Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
74


__ADS_3

Anjar dan Diana tengah mengobrol, setelah sama-sama hanyut dalam lautan madu.


Mereka membahas tentang keberangkatan Diana dan Emyr, yang akan pergi ke Singapura besok hari.


"Jangan kunjungi kami setiap minggu mas?"


"Kenapa?"


"Jangan gunakan perjalananmu untuk sesuatu yang tidak penting"


"Aku menjenguk anak dan istriku, kenapa kamu bilang tidak penting, itu sangat penting"


"Ada yang lebih penting, Abang dan Sasa ada di sini, dari pada waktumu terbuang di jalan, kamu juga pasti cape, lebih baik gunakan untuk bermain bersama mereka. Coba bayangin, senin sampai jum'at kamu ke kantor, nanti kalau sabtu & minggu menjenguku, kasian mereka kan?" Belum lagi jika kamu ada tugas di luar kota, anakmu pasti terlantar


"Kenapa terlantar, ada nenek dan kakeknya, ada Bi Sumi dan Atin, pasti nanti bang Rafa dan mba Siska juga datang"


"Beda mas" sahut Diana


Anjar diam mencerna ucapan istrinya


"Pokoknya aku ingin mas kunjungi kami 2 bulan sekali, aku juga ingin kamu urus anak-anak dengan benar, aku akan sering menelfonmu nanti"


"Dua bulan lama loh Di"


"Tiga tahun lebih lama mas"


"Mami, papi"


Tiba-tiba terdengar suara Sasa dari balik pintu


"Sasa mas"


Anjar segera memunguti pakaiannya di lantai, yang belum sempat di pakai usai menikmati tubuh istrinya


Begitu juga dengan Diana. Dengan terburu-buru mereka mengenakan pakaianya, bagaikan pencuri yang sedang tertangkap basah oleh pemilik rumah.


"Sasa" ucap Anjar saat pintu terbuka,seraya mengangkat tubuh putrinya, lalu membawanya menuju ranjang" Apa Sasa tidak bisa tidur lagi?" tanyanya


"Kamalnya besal Sasa tidak suka, Sasa takut bobo sendili"


"Benar katamu, dia nyebelin" ucap Anjar pada Diana


"Dia anakmu loh mas, dia masih menyesuaikan jadi harap maklum kalau belum bisa nyenyak, apalagi dia terbiasa dengan kamar yang sempit saat di Singapura"


"Memangnya aku serius mengatakannya, aku cuma bercanda"


"Siapa yang nyebelin pi?" tanya Sasa polos


"Mami" sahut Anjar Asal


"Mami nyebelin?"


"Sudah ayo bobo, pejamkan matamu, papi sama mami di sini, nemenin Sasa"


...______________________...

__ADS_1


Hari ini Diana akan terbang ke Singapura, ia membawa serta Emyr untuk menjalani pengobatan di Sana. Ia akan di antar oleh Anjar menuju bandara.


"Hati-hati Di kalau sudah sampai, segera telfon bunda"


"Iya Bun nitip Azam sama Sasa, tolong ingetin mas Anjar supaya sering-sering nemenin mereka"


"Abang, Sasa, mami pergi dulu, kalian jangan nakal, harus nurut sama papi, doain Abang Emyr supaya cepat sembuh"


"Iya mi" jawab Sasa, dan Azam hanya menganggukan kepala


"Pergi dulu yah, ayah selalu jaga kesehatan" pamit Diana lalu mencium punggung tangan mertuanya


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Jakarta yang selalu ramai dengan kendaraan yang memadati jalan


Terjadi aksi diam antara Diana dan Anjar. Mereka tidak terlibat pembicaraan apapun. Sesekali Anjar melirik wajah istrinya yang baginya selalu menjadi nomor satu di hatinya.


Sementara Emyr, duduk di kursi belakang


"Mas" panggil Diana


"Hem" Anjar hanya menjawab dengan deheman yang membuat Diana semakin merasa bersalah, karena telah melarangnya untuk menjenguk satu minggu sekali


"Apa kamu marah, karena aku melarangmu menjenguk kami"


"Tidak" jawab Anjar


"Mari kita sama-sama berkorban demi Emyr, kita kerja sama merawat anak kita, aku mengurus Emyr, dan kamu, mengurus Abang dan Sasa"


"Iya"


"Kamu ini bawel sekali Di, dosa loh bawelin suami" ucap Anjar dengan pandangan tetap fokus ke depan


"Kan kamu yang tanggung dosaku mas, kamu lupa?"


