Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
Part 34


__ADS_3

Setelah hampir satu bulan, Puspa mencari adiknya yang bernama Tika, sampai sekarang belum ada titik terang. Bapak yang telah menanyakan alamat bu Ranti pada keluarganya di Semarang, tapi yang di berikan justru alamat yang dulu sudah di datangi dan rumah sudah di huni oleh orang lain.


"Mas, apa kita coba mencari tahu tentang bu Ranti bibinya Cantika?"


"Ngga mau sayang, mas belum siap kalau yang kita cari benar-benar mereka"


"Tapi siap ngga siap kan memang harus kita terima mas"


"Iya si, tapi biarkan saja sayang, kita tunggu kabar lagi dari bapak"


"Ya sudah kalau begitu"


Kini kandungan Puspa sudah memasuki usia lima bulan. Terkadang Puspa merasakan gerakan janin di dalam perut. Hal itu memberikan perasaan mendebarkan bagi Puspa. Berbeda dengan Anjar yang selalu antusias menanti pergerakan sang janin. Anjar selalu memperhatikan dan mengelus perut Puspa saat hendak tidur di malam hari. Terkadang sesekali Anjar mengajak buah hatinya berbincang. Terdengar sangat lucu bagi Puspa, jika Anjar sudah berbicara dengan calon anaknya.


Walaupun sudah terlihat baby bump, Puspa sama sekali tidak merasakan malas ataupun manja, Ia selalu menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik, serta selalu melayani suami yang justru sering merasakan mual, dan sedikit uring-uringan.


Minggu pagi Anjar dan Puspa sudah berjalan keliling komplek tempat mereka tinggal. Saat melihat pedagang serabi solo, Puspa meminta Anjar untuk membelinya.


Seperti biasa, Puspa hanya memakannya sedikit, ia akan menyuruh suaminya untuk menghabiskannya. Puspa merasa puas saat ia melihat suaminya memakan apa yang dia inginkan.


"Mas, ibu sama Akbar mau datang, mereka rencananya mau nginep selama seminggu"


"Cuma ibu sama akbar dhe?"


"Iya"


"Bapak kenapa ngga ikut?"


"Ngga tahu, besok coba mas tanya ke ibu"


Di ruang kelas, Puspa telah menerangkan tentang bentuk Aljabar kepada para Siswanya, tiba-tiba seorang guru mengetuk pintu, memberitahukan bahwa ada tamu mencari Puspa.


"Siapa yang mencariku sampai ke sekolah" batin Puspa seraya berjalan menuju ruang tamu yang di sediakan di sekolah


Saat memutar knop pintu lalu membukanya, terlihat sosok Cantika yang sedang menunggu


"Cantika?" ucap Puspa


"Maaf aku datang tanpa memberitahumu terlebih dulu"


"Ada perlu apa cantika, sampai kamu datang ke sekolahku?"


"Aku sedang ada libur jadi aku pulang sekalian nengok bibiku, selain itu juga aku kehabisan uang"


"Kamu cukup kirim pesan saja, saat itu juga pasti aku akan mentransfernya"


"Apa salahnya jika aku juga ingin menemuimu, aku juga sudah menemui mas Anjar, tadi kita sempat bertemu di cafe"


"Apa maksudmu mengatakan hal ini padaku?" ucap Puspa yang mulai tersulut emosi


"Ya aku memberitahumu kalau mas Anjar masih baik seperti dulu"


"Apa ada yang ingin kamu katakan lagi cantika?", kalau tidak ada, aku permisi masih harus mengisi jam pelajaran"


"Lambat laun suamimu akan jatuh cinta padaku, karena setelah melahirkan, kecantikanmu pasti berkurang, aku permisi" ucap Cantika lalu meninggalkan Puspa


Puspa berusaha untuk tidak mengambil hati ucapan Cantika. Ia berlalu kembali ke ruangan kelas tempat dia mengajar.


...@@@@@...

__ADS_1


Saat memasuki rumah Puspa mendapati ibunya yang sedang memasak di dapur, dengan di temani Akbar yang duduk di meja makan, segera Puspa mengayunkan kakinya menghampiri ibu dan Adiknya


"Ibu kok bisa masuk?"


"Sudah pulang to nduk, ibu ngga denger salamu"


"Assalamualaikum bu" lalu mencium punggung tangan ibu dan memeluknya


"Walaikumsalam" jawab ibu


"Gimana kabarmu nduk?"


"Baik bu, kok ibu bisa masuk si?" seraya menarik kursi di sebelah Akbar


"Tadi aku telfon mas Anjar mba, terus mas Anjar jemput kita, tapi setelah itu mas Anjar balik lagi ke kantor" ujar Akbar


"Memangnya jam berapa kalian sampai rumah?


