
Sayup-sayup terdengar kicauan burung saling bersahutan, mentari mulai menampakan sinarnya.
Diana masih betah bersembunyi di balik selimutnya, dengan kehamilan yang menginjak usia tiga bulan, semakin bermalas-malasan terutama di pagi hari. Samar-samar terdengar percakapan antara suami dan anak lelakinya. Diana segera bangkit dari tempat tidur, mengarahkan kakinya menuju sumber suara.
Terlihat Anjar sedang menyuapi Emyr, duduk bersisian di meja makan.
"Kalian?"
"Eh mami sudah bangun?" tanya Anjar
"Maaf ya Emyr, mami telat bangun" Emyr tampak menganggukan kepala "Emyr sarapan pake apa?" lanjut diana lalu ikut duduk berhadapan dengan Anjar.
"Pa-kai bubur ik-an" Emyr menjawab dengan terbata
"Sayang cepat mandi, kita mau menemui dokter Janet, kita konsultasi mengenai sikologis Emyr"
"What, memangnya hari ini pi?"
Anjar menganggukan kepala
"Sebentar mami mandi dulu, kalian sudah mandi kan? tanya Diana lalu bergegas menuju kamar mandi
"Sudah, jawab Anjar "Pelan-pelan saja mi, masih dua jam lagi"
🌺
Di dalam sebuah ruangan dokter. Emyr duduk berhadapan dengan dokter Janet, ada maminya di sisi kirinya, dan papi di sisi kanan Emyr.
"hay Emyr" dokter Janet memulai percakapannya
"Ha lo dok ter" Emyr masih kesulitan berbicara, ia bahkan sampai menguras tenaga, walau hanya satu atau dua kata yang ia ucapkan.
"Dokter mau tanya, Emyr jawabnya pelan-pelan saja ya, Emyr bahagia?"
Emyr menganggukan kepala
"Ada yang ingin Emyr sampaikan?" dokter Janet kembali bertanya
Emyr tampak ragu-ragu, ia menimbang-nimbang apakah ingin mengatakan sesuatu atau tidak, dia memindai wajah papi maminya bergantian
__ADS_1
"Katakan apa yang ingin Emyr sampaikan, jangan takut, ada papi sama mami di sini" Bisik Diana saat pandangan Emyr mengarah ke Diana
"Ayo katakan sayang"ucap Diana lagi
"Pa pi ja-hat mi?" ucap Emyr dengan pandangan masih fokus menatap bola mata Diana
Diana dan Anjar terkejut dengan ucapan Emyr, bagaimana bisa Emyr mengatakan bahwa papinya jahat, padahal Anjar sangat menyayanginya
"Tidak apa-apa Emyr, katakan pelan-pelan apa yang ada di hati Emyr" sela Dokter Janet "jangan di simpan di sini" seraya menyentuh dada Emyr lembut
"Papi jahatin mami, mami bilang kalau papinya jahat sama mami, mami kerjanya malam-malam biar tidak ketemu papi, papi udah nakal sama mami jadinya mami pergi" ucap Emyr dengan terbata-bata
Ungkapan isi hati Emyr yang selama 4 tahun lebih ia pendam, dan kini Emyr berani mengatakannya, membuat Anjar semakin merasa bersalah, bersalah pada anak dan istrinya.
Begitu juga dengan Diana jantungnya bergetar hebat, dia merasa pernah membisikan kata itu di telinga Emyr saat sedang tidur, Tidak di sangka bisikan Diana terekam jelas di memori Emyr. Mata Diana memanas, mulut ingin sekali berteriak, namun ia sadar ini bukan tempat yang tepat untuk menangis ataupun berteriak.
"Papi jahat dokter, papi nakal sama mami, mami pergi gara-gara papi" kalimat itu terus di ulang oleh Emyr, hingga ia menangis sesenggukan.
Emyr melingkarkan tangannya pada leher Diana, Diana membalas pelukan Emyr, tangannya tak berhenti mengusap punggung anak kesayangannya
"Maafin mami sayang" ucap Diana masih dengan gerakan tangan mengusap punggung anaknya. Sementara Anjar keluar dari ruangan itu.
"Perlahan Emyr mulai tenang, tidak menangis seperti sebelumnya, bagi Emyr pelukan Diana sangat menenangkan, apalagi saat menyesap aroma tubuh Diana, Emyr merasa tidak ingin lagi jika Diana pergi meninggalkannya.
