Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
Part 17


__ADS_3

Hari ini Anjar belum mengijinkan istrinya berangkat mengajar, karena Anjar tahu betul bahwa suasana hati istrinya masih belum baik. percuma saja jika mengajar pasti tidak akan fokus, jadi Anjar malarangnya pergi, dan menyuruhnya untuk istirahat di rumah.


"Dhe, hari ini bunda sama mba Siska mau datang buat nemenin kamu di rumah, kamu jangan terlalu banyak pikiran oke?"


Puspa hanya menganggukan kepala.


"Mas akan berangkat nanti setelah bunda sama Mba Siska datang"


Lagi-lagi Puspa hanya mengangguk.


Tepat pukul 8 pagi, terdengar suara klakson mobil dari balik gerbang.


"Bunda sama mba siska datang" mas akan buka pintu, kamu pergilah cuci muka, supaya terlihat lebih segar..


Bunda, Mba Siska, dan si kecil Aurell sudah datang, mereka membawa banyak makanan. Bunda dan mba Siska langsung masuk ke dapur untuk meletakan barang-barang yang mereka bawa. Bunda yang mencuci piring bekas anak dan menantunya sarapan, mba Siska yang terlihat sedang memasukan makanan ke dalam kulkas. Dan Anjar berjalan menghampiri mereka dengan menggendong Aurell.


"Aunty Puspa, ada dimana Uncle? tanya mba Siska


"Ada di atas mba, tadi bilang mau cuci muka"


"Aurell, kita ke Aunty yuk" Ajak Anjar pada keponakannya, yang masih berada dalam gendongannya.


Memasuki kamar terlihat sosok Puspa yang sedang memoles bibirnya dengan lipstik, di depan cermin


"Aunty.... Aurell datang" Ucap Anjar dengan gaya khas suara anak kecil


"Aunty" Seru keponakannya, yang meminta langsung terun dari gendongan unclenya lalu gegas berlari ke arah Puspa"


"Aurell sayang"


"Aunty, Aurell mau pake itu" sembari menunjuk bibir Puspa.


"Dhe mas berangkat ya, nanti mas usahain pulang cepet" kamu jangan terlalu memikirkannya, biar mas yang selesaikan semua"


"Iya, mas hati-hati di jalan"


"Ok, kamu juga jangan lupa makan siang, tadi kamu sarapan cuma sedikit" seraya mengulurkan tangan, dan mencium kening sang istri.


"Aurell, uncle kerja dulu ya, mencium pipinya dengan gemas" dada cantik


"Dada uncle" Aurell yang masih sibuk dengan benda milik Puspa


...@@@...


Puspa terlihat lebih segar dari sebelumnya Apalagi, dia di temani oleh keponakannya yang lucu, ibu mertua, dan juga kakak iparnya.


Saat Puspa turun, terlihat dua wanita beda generasi itu sedang berkutat di dapur.


"Bunda" sambil mencium punggung tangan mertuanya, lalu menghampiri kakak iparnya yang di sambut dengan pelukan.

__ADS_1


"Mba Siska masak apa?"


"Mba bikin tomyam aunty"


"Waaahh enak ni"


"Aunty duduk saja sama Bunda" ucap Siska, Siska terkejut mendapati wajah gadis kecilnya penuh dengan lipstik pada bibirnya.


"Aurell pasti main-main sama lipstiknya aunty kan, nanti lipstik Aunty abis, di marah-marahin lho sama uncle"


"Sedikit aja bunda" Ucap Aurell dengan nada suara khas anak kecil.


"Ngga Apa-apa mba"


"kau tahu aunty, Lipstik emba juga abis buat mainan dia"


"Kan anak gadis, iya kan sayang" seru bunda.


Siska kalau beli lipstik yang bener-bener aman.. anaknya udah mulai pinter ini" pengin dandan juga kaya bundanya" iya kan sayang?" di ikuti tawa mereka.


Kini mereka duduk di ruang keluarga, menikmati tomyam yang di buat Siska sembari ngobrol.


"Untung saja golongan darahmu sama, jadi bisa nyumbangin buat gadis tak tahu diri itu, ucap sang ibu mertua


"Iya bund Anak jaman sekarang mah nekad" Timpal Siska, emang Aunty sama uncle kenal di mana si?"


