Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
Part 29


__ADS_3

Hari ini Puspa benar-benar tidak konsentrasi dalam mengajar. Puspa tidak menyangka bahwa dia punya adik, selama ini dia berfikir hanya dia anak satu-satunya dari ayahnya..


Di satu sisi ia merasa senang, tapi di sisi lain kenapa harus dengan cara seperti ini. Tapi sekali lagi Puspa meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ini merupakan skenario Tuhan. Beruntung orang tuanya tidak bercerai saat itu.


"Ya, aku harus tetap mensyukurinya, aku harus terima dua adiku itu, dan aku akan menjadi kakak yang baik untuk mereka" batinya


Bel pulang sekolah pun berbunyi, Puspa sudah di tunggu oleh ibu mertuanya, siang ini Puspa di jemput olehnya, Bundanya yang akan mengantar ARTnya untuk menemani menantunya, selama suaminya pergi. Hal itu karena kondisi Puspa yang sedang hamil muda, Anjar takut terjadi sesuatu, jadi Anjar meminta bundanya mengirim ART ke rumahnya


Walaupun usia bunda sudah setengah abad, tapi beliau pandai berkendara, bahkan lebih lihai dari pada Puspa.


"Maaf bund lama" ucap Puspa


"Engga kok sayang, paling baru 10 menitan"


Puspa memasang seatbelt, tampak sosok ART duduk di jok belakang


"Halo bi, apa kabar?" sapa Puspa


"Baik non", Non gimana kabar?"


"Alhamdulillah bi, baik juga"


Bunda mengendarai mobilnya dengan penuh hati-hati.


"Sayang kita mampir belanja ya"


"Boleh bund, kebetulan Susu hamil Puspa habis, biar nanti beli sekalian"


"Kamu sampai kehabisan susu sayang?"


"Iya bund, lupa banget, sebenarnya juga masih, tapi tertinggal di rumah ibu kemarin"


"Kamu tuh harus nyetok sayang, lain kali jangan sampai kehabisan, sedia minimal 3 psc


"Iya bun"


Mobil sudah berada di pelataran supermarket, mereka turun dan memulai aktivitas berbelanja.


Di Balik Papan, Anjar dan Ayahnya yang sedang duduk di sebuah ruang tamu, mereka sedang menunggu pak Danang pulang kerja.


Anjar melirik jam di pergelangan tangannya, saat mendengar suara Adzan.


"Pak, apa kita mau sholat ashar dulu di mushola" tanya Anjar kepada pak Ilham


"Iya ayo nak, kita ijin dulu pada istrinya pak Danang"


"Bu, maaf, saya dan bapak saya, ijin ke mushola dulu"


"Oo ya silakan"


Saat kembali dari mushola, terlihat sebuah motor terparkir di depan rumah pak Danang, Anjar dan bapak berfikir bahwa pak Danang sudah pulang dari bekerja.


"Begini, pak, maksud kedatangan kami kesini, kami ingin bertemu dengan pak Danang" ucap Anjar "Ini bapak mertua saya dari Semarang"


"Iya saya pak Danang, mohon maaf, Anda ini siapa, dan ada perlu apa mencari saya?"

__ADS_1


"Saya Ilham, dan ini menantu saya Anjar" ucap pak Ilham, "Saya datang kesini berniat ingin bertemu anak-anaknya Arum"


"Maaf Anda kenal dengan Almarhum adik saya?" sahut pak Danang


"Saya adalah suami siri Arum"


Wajah pak Danang tampak terkejut


"Oh jadi Anda ini pak Ilham suaminya Arum"


"Betul" jawab pak Ilham


"Ya Arum memang pernah bercerita bahwa suaminya bernama Ilham, ayah dari anak-anaknya"


"Bisakah saya bertemu dengan anak-anak saya pak Danang?"


"Tentu boleh, saya tidak berhak melarangnya, tapi mohon maaf, saat ini mereka tidak bersama kami"


Seketika pak Ilham menatap wajah pak Danang, begitu juga Anjar yang juga terkejut atas ucapan pak Danang


"Anak pertamanya ada di Jakarta, anak kedua memang ikut saya, tapi saat ini dia sedang berada di pondok pesantren" lanjut pak Danang


"Boleh kami tahu alamat pondok pesantren yang di tempati"


"Boleh" Bergegas pak Danang mencatat alamat di sebuah kertas, lalu menyerahkannya ke Anjar. "Namanya Akbar wijaya, dia duduk di kelas 1 MA"


Pak Ilham kaget mendengar nama putranya, ternyata istrinya menyematkan nama pak Ilham di belakang namanya. Ilham Wijaya


"Terimakasih, pak Danang, saya Dan bapak saya akan ke sana sekarang untuk menjemputnya, nanti saya akan kembali lagi ke sini"


Anjar dan pak Ilham pun berpamitan.


