
Selepas bekerja, Puspa dan Anjar berniat ke rumah sakit, menyelesaikan administrasi perawatan Cantika, setelahnya, Anjar menggandeng tangan Puspa, berjalan menyusuri koridor rumah sakit, untuk menjenguk Cantika. Setibanya di ruangan tempat Cantika di rawat, terlihat Cantika yang sedang berbaring lemah, dengan bibinya yang sedari tadi membujuk Cantika untuk makan.
"Cantika kamu harus makan, supaya cepat pulih" rayu bu Ranti.
"Aku ngga mau makan bi"
"Cantika, setidaknya turuti bibimu"
Ucap Anjar
"Apa mas Anjar mau menyuapiku?" Anjar menatap istrinya yang juga sedang menatapnya.
"Tidak apa-apa mas, suapi saja" bisik Puspa
Lalu Anjar meraih piring yang berada di tangan bu Ranti. Wajah Puspa memanas, melihat suaminya menyuapi Cantika.
"Selama menjadi istrinya, aku belum pernah di suapi oleh suamiku, tapi suamiku sudah menyuapi wanita lain yang sama sekali tidak punya hubungan apa-apa" batin Puspa
"Apa aku bisa bicara berdua saja dengan mas Anjar?"
Lagi-lagi Anjar menatap istrinya meminta persetujuan. Puspa menganggukan kepala, lalu meninggalkan suaminya di dalam ruangan di ikuti Bu Ranti yang mengekor di belakang Puspa
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku Cantika?" ucap Anjar membuka percakapan.
"Apa mas Anjar selama ini tidak mencintaiku?"
"Pertanyaan macam apa itu?, jelas Aku tidak mencintaimu"
"Tapi kenapa mas Anjar selalu baik dan perhatian padaku?"
"Aku akan melakukan hal yang sama pada orang lain, jika mereka membutuhkan pertolonganku, jadi kamu jangan salah paham dengan kebaikanku"
"Bisa mas Anjar panggilkan mba Puspa?"
Tanpa menjawabnya, Anjar berlalu dan memanggil sang istri.
Terlihat sosok istrinya yang sedang duduk melamun di kursi depan kamar Cantika.
"Sayang masuklah, Cantika mau bicara" seru Anjar pada istrinya.
"Kamu mau bicara denganku?" ucap Puspa saat sudah berdiri di samping ranjang Cantika
"Aku mau, kamu membujuk mas Anjar menikahiku?"
Anjar kaget mendengar permintaan Cantika,
"Maksud kamu apa Cantika" Walaupun istriku membujuku, aku tidak akan pernah mau"
"Kalau begitu katakan bagaimana Caranya supaya aku bisa melupakan mas Anjar?" ucap Cantika, dengan suara lantang
"Cantika, kamu masih muda dan cantik, Ucap Puspa selembut mungkin. Kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari suamiku" sengaja Puspa menekan kata "suamiku"
"Kamu bilang aku Cantik, tapi kenapa suamimu tidak mencintaiku,
__ADS_1
"Cantika bersekolahlah, lanjutkan pendidikanmu, raih cita-citamu"
"Aku bukan orang kaya sepertimu" sahut Cantika, "Untuk makan saja aku harus mendapatkan pukulan dari Bibiku.
Puspa terkejut mendengar ucapan Cantika, selama ini ia hanya mendengar cerita dari suaminya, tapi kini ia mendengar dari mulut Cantika sendiri
"Padahal aku sudah berusaha menjadi keponakan yang baik"Lanjutnya
Kini kebencian Puspa seketika berubah menjadi iba, Puspa merasa sangat kasihan pada Cantika.
"Lanjutkan pendidikanmu aku akan membiayaimu, meraih cita-citamu"
"Apa kamu serius?"
Puspa mengangguk.
"Apa kamu mau menanggung semua biaya beserta keperluanku?
Puspa mengangguk untuk yang ke dua kalinya.
"Baiklah" sahut Cantika.
"Aku akan memanfaatkan ini untuk merebut mas Anjarmu, setelah aku sukses, aku harus bisa memiliki mas Anjar" Batin Cantika
...@@@@...
Sudah satu bulan berlalu, Cantika sudah keluar dari rumah sakit, Puspa harus bekerja keras, agar bisa menolong masa depan Cantika. Ia menolak bantuan suaminya karena tidak ingin melibatkan dan merepotkan sang suami.
"Aku harus bekerja keras, harus pintar mengelola keuangan, Batin Puspa.
Cantika yang sudah mendaftar di sekolah pramugari, Ia sangat antusias dalam meraih cita-citanya, karena ini adalah kesempatan emas.
Masih dengan misi utama Cantika, yaitu membuat mas Anjar jatuh cinta padanya setelah ia sukses dengan karirnya.
Cantika sudah memanfaatkan kebaikan Puspa yang sangat tulus membantu dalam meraih cita-cintanya, Tentu tanpa sepengetahuan Puspa, bahwa Cantika justru memiliki misi untuk merebut suaminya. Entah karena Cinta atau hanya terobsesi.
...@@@...
"Sayang Lusa kita terbang ke Turki, kamu ingin ke istanbul bukan" Ucap Anjar saat sedang makan malam dengan sang istri.
"Kenapa mendadak mas?"
Sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu liburan ahir tahun di Semarang mas"
"Kita kan belum pernah honeymoon sayang, lagian cuma satu minggu kok", nanti sepulang dari Turki, langsung ke semarang, kamu bisa menikmati sisa liburan di rumah ibu ok"
Puspa mengulum bibirnya lalu menganggukan kepalanya, tanda setuju.
Waktunya ke Bandara, Anjar dan Puspa di antar oleh Ayah dan Bunda, mereka sangat bahagia Anak dan menantunya akan pergi honeymoon, karena ini adalah saat yang di tunggu-tunggu oleh kedua orang tua Anjar, mereka ingin segera menimang cucu dari anak nomor duanya.
"Pulang dari Turki bawa oleh-oleh satu atau dua saja cukup" ucap Bunda
"Kok cuma dua bund?" tanya Anjar yang masih belum paham maksud ucapan bundanya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Haiissst Ayah" seraya menoel pinggang suaminya, kenapa ayah menunjuknya sebagai Direktur di perusahaan, lihatlah anakmu itu sangat b*doh" Ucapan bunda kepada Pak Dhanniswara"
"Bunda apaan si, ngatain anak sendiri b*doh" ucap Anjar masih dengan tampang b*dohnya
"Ya kamu ngga paham ucapan bunda, nanti kalau oleh-olehnya tiga apalagi empat, kasian Puspa susah ngeluarinnya"
Tampak Puspa tersipu malu, tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat kelakuan Ibu mertua dan suaminya, tidak berbeda dengan pak Dhaniswara yang juga tersenyum melihat istri dan anaknya membicarakan hal konyol.
Puspa dan Anjar segera berpamitan pada Ayah dan bundanya, karena mendengar suara Operator yang meminta penumpang untuk bersiap-siap, sudah terdengar dari pelantang suara.
"Hati-hati kalian" ucap Ayah seraya melambaikan tangannya.
...•••••••••••••...
Istanbul dimana dalam sejarah di kenal sebagai Konstantinopel dan Bizantium. Istanbul merupakan kota lintas benua di Eurasia yang membentang melintasi selat Bosporus di antara laut Marmara dan laut hitam.
Puspa begitu bahagia berada di kota ini, ia tidak pernah menyangka akan sampai di tempat yang sudah lama ingin di kunjungi, jangankan mengunjungi, bermimpi saja tidak mungkin. Namun dengan kesabarannya, Allah memberikan hadiah yang luar biasa nikmat. Suami dan mertua yang baik, karir yang cemerlang. ia tidak henti-hentinya mengucap syukur.
Cappadocia, Blue Mosque, dan Hagia Sophia menjadi tempat yang ingin sekali Puspa kunjungi, tempat yang begitu indah saat ia melihatnya di layar laptopnya.
Turun dari taksi Anjar menggandeng tangan puspa, sedangkan tangan yang lain menyeret koper berisi barang-barang mereka. Mereka memasuki hotel tempat mereka menginap selama di sini.
"Sayang, kita istirahat dulu di hotel, besok baru kita jalan-jalan menikmati indahnya kota Istanbul"
"Iya sayang" jawab Puspa yang tak mau lepas memegang tangan kanan suaminya
"iish..ishh, aku jadi merinding sayang"
Anjar seolah merinding mendengar istrinya yang memanggilnya sayang. karena ini kali pertamanya Anjar di panggil dengan sebutan itu.
"Kenapa merinding?"
"Entahlah sayang, kamu mendadak sangat seksi, rasanya mas ngga sabar pengin makan siang"
"Ya sudah nanti sampai kamar kita pesen makanan"
"Kayanya kamu ketularan b*dohnya aku sayang"
"Maksud mas apa si?"
"fix kamu tertular virusku" Bukan makanan yang itu sayang"
"Terus?"
"Ngga sabar pengin makan kamu" bisik Anjar yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya"
"iihhh ada ya orang ngaku dirinya b*doh" ujar Puspa menggoda suaminya.
"Bukan aku yang bilang, tapi bunda yang udah ngatain anak gantengnya, kamu juga, suami di katain b*doh malah diem aja, harusnya belain sayang"
"Suamiku udah pinter jadi tidak perlu di bela, pasti suamiku ini bisa membela dirinya sendiri" ucap Puspa tak mau kalah
"ishhh... Nah ini kamar kita sayang, Ayo aku sudah sangat lapar, ingin memakanmu"
__ADS_1
Bersambung