
Musim panas telah berganti menjadi musim hujan. Dimana mungkin terdapat banyak orang yang tak menyukai musim ini, karena memang musim hujan membuat aktivitas agak tertunda.
Padahal musim hujan adalah musim yang penuh berkah.
Seperti pagi ini, hujan sudah mengguyur kota jakarta sejak dini hari tadi. Diana sudah tampil lebih segar, dengan rambut setengah basah. Sebelum turun, dia melangkahkan kakinya menuju kamar anaknya, di lihatnya dua bocah itu masih tidur terlelap. Diana menutup pintunya kembali, lalu berjalan menuju dapur.
Sudah ada Bi Sumi di sana, seorang ART yang bertugas untuk memasak
"Selamat pagi bi?"
"Eh non selamat pagi"
"Bibi mau masak apa, biar ku bantu"
"Sebenarnya tidah perlu di bantu tidak apa-apa non, tapi kalau mau bantu boleh deh"
"Bi, mas Anjar suka makan apa ya, apa bi Sum tahu?" tanya Diana saat sedang mencuci sayuran
"Den Anjar suka omelet non, sama sayur asem, waktu non Puspa hamil, aden ngidam sayur asem terus jadi suka dan berlanjut sampai sekarang"
"Oh"
"Tapi non, den Anjar sekarang jarang sarapan, malah tidak pernah sarapan kalau berangkat ke kantor, cuma minum kopi sama merokok saja"
"Mas Anjar merokok bi?"
"Iya non"
"Sudah lama dia merokok bi?"
"Sudah dari bujangan, sebelum menikah aden sudah merokok, pas nikah sama non Puspa, berhenti, karena non Puspa suka protes kalau den Anjar merokok, tapi semenjak meninggal, den Anjar mulai merokok lagi"
"Oh begitu, mulai sekarang jangan sediain kopi ya bi"
"Kenapa non, aden pagi-pagi suka nanyain kopinya non?"
"Mulai sekarang ganti saja dengan teh"
"Tapi non"
"Sudah tidak apa-apa, kalau mas Anjar komplain, bilang saja itu perintahku"
"Baik non"
"Pantas saja lambungnya terluka, pagi hari tidak sarapan dan cuma minum kopi" Batin Diana
"Biasanya bibi bikin kopi untuk mas Anjar jam berapa?"
"Setengah tujuh non"
"Ok bi, nanti biar aku yang buatin" sahut Diana
__ADS_1
"Tapi kalau tidak ke kantor den Anjar suka mengurung diri di kamar sampai jam makan siang non, kadang nyuruh bibi bawa ke atas kopinya"
"Bi, suruh Atin bikin susu dua" ucap Anjar tiba-tiba
"Iya den"
"Mereka sudah bangun mas"
"Sudah" sahut Anjar seraya melangkahkan kaki meninggalkan dapur
"Tidak usah panggil Atin bi, biar aku yang bikin"
"Baik non"
Dua botol susu sudah di buat Diana, saat memasuki kamar, Azam dan Emyr berada di pangkuan Anjar yang sedang berhadapan langsung dengan komputer di meja kerjanya, membuat dua bocah kembar itu pun ikut menatap layar yang menyala terang.
"Jangan biarkan mereka menghadap monitor terlalu dekat, mereka masih terlalu kecil" ucap Diana dengan penuh penekanan lalu menyambar Azam dan Emyr satu persatu. Nada bicaranya terdengar dingin, karena merasa kesal, dia tidak ingin anak-anaknya mengalami kerusakan dini pada matanya
Anjar menyadari kekesalan Diana, namun dia seolah tidak peduli, dan tidak merasa bersalah, membuat Diana semakin kesal
"Kita turun yuk, kita main-main di bawah, habis itu sarapan, terus