Lalu Puspa menceritakan tanpa ada yang terlewatkan, termasuk mengenai rumah tangganya.


Bunda, Mba Siska serta Aurell pun ahirnya pamit pulang.


"Anjar, titip menantu bunda ya, kalau ada apa-apa kabarin Ayah sama bunda, ucap bunda yang di ikuti uluran tangan Anjar lalu mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya.


"Pulang dulu ya Aunty, Uncle" sahut Siska


"Dada Aunty, dada Ancle, ucap Aurell tak mau kalah"


"Dada Aurell sayang"seraya melambaikan tangan.


...~~...


...~~~...


Di dalam kamar berukuran 5×7m, Anjar dan Puspa yang sama-sama menyenderkan bahunya di kepala ranjang, dengan laptop di pangkuan masing-masing, mereka sibuk dengan pekerjaan mereka. tiba-tiba bunyi notif pesan masuk di ponsel Anjar.


"Dhe ambilin Hp mas di nakas sebelahmu?"


"Oh ya mas"


"Syukurlah" sesaat setelah membaca pesan dari bu Ranti

__ADS_1


"Ada apa mas?"


"Ini pesan dari bibinya Cantika dhe, Cantika sudah melewati masa kritisnya, tadi siang sudah sadar, katanya"


"Syukurlah mas, aku lega"


"Sayang, pokoknya kamu tidak boleh pusing mikirin masalah ini, Mas akan selesaikan secepatnya, dengan satu tangan memegang pipi kanan Puspa.


Puspa mengangguk, meraih tangan Anjar yang menyentuh pipinya, lalu menciumnya


"Makasih mas"


"Sudah selesai kerjaanya?"


"Sedikit lagi mas", jawab Puspa


"Kalau sudah selesai lekas tidur, istirahatlah" matamu terlihat lelah, Mas mau kebawah bikin kopi, nanti langsung ke ruang kerja. Menyelesaikan pekerjaan di sana.


"Iya mas"


Setelah mengelus kepala Puspa, Anjar beranjak dari kasur dan meninggalkan kamar.


Belum sampai di ruang kerjanya, ponsel kembali berdering, kali ini dari sang Pengacara, yang membantu kasus Puspa.


"Hallo, selamat malam?"


"Selamat malam pak, ucap seseorang di sebrang telfon.


"bagaimana perkembangan kasusnya, pak agung?"


"Pak Anjar beserta istri tidak perlu khawatir, karena setelah di selidiki, ini bukan salah bu Puspa sepenuhnya, pelapor meminta agar masalah ini di selesaikan secara kekeluargaan, dan pelapor juga sudah mencabut tuntutannya.


"Oh begitu ya pak" Baiklah pak


"Tapi pak Anjar, ketika saya ke rumah sakit, dan bertemu dengan keluarga korban, yaitu bibinya, dia meminta bantuan dana untuk pengobatan saudari Catika" dan untuk masalah ini saya serahkan kepada pak Anjar dan istri"


Begitulah penjelasan dari pak Agung selaku pengacara keluarga Dhaniswara


"Baik pak masalah itu nanti biar saya yang selesaikan. Terimakasih pak Agung atas bantuannya" ucap Anjar


"Sama-sama pak" Selamat beristirahat"


Sambungan pun terputus.


Anjar sudah bisa bernafas lega, setidaknya urusan dengan hukum telah selesai, kini tinggal menyelesaikan dengan pihak Cantika.


Di dalam ruangan kerja, Anjar benar-benar sibuk, hingga lewat pukul 10, pekerjaan baru selesai. Mengemasi berkas dan Menyiapkannya Untuk di bawa ke kantor besok.. Anjar keluar dari ruang kerja tak lupa mematikan lampunya, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar.


Sesampainya di kamar, dengan lampu temaramnya, terlihat sosok sang istri sudah traveling ke alam mimpi.

__ADS_1


Bergegas Anjar masuk ke kamar mandi mencuci muka dan menggosok gigi. lalu segera membawa dirinya ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Sebelum memejamkan mata, Anjar melihat buliran keringat di kening istrinya, mengusapnya menggunakan tisu, kemudian mencium keningnya sedikit lebih lama...


Bersambung


__ADS_2