Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
70


__ADS_3

Mengetahui tingkah pak Yono, Anjar menarik tangan Diana, hendak menuju kamar, namun niat membawa istrinya di hadang oleh Azam


"Mami dari mana?" ucap Azam dengan menyilangkan tangannya, dan juga tatapan tajam


Azam yang awalnya tampak malu, karena lama tidak bertemu dengan maminya, kini ia menunjukan sifat manjanya yang mulai mendominasi


Azam sudah cuci muka?"


Dia menggeleng


"Kalau begitu minta papi membantumu untuk cuci muka"


"Sama mami" jawabnya


"Sama papi saja, anak laki-laki harus di bantu sama papi, kalau anak perempuan baru sama mami"


Anjar hanya mendengar percakapan mereka dengan tangan yang masih menggandeng tangan Diana


"Ini apa, papi pegang-pegang mami" sela Azam seraya melepaskan pegangan Anjar dari Diana


"Mami mau lanjutin bantuin bi Sumi masak, papinya bantuin cuci muka ok" ucap Diana sambil melirik Anjar


"Ok, ayo Azam kita mandi sekalian" Anjar meraih tubuh Azam lalu menggendongnya.


Malam hari selepas makan malam dan berbincang-bincang dengan ayah, bunda serta Rafa dan Siska, saling melepas rindu, Diana menceritakan banyak hal selama berpisah, termasuk tentang malam laknak yang membawa berkah, sehingga terciptalah Sasa.


Kini Anjar dan Diana berada di dalam kamar


Diana sedang menata pakaiannya yang baru saja ia bawa dari kamar tamu ke kamar yang dulu pernah di tempati, tidak ada yang berubah, hanya saja warna tirai yang sudah berganti


Anjar dengan aktivitasnya duduk di meja kerja hendak memesan tiket untuk menjemput putrinya yang masih di Singapura.


"Jangan dulu memesan tiket mas"


"Kenapa memangnya?" tanya Anjar sambil memutar kursi yang ia duduki menghadap ke Diana


"Bella, mama Sarah dan papa Hari, ingin menghabiskan waktu bersama Sasa, mereka tidak pergi bekerja di hari minggu. Hari Senin Sasa juga harus ke sekolah, Bella bilang, dia harus berpamitan pada guru dan teman-temannya"


"Kamu telfon Bella Di?" Anjar bertanya dengan menyilangkankan kedua tangannya di dada dan punggung ia senderkan ke kursi, menatap Diana dengan sorot mata tajam


Diana yang menyadari sorotan matanya menahan senyum


"Jangan seperti itu, nanti mata kamu rusak, kacamatamu akan tambah tebal" ucap Diana seraya memasukan bajunya ke dalam lemari


"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu menelfon Bella, aku kan juga ingin bicara pada Sasa, sekarang ayo telfon lagi, aku ingin menyapa putriku"


"Dia sudah tidur, lebih baik kamu juga tidur, ini sudah malam"


Anjar melirik jam, benar saja perbedaan waktu dimana Singapura akan lebih cepat satu jam di banding Jakarta


"Lagian aku tidak akan akan mengizinkanmu bicara dengan Sasa, karena..." Diana menghentikan ucapannya, membuat Anjar mengerutkan dahinya


"Karena apa?" tanya Anjar penasaran


"Besok saja saat sudah bertemu Sasa kamu akan tahu"


"Kamu menyembunyikan rahasia lagi dariku Di?"


Diana mengangguk

__ADS_1


"Benar ucapanmu sewaktu di gudang Di?"


Diana menghentikan gerakan tanganya yang sedang membersihkan, dan menyiapkan ranjang, yang sebentar lagi akan di tiduri, lalu menatap Anjar.


"Ucapan yang mana mas?"


"Kamu lebih kejam daripada pembunuh berantai"


"Kamu menguping mas?"


"Aku mendengarkan semua apa yang kamu katakan saat itu, bahkan kamu menuduhku selingkuh dengan Cantika"


Ranjang sudah siap, Diana hendak keluar kamar untuk melihat anak-anaknya yang sudah terlelap di kamar sebelah, sebelum ia tidur.