"Dokter Diana, bisa tolong panggilkan suami, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan" ucap dokter saat suster sudah membawa Emyr keluar dari ruangan
"Baik Dok, sebentar saya panggilkan"
Saat membuka pintu, Diana mendapati Anjar sedang duduk di sebuah bangku panjang, melipatkan satu tangan dan tangan lainnya seperti menopang pada dagu, dengan pandangan lurus ke depan. Diana berjalan mendekati suaminya, ia duduk di sebelahnya, tangannya mengusap paha sang suami
"Papi, dokter Janet ingin bicara, ayo kita masuk" ucap Diana lembut
Anjar memindai wajah Diana dengan tatapan sendu
"Kita minta solusi sama dokter janet" ucap Diana lagi, seraya menganggukan kepala.
Anjar dan Diana berjalan menuju ruang dokter Janet, dengan tangan saling bergandengan
"Silakan duduk pak Anjar dan dokter Diana"
__ADS_1
Anjar dan Diana mendudukan bobot tubuhnya di kursi tepat berhadapan dengan sang dokter.
"Begini Dokter Diana, pak Anjar, maaf sebelumnya, harus saya sampaikan. Dokter Janet menjeda kalimatnya.
"Pertengkaran orang tua di hadapan anaknya memang seringkali menimbulkan trauma buat si anak, seperti yang sedang di alami oleh Emyr saat ini. Anak sulit mengerti mengapa kedua orang tua yang dia cintai, bisa saling diam satu sama lain, mengeluarkan kata-kata kasar, atau bahkan bertengkar"
"Ucapan atau kalimat-kalimat baik positif maupun negatif, lebih mudah didengar anak menjelang tidur" seperti yang Emyr katakan tadi, bahwa maminya mengatakan saat dia sedang tidur"
"Karena menjelang tidur merupakan momentum paling tepat untuk menyugesti hal positif pada anak (teknik hipnoterapi). Saat itulah tubuh rileks dan pikiran alam bawah sadar dapat menerima kalimat-kalimat yang kita bisikan.
"Kondisi yang mudah menerima ketika pikiran bawah sadar sudah memasuki tahap deep," ungkap dokter Janet panjang lebar.
Tumbuh kembang dan perilaku anak dapat di lakukan dengan Sugesti positif yang keluar saat hipnoterapi. Mampu memengaruhi pikiran dan perilaku anak, dapat memprogram pikiran dengan sesuatu yang positif. Begitu juga sebaliknya, jika membisikan kata negatif, itulah yang akan di tangkap"
"Apa bisa di pahami ucapan saya dokter Diana dan pak Anjar?"
Anjar dan Diana sama-sama menganggukan kepala. Penjelasan Dokter bagai tamparan keras untuk Diana, dan membuat Diana semakin merasa bersalah pada Emyr.
"Lalu apa yang harus kita lakukan dok?" tanya Anjar
Masih dengan senyuman dokter Diana menjelaskannya.
"Beruntung trauma yang di Alami Emyr, termasuk masih di tahap awal. Jadi lebih mudah kita mengatasinya"
"Perlu di ingat bahwa terkadang anak susah untuk mengungkapkan emosi yang sedang dirasakan kepada orangtua. Maka orangtua bertanggung jawab atas hal ini. Pendekatan kasih sayang dari orangtua dibutuhkan dalam hal ini"
"Sebaiknya luangkan waktu untuk berbicara pelan-pelan pada Emyr, bisa dengan meminta maaf padanya, bisa katakan kalau mami sayang sama papi, atau sebaliknya. Tunjukan bahwa mami papinya saling menyayangi"
"Apa ada pertanyaan lagi?" tanyanya
"Butuh berapa lama dok, untuk membatu Emyr keluar dari traumanya?"
"Kita tidak bisa menentukan pak, tergantung peran orang tua di rumah" bisa 2 bulan atau bahkan lebih dari 6 bulan" jawab dokter Janet.
"Ada lagi yang ingin di tanyakan?"
Anjar menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Baiklah, akan saya beri resep obat dosis rendah. Kita ketemu dua minggu lagi untuk pemeriksaan selanjutnya"
__ADS_1
"Baik Dok, kami permisi" ucap Anjar lalu berdiri menggandeng tangan Diana berjalan menuju pintu.
BERSAMBUNG