Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
72


__ADS_3

"Begitulah Diana kak, setiap hari hanya mendongeng hal baik tentang dirimu, ketika Sasa mau tidur. Dia tidak pernah merahasiakanmu dari Sasa. Walaupun harus berbohong sedikit" ujar Bella saat sedang menikmati makan malam


"Berbohong gimana Bell?"


David hanya menyimak istrinya bicara


"Diana suka bilang ke Sasa kalau papinya kerjanya jauh, jadi tidak bisa pulang, pulangnya nanti kalau Sasa udah gede, begitu"


"Bagaimana kalau sampai dia besar aku dan Sasa tidak di pertemukan?"


"Itulah yang sedang di pikirkan Diana, tapi nyatanya kalian bertemu"


..._________________...


Malam ini Anjar bersenang-senang dengan putrinya, bermain monopoli, menggambar, mewarnai, memainkan boneka kesukaan Sasa, berkejaran kesana kemari, hingga Sasa kelelahan dan tertidur di pangkuannya


Anjar hendak memindahkan Sasa ke kamar. Pandangannya beralih pada ponsel miliknya, ada banyak panggilan dan pesan masuk dari istrinya.


Dia tidak tertarik dengan isi pesannya, dan lebih tertarik untuk menelfon balik.


Saat Anjar melakukan panggilan melalui telfon, tidak ada jawaban dari Diana. lalu memutuskan untuk tidur memeluk putrinya, di kamar Diana.


Tempat yang nyaman, dan pertama kali tidur dengan sang putri, membuat Anjar terlelap hingga pagi.


Sasa begitu senang, sebentar lagi akan bertemu dengan abang Azam dan Emyr, serta nenek dan kakeknya.


"Makasih Bell, David, sudah membantuku selama di sini"


"Tenang saja kak, aku senang membantumu"


"Mami Bella, Sasa mau nyusul mami Diana" ucap Sasa dengan logat anak kecil, lalu memeluk dan mencium Bella"


"Papi David, I love you" seraya memeluk tubuhnya


"Sasa jangan nakal ya"


"Papai Mami Bella, pa pai papi David"


"Bye Mei mei kesayangan Mami?" sahut Bella melambaikan tangan


Perjalanan Singapura-Jakarta memerlukan waktu hampir dua jam.


Saat di dalam pesawat, Anjar sedikit berbincang dengan putrinya, Sasa akan menanyakan hal apa saja yang ingin dia ketahui.


Karena faktor Genetik yang di turunkan oleh kedua orang tuanya, maminya yang seorang dokter, dan papinya seorang pebisnis, pernah di nobatkan sebagai mahasiswa lulusan terbaik di Australia, sehingga Sasa memiliki kecerdasan di atas rata-rata.


"Sasa gak sabal pingin ketemu abang Ajam sama abang emyl"


"Sasa sayang banget ya sama abang-abangnya?"


"Yes papi, kata mami halus sayang telus sama abang"


"Anak pinter" sahut Anjar seraya mengelus kepala putrinya.


Pesawat mendarat dengan sempurna. Anjar sengaja tidak menelfon pak Anan untuk menjemputnya, ia lebih memilih untuk mencari taksi, selama di perjalanan, Sasa benar-benar tidak tertidur, ia terus bercerita, dan bertanya.


Hingga taksi telah sampai di depan rumah besar milik pak Dhaniswara

__ADS_1


"waoow besalnya" gumam Sasa


"Ayo sayang kita masuk"


Suara riuh dari bunda dan Azam, ketika menyambut Sasa, tidak lama setelah itu datang Rafa dan Siska, membuat suasana tambah bising, mereka mengerubungi Sasa yang tak hentinya bercerita keseruan naik pesawat.


Anjar meninggalkan mereka melangkahkan kakinya menuju kamar, ia heran kenapa istrinya tidak menyambutnya. Saat membuka handle pintu, tampak Diana sedang meletakan baju yang telah di setrika ke dalam lemarinya,


Dia berjalan tanpa menimbulkan suara, lalu memeluk Diana dari belakang.


Diana terkejut dengan suaminya yang tiba-tiba memeluk dan mendaratkan kepala di pundaknya, seraya menciumi lehernya. Dia mengusap lembut lengan Anjar, membalikan badannya, lalu memeluk kembali.


Pelukan yang menenangkan selama hampir tujuh menit, saling melepas kerinduan, mereka sama-sama menghirup aroma tubuhnya


Tak puas melepas rindu dengan pelukan, Anjar menarik tangan istrinya menuju kasur, Mendudukannya di pangkuannya, tangan Diana melingkar pada leher Anjar, Saling memberi kecupan, lu*matan dan pagutan lembut, berharap rasa rindu segera musnah.


"Bagaimana pertemuanmu dengan putrimu?" tanya Diana


"Sangat menyenangkan, Terimakasih surprisenya"


Diana tersenyum, Ia kembali mengecup bibir milik suaminya sedikit lebih singkat


"Sekarang mandilah, bersihkan badanmu" ucap Diana setelah melepas ciumannya "Aku akan membuatkan teh untukmu"


Diana berjalan menuruni anak tangga, bibirnya menyunggingkan senyum, saat Sasa bercerita bak dalang dalam wayang, ada bang Rafa, mba Siska, Azam, bunda, dan Emyr yang berperan sebagai pendengar. Tidak heran jika Sasa langsung mengenali mereka, karena Diana selalu memperlihatkan poto-poto keluarga suaminya, menjelaskan tentang mereka.


Saat pandangan Sasa beralih pada Diana, Sasa berlari menghambur ke pelukannya


"How are you, my daughter?" tanya Diana


"Di anakmu pintar sekali bercerita" tanya Siska


"Itu bukan apa-apa mba, di banding teman-temannya, banyak yang lebih pintar dari dia meskipun usianya baru dua tahun"


"Orang sana kan memang seperti itu Di?"


"Abang, mba Siska, aku mau membicarakan soal Emyr, tapi nanti setelah mas Anjar turun"


"Iya Di, aku juga ingin menyampaikan kondisi Emyr secara menyeluruh padamu"


Di ruang keluarga, ada Rafa dan Anjar serta bunda dan ayah yang sudah pulang dari kantor.


Sasa dan Azam yang sedang berlarian, tidak dengan Emyr yang diam tanpa ekspresi, tidur di pangkuan bunda. Diana dan Siska yang sibuk membantu ARTnya memasak. Tidak sengaja pandangan Diana teralihkan pada Emyr yang tidak ikut bermain dengan kedua saudaranya.


Dengan tatapan nanar ia memandangi Emyr, teringat tentang kepergiannya. Benar-benar saat itu, dia tidak memikirkan dampak untuk anaknya.


"Andai aku tidak meninggalkannya"


Lagi-lagi Diana menyesal. Dia ingin sekali mempertaruhkan hidupnya hanya untuk Emyr.


Pikirannya menerawang ke masa lalu, Emyr yang pernah mendapati Diana menangis karena selalu di abaikan oleh Anjar dulu, Emyrlah yang pernah menghapus air matanya, menguatkannya dengan pelukan, mengatakannya supaya jangan bersedih, meskipun dia tidak tahu apa yang membuat maminya menangis.


Diana berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Emyr, mendampinginya, dan berusaha membuat Emyr bisa berjalan dan berbicara kembali.


"Di kamu melamun?"


Ucapan Siska membuat lamunan Diana buyar,

__ADS_1


Diana segera mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh


"Kamu menangis Di?" tanya Siska


"Aku sedih dengan kondisi Emyr mba, andai waktu itu aku tidak egois, pasti sekarang dia juga ikut berlarian dengan Azam dan Sasa"


Ucapan Diana membuat Siska mengalihkan pandangannya ke arah Emyr


"Dulu Emyr hanya di dampingi olehku dan Rafa, dia bisa melaluinya, dan kini, maminya ada di sampingnya, aku yakin dia akan segera sembuh. Apalagi maminya juga seorang dokter, dokter di Singapura lagi, pasti paham betul tentang sakitnya Emyr"


"Aku tidak ahli di bidangnya mba" sahut Diana seraya melanjutkan aktifitas memasak. "Tapi aku punya kenalan dokter-dokter hebat di sana, kalau mas Anjar setuju, dan yang lain juga menyetujuinya, aku akan bawa Emyr berobat di sana, akan aku diskusikan pada ayah dan bunda nanti"


"Aku akan mendukungmu Di, aku percaya kamu akan memberikan yang terbaik buat Emyr"


Diana dan Siska saling menatap lalu tersenyum


...___________________...


Makan malam telah siap, Pak Dhaniswara beserta istri, anak-anaknya, menantu, dan jugu cucunya berkumpul di meja makan, siap menikmati makan malam buatan ART dan kedua menantunya.


Dengan personil yang bertambah banyak, membuat suasana menjadi ramai, apalagi dengan adanya Sasa yang pintar sekali bercerita, membuat orang yang mendengarkan merasa gemas.


"Waoow hauche" ucap Sasa


"Apa itu hauche Sa?" tanya Rafa penasaran


"Hauche itu enak ayah, itu bahasa teman Sasa kalau di sekolah, teman Sasa suka ngomong gitu di sekolah, Teyus ada lagi Che meal, hmmm sie-sie, si sau dan masih banyak lagi


"Itu apa lagi artinya?" kini Siska yang bertanya


"Che meal itu makan bunda, Makan apa mami?" Sasa bertanya pada Diana


"Makan makanan" sahut Diana dengan alis saling bertaut


"Bukan yang itu mami, yang biasa mami bikin buat Sasa kalau gak sekolah, kalo sole-sole


"Cemilan?"


"Bukan mami?"


"Kudapan?"


"Nah itu, belati Che meal itu makan kudapan bunda"


"Terus kalau sie-sie apa tuh?" tanya sang nenek


"Sie sie itu telimakasih nek, kalau Sasa kasih kudapan, biasnya meleka suka bilangnya sie-sia, kata bu gulu arltinya thankyou


"Bahasa mana itu Sa?" tanya Anjar


"I don't know papi" alih-alih menjawab, Sasa justru menanyakannya pada Diana "bahasa mana mami?"


"Mandarin Sa" jawab Diana


Membuat semua yang ada di meja makan tertawa seraya menggelengkan kepala. Tak terkecuali sang kakek yang dari tadi hanya diam mendengarkan cucunya berbicara layaknya burung beo


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2