"Kalau begitu PR mu, menjelaskan tentang Cantika, jelaskan juga kenapa kalian bisa keluar bersama dari hotel itu" ucap Diana seraya melangkahkan kakinya menuju pintu"


"Mau kemana kamu?" tanya Anjar


"Ke kamar anak-anak"


Di kamar, Anjar memikirkan ucapan Diana


"Memang kapan aku dan Cantika keluar bersama dari dalam hotel"


Anjar benar-benar lupa kejadian tiga tahun yang lalu


Diana melihat wajah gusar suaminya, saat memasuki kamarnya


Anjar yang sudah berbaring menatap Diana, hingga Diana merebahkan diri di sampingnya


"Ada apa melihatku?, Kenapa belum tidur?" tanya Diana


"Jangan sembunyikan apapun dariku lagi. Mulai sekarang, walaupun hanya seekor semut yang menggigitmu, kamu harus menceritakannya padaku, jangan malah curhat di depan makam Puspa. Dia bisa mendengarmu, tapi tidak bisa memberimu solusi"


Diana menatap dalam suaminya, memejamkan mata, saat Anjar mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibirnya


Ciuman yang Ia rindukan yang dulu pernah di rasakan. Diana semakin menikmati sesapan bibir suaminya, sesekali ia membalasnya. Bagi Diana suaminya adalah ahlinya ahli dalam berciuman.


Diana semakin terhanyut dengan sentuhan lain nan lembut, yang ia dapatkan dari suaminya.


Menempel begitu rapat, menatap begitu lekat, seolah meminta persetujuan dari sang istri


Diana menganggukan kepala lalu memeluk tubuh kekar milik suaminya. Rasa yang begitu menggelenyar di setiap aliran darah, berpacu dengan rasa yang sudah tidak bisa lagi di tahan.


-


-


-


Anjar membawa Diana ke dalam pelukannya, setelah selesai berpetualang meniti puncak kenikmatan di pertengahan malam


Pagi hari di meja makan, bunda menatap menantunya


Diana yang sedang di tatap tidak menyadarinya karena tengah sibuk melayani suami dan anak sulungnnya Azam.


Saat Anjar menyadari tatapan bundanya pada Diana, Anjar segera melapas ikatan rambut milik Diana.


"Jangan ikat rambutmu selama beberapa hari" Bisik Anjar

__ADS_1


"Kenapa mas?"


"Sstt jangan keras-keras"


"Ada apa?" bisik Diana


"Memangnya kamu tidak sadar, ada banyak tanda merah di sekujur lehermu"


Seketika Diana merasa gugup


"Tidak perlu bisik-bisik, bunda sudah tahu, Semoga bukan nyamuk malaria yang menggigitmu Di" ucap bunda


Wajah Diana semakin memerah, ia mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia seceroboh ini.


...@@@@@@...


Keesokan harinya, Usai sholat subuh berjama'ah, Diana melangkahkan kakinya ke dapur, menyiapkan sarapan untuk sang suami, yang akan berangkat ke Singapura pagi ini.


"Boarding pasnya jam berapa mas?" tanya Diana seraya mongoleskan selai pada roti


"Jam 6:15"


"Mas, kamu kenapa, melamun gitu?"


"Di, nanti kalau Sasa tidak mau ikut denganku ke Jakarta bagaimana?,aku dan Sasa kan belum pernah ketemu, Pasti dia akan menganggapku orang asing"


"Ya itu tugasmu meyakinkan dia"


"Nanti aku telpon kamu kalau Sasa tidak mau ikut"


"Tapi aku tidak janji buat angkat telfonnya" jawab Diana Seraya menuangkan air ke dalam gelas "Ini minum dulu"


Anjar segera maraih gelas dari tangan Diana lalu meneguknya


"Ya kamu bawa ponselmu, kemana kamu pergi"


"Aku tidak suka bawa ponsel saat beraktifitas"


"Kamu kok ngeselin Di?"


"Sasa lebih ngeselin mas, Sudah selesai kan sarapannya?"


Anjar mengerucutkan bibirnya. Dengan cepat Diana memberikan ciuman singkat pada bibir milik Anjar.


"Kurang lama, hambar, tidak ada rasanya" ujar Anjar


Diana kembali mengulang kecupannya sedikit mel*umat lebih lama. Tiba-tiba bi Sumi yang baru saja bangun dan hendak menuju dapur, seketika berbalik. Diana dan Anjar merasa kikuk kedapatan sedang berciuman oleh ARTnya


"Maaf non, saya kira tidak ada orang di dapur" ucapnya


"Lupa kalau di rumah ini ternyata banyak kamera, kalau begini terus, jadi pengin pindah rumah" Gerutu Anjar, karena aktivitasnya di ganggu oleh bi Sumi


"Mas ayo aku antar ke depan"


Anjar menggandeng tangan Diana, hingga sampai depan pintu utama, tampak pak Anan sudah siap dengan mobilnya.


"Hati-hati mas, langsung saja telfon Bella saat sudah sampai"


Mobil melaju hingga menghilang dari pandangan Diana, Ia kembali memasuki rumah untuk membereskan bekas piring yang di pakai suaminya sarapan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2