Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
56


__ADS_3

"Lebih baik aku menghindari mas Anjar dari sekarang, iya, sekarang aku tidak akan peduli lagi dengannya. Mau dia telat makan, mau dia merokok setiap hari, mau dia minum kopi, terserah dia"


Jarum jam terus berputar, malam ini aku benar-benar tidak memejamkan mataku


Ku ambil air wudhu, bersiap melaksanakan sholat subuh.


"Di, matamu terlihat sembab dan merah?, apa semalam kamu tidak tidur?" tanya mba Siska


"Iya mba, semalam aku tidak bisa memejamkan mata barang sebentar"


"Ada yang dipikirkan Di?"


"Memikirkan anak-anak mba?"


"Ada apa dengan mereka?


"Rasanya ingin selalu bersama mereka" jawabku


"Ya sudah resign saja?" usulnya


"Tidak mba, susah payah aku raih gelar dokter, sayang kalau harus resign"


"Iya si, aku mau resign juga mikir dua kali, perjuangan jadi seorang dokter benar-benar luar biasa"


"Betul mba"


"Ya sudah di nikmati saja, ini hari minggu kalian bisa bermain seharian"


Papi Anjar


"Sudah ku tunggu di depan"


"Pesan dari mas Anjar, kenapa aku masih memberi nama papi Anjar, pasti dia sudah tahu kalau nomornya di beri nama itu di ponselku, secara kan dia sudah mengobrak abrik ponselku semalam, lebih baik aku ganti saja"


"Rasanya masih belum siap bertatap muka dengan mas Anjar, apa aku bilang masih ada urusan di sini?" tapi urusan apa?"


"Bolendrang is calling..."


Nah kan dia menelpon, lebih baik aku keluar sekarang.


"Kenapa tidak angkat telponku?" tanyanya saat sudah berada di mobil


"Aku sudah lagi jalan keluar tadi" ponselku juga aku senyapkan, jadi tidak tahu" jawabku tanpa menatap ke wajahnya


Ku lihat dia sedikit menggembungkan mulutnya


"Tampan sekali kamu mas, tapi sayang kamu sudah menjadi milik wanita lain" Aku membatin


Mobil melaju melewati taman kota


"Taman ini mengingatkanku pada wanita itu, wanita taman kota" hiksss kasihan sekali nasibmu Di" Sekali lagi aku merutuki diriku sendiri

__ADS_1


Saat sampai di rumah, tidak ku lihat anak-anaku, kemana mereka.


"Bi sumi, anak-anak kemana?"


"Ada di belakang non sama kakek neneknya sedang ngasih makan ikan"


"Ooh, sudah mandi belum mereka bi?


"Sudah, Atin sama ibu yang mandiin?"


"Ya sudah aku ke atas dulu ya bi"


"Baik non?"


Ku lihat anak-anaku melalui balkon, benar kata bi Sumi, mereka sedang memberi makan ikan peliharaan ayah


Ku dengar suara pintu terbuka,


"Pasti mas Anjar" Gumamku


"Benar kan"


Ku langkahkan kakiku ke kamar mandi, sudah lama aku tidak berendam, aku ingin berendam.


Setelah ini aku akan tidur sebentar, semalaman aku tidak tidur, membuat kepalaku pusing


Ketika sudah sampai kamar mandi, aku lupa membawa baju ganti


Ku buka sedikit pintu kamar mandi, tatapanku mengelilingi kamar


"Nothing, Tidak ada mas Anjar" aku berlari menuju lemari dengan hanya memakai daleman"


Pintu terbuka menampilkan seseorang, sontak aku menutup pintu lemari dan berbalik


"Mas Anjar"


Aku berusaha menutupi tubuhku dengan kedua tanganku


Mas Anjar menatapku heran


Aku bersimpuh di lantai, aku tidak ingin menampakan bagian tubuhku di depannya, aku sudah cukup malu


"Mas Anjar bisa keluar dulu sebentar?"


"Kenapa?" dengan santainya dia berlenggang menuju kasur


"Aku mau ambil baju mas"


"Tidak bisa ini kamarku"


"Bisa hadap ke sana dulu?"

__ADS_1


Mas Anjar tidak menjawab, tapi dia menurutiku. Segera ku raih baju lalu berlari menuju kamar mandi


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Sudah seminggu sejak kejadian di taman kota, dan sejak itu aku main petak umpet dengan mas Anjar, jika mas Anjar di kamar, aku di ruang keluarga, jika mas Anjar di ruang keluarga, aku masuk ke kamar, begitulah seterusnya. Dan sampai sekarang dia masih belum menjelaskan tentang wanita taman kota


"Buat apa dia menjelaskan wanita itu Di, memangnya kamu siapa?"


"Benar juga siapa aku?" haha


Ada apa dengan diriku semenjak kejadian itu aku berasa jadi gila, suka ngomong sendiri


"Aku punya ide"


Ku langkahkan kakiku ke bagian kepala rumah sakit


Ku ketuk daun pintu, lalu pak Waluyo mempersilakan masuk


"Silakan duduk dok, Ada yang bisa saya bantu dokter Diana?" tanyanya


"Begini pak, emmm, bisakah bapak membuat jadwal baru untuku?, aku minta di buatkan jadwal malam hari di setiap harinya untuku


"Dokter Diana ingin jadwal malam hari?"


"Iya pak"


"Kenapa?" banyak dokter yang mengeluh jika dapat shift malam, tapi dokter malah ingin jadwal malam setiap hari"


"Banyak tanya sekali orang ini, sabar Di" Batinku


"Saya ingin siang hari ada di rumah menemani anak-anak pak"


"Tapi apa tidak kasihan sama suami, setiap malam kesepian ?"


"Itu sudah kami diskusikan pak"


"Oh begitu, ini khusus buat dokter Diana saya kasih ya, akan saya buatkan


"Terimakasih pak"


"Sama-sama dok"


Akhirnya, jadwal baruku keluar. Saat malam hari, mas Anjar di rumah, aku di rumah sakit, siang hari, saat aku di rumah, mas Anjar sedang di kantor.


Dengan begitu, aku akan jarang bertemu dia.


Itu akan memudahkanku melupakannya, dan tinggal menunggu waktu untuk berpisah


Sedih jika harus berpisah dengan jagoanku


"Maafin mami sayang"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2