
Setelah satu minggu koma, nenek menghembuskan nafas terahirnya, di rumah sakit.
Keluarga Dhaniswara begitu kehilangan sosok pendiri BOM & FOOD. Sebuah perusahaan yag di bangun oleh single mother.
Suana pemakaman berlangsung sangat haru.
Satu-persatu orang-orang meninggalkan area pemakaman. menyisakan Pak Dhaniswara yang masih termenung di depan makam sang ibu, di temani istrinya...
"Ayah, ayo kita pulang, biarkan ibu istrirahat dengan tenang"
Pak Dhaniswara tidak menjawab ucapan istrinya, Dia hanya mengelus punggung tanganya, berharap mendapat kekuatan dari sentuhan itu.
Kini pak Dhaniswara dan Bu Rita sudah berada di dalam mobil, sang sopir siap melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Dirumah masih ada sanak saudara yang lain, yang sebentar lagi mungkin juga akan kembali ke rumah masing-masing.
Akan di adakan doa bersama selama 7 hari, untuk mendoakan sang nenek. Dengan mengundang para tetangga, anak yatim dan pak Kyai.
Selama 7 hari pula, Anjar dan Puspa, serta Rafa dan Siska menginap di rumah orang tuanya.
Satu bulan kepergian nenek, keluarga Dhaniswara sudah beraktifitas seperti biasa. mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.
Tak terkecuali dengan Puspa, di awal kehamilannya, yang baru menginjak dua bulan, dia tetap mengajar, walaupun sesekali ia merasa pusing dan mual.
"Kak hari ini kelihatan pucat, apa kakak sakit?" tanya anggun yang baru saja masuk ruang guru
"Sedikit pusing nggun, tapi ngga apa-apa, namanya juga trisemester pertama"
"Maksudnya hamil kak?"
"Huumm"
"Ihhh kok ngga ngasih tahu kak, udah berapa bulan emang?
"Baru mau dua bulan"
"iihh senengnya, selamat ya kak, bentar lagi jadi mommy"
"Terimakasih" sambil menyunggingkan senyum.
Saat Puspa dan Anggun tengah ngobrol, tiba-tiba Satpam sekolah datang menghampiri mereka dengan membawa buket bunga.
"Bu Puspa, ini ada kiriman bunga" ucapnya
"Dari siapa pak?"
"Kurang tahu bu, coba di lihat siapa tahu ada nama pengirimnya di situ"
Sesaat setelah membaca note yang terselip di bunga, Puspa tahu bahwa yang mengirimnya adalah kakak kelas satu tingkat sewaktu di SMA.
"Bara, kok dia bisa tahu aku ngajar di sini, maksudnya apa kirim-kirim bunga juga" Puspa Membatin
"Kak udah aku photo nie, aku up ya di wa storyku" ucap anggun
"Terserah kamu nggun, dah ya belnya udah bunyi, aku mau ke kelas dulu"
"Ok kak aku juga ada kelas ngajar jam ini"
Puspa tak ambil pusing dengan bunga yang di kirim Bara. Bahkan ia meninggalkan buket bunga itu di meja kerjanya, dan tidak membawanya pulang.
Saatnya pulang sekolah, serambi menunggu sang suami datang untuk menjemputnya, Puspa menyibukan diri mengoreksi lembar ulangan harian anak-anak. Di sini juga masih ada beberapa guru yang belum pulang, ada pula murid yang sedang mengikuti ekstrakurikuler.
Satu jam berlalu, ponsel bergetar telfon masuk dari Anjar.
__ADS_1
"Assalamualaikum" aku di depan, ucap di sebrang telfon.
Bahkan Puspa belum menjawab salamnya, telfon sudah di tutup.
"Ada apa dengannya" gumam Puspa sambil membereskan meja kerjanya.
"Bu, saya permisi, duluan pulang" ucap Puspa berpamitan dengan rekan guru
"Sudah di jemput ya bu"tanya salah satu guru
"Iya bu"
"Hati-hati bu Puspa" sahut yang lainnya.
Puspa hanya tersenyum menganggukan kepala
Saat di depan sekolah, terlihat suaminya sedang Merokok dan menyenderkan badanya di sisi mobilnya.
"Mas kok merokok lagi, padahal udah lama kan mas ngga merokok?"
"Lagi bad mood, dan lagi pengin"
Jawaban sang suami terdengar datar dan dingin, saat itu juga ada muridnya aji dan aska yang berada di sebelah Puspa dan Anjar, sudah pasti kedua murid itu mendengar jawaban dingin dari suaminya. Puspa dan Anjar memindai pandangannya ke arah dua murid itu.
