
Jeritan riang anak-anak terdengar heboh, mereka tengah bermain kejar-kejaran di halaman samping rumah. Diana berfikir untuk bermain sebentar dengan si kembar, karena tidak tega dengan wajah Azam dan Emyr, yang merengek minta di temani. Dari lantai dua ada bu Rita yang tersenyum sambil melipat kedua tangannya di dada, ia merasa bahagia menyaksikan kedua cucunya bermain dan tertawa
"Mereka seperti sedang bermain dengan maminya"
"Puspa sayang, apa kau juga bahagia seperti bunda, melihat anakmu bermain dengan dokter Diana?" Gumam Bunda
Dua jam lalu Setelah mendapat telpon dari Siska, Diana segera datang ke rumah keluarga Dhaniswara untuk memeriksa bu Rita.
Diana telah memeriksa bu Rita karena tekanan darah tinggi yang membuatnya pusing, ia menyuruh bu Rita untuk tidak terlalu banyak pikiran. Selain itu juga faktor U, yang membuatnya mudah sekali sakit. Diana mengingatkan untuk istirahat secukupnya
"Ayo sini tangkap aunty"
Dua bocah kembar berlari saling berlomba, berebut pelukan dari Diana. Mereka bertiga berpelukan saling tertawa.
"Kalian Cape kan?"
"Tidak aunty" jawab mereka kompak
"Tapi aunty cape, kita istirahat dulu ya, kita duduk yuk"
Diana menggiring dua anak kembar duduk di tikar yang selalu di siapkan oleh Atin, jika si kembar sedang bermain di luar.
"Aunty bobo cini" Abang ajam di cini, Emyl di cini" ucap Emyr
Tanpa menunggu lama Diana pun segera merebahkan dirinya di atas tikar, berada di tengah antara Azam dan Emyr, Ia menceritakan dongeng Malin Kundang
"Nah Malin Kundangnya jadi batu deh, karena sudah durhaka sama ibunya"
Azam sama Emyr harus sayang sama papinya ya, tidak boleh durhaka, okey!"
Merasa tak medapat jawaban, Diana melirik dua bocah itu.
"Tidur" gumamnya
Diana memanggil Atin yang kebetulan sedang mengangkat jemuran
"Mbak Atin" tolong angkat Azam ya, pindahkan ke kamar, nanti Emyr jatah saya"
"Baik Non Diana"
"Pelan-pelan saja ya mbak, takut bangun"
"Iya non" jawab Atin
Setelah memboyong Azam dan Emyr ke kamar mereka, Diana menuruni anak tangga, menghampiri bu Rita yang sedang membantu bi sumi menyiapkan bahan makanan untuk di masak buat makan malam
"Tente, saya permisi pamit pulang"
"Loh Di, pulang setelah makan malam saja bagaimana?"
"Maaf tante, malam ini ada tugas malam di rumah sakit, lain kali saja"
"Tunggu sebentar lagi ya, jam 4 suami tante pulang, dia ingin bertemu denganmu"
__ADS_1
Diana melirik jam yang melingkar di tangannya
"Baru jam setengah tiga, jam empat masih lama" Batin Diana
"Sekali lagi maaf tante, saya tidak bisa, ada janji menemani adik-adik di panti"
"Oh begitu" Bersamaan itu terdengar ucapan salam dari ruang tamu, bunda dan Diana sama-sama memindai pandangannya ke arah ruang tamu
"Wa'alaikumsalam" sahut bunda
"Di itu kayanya anak tante, papinya anak-anak"
Deegggg dada Diana berdesir "Papinya anak-anak, apa yang di maksud tante Rita adalah adik dari bang Rafa yang juga seorang duda?" Diana membatin
"Anjar sini nak"
Anjar segera meraih dan mencium punggung tangan bundanya
"Anjar kenalin ini Diana, Diana ini Anjar, papinya kembar"
"Diana" ucapnya seraya menangkupkan tangannya, Dia tahu batasan-batasan pada yang bukan muhrimnya
"Anjar"
Seketika Anjar ingat pada sang Istri yang selalu menolak berjabat tangan jika dengan laki-laki yang bukan muhrimnya
"Ya sudah tante, saya permisi dulu"
"Anjar bisa antarkan Diana?"