Perjalanan memakan waktu hampir 2 jam, kini Pak Ilham dan Anjar berada di depan gedung pondok pesantren, Anjar dan pak Ilham bergegas masuk untuk menemui pengasuh pondok pesantren, setelah mengatakan maksud dan tujuan, pak Kyai yang juga pengasuh ponpes memanggil santri yang bernama Akbar Wijaya. Beberapa saat kemudian munculah anak laki-laki yang mirip dengan pak Ilham


"Ini Akbar Wijaya pak" ucap pak Kyai


Pak Ilham mengarahkan pandangan ke arah Akbar, beliau meneteskan air mata setelah menatapnya, ternyata keinginan punya anak laki-laki terkabul. Pak Ilham segera memeluk putranya, Akbar yang di peluk tiba-tiba tampak kebingungan.


"Akbar, ini adalah ayah kandungmu" ucap pak Kyai


Akbar diam dengan raut wajah terlihat masih bingung


"Akbar ciumlah punggung tangan ayahmu" ucap pak kyai lagi


Akbar pun meraih tangan bapaknya, dan mencium punggung tanganya


Selama ini Akbar tidak pernah tahu orang tuanya. Setahu dia, ibunya meninggal saat dia masih bayi, dan ayahnya tidak tahu kemana, bahkan Akbar tidak pernah tahu seperti apa rupa mereka.


"Apa benar bapak adalah bapaku?"


"Iya nak, ini bapakmu?" maafin bapak, selama ini bapak mencari kalian, sekarang bapak menemukanmu tapi malah ibumu sudah tiada


Pak kyai memberi ruang pada Akbar dan pak Ilham di sebuah gazebo depan pondok, untuk berbicara empat mata. Sedangkan Anjar dan pak Kyai berbincang di ruang tamu.


Setelah Pak Ilham bercerita tentang dirinya dan Arum, yang tak lain adalah ibunya,

__ADS_1


Akbar yang pada dasarnya memiliki sifat baik, dan sabar, dia pun menerima pak Ilham sebagai bapaknya.


"Nak, bapak sudah ijin ke pak Kyai untuk membawamu pulang ke rumah pak Danang, nanti bapak juga akan membawamu pulang ke Semarang, ke kampung halaman ibumu dan bapak"


"Kamu mau kan nak?" bujuk pak Ilham


"Akbar mau pak, tapi?" apa tidak apa-apa kalau Akbar tinggal sama bapak?"


"Tentu tidak apa-apa nak?" Mereka juga ingin bertemu denganmu"


"Mereka siapa pak?" tanya Akbar


"Istri bapak, dan kakakmu, anak bapak dari istri pertama bapak, namanya Puspa, kamu bisa panggil dia mba Puspa, dan laki-laki yang datang bersama bapak itu suaminya, kamu bisa panggil mas Anjar"


"Baik pak Akbar akan ikut bapak, tapi,,,,," Akbar menggatung kalimatnya


"Tapi apa?"


"Mengurus kepindahan butuh waktu lama pak"


"Kamu tidak usah khawatir, ada mas mu yang akan mengurusnya nanti, yang penting kamu ikut bapak pulang"


"Baiklah pak"


Setelah terlibat pembicaraan yang cukup panjang, Akbar pun sudah mengemasi barang-barangnya, mereka berpamitan kepada pak Kyai selaku pengasuh pondok pesantren "Raudhatul Huda"


Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang, tapi sebelum kembali ke rumah pak Danang, Anjar membelokan mobilnya ke arah restauran untuk makan malam.


Saat di dalam mobil, Anjar pun berusaha akrab dengan adik iparnya, mereka ngobrol bak orang yang sudah lama kenal. Anjar yang memiliki sifat mudah bergaul dan ramah, di imbangi oleh Akbar yang punya sikap kalem, dan penuh kesopanan, membuat mereka cepat akrab


Mereka telah sampai di restauran, duduk dan menunggu pesanan siap, tiba-tiba dering ponsel berbunyi


"Halo dhe?"


"Mas gimana, ini sudah jam 8 malam kenapa ngga kasih kabar?" ucap Puspa di sebrang telfon


Alih-alih menjawab pertanyaan sang istri, Anjar justru memerintahkan untuk mengalihkan panggilan ke vidio call


"Vidio call saja ya dhe"


Setelah di Alihkan, menampilkan wajah Akbar


"Dhe itu adik laki-lakimu?" ucap Anjar


"Akbar, bicaralah sama kakakmu" ucapnya lagi


"Assalamualaikum mba?"


"Walaikumsalam" jawab Puspa, "Namamu Akbar"


"Iya mba"


Puspa benar-benar terkejut, ternyata akbar sangat mirip dengan bapaknya


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2