Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
Part 40 (dokter koas) si dokter muda


__ADS_3

Sebagian text terhapus


Seorang dokter muda berlari menyusuri koridor rumah sakit, tampaknya, ia sedang terburu-buru. Ia berhenti sejenak saat melihat seorang anak kecil terjatuh. Segera ia menolong gadis kecil itu dan membawa ke ibunya, lalu kembali berlari menuju ruangan dokter seniornya.


Tok,, tok,, tok


"Maaf dokter saya terlambat"


"Tumben sekali kamu terlamba Di?"


"Saya harus mengantar salah satu adik saya ke sekolah dok, kebetulan ibu panti sedang tidak enak badan"


"Oh begitu, langsung saja di, kamu ke ruang no 11 sampai 20, perikasa pasien di kamar itu"


"Baik dok" dia meninggalkan ruangan dokter seniornya, dan masuk ke ruangannya, memakai jas almamaternya, lalu mengalungkan sebuah stetoskop di lehernya.


Diana Aisyah Rahmania seorang dokter koas, dokter muda berusia 25 tahun. Dia di bimbing oleh Rafa di rumah sakit tempatnya bekerja.


Dia adalah gadis yatim piatu yang dititipkan ke panti asuhan oleh ibunya. Ayahnya meninggal dunia karena penyakit paru-paru dan setahun kemudian, sang ibu menyusulnya. Diana berusia 8 tahun saat kedua orang tuanya meninggal.


Salah satu motivasi menjadi seorang dokter adalah kedua orang tuanya. Saat orang tuanya sakit, Diana yang masih kecil belum bisa melakukan apapun untuk menyembuhkan sang ayah, hingga ahirnya dia bertekad untuk menjadi seorang dokter, jiwanya yang penolong membuat Diana ingin menolong pasien, agar bisa sembuh dan melanjutkan hidup berkumpul dengan keluarganya. Tidak seperti dirinya yang harus kehilangan keluarganya saat masih sangat kecil.


"Bagaimana kondisinya bu, apa masih lemas?" tanya Diana saat sedang memeriksa pasiennya


"Sudah enak makan dok, tidak seperti kemarin mulutnya terasa pahit"


"Ok ibu, tekanan darah ibu sudah normal, kalau bertahan seperti ini, kemungkinan besok ibu sudah boleh pulang"


"Jangan lupa makan dan obatnya di minum ya bu"


Ucapnya lagi, sebelum meninggalkan ruang pasien.


Semua pasien sudah di periksa, ia kembali ke ruangan dokter Rafa, untuk memberikan laporan hasil pemeriksaan para pasien.


Saat sedang di rumah sakit Diana akan memanggilnya dokter, dan saat di luar rumah sakit, dia akan memanggilnya abang. Diana sudah kenal baik dengan Rafa dan juga Siska.


Merekalah yang sudah merekomendasikan Diana untuk bekerja di rumah sakit ini. Karena menurut pandangan Rafa dan Siska, Diana adalah calon dokter yang gigih, bertanggung jawab, serta penyayang. Itu sebabnya Rafa dan Siska juga menganggap gadis yatim piatu itu seperti adiknya.


Saat jam makan siang Rafa dan Diana berada di kantin rumah sakit, mereka sedang


menunggu pesanan siap


"Abang bagaimana kabar Aurell?"


"Baik, sekarang dia suka caper, dia berusaha menarik perhatian ayah dan bundanya, karena kami terlalu sibuk dengan pekerjaan kami"


"Kasihan deh Aurell bang"


"Iya juga, tapi saat mba Siska akan resign, Tidak di ijinin sama Aurell"


"Loh kenapa bang" tanya Diana seraya menyedot jus miliknya

__ADS_1


"Dia bilang bunda tidak boleh resign, bunda harus menolong orang sakit, supaya tidak meninggal seperti aunty nya"


Diana mengerutkan dahi menatap Rafa dalam


"memangnya adek abang atau mba Siska ada yang meninggal bang?" tanya Diana penasaran


"Adik ipar, dia meninggal sebulan sebelum melahirkan"


Diana semakin antusias mendengar cerita dokter Rafa


"Kenapa bang?"


"Keserempet motor, bersyukur bayi kembarnya bisa di selamatkan"


"Anaknya kembar bang?"


"Iya anaknya kembar laki-laki"


"Kok aku jadi terharu dengar ceritamu bang" sahut Diana


Tak lama kemudian seorang pramusaji datang membawa pesanan mereka ke mejanya.


"Sudah lama kejadiannya bang?"


"Sudah 2 tahun" jawab Rafa


"Berati 2 tahun juga usia si kembar?


"Aku pikir cuma aku yang kehilangan orang tua saat masih kecil" ternyata ada bayi juga yang harus kehilangan ibunya,,, sekarang mereka cuma sama bapaknya bang?"


"Iya, mereka sekarang tinggal sama papinya, tapi ada orang tuaku yang bantu merawat mereka, karena adiku "papinya si kembar" harus mengurus perusahaan" Lain kali main kerumah abang, anaknya sangat menggemaskan" sambung Rafa, mereka sering ke rumah abang, karena Aurell suka ngotot minta adik kembarnya main kerumah.


"Wahh jadi penasaran bang"


Jam menunjukan pukul 16:00, menandakan tugas Diana sebagai dokter koas hari ini selesai dan akan di gantikan oleh dokter koas yang lain.


Saat sedang menunggu bis, tampak Rafa menghentikan mobilnya tepat di hadapannya


"Di, masuklah ku antar pulang" ucap Rafa dari dalam mobil


"Emang tidak apa-apa bang, tidak merepotkan?"


"Tidak, santai saja"


Diana pun naik kedalam mobil milik Rafa


"Bang ini benar tidak merepotkan, nanti mba Siska nungguin abang loh di rumah"


"Abang sudah ijin tadi"


Saat sudah di depan panti, terlihat anak-anak panti sedang asik bermain di halaman, dan berlari menuju pintu gerbang saat mengetahui Diana pulang

__ADS_1


"Makasih bang, sudah mengantarku" ucap Diana sambil melepas sabuk pengaman "Salam buat si cantik Aurell dan mba Siska"


"Ok" jawab Rafa


"Hati-hati bang" Rafa menekan klakson dan melajukan mobilnya pelan


Rafa sempat melirik ke arah spion, melihat Diana yang sedang di kerubungi oleh adik-adik panti. Mereka terlihat begitu menyayangi Diana


Terbesit di pikiran Rafa untuk menjodohkan gadis yatim piatu bernama Diana yang juga seorang dokter yang kompeten dan juga penyayang, dengan sang adik.


Rambut panjang yang lurus sedikit pirang, hidung mancung dan mata lebar terlihat cantik natural, dan sifatnya yang baik hati serta ceria menambah nilai plus. Walaupun belum berhijab, Diana termasuk wanita yang rajin beribadah. Sering sekali Rafa mendapati Diana sedang sholat di mushola rumah sakit.


"Aku harus minta pendapat Siska tentang rencanaku ini"


Rafa terus melajukan mobilnya, dengan di iringi musik mellow, perjalanan sedikit macet, karena ini jam pulang kantor.


Sesampainya di rumah, Rafa memarkirkan mobilnya di samping mobil Siska. Berjalan memasuki kediamannya yang sudah di sambut mesra oleh senyuman sang istri


Siska segera meraih tangan Rafa dan mencium punggung tangannya, lalu membantu melepaskan jas dan meraih tas miliknya


"Sudah di antar istri ke duamu?" canda Siska


Rafa melingkarkan tanganya di pinggang siksa, berjalan bersisian menaiki tangga


"Jangan ngomong seperti itu bund, memangnya bunda rela, ayah punya istri lagi?"


"Bunda cuma bercanda yah"


"Bund, ada yang mau ayah bicarakan" ucap Rafa saat sudah berada di kamarnya


Siska menatap suaminya dengan tatapan penuh menyelidik


"Soal apa yah?" jawab Siska sambil melepas kancing kemeja Rafa


"Soal Anjar dan Diana?"


"Ada apa dengan mereka?" Siska memicingkan matanya


"Ayah berniat menjodohkan Anjar dan dokter Diana bund, menurut bunda gimana?"


Siska sedikit kaget dengan ucapan sang suami


"Mas apa tidak apa-apa kalau kita ikut campur urusan Anjar?" selama ini bunda Rita berusaha menjodohkan Anjar dengan beberapa wanita, dan ayah tahu kan semua di tolak mentah-mentah oleh Anjar.


Rafa membenarkan ucapan istrinya


"Kita usaha dulu bagaimana bund? bunda juga harus bantu ayah?"


Setelah lama berfikir, ahirnya Siska menyetujui rencana Rafa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2