"Maaf bun, aku juga sedikit pusing, jadi tidak bisa"
"Kamu sakit?" mumpung ada dr Diana, biar dia memeriksamu sebelum pulang"
Diana bingung dengan situasi ini
"Tidak perlu bun, istirahat saja sudah cukup"
"Tidak bisa, harus di periksa dulu, Diana ayo ikut tante"
Bu Rita membawa Anjar ke kamarnya di ikuti Diana yang mengekor mengikuti langkah bu Rita
Anjar benar-benar demam terlihat matanya yang tampak sayu dan sedikit memerah
"Maaf saya periksa dulu"
Diana memeriksa tensi, suhu badan, dan detak jantung Anjar
"Gimana dokter, papinya Si kembar?" tanya bunda
"Sedikit demam tante, harus istirahat, dan minum obat"
"Dengerin tu Anjar, untung bunda suruh dokter Diana memeriksamu"
__ADS_1
"Ini obatnya, tolong di habiskan" ucap Diana seraya menaruh obat di atas nakas
Entah kenapa Diana merasa gugup menghadapi si duda yang tak lain adalah papi dari anak-anak yang tadi bermain bersamanya
"Tante saya permisi"
Diana pergi meninggalkan kamar Anjar, dengan bu Rita yang akan mengantarnya sampai depan rumah
"Terimakasih ya Di, sudah mau datang, sudah mau nemenin anak-anak juga"
"Sama-sama tante"
"Lain kali datang lagi ya, kalau bisa tinggal di sini jadi maminya kembar"
Diana tidak menjawab ucapan bu Rita, dia sibuk mengkondisikan jantungnya yang tiba-tiba bergetar, dada Diana berdesir, saat bu Rita mengucapkan untuk jadi maminya kembar
Sepanjang perjalanan pulang, Diana terus memikirkan ucapan bu Rita, dia tidak menyangka bu Rita bisa sefrontal itu mengucapkan candaan. Ya Diana hanya menganggap bu Rita sedang bercanda. Selain memikirkan ucapan bu Rita, dia juga memikirkan sikap Anjar yang terlalu dingin dan cuek. Diana sampai menggelengkan kepala berkali-kali memikirkan keluarga Dhaniswara
Sebelum pulang ke panti, Diana menyempatkan diri mengunjungi makam orang tuanya, tidak di sangka, dia bertemu dengan dr Rafa dan dr Siska
"Loh Diana"
"Eh abang Rafa, mba Siska?"
"Kamu mau mengunjungi makam siapa Di?" tanya Siska heran
"Ayah sama ibu mba"
"Mba sama abang sendiri habis berkunjung ke makam siapa?"
"Kami habis dari makam Puspa, maminya Azam dan Emyr"
"Oh, abang, mba Siska aku baru saja pulang dari rumah Bu Rita, aku juga sudah periksa bu Rita, tekanan darah beliau tinggi, tapi sekarang sudah baikan"
"Makasih ya Di" sahut Rafa
"Tidak perlu sungkan bang"
"Lama juga ya kamu di rumah mertuaku"
"Iya mba tadi pas mau pulang, Azam dan Emyr minta main sebentar, pas mau pulang lagi, si papinya anak-anak pulang dengan kondisi sedikit demam, jadi sekalian aku periksa dia"
"Maksudmu Anjar?" tanya Siska
Diana menganggukan kepala
"Ya sudah mba, abang aku nengokin ayah dan ibuku"
"Di kami akan menunggumu di depan, nanti akan kami antar"
"Tidak usah bang, kalian pulang saja, kasian Aurell pasti sudah nungguin"
"Tidak masalah Di, kami tetap menunggumu di depan, Ok"
__ADS_1
"Ya sudah deh bang, terimakasih sebelumnya"