Mobil telah sampai di bandara. Anjar merasa berat melepas kepergian istri dan anak, berpisah untuk jangka waktu yang lumayan lama. Tapi walau bagaimananpun, ia juga menginginkan anaknya sembuh, bermain dan bercanda, berlari menendang bola seperti dulu.


"Maaf, aku akan turuti perkataanmu, aku akan menjaga dua anak kita di sini" ucap Anjar


Diana tersenyum mendengarnya


"Tapi kamu jangan bosan kalau setiap hari aku akan menelfonmu" lanjut Anjar


"Tidak akan mas, aku juga butuh laporanmu dalam menjaga mereka, setiap hari kamu harus laporkan kegiatan mereka"


Anjar berlutut di depan kursi roda Emyr


"Sayang, Abang Emyr harus sembuh, tinggallah sama mami di sana, nanti kita pasti akan kumpul kembali, kita main bola seperti dulu, sama abang Zamzam" papi dan mami Puspa selalu menyayangimu, mami Diana juga sayang sama Emyr. Emyr semangat ya, jangan kecewain mama Diana.


Suara operator memperingatkan penumpang agar segera bersiap-siap sudah terdengar dari pelantang suara.


Diana segera meraih tangan suaminya dan mecium punggung tangannya.


"Sayang, titip Emyr" ucap Anjar lalu mencium kening istrinya, Diana sempat protes karena ini tempat umum, namun seolah Anjar tidak peduli.


Lalu beralih mendaratkan ciuman di pucuk kepala Emyr

__ADS_1


"Hati-hati sayang, jaga hatimu juga untuku, I love you"


"I love you too" balas Diana "Titip anak-anak juga, aku akan menghukummu jika kamu tidak merawat mereka dengan baik"


Anjar menganggukan kepala sebagai jawaban


Diana segera meninggalkan Anjar, menyeret koper besar, di bantu oleh petugas bandara yang mendorong kursi roda milik Emyr.


Perjuangan Diana untuk mengobati anak sambungnya di mulai, ini ia lakukan semata karena memang sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri, juga sebagai bentuk tanggung jawab pada ibu kandung Emyr


"Mba Puspa, maafkan aku sudah membuat Emyr seperti ini, aku akan merawatnya sampai sembuh"


Diana sama sekali tidak melepas pelukannya pada tubuh Emyr barang sebentarpun, selama duduk di dalam pesawat, bahkan ia mengurungkan niatnya saat ingin ke toilet.


Sesampainya si Singapura, Diana dan Emyr sudah di jemput oleh sahabatnya. Bella yang juga seorang dokter ahli gizi, akan membantu proses perawatan Emyr.


"Apa kabar Di"


"Baik Bell"


"Apa ini Emyr, hay Emyr, Emyr boleh panggil mami Bella. Emyr semangat sembuh ya nanti"


Mereka berjalan menuju mobil milik Bella.


"Bell, maaf ya, selalu merepotkanmu" ucap Diana, saat mobil sudah melaju


"Jangan merasa merepotkanku Di, aku ini sahabatmu"


"Iya iya terimakasih, kamu memang sahabat terbaik"


"Di, aku tidak bisa membayangkan saat kamu melihat Emyr dalam kondisi seperti ini"


"Aku pinsan waktu itu bell.


Dia yang dulu selalu menghapus air mataku saat aku menangis karena papinya, dari awal juga dia yang lebih dekat denganku dari pada Azam.


Pernah aku melihatnya terluka karena jatuh, dan aku menangisi lukanya, apalagi saat melihatnya dalam kondisi seperti ini, aku tidak bisa menopang tubuhku lagi Bell, aku menyesal sekali sudah meninggalkannya. Aku sudah menyakiti anak yang sudah tidak memiliki ibu.


"Anak yang dulu sangat ceria, dengan tubuh gempal dan menggemaskan, saat aku tinggalkan, dan menjadi seperti ini saat aku kembali, Sakit sekali rasanya Bell. Tanpa sepengetahuan orang rumah, aku menangisinya setiap hari.


"Sudah Di jangan di ingat-ingat lagi, aku sudah menghubungi dokter-dokter ahli untuk mendampingi Emyr, kita akan melakukan yang terbaik untuknya, aku juga punya kabar bahagia, dan ingin membaginya padamu"


"Apa itu Bell?"


"Aku hamil lagi Di?"


"Wah selamat Bell, aku harap anaknya nanti perempuan"


"Laki-laki atau perempuan sama saja Di, yang penting sehat"


"Berdoa dan berharap kan sah-sah saja"


"Iya si" jawab Bella "Aamiinin saja deh lanjutnya seraya mengulum bibirnya


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2