Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
79


__ADS_3

Setelah mengetahui bahwa istrinya hamil, Anjar segera memesan tiket ke Singapura. Ia tidak sabar ingin menemuinya memeluk, menghujaninya dengan ciuman di mana-mana.


Diana terkejut saat tiba-tiba muncul sosok suaminya berada di depan pintu unit apartemennya. Anjar menaik turunkan kedua alisnya dengan mengulum bibirnya


"Kejutan"


"Kenapa tidak bilang mau kesini?" mas meninggalkan anak-anak?"


"Aku tidak meninggalkannya, bunda yang menyuruhku kesini begitu tahu kalau menantunya hamil"


"Masa si, coba ku telfon bunda"


Padahal itu hanya modus, bahkan anjar yang memaksa ayah dan bunda untuk memberi ijin menemani istrinya selama kehamilannya.


Karena tidak tega dengan Anjar yang terus memohon, akhirnya ayah pun menyetujuinya, tugas Anjar sementara akan di gantikan oleh Dirga dan Melisa, serta mendapat pengawasan dari Rafa. Namun Anjar tetap harus bekerja dari jarak jauh melalui jaringan internet


Awalnya Diana sangat marah, bagaimana bisa Anjar meninggalkan kedua anaknya selama sembilan bulan, dan juga pekerjaannya. Namun Ayah bunda serta Rafa dan Siska meyakinkan Diana akan menjaga Azam dan Sasa.


Sekarang Diana merasa lebih santai dengan adanya suami di sisinya. Pekerjaanpun terasa lebih ringan. Anjar dan Diana bersama-sama merawat Emyr. Benar saja dengan adanya papi dan maminya, perubahan yang di Alami Emyr cukup drastis, perlahan dia bisa berbicara kembali, walaupun tidak banyak kata yang terucap, dan sedikit terbata.


Malam, Diana berada di kamar Emyr, yang dulu di tempati oleh Sasa. Diana sedang menceritakan dongeng sebelum tidur, bercerita juga masuk dalam fisio terapi. Supaya ada banyak kata yang bisa di tangkap oleh Emyr.


Mengelus pelan punggungnya, sayup-sayup mata Emyr mulai terpejam. Begitu juga dengan Diana yang sudah ingin traveling menuju dunia mimpi. Samar terdengar suara Anjar memanggilnya. Satu bulan tinggal bersama, dan seringnya berinteraksi dengan anak-anak melalui sambungan telfon, serta kebiasaaannya dengan Emyr, membuat mereka merubah panggilannya.


"Mami"


"Hemmm" Diana berdehem dengan suara sedikit serak, pertanda sudah mengantuk


"Emyr sudah tidur kan?"


"Pindah ke kamar kita yuk" ucap Anjar seraya menciumi ceruk leher Diana.


"Mami mau tidur disini pi"

__ADS_1


"Ayolah sayang kita pindah saja, kasian Emyr nanti tidurnya tidak leluasa" Anjar terus membujuk istrinya dengan berbagai bujukan maut, membuat Diana menyerah


"Baiklah, ayo"


Tanpa menunggu lama Anjar segera menggendong tubuh istrinya, membawa ke kamar miliknya, membaringkan di tempat tidur,


Membelai wajah yang baginya sangat cantik. Satu kecupan ia berikan di kening milik istrinya, Dalam dan lama, kecupan yang mampu mengalirkan perasaanya. Diana hanya bisa memejamkan mata, menikmati sentuhan demi sentuhan yang terjadi begitu saja


Melepaskan gairah yang membuncah, ibarat memecahkan balon yang melambung di udara membuatnya terbang melayang di atas awan.


"Dulu sewaktu hamil Sasa apa yang ingin kamu makan?" tanya Anjar dengan posisi memeluk Diana


"Es krim, aku ingin makan es krim setiap hari" jawab Diana


"Maaf, pasti menderita sekali saat itu"


"Tidak, aku sungguh menikmatinya, dulu aku berfikir, kehadiran Sasa menandakan kalau kita memang tidak di ijinkan untuk berpisah. aku meyakinkan diri sendiri suatu saat pasti kita akan bertemu"


"Kamu tahu, kalau aku hampir gila waktu itu, aku pergi mencarimu ke hotel saat itu, kamu juga pergi ke bandung, ke bali liburan bersama Bella"


Anjar menanggukan kepala. Diana kembali mendaratkan kepalanya di lengan suaminya.


