Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
84


__ADS_3

Anjar membaringkan tubuh Sasa di kamar miliknya, dengan penuh hati-hati, agar tidak terbangun, menepuk punggungnya pelan saat tubuhnya menggeliat, dan akhirnya kembali terlelap. Dia memandangi wajah polos putrinya yang begitu teduh dan menenangkan. Wajah yang tidak dilihat selama beberapa bulan ini. Sebelum meninggalkannya, Anjar mendaratkan ciuman di kening Sasa.


Satu keluarga sedang berkumpul di ruang tv yang menyatu dengan ruang makan. Ada Cantika yang membantu Diana menyiapkan makan siang. Bunda Ayah dan Ayash suami dari Cantika sedang terlibat perbincangan. Tidak lama Anjar bergabung dengan mereka.


"Bagaimana pak pilot, sudah ada tanda-tanda punya baby, kalian sudah 3 tahun menikah, apa masih mau menundanya" sela Anjar di tengah-tengah perbincangan mereka.


"Belum mas, Tika masih ada kontrak 2 bulan lagi" jawabnya


"Begitu ya, bagimana kabar ibu sama bapak di Semarang?"


"Alhamdulillah mereka baik, dan Akbar sedang menyiapkan diri untuk wisuda mas"


"Baguslah, kalau ada waktu, aku akan ajak Azam dan Emyr ke rumah ibu"


Ayash tampak menganggukan kepala


"Ayah, bunda, papi dan om Ayash, ayo makan" perintah Diana


Mereka menikmati makan siang sembari melemparkan candaan


"Mas Anjar, jangan dingin sama mba Diana, kalau nanti sampai kabur lagi, aku tidak mau membantumu mencarinya lagi" Canda Cantika


"Kamu anak kecil, tidak usah ikut bicara masalah orang dewasa, bersiaplah, dua bulan lagi pasti Ayash akan menyerangmu"


"Menyerang apa mas?" tanya Cantika penasaran seraya memindai pandangan pada suami dan kakak iparnya, begitu juga bunda dan Diana, mereka menatap Anjar dengan sorotan tajam


Alih-alih menjawab ia justru mengalihkan pembicaraan "Om suruh dia berhenti bekerja, dan buat perutnya membuncit, kasih sepupu buat Azam dan Emyr"


"Siap mas"jawab Ayash lantang


"Oh ya mba, aku mau mengembalikan ini" ucap Cantika seraya meyerahkan sebuah pin. Diana menautkan alisnya


"Ini Sasa punya, kok bisa ada di kamu Tika?"


"mba Diana menjatuhkannya waktu kita bertemu di lobi hotel, dan dari situ mas Anjar menemui emba"


Diana melirik suaminya yang sedang menyantap Dessert berupa puding


"Ooh begitu ya?" sahut Diana, dia seolah bersyukur dengan jatuhnya benda itu dan di temui oleh Cantika


"Tapi mas Anjar belum berterimakasih mba sama aku, yang ada dia malah marah-marah karena, aku sudah mengganggu dengan menelfonnya malam-malam waktu itu"


"Ya terimakasih Cantika" sela Anjar datar


"Tuh kan mba dingin banget"


"Dingin-dingin gini kamu pernah memberiku ob.."


"Mas Anjar" Cantika memotong ucapan Anjar

__ADS_1


"Maaf"


Ayah, bunda, Ayash dan Diana hanya menyimak perdebatan antara adik dan kakak ipar. hampir saja Anjar mengatakan rahasia antara mereka berdua, bahkan Puspa pun saat masih berstatus menjadi istrinya tidak pernah tahu tentang itu. Namun Diana curiga pada suaminya, dia sangat penasaran kenapa Cantika secara tiba-tiba memotong ucapan suaminya.


"Aku harus menanyakannya nanti" batin Diana


...💐💐💐💐💐...


Sesaat setelah makan siang, Cantika membantu Diana membereskan dan mencuci piring bekas mereka makan. Tidak lama setelah itu Cantika dan suaminya pamit, karena akan ada jam terbang menuju hongkong.


"Di, bagaimana kabarmu ?" tanya ayah saat mereka sedang berkumpul di ruang TV,


"Baik yah" jawab Diana sambil menyuapi Emyr makan puding, sesekali melirik ke arah suaminya yang sedang memangku Azam


"Terimakasih Di, sudah merawat Emyr dengan baik"


"Kenapa ayah berterimakasih, seorang ibu berkewajiban merawat dan mendidik anaknya yah"


"Kamu memang menantu yang baik Di, pilihan bunda memang tepat"


"Bunda memaksa Anjar menikah dengannya, karena Diana memang mencintai Anjar yah" sahut bunda "bunda tahu sejak Diana pertama kali bunda kenalin pada Anjar, dari sorot mata Diana dia jatuh cinta pada Anak kita"


Wajah Diana memerah, Benar Diana memang sudah tertarik pada Anjar sejak pertama kali dia memeriksakan kesehatanya saat di kamarnya


Anjar yang mendengar itu seketika menatap Diana dan bunda "Benarkah itu bun?"


"Mas" Diana melemparkan sorotan mata tajam, membuat Anjar seketika mengatupkan bibirnya. dia tidak akan membiarkan suaminya melanjutkan ucapannya


"Mami" teriakan Sasa terdengar dari kamar. Diana hendak berdiri namun Anjar segera menahanya "Biar papi saja sayang" ucap Anjar seraya melangkahkan kaki menuju kamar


"Di, ayah senang hubungan kalian membaik, tetaplah seperti ini, saling mencintai, dan melengkapi. Tegurlah jika salah satu di antara kalian melakukan kesalahan, dan bicarakan baik-baik, cukup kejadian di masa lalu untuk di jadikan pengalaman, dan jangan sampai terulang kedepannya"


"Iya yah"


*


*


Malam, hari selepas jam makan malam, di manfaatkan Anjar untuk bermain bersama ketiga anaknya. Mereka tertawa riang, keceriaan mereka menggema di setiap sudut ruangan. Hingga pukul sepuluh malam, ayah dan bunda pun pamit untuk mengistirahatkan badannya.


Ketiga anak mereka pun sudah terlelap berpetualang di dunia mimpi, kini hanya Diana dan Anjar yang belum memejamkan matanya.


"Pi, tadi siang papi mau ngomong apa, saat Cantika memotong ucapanmu?"


"Bukan apa-apa sayang" Anjar mendapat tatapan tajam dari istrinya membuat dia salah tingkah


"Katakan atau puasa selama sebulan"


"Maksud mami?"

__ADS_1


"Cepat katakan, kalau tidak, aku tidak akan memberimu jatah makan malan, sebelum tidur"


"Baiklah akan papi katakan tapi tolong mami jaga rahasia ini, dan bersikaplah biasa saja jika bertemu Cantika di lain waktu"


"Ya cepat katakan!"


Anjar membisikan sesuatu di telinga Diana, Mata Diana membulat sempurna dengan mulut menganga "Benarkah?"


Anjar mengangguk "bahkan Puspa tidak pernah tahu tentang ini sayang, Dia sangat menyayangi Cantika, dia juga yang membiayai semua pendidikan pramugarinya, tapi Cantika malah menusuknya dari belakang"


Diana seolah tidak percaya pada ucapan suaminya


"Terus apa yang terjadi saat papi meminum obat itu?"


"Ya papi hampir melakukannya dengan Cantika, tapi untungnya saat itu Puspa datang"


"Lalu?" tanya Diana penasaran


"Ya ahirnya rencana Cantika menjebaku gagal dong, dan jadilah Puspa yang menuntaskannya, aku bersyukur waktu itu, Puspa datang di waktu yang tepat, kalau tidak aku tidak bisa membayangkan jika aku melakukan itu pada Cantika, apalagi jika Cantika sampai hamil"


"Stop, jangan di lanjutkan! sahut Diana


"Apa mau tidur?" tanya Anjar, Diana mengangguk "Baiklah ayo tidur" ucapnya seraya memeluk tubuh istrinya.


Hari ini Diana dan Anjar akan membawa Emyr terapi berjalan, itu sudah jadwal rutin dari rumah sakit setiap dua hari sekali. Terapi kali ini Emyr tidak hanya di temani oleh mami dan papinya, tapi kakek, nenek, kakak beserta adiknya pun turut menemani.


"abang Emyr, fokus ya sayang, mami ada di depanmu, dan papi ada di belakangmu, ada dokter Nelson yang akan mengarahkanmu nanti. Konsentrasi ya sayang, mami papi menyayangimu, kamu anak mami yang hebat" ucap Diana sebelum melepaskan tangan Emyr untuk belajar berdiri


Di sudut lainya ada kakek dan neneknya yang harap-harap cemas, hal ini mengingatkan bunda saat melatih Azam dan Emyr berjalan waktu berumur satu tahun. Di saat Diana tidak merasakan momen-momen si kembar mulai belajar jalan, kini justru Diana yang akan membantu Emyr bisa berjalan kembali


"Bissmillahirrahmaannirrahiim" lanjut Diana "mami akan lepaskan tangan Emyr dalam hitungan ke tiga, ingat ada papi dan mami di sini" Emyr mengangguk


"Are you ready boy" ucap dokter Nelson "okey one, two, three, lets go"


Perlahan Diana melepaskan genggamannya


Anjar yang berada di belakang Emyr tetap siaga jika Emyr terjatuh, begitu juga Diana yang berada di depanya


"Put your feet up, and go. Walk slowly Emyr" Dokter Nelson terus mengarahkan


Satu langkah, dua langkah hingga tiga langkah, Emyr berjalan tanpa bertopang pada apapun


"Good job Emyr, take a rest" Emyr berhenti sejenak untuk beristirahat. "Ok Emyr, lets begin"


Delapan langkah berhasil di tempuh oleh Emyr, saat Dokter mengatakan Enough, Diana bergegas memeluk tubuh putra kesayangannya, dan memberi ciuman bertubi-tubi, merasa bahagia, tidak lama lagi, pasti Emyr akan bisa berjalan dan berlari. Di sana bunda dan ayah tampak meneteskan air mata, mereka terharu dengan perjuangan Emyr dan menantunya


Anjar melihat Diana begitu tulus merawat anaknya, sungguh dia sangat menyesal sudah pernah bersikap dingin padanya, mengabaikannya selama hampir enam bulan, hingga Anjar berjanji, tidak akan menyakitinya, dan akan selalu membuat wanitanya bahagia seumur hidupnya


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2