"Sekitar jam 2 mba"


"Berati sebelum jemput ibu, mas Anjar menemui Cantika terlebih dulu" batin Puspa


"Puspa ke atas dulu ya bu" pamit Puspa


"Kenapa mas Anjar menemui Cantika, kenapa juga harus diam-diam menemuinya?" gumam Puspa


"Aku harus menanyakannya pada mas Anjar"


Dering ponsel membuyarkan lamunan Puspa, sebuah pesan masuk dari sang suami


Mas Anjar


"*Mas lembur hari ini dhe"


Mas Anjar


"Jam 9 sayang"


Puspa hanya membacanya tanpa membalasnya, bergegas ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri


Kali ini Puspa memilih menunggu sang suami di dalam kamar, meninggalkan sang ibu dan adiknya yang sedang menonton tv.


Ceklek, terdengar suara pintu, Puspa memindai pandanganya yang sudah menampilkan sosok suaminya


Puspa menatap heran pada suaminya, yang langsung masuk ke kamar mandi tanpa menyapanya. Anjar sengaja ingin membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum menyentuh istrinya yang sedang hamil dengan perut yang sudah mulai membesar, dia tidak ingin membuat anak dan istrinya terjangkit virus yang mungkin ia bawa dari luar.


"Dhe baju mas mana, kok belum di siapin?"


"Mas ambil sendiri saja" jawab Puspa datar


Selesai memakai baju, Anjar menghampiri Puspa, membaringkan dirinya di samping Puspa dengan tangan mengusap perut sang Istri.


"Sayang lagi apa di dalam?" sapa Anjar pada si jabang bayi


Biasanya Puspa lah yang menjawabnya, tapi kali ini Puspa tak meresponnya, membuat Anjar memicingkan matanya menatap penuh lekat wajah istrinya


"Ada apa sayang?"


"Apa yang mas lakukan saat menemui Cantika?"

__ADS_1


Anjar mengernyitkan keningnya sehingga membentuk seperti lipatan


"Mas ngga menemuinya"


Puspa tersenyum getir


"Ngga apa-apa kalau mas memang menemuinya"


"Tapi mas beneran tidak menemuinya?"


"Kenapa?" Apa Cantika macam-macam sama kamu?"


"Kenapa Cantika bilang dia habis menemuimu?"


"Mas ngga menemuinya, memang dia telpon ingin bertemu dengan mas, tapi mas suruh Melisa nemuin dia"


Puspa menatap Anjar menelusuri bola matanya lama, berharap ada kejujuran di balik mata Anjar


"Cantika menemuiku ke sekolah, dia bilang kalian bertemu" ucap Puspa


"Dia bohong"


"Entahlah mas siapa yang bohong antara kamu atau Cantika"


"Kamu tidak percaya sama suamimu?"


"Dia juga bilang, setelah aku melahirkan, kecantikanku akan berkuarang, itu akan mempermudah Cantika membuatmu jatuh cinta padanya"


"Teruskan saja kamu percaya sama orang lain" ucap Anjar lalu melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Puspa di dalam kamar, dia berniat turun ke bawah untuk merokok


Jika sedang stres Anjar memang selalu merokok, berharap pikirannya kembali jernih setelah menghisap satu atau 2 batang rokok.


Saat kembali ke kamar, tidak ada sosok Puspa di dalam


"Kemana dia?" gumam Anjar


Anjar segera turun dan mencari keberadaan Puspa, yang ternyata ada di kamar tamu bersama sang ibu, terlihat melalui pintu kamar yang terbuka lebar


"Dhe, kamu di sini?"


"Mas malam ini aku tidur sama ibu"


"Jangan malam ini sayang, besok saja ya, mas sedikit kurang enak badan?" dusta Anjar


"Nduk coba temenin suamimu" dia sedang kurang enak badan" besok saja tidur sama ibu" sambar ibu


Puspa keluar dari kamar ibu setelah mengiyakan permintaan ibunya supaya mengutamakan suami. Anjar yang sudah berlalu masuk kamar terlebih dulu, tampak sudah merebahkan dirinya di kasur empuknya


"ngga enak badan kenapa mas?"


"Kamu jangan percaya sama Cantika sayang, dia bohong, hari ini mas tidak menemuinya, kalau kamu tidak percaya, bisa kamu tanyakan pada Melisa, Melisalah yang sudah menemuinya"


Puspa merasa bersalah pada suaminya karena sudah tidak mempercayainya.


"Maaf mas"


"Tolong jangan siksa mas seperti ini dhe?"


"Tapi Cantika benar mas, setelah melahirkan, pasti aku tidak seseksi dulu"

__ADS_1


"Ngga apa-apa sayang, mas tetap cinta,, mari kita menua bersama"


Bersambung


__ADS_2