Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
68


__ADS_3

Cantika berniat memberikan informasi pada kakak iparnya. Dia dan suami yang baru saja mendaratkan pesawatnya di bandara International Singapura, malam ini di salah satu hotel yang sudah di pilih oleh para pilot serta pramugari untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sebelum terbang kembali ke Korea besok pagi.


"Mas Anjar, kenapa lama sekali angkat telfonya?" ucap Cantika di balik telpon


"Apa-apaan kamu, telpon langsung marah-marah, aku baru saja menidurkan Azam, ada apa malam-malam menelponku?"


"Emyr bagaimana mas?"


"Dia juga sudah tidur, sudah cepat katakan ada apa?"


"Pantesan saja mba Diana kabur, mas Anjar masih suka bersikap dingin seperti ini"


"Ya sudah aku tutup kalau tidak ada yang penting?'


"Tutup saja, maka aku tidak akan memberimu informasi tentang mba Diana" sahut Cantika tak kalah dingin


"Apa,,,,Diana?" apa kamu menemukannya? tanya Anjar


"Mba Diana ada di Singapura, makanya Buka WA ku mas, aku kirim foto tadi"


Seketika Anjar membuka pesan Whatsapp dari Cantika. Dengan kondisi telpon masih tersambung


"Eh Tika, kamu kirim foto itu apa gunanya untuku"


"Mas Anjar tanyakan dulu makannya?" jawab Cantika


Mereka berdua terlibat adu mulut lewat sambungan telpon.


Mereka kerap sekali berantem jika bertemu. Cantika yang dulu sempat ingin menggantikan posisi kakaknya sebagai istri Anjar.


Namun karena Anjar sama sekali tidak tertarik dengannya, dan Cantika sudah mengenal dunia penerbangan, di awal karirnya sebagai pramugari, dia melihat ada banyak laki-laki yang lebih sempurna dari Anjar, membuat Cantika lambat laun bisa melupakan kakak iparnya.


Cantika, sering sekali pulang ke rumah Anjar saat libur kerja, juga membantu bunda merawat dua keponakannya ketika masih bayi.


Menjadi hiburan tersendiri untuk bunda.


Mereka akan seperti Tom & Jerry jika sudah bertemu, membuat bunda gemas, dan sering menertawakan tingkah mereka. Anjar dengan sikap dinginnya, dan cantika dengan sikap ceplas ceplosnya, yang to the point.


Selain itu, Cantika merupakan anak sambung dari temannya semasa SMA, yang juga pernah menjadi besan. Membuat bunda menganggapnya seperti anak sendiri.


Tapi layaknya kakak adik, setelah berantem mereka pun saling meminta maaf, dan saling membantu.


"Ya ya, apa maksud dari foto itu Cantika sayang?"


"Apa panggil sayang-sayang, ada suami di sebelahku, ingat ya, aku itu sudah tidak tertarik lagi sama mas Anjar, mas Anjar itu ibarat no 9 dari sepuluh pria mempesona"


"No sembilan, tapi kamu pernah memberiku obat perangsang, itu artinya, aku pernah jadi no satu, dan kamu, masih menjadi no terahir bagiku dari seluruh wanita di dunia"


"Mas Anjar jangan bahas itu dong, aku kan lagi khilaf waktu itu, maaf sekali lagi"


"Aku akan memaafkanmu, jika kamu menemukan Diana" sahut Anjar


"Ya sudah, mas Anjar browsing saja tentang sekolah itu, cari tahu di mana alamat P&G kindergarten" ucap Cantika sambil memainkan sebuah pin milik Diana "Itu nama sebuah sekolah playgroup di Spore mas"


"Kenapa kamu memberikan informasi hanya setengah-setengah, kenapa tidak kamu sekalian carikan dimana alamat itu?" pungkas Anjar dingin


"Aku sibuk, lagian enak saja cuma aku yang usaha, kerja sama dong, kita bagi tugas" Cantika tak kalah dingin


Tanpa menunggu jawaban Anjar, Cantika dengan cepat menekan tombol berwarna merah pada ponselnya.


🏵


🏵


🏵

__ADS_1


Sesaat setelah sambungan telpon terputus, gegas Anjar beranjak dari kasurnya, menuju ke meja kerja yang menyatu di dalam kamarnya, tak lupa ia memakai kacamata sebelum membuka komputer.


Ia mulai mengetikan apa yang akan dicari.


Hasil pencarian menampilkan, sebuah lembaga pendidikan anak usia dini terbaik di Singapura. Di mana banyak warga negara asing yang menyekolahkan anaknya di situ, termasuk Diana.


"Apa maksud Cantika menyuruhku mencari ini?" ini hanya sebuah sekolah PAUD" Guman Anjar


Tapi sesuai perintah Cantika, Anjar menyambar sebuah kertas, dan bolpoint untuk mencatat alamat sekolah tersebut.


"Apa aku harus mencari Diana di sana?"


"Ok, besok sore setelah pulang kantor, aku akan ke Singapura, mengambil penerbangan malam, supaya paginya langsung bisa ke tempat ini"


"Ini hanya Singapura, dua jam saja sudah sampai. Jika seseorang mengatakan Diana berada di Antartika, bahkan aku akan kesana"


"hhhh Diana padahal aku juga sering ke Singapura, tapi kenapa kita tidak bertemu"


Keesokan paginya, Anjar sudah siap pergi ke kantor, dia sudah memberitahu pada ayah dan bunda kalau Cantika bertemu dengan Diana. Anjar juga mengatakan tentang keberangkatanya ke negri Singa. Anjar meminta cuti beberapa hari untuk mencari Diana.