"Aku tidak tahu kalau kamu mencariku saat itu, aku gelap mata saat melihatmu keluar bersamaan dengan Cantika waktu itu"


"Aku tidak pernah menginap di hotel dengan wanita manapun, saat itu aku dan Cantika tidak sengaja bertemu di lobi hotel, sekalian saja aku mengantarkannya ke bandara, karena pagi itu dia ada jam terbang, waktu itu aku aku baru saja selesai meeting di situ, karena investor dari China yang meminta meeting di hotel deket bandara"


"Maaf sekali lagi" jawab Diana dengan suara sedikit parau karena mengantuk


"Tidak apa-apa, terus apa lagi yang ingin kamu tahu tanyakanlah, aku akan menjelaskan semuanya"


"Aku juga melihat kalian bermain di taman kota"


"Kapan itu?"tanya Anjar

__ADS_1


"Sudah lama sekali, ingat kan waktu aku pulang dalam keadaan basah kuyub, aku habis melihatmu dengan Cantika di taman itu


"Yang itu, dulu si Cantika mampir ke rumah, ingin bertemu denganku, bunda menelfonku untuk segera pulang dari kantor, Pas aku sudah di rumah, mba Siska menelfon bunda minta tolong untuk datang ke rumahnya, dari pada aku dan Cantika berdua di rumah, ya sudah ku ajak dia serta Azam dan Emyr main-main di taman, waktu itu juga Cantika pengin bertemu denganmu, tapi bunda bilang, kamu sedang pergi ke panti, sepulang dari taman Cantika sempat menunggumu di rumah, saat itu, waktu sudah mau maghrib kamu belum pulang, dan cuaca mendadak hujan, jadilah Cantika pamit duluan"


"Tapi cengkraman mu waktu itu kuat sekali, pergelangan tanganku sampai sakit" ujar Diana


"Maaf, tangan mana yang aku pegang waktu itu?"


"Tangan kananku pi"


Anjar segera meraih tangan Diana, "mana yang sakit?" lalu dengan cepat Ia mencium pergelangan tangan Diana.


Malam semakin larut membuat mata Diana tak mampu lagi terbuka, perlahan ia mulai memasuki alam bawah sadarnya. Tak lama setelah itu, Anjar menyusulnya merajut mimpi.


Pagi hari selesai sholat subuh mereka kembali merajut kasih, melakukan ibadah bersama-sama.


Selesai memasak Diana kembali ke kamarnya, berniat membangunkan sang suami. Terlihat Anjar sudah mandi, dan tidur lagi dalam keadaan rambut masih basah membuat Diana menggelengkan kepala


Diana segera meraih handuk kering, memindahkan kepala Anjar ke pangkuanya, lalu mulai menggerakan tangan mengeringkan rambut basah milik suaminya, mengetahui hal itu, Anjar segera membalikkan kepala menghadap ke perut Diana, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Diana, seraya menciumi perutnya yang masih rata.


"Kebiasaan jelekmu banyak sekali sayang" pungkas Diana


"Apa saja?, aku merasa tidak punya kebiasaan buruk" sahut Anjar masih dengan posisi ternyamannya, menenggelamkan wajah di perut Diana


"Menatap komputer dalam ruangan yang gelap, membuat matamu rusak dan harus memakai kacamata kan?, merokok dan minum kopi, yang membuat lambungmu pernah bermasalah, sekarang tidur dalam keadaan rambut basah begini, kepalanya bisa sakit nanti"


"Aku hanya akan memakai kacamataku saat menatap layar komputer saja, aku juga sudah lama sekali tidak merokok dan minum kopi, bahka lupa bagaimana rasanya kopi"


"Sudah pi, sudah kering"


"Lagi dong mami, berasa di pijit kepalanya, enak sekali"


"Nanti lagi, sekarang sarapan dulu, setelah itu bawa Emyr berjemur di taman bawah"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2