
Di perjalanan pulang, Kami berhenti di depan minimarket, entah apa yang akan di beli oleh mas Anjar, dia menyuruhku agar tetap di dalam mobil.
"Tunggu sebentar, mas mau beli sesuatu" ada sesuatu yang ingin kamu beli?
"Tidak mas" jawabku singkat
beberapa menit kemudian ku lihat mas Anjar keluar dari supermarket dengan seorang gadis, yang menggandeng lengan suamiku, terlihat gadis itu seperti memaksa atau apa aku tak begitu mengerti, tidak lama setelah itu mas Anjar melepaskan tangannya.
"Dari postur tubuhnya, dia adalah gadis yang waktu itu di restauran bersama mas Anjar, apa dia yang bernama Cantika" Batinku
Sesaat kemudian, mas Anjar yang sedikit berlari ke arah mobil, kulihat gadis itu masih berdiri memandangi punggung suamiku.
Ketika mas Anjar membuka pintu mobil,aku pura-pura tertidur, seolah tidak tahu kejadian itu.
Aku ingin mas Anjar menjelaskan sendiri tanpa aku bertanya.
"Dhe kamu tidur"
"Aku bukanya tidur, tapi pura-pura tidur" Gumamku dalam hati
Mobil berhenti di depan rumah, mas Anjar turun sebentar untuk membuka gerbang, aku masih pura-pura, ku rasakan sentuhan telapak tangan mas Anjar, sedikit menepuk pipi membangunkanku,
"Sudah sampe dhe"
"Oohh sudah sampe??" tanyaku memastikan
"Iya Ayo turun" ucapnya
lagi-lagi aku membatin "Aku tunggu penjelasanmu mas"
Tiba saat makan malam, di meja makan aku sengaja mendiamkanya, aku ingin dia inisiatif sendiri untuk menjelaskan.
"Kok diem dhe, kenapa?"
"Tidak kenapa kenapa, sambil menggelengkan kepala.
"Apa masih cape?"
Lagi lagi aku menggeleng. Mas Anjar mulai gelisah dengan sikapku.
"Kamu kenapa si dhe, aneh gitu?"
"hhhh Urusan diam mendiamkan mas Anjar kelewat peka, tapi dia tidak peka bahwa diamku ini menginginkan penjelasan darinya"
Nampaknya Mas Anjar sudah menghabiskan makanannya, dia lalu berdiri dan seperti biasa dia pasti akan merokok. Sudah tahu aku tidak suka dia merokok, tapi tetap saja merokok.
"Yang ini mana peka dia hhhhh?" lagi lagi aku membatin
Aku memang tidak punya keberanian untuk menggugatnya,, Nyaliku bahkan menciut ketika aku ingin melarang untuk berhenti merokok.
Sedikit mengintip aktifitas yang di lakukan mas Anjar di belakang dapur, benar saja dia merokok, terlihat batang rokoknya masih terapit oleh kedua jarinya, satu tangan kanan memainkan ponsel pintarnnya
Anjar Dhaniswara
__ADS_1
Aku sengaja lama berada di kamar mandi, berharap guyuran air mampu menghapus segala pikiran buruk yang berkecamuk di otaku.
berendam dalam bathtub membuatku merasa lebih nyaman hingga aliran darah terasa lebih ringan, sambil bermain ponsel berbalas pesan dengan Anggun. ting pesan masuk dari mas Anjar
Mas Anjar
"Lagi mandi apa main hp dhe"
Sengaja tidak ku balas, biarkan saja gumamku
Allahu Akbar Allahu Akbar
Adzan subuh berkumandang, ku rasakan ada sesuatu yang bergerak, Mas Anjar, pasti dia bangun untuk sholat subuh, seperti biasa, akan tidur kembali setelah melaksanakan kewajibannya..
Aku beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi, setelahnya aku akan ke dapur menyiapkan sarapan.
Dua hari berlalu, aku sudah melupakan kejadian di supermarket, sejenak ku mengingat ucapan mas Anjar waktu itu, bahwa Dia hanya menganggapnya Adik, tidak lebih...
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok Mas Anjar, dia baru saja menyelesaikan pekerjaan di ruang kerjanya, melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, mas Anjar menghampiriku yang sedang memangku laptopku, Mas Anjar menekan tombol save untuk file yang sedang ku ketik, tanpa bertanya padaku terlebih dulu. lalu menutup laptop dan meletakanya di atas nakas.
