Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
54


__ADS_3

"Apa wanita itu sedang mengatakan kapan akan menceraikanku?"


"Apa mas Anjar sedang memberitahukan, bahwa secepatnya mas Anjar akan menceraikanku?"


Rasanya ingin sekali aku berlari ke arahnya, lalu menguping pembicaraan mereka.


Sesaat kemudian, mereka berdiri dangan masing-masing membopong Azam dan Emyr yang tertidur, berjalan meninggalkan taman menuju mobil milik mas Anjar.


Mas Anjar tampak membukakan pintu mobil di kursi belakang dan menyuruhnya masuk, lalu meletakan Emyr di sebelah wanita itu. Perlahan mobil bergerak melaju meninggalkan taman.


Aku ingin sekali membututinya, tapi aku tidak kuat jika harus menyaksikan hal yang lebih menyakitkan dari ini.


Terdengar suara Adzan, ku kemudikan mobilku menuju Masjid, berniat melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


Selesai sholat, aku duduk di serambi masjid, masih dengan pikiranku yang carut marut.

__ADS_1


"Mas Anjar, jika kamu sudah memiliki wanita yang kamu cintai, kenapa kamu bersedia menikahiku?"


"Jika kamu sudah memiliki calon mami untuk anak - anakmu, lantas mengapa menjadikanku mami untuk Azam dan Emyr"


Ku langkahkan kakiku memasuki mobil. Ku tancap gas dan melajukannya. Aku ingin pergi ke suatu tempat.


"Mba, aku datang untuk menjengukmu, aku tidak tahu harus berbuat apa mba, aku bisa saja berpisah dari mas Anjar, tapi aku belum siap berpisah dengan Azam dan Emyr. Mungkin aku tidak akan pernah sanggup. Maafkan aku yang sudah begitu serakah menyayangi anak-anakmu, bahkan aku menggoda suamimu mba, menggodanya dengan pakaian miniku, menggoda dengan lingerie-lingerie tipisku. Dan hari ini aku menemukan jawabanya, kenapa mas Anjar sama sekali tidak meliriku. Wanita beruntung itu yang sudah membuat mas Anjar enggan menyentuhku. Jika ku ingat sikapku, perhatianku untuk mas Anjar, aku merasa sangat malu. aku seperti tidak punya muka di hadapan mas Anjar mba"


"Mba, maafkan aku jika suatu saat aku tidak bisa lagi memebesarkan anakmu, maafkan aku jika aku salah dalam mendidik anak-anakmu"


Sedikit barlari meninggalkan makam karena hari sudah sore, dan cuaca yang sedang hujan sehingga tampak gelap


"Kemana aku harus pulang, aku tidak mau ke rumah mertuaku, tapi juga tidak mungkin pulang ke panti"


"Lebih baik aku pulang ke bandung, kerumah ibu kost saat aku kuliah di sana" ucapku saat sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


Ku cari benda tipis di dalam tasku, ku nyalakan ponselku yang sempat aku matikan sebelum sholat di Masjid, aku ingin menghubungi ibu kostku.


Saat ponsel sudah menyala, ada banyak panggilan tak terjawab dari bunda, dan juga mas Anjar. Beberapa pesan juga di kirim dari nomor ponsel mas Anjar. Sekitar setengah jam yang lalu, pesan beruntun masuk ke handphoneku.


Ku batalkan niatku pergi ke bandung


"Aku harus pulang, anak-anak menungguku, mereka membutuhkanku, Diana kamu cukup tidak peduli dengan mas Anjar, si kembar tidak salah"


Ku injak pedal gas, ku jalankan mobilku membelah jalanan yang basah karena hujan, hingga sampai di depan rumah mertuaku, seorang satpam membuka gerbang untuku.


"Mau kemana mas Anjar dengan pakaian rapinya?" Batinku


Dia bisa bersikap lembut pada wanita itu, tapi sangat kasar memperlakukanku


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2