit langsung kesini, pengin ketemu Ayah, jadi mampir"
"Jam segini abang sudah pulang dari rumah sakit?"
"Abang baru selesai jaga malam, mba siska hari ini masuk, di rumah sepi jadi males pulang"
"Asyik ya bro, cuma papasan saja sama istri" timpal Dirga
"Asyik tidak asyik" jawab Rafa
"Aurell kemana bang"
"Aurell sekolah lah"
__ADS_1
"Oo iya lupa"
"Dasar loe" seru Dirga seraya melempar kertas ke arah Anjar
Mereka pun terlibat perbincangan.
...💞💞💞...
Sore harinya Puspa terlihat gelisah karena sang suami belum pulang, sedangkan ponselnya tidak bisa di hubungi, Puspa berniat menghubungi Ayah mertua, untuk menanyakan soal Anjar.
"Pasti ayah tahu, mas Anjar kemana" lebih baik aku telfon ayah.
"Assalamualaikum nak"
"Walaikumsalam yah, Ayah, mas Anjar belum pulang kantor, ponselnya juga tidak bisa di hubungi, Apa ayah tahu kemana mas Anjar"
"Anjar sedang ada pertemuan dengan rekan bisnisnya, apa anak itu tidak memberitahumu?"
Nanti kalau pulang tegur dia, biasakan suruh kasih kabar ke rumah kalau pulang telat"
"Biasanya si begitu yah, tapi mungkin mas Anjar sibuk, jadi tidak sempat. terimakasih Ayah, Puspa tutup dulu
...@@@...
Dengan langkah gontai Anjar memasuki rumah
"Assalamualaikum" Kok sepi" batin Anjar.
Sesampainya di kamar Anjar memutar knop pintu, kemudian membukanya terlihat ada sang istri yang sudah tertidur, dengan cahaya lampu temaramnya. Anjar melangkah menghampirinya, duduk di sisi ranjang
"Dhe, sudah tidur ya?" hening tak ada jawaban, kemudian Anjar mencium pucuk kepala Puspa, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Setelah Anjar sudah berada di dalam kamar mandi, Puspa bergegas bangun, membuka pintu lemari, meraih piyama milik sang suami, kemudian meletakanya di atas meja rias, dengan sigapnya Puspa kembali berbaring diatas kasur
Selesai mandi, Anjar menuju lemari hendak mengambil baju, namun langkahnya terhenti ketika melihat ada tumpukan baju yang sudah di siapkan.
"Perasaan tadi tidak ada baju di sini, hhhh dia pura-pura tidur ternyata"
Anjar segera mengenakan pakaiannya, kemudian bergegas menghampiri istrinya,lalu memeluknya dari belakang.
"Dhe, pura-pura tidur itu menyakitkan lho" bisiknya sambil memberikan gigitan kecil di telinga Puspa
"Maaf, tadi mas sibuk banget, sampai tidak menyadari kalau ponsel mas kehabisan daya"
Puspa masih enggan menjawab
"Sayang, mas tahu kamu itu pura-pura tidur, sambil memilin ujung rambut Puspa, memainkan dengan jarinya
"Sayang, masih ingat kata bunda kan, kalau tidur dalam keadaan marah itu engg__"
"Ngga baik buat kesehatan jantung" potong puspa seraya membalikkan badannya.
Kini mereka saling berhadapan
"Nah itu tahu"
"Lain kali, sebelum waktunya sibuk, biasakan kasih kabar"
"Siap" jawab Anjar seraya mengecup bibir istrinya singkat.
"Sudah makan?" tanya Puspa
"Sudah"
"Kalau begitu sekarang temani aku makan"
"Kamu belum makan dhe"
Puspa menggeleng dengan bibir mengerucut
"Ya sudah Ayo, mas temenin.
Bersambung
__ADS_1