"Pergilah ke kamar mandi ambil wudhu, kita sholat sunah"
Aku menuruti perkataan mas Anjar, sudah tahu maksud mas Anjar mengajaku sholat sunah dua rakaat
Aku meyakinkan dirinya sendiri
"Siap tidak siap, pasti akan terjadi" gumamku
Ada rasa bahagia di hatiku, yang menginginkan rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah, bersamaan itu jantungku berdegup kencang, rasa yang benar-benar menggelenyar, aliran darah mengalir lebih deras, beruntung aku bisa menguasai kegugupanku
"Sudah siap ibadah sama-sama?" tanya mas Anjar padaku
Aku menatap mas Anjar seraya menganggukan kepala
Tanpa aba-aba, Mas Anjar mengangkat tubuhku, membaringkanku di atas kasur, melepaskan mukenaku, Lalu mencium keningku lama, kemudian berbisik lagi "sudah siap?"
Aku yang hanya menganggukan kepalaku, mas Anjar langsung menghujaniku dengan ciuman, mel*mat bibirku lembut, di iringi dengan sentuhan-sentuhan kecil, membuat kissmark di ceruk leherku, hingga ke dada, Entah bagaimana caranya mas Anjar sudah berada di atasku.
melepaskan pag*utannya, menatap begitu lekat, sentuhan dan gesekan menggelenyar begitu hebat. Ada banyak rintangan untuk mencapai tujuan, karena ini adalah pengalaman pertama untuk kami.
Laksana berjalan dalam kegelapan, mencari celah tanpa petunjuk, memecahkan dinding yang di jadikan pintu menuju lautan madu yang memabukan, harus ada bagian yang terpecahkan
Seketika gerakan di hentikan
"Apa sakit?" tanyanya, ku anggukan kepalaku sebagai jawaban, lalu Dia mel*mat bibirku, menciumi leherku untuk mengimbangi rasa sakitku,
"Mas boleh lanjutkan sekarang" ucapku
"Oke Mas akan pelan-pelan"
Dengan gerakan yang teratur, rintihan dan des*han seakan menuntut untuk di percepat, lebih cepat lagi, dan lagi hingga keduanya mencapai puncak, bak terbang melayang diatas awan
__ADS_1
Aaaaahhhhh
ku hanya inginkan dia yang melepas dahagaku...
Mas Anjar yang kemudian menjatuhkan bobot tubuhnya di sampingku, memeluk erat tubuhku, memandangku penuh cinta, dengan raut wajah yang berbinar setelah melihat cairan merah menempel di sprei, menambah rasa bahagianya. Ku sembunyikan wajahku di dada bidangnya, dan juga memeluk tubuh kekarnya.
"Apa masih sakit? tanya mas Anjar
"Sedikit" sahutku singkat. Entahlah antara sakit dan rasa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Di situ kesadaranku mulai menghilang, alam mimpi mulai menyambutku, hingga tepat pukul 2 Dini hari aku terbangun, ku senderkan punggungku di kepala ranjang, membungkus tubuhku yang polos tanpa sehelai pakaian dengan selimut. ku cari keberadaan pakaianku, tiba-tiba sosok mas Anjar muncul membawa mangkuk berisi mie instan
"kok bangun?" tanyanya
"Bajuku kemana mas?"
"Sudah ku buang"
"Kok di buang?
"Ada sedikit noda jadi ku buang"
"Kan bisa di cuci"
"Tidak perlu dhe, udah kotor, besok mas ganti
Rasa nyeri masih bersarang di sana, untuk berjalan saja masih terasa sakit"
"Mau kemana?"
"Ke kamar mandi,
"Sini mas bantu"
Mas Anjar mengangkat tubuhku hingga ke toilet dan mendudukan ku di atas kloset.
"Tunggu mas akan ambilkan baju"
Berbaring diatas kasur, terjaga dengan posisi saling berpelukan, malam pertama sesi ke dua pun kita lakukan, hingga adzan subuh berkumandang.
Malam ini dan malam malam berikutnya akan menjadi malam yang membahagiakan untuk kita berdua, Aku milikmu seutunya, begitupun sebaliknya... walau mas Anjar belum mengatakan "Aku mencintaimu" tapi aku yakin dengan perasaannya
"Aku mencintaimu suamiku" gumamku dalam hati
...💞💞💞...
Pagi ini sangat cerah, dengan semangat, ku langkahkan kakiku menuju gerbang sekolah memasuki gedung untuk menuntut ilmu dan memberikan ilmu..
Selamat Pagi pak, bu, sapaku pada rekan guru...
"Roman romanya ada yang lagi bahagia kayaknya" ucap Anggun lirih
"Tidak Ada biasa saja, sama seperti hari hari sebelumnya" balasku
"Semoga hari ini lebih baik dari hari kemari"
__ADS_1
Bersambung