Ayah dan bunda pun menyetujui rencana putranya.


"Lalu kapan kamu berangkat ke sana?" tanya Ayah


"Nanti malam yah penerbangan pukul delapan"


"Semoga segera bertemu Diana, sahut bunda"


Anjar mengamini ucapan bundanya


Selesai sarapan ia pamitan pada anak-anaknya untuk berangkat kerja.


...___________________________...


"Di kamu kenapa?" dari tadi aku lihat kamu melamun"


"Maksud kamu Di?" tanya Bella seraya menikmati makan siangnya, di restoran dekat rumah sakit.


"Cantika"


"Namanya Cantika?"


"Iya Bell, ternyata dia adiknya mba Puspa, seorang pramugari, dan suaminya seorang pilot"


"Apa selama ini, aku sudah salah mengira Bell?" sambung Diana


"Salah mengira bagaimana Di?"


"Kalau mas Anjar saat itu memang tidak menginap dengannya, dan hanya kebetulan bertemu di hotel itu"


Diana mengusap wajahnya gusar


"Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan Emyr Bell"


"Why? tanya Bella


"Cantika bilang kondisi Emyr sangat memprihatinkan"


"Kamu masih memikirkan mereka Di? Bella menjeda ucapanya.


"Kamu tidak perlu khawatir, anak kembarmu pasti sudah ada mami baru. Belum tentu mereka juga memikirkanmu di sini, itu masa lalu Di, lupakan.


Lihatlah nasibmu, karena bayang-bayang mereka, kamu mengorbankan hidupmu sediri.


Coba dari dulu kamu menikah dan melupakannya, pasti Sasa tidak akan pernah tahu tentang papi kandungnya. Kamu terlalu bodoh menceritakan kebaikan papinya.

__ADS_1


"Apa aku harus menceritakan keburukan papinya Bell?"


"Tidak begitu juga Di, tapi kamu bisa merahasiakannya dari Sasa.


"Tidak lama setelah kamu melahirkan, ada laki-laki yang ingin menikahimu kan?, seandainya kamu terima laki-laki itu, maka setahu Sasa dia lah papi kandungnya.


"Terus kamu akan bilang, kalau aku salah telah menolak pria itu?"


"Tidak seperti itu, oke aku minta maaf, tapi aku sedih melihatmu masih memikirkan mantan suamimu"


*****


Seperti malam kemarin, malam ini pun Diana tidak bisa memejamkan matanya. Azam dan Emyr berhasil membuat pikirannya kacau.


Di tempat lain, Sebuah pesawat telah landing sekitar pukul 21:45


Mengenakan sweater lengan panjang, di padukan dengan celana panjang terlihat santai namun tetap cool, satu tangan kanannya memegang ransel yang ia daratkan di punggunggnya, berjalan menuju hotel sekitar bandara.


Hotel yang sama saat Diana menghadiri workshop.


Malam ini ia akan beristirahat. Dan akan mengunjungi alamat yang sudah ia catat di note ponsel keesokan harinya.


Merebahkan diri di atas kasur, berharap besok akan bertemu belahan jiwa, yang sudah tiga tahun terpisahkan.


Pagi Hari, Anjar sudah berada di area P&G Kindergarten, belum ada aktifitas di area sekolah karena masih pukul enam.


Pandangannya lurus ke arah gedung. Hampir satu jam menunggu, tampak sudah mulai ada beberapa orang tua menggandeng anaknya, mengantarkan sampai depan gerbang. Beberapa guru berjejer menjemput murid-muridnya.


Tiba sebuah mobil berhenti agak jauh dari gerbang sekolah, Dua wanita dan dua anak turun dari mobil itu. Mata Anjar fokus dengan wanita yang pernah tinggal satu kamar dengannya.


Sontak Anjar mempertajam pandangannya


"Diana" gumamnya, "Anak siapa yang dia antar?" apa keduanya adalah anak temannya, atau Diana sudah menikah kembali dan mempunyai anak?, atau salah satu dari mereka adalah anak Diana?"


Anjar merasa patah harapan. Pandangan masih ia arahkan pada dua wanita itu.


Diana dan Bella terlibat pembicaraan setelah memastikan anak mereka memasuki gedung sekolah.


Sama-sama menyenderkan punggungnya di sisi mobil, kedua tangan Diana, ia masukan dalam saku Snellinya, dan Bella yang tampak bersedakap


"What?" kamu berniat ke Indonesia untuk menjenguk mereka?" sambar Bella


"Aku sedang meminta pendapatmu Bell"


Diana menggigit bibir bawahnya. "Aku kesana bukan untuk mas Anjar, tapi untuk memastikan keadaan Azam dan Emyr"


"Terserah kamu saja Di, aku ingin yang terbaik untuk sahabtku saja"


Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama salah satu dari mereka.


"Diana?"


Kedua wanita itu menoleh ke arah sumber suara, mereka berdiri menjadi lebih tegap.


Diana terkejut mendapati mantan suaminya yang tiba-tiba berada di hadapannya,


"Mas Anjar" lirih Diana


Suasana menjadi Hening, karena sama-sama tidak menyangka.


Bella melihat jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukan pukul 07:20


"Di, katakan apa yang ada di hatimu, tanyakan apa yang ingin kamu tahu, aku tunggu kamu di Rumah Sakit, ingat jam 9 ada operasi, jangan sampai terlambat" bisik Bella lalu mengusap lengan Diana yang masih diam membisu.


Memasuki mobil, tak lama kemudian mobil beranjak meninggalkan dua orang yang sedang saling memandang dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2