Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
42 Sebuah mimpi


__ADS_3

Bunda sedang sibuk berkutat di dapur, bersama bi Sumi, sang asisten rumah tangga, terlihat sibuk memasak hidangan untuk makan malam. Karena malam ini pak Dhaniswara dan putranya akan pulang sebelum maghrib.


Sesekali bunda memindai pandangannya ke arah bocah kembar yang saat ini sedang lincah-lincahnya berlarian kesana kemari. Walaupun sudah ada Atin yang menjaga cucunya, tetap saja bunda seolah tak mau lepas dari pandangan kedua cucu penerus keluarga Dhaniswara.


"Bi Sumi?"


"Iya bu?"


Bi Sumi lihat kemarin wanita yang datang bersama Siska kan?, menurut bi Sumi bagaimana?"


"Menurut saya, dia baik, ramah, suka menolong juga kelihatanya bu"


"Kira-kira kalau saya jadikan menantu, apa bi Sumi setuju"


"Kalau saya si yang penting den Azam sama den Emyr bu" kalau dia mau menerima si kembar, menyayanginya, saya sangat setuju bu"


"Saya juga berfikir seperti itu bi, mereka akan semakin besar, suatu saat pasti akan bertanya tentang maminya, kalau ada wanita yang benar-benat menyayangi cucuku, dan cucuku pun merasa nyaman, saya akan menikahkannya dengan Anjar, tidak peduli apakah Anjar setuju atau tidak"


"Betul itu bu, tapi bu, kelihatanya non dokter itu sayang sama kembar, mereka kelihatan akrab walau baru kenal"


"Tapi kan memang cucuku itu mudah sekali akrab bi"


"Tapi sama yang ini beda bu, mereka menikmati saat bermain dengan non dokter itu"


"Semoga saja ya bi, dia adalah gadis yang di kirim Tuhan untuk menggantikan Puspa"


"Aamiin bu, mudah-mudahan dia yang terbaik, pokoknya mah saya selalu doain, kasian den Anjar juga bu, dia butuh pendamping"


Terdengar suara deru mobil, bunda yang sedang berada di dapur, bergegas jalan menuju ke arah luar, membuka pintu terlihat sosok sang suami yang sudah menemaninya selama lebih dari 30 tahun, tampak juga sosok putra ke duanya yang semakin dewasa di usia 33 tahun.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


"Kembar dimana bund?"


"Mereka ada di kamarnya, sedang mandi sama Atin, sayang?"


"Aku ke atas dulu bund?" ucap Anjar seraya berlari


"Cuci tangan dulu njar, sebelum menyentuh anak-anakmu"

__ADS_1


"Ok bund" jawab Anjar sedikit berteriak


"Bagaimana keadaan rumah selama ayah tidak ada bun?"


"Aman yah, kemarin ada Siska juga nemenin ibu selama dua malam"


"Yah, ada yang ingin bunda bicarakan sama ayah"


"Soal apa?"


"Nanti saja, setelah makan malam, sekarang ayah mandi dulu


...----------------...


"Hallo jagoan papi"


Azam dan Emyr teriak kegirangan saat mengetahui papinya di ambang pintu kamar mandi


"Tin, kamu kerjakan yang lain saja, biar kembar saya yang mandiin"


"Baik den"


Anjar begitu bahagia saat bersama dengan kedua anaknya.


"Apa Jagoan papi nakal, saat papi tidak di rumah?"


"Tidak" mereka menjawabnya kompak


"Ada main sama kakak Aurell?"


"Ada, tama bunda Siska juga" ucap Azam dengan khas cedalnya"


"tama aunty juga" Emyr ikut menimpali


Anjar menatap heran ke arah Azam dan Emyr secara bergantian


"Aunty siapa?"


"Aunty doktel"


"Maksudnya, bunda Siska?"

__ADS_1


bocah kembar itu kompak menggelengkan kepala


"Ok jagoan papi sudah ganteng sekarang, ayo kita turun, kita temui kakek sama nenek"


"Bund tolong jagain Azam sama Emyr, aku mau mandi dulu" ucap Anjar saat sudah berada di lantai bawah


Anjar kembali naik menuju ke kamarnya, untuk membersihkan diri, sebelum memasuki kamar mandi, dia meraih sebuah bingkai photo


"Sayang, aku merindukanmu, kau tahu, anak kita sangat pintar sepertimu, terimakasih sudah melahirkan mereka, aku akan mendidiknya semampuku, membuat mereka menjadi anak sholeh, seperti keinginanmu, aku akan selalu membisikan kata bahwa maminya sangat menyayangi mereka"


"Aku mencintaimu maminya Azam dan Emyr" lalu memeluk bingkai berisi photo sang istri


Di meja makan bunda tak henti-hentinya menceritakan tingkah lucu Azam dan Emyr, bunda juga menceritakan sosok Diana


"Diana siapa bund?" tanya Anjar penasaran


"Si dokter cantik temannya mba Siska njar, kemarin sempat mampir kesini"


"Oh"


Anjar sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan bunda yang membahas tentang Diana.


Usai makan, Anjar melangkahkan kaki menuju si kembar berada, Dia menggandeng kedua anaknya di tangan kanan dan kirinya lalu membawanya ke kamar.


Tiga hari tidak bertemu, membuat Anjar merindukan kedua jagoanya. Ingin rasanya Anjar tidur memeluk mereka. Azam dan Emyr bagaikan obat baginya saat sedang merindukan almarhumah istrinya.


Sudah puas mereka bermain dan bercanda, kini mereka telah tertidur pulas di samping papinya.


Tak lupa Anjar mencium kening mereka


"Mami menyayangimu sampai kapanpun" bisik Anjar tepat di telinga kedua jagoannya secara bergantian


Sebelum tidur Anjar membuka laptop memutar vidio saat dia berada di Istanbul bersama Puspa, ia putar kembali kenangan indah dengan istrinya yang sempat ia rekam.


Malam semakin larut, namun mata enggan terpejam, Anjar berinisiatif mendengarkan murotal, berharap bisa menyusul anak-anaknya merajut mimpi indah


"Mas jangan terlalu larut dalam keegoisanmu, sesekali penuhi keinginan anak-anakmu, walaupun kau tidak menginginkan itu"


Tepat pukul 3 dini hari, Anjar terbangun berusaha mengingat-ingat sebuah mimpi yang baru saja ia alami.


"Mungkin aku sangat merindukannya, jadi dia datang dalam mimpiku" Batin Anjar, lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Dia akan mengambil air wudhu berniat untuk melaksanakan sholat malam.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2