"Selamat sore bu, selamat sore pak?" ucap kedua murid itu, seraya menundukan kepalanya
"Sore jawab Anjar dingin"
"Bu Puspa, kami kesana ya, di sini dingin" ucap salah satu murid dan gegas meninggalkan Puspa dan Anjar, sambil cekikikan.
"Maksud muridmu itu apa?" dia menyindirku?"
ucap Anjar lalu melemparkan rokok yang masih setengahnya"
Makan malam kali ini hening tak ada obrolan antara Anjar dan Puspa, Anjar yang tengah berfikir tentang buket bunga, dan Puspa yang masih belum paham dengan sikap suaminya semenjak pulang menjemputnya.
"Ada apa dengan mas Anjar, ngga biasanya dia seperti ini, mendiamkanku berjam-jam"
"Siapa yang berani mengirimkan buket bunga pada istri orang, apa pak gilang?, selama ini hanya dia laki-laki yang berteman dengan Puspa"
Mereka sama-sama membatin.
Tanpa berpamitan pada istrinya, Anjar langsung meninggalkan meja makan, dan setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya,
Puspa yang masih heran menatap punggung suaminya.
"Apa salahku?" gumam Puspa
Selesai sudah aktifitas di dapur, Puspa mengayunkan kakinya menuju kamar, terlihat sang suami sudah mandi dan memakai piama duduk dengan menyenderkan bahunya ke kepala ranjang, ada sebuah leptop bertengger di atas pangkuanya.
"Mas" Puspa mengahmpiri Anjar, duduk di tepi ranjang sambil memegang lutut sang suami
"Apa sudah sholat isya?" tanya Puspa
"Sudah, jawabnya singkat
"Kok ngga nungguin?"biasanya juga nungguin
"Kelamaan" jawabnya masih datar
"Ohh, ya sudah aku mau mandi dulu"
Selesai mandi, Puspa mendapati suaminya yang sudah tertidur, segera ia sholat isya, setelah itu ingin merebahkan tubuhnnya di sisi sang suami.
__ADS_1
Puspa memeluk tubuh suaminya dari arah belakang
"Mas, kalau aku ada salah maafin ya?" ucap Puspa yang ia kira suaminya sudah tertidur pulas.
"Coba jelaskan tentang buket bunga itu?"
Seketika Puspa ingat bahwa Anggun sudah memasang foto bunga itu di wa storynya, bergegas Puspa duduk dan meraih Ponselnya lalu melihat wa story Anggun
Sebuah foto menampilkan buket bunga dengan caption menggelitik
"iihhh seneng deh jadi kak Puspa, di kirimin bunga sama suaminya ke sekolah" Romantis"
Puspa berdecak sebal saat membaca captionnya "Anggun, tidak masalah kalau mau Up di storynya, tapi captionnya membuatku terkena masalah, hhhh salahku tadi ngga kasih tahu dia kalau bunganya bukan dari mas Anjar"
"Kok diem" suara Anjar, "apa sekarang mau main sembunyi-sembunyi?" sambungnya
"Anu mas,itu da-dar....."
"Dari siapa?"ucap Anjar sambil membalikkan badanya
"Dari teman SMA"
"Apa laki-laki?" tanya anjar penuh dengan tatapan menyelidik
Puspa menganggukan kepala sebagai jawabannya.
"Sudah berapa kali dia mengirim bunga untukmu"
"Baru kali ini mas"
"Besok bilang ke dia, ngga usah kirim-kirim bunga lagi ke istri orang"
"Aku juga ngga tau mas, bahkan aku belum bertemu dengannya"
"Lalu kenapa dia bisa kirim ke sekolahmu"
"Ngga tahu juga mas"
"Terus kenapa ngga crita?"
"Ngga penting juga, kan, lagian aku ngga memikirkan bunga itu, apalagi orangnya" ngga berkesan sama sekali ngapain di inget-inget"
"Ada di mana bunganya?
"Aku tinggal di sekolah"
"Sini tidur" Anjar membawa Puspa berbaring di pelukannya.
"Jadi mas mendiamkanku gara-gara ini?"
"Mas diem karena nungguin kamu menjelaskan sendiri, tanpa mas tanya"
"Iya maaf lain kali aku akan crita kalau ada apa-apa"
Satu kecupan mendarat di kening Puspa
"Baru jam 9, apa mau tidur"tanya Anjar
Puspa menatap suaminya yang sedang tersenyum jahil, Puspa tahu apa maksudnya
"Terserah mas saja, tapi pelan-pelan"
Merasa mendapat lampu hijau, Anjar tak menyia-nyiakan kesempatan ini, Bersembunyi di balik selimut, dan memulai aktifitas malam sebelum tidur
__ADS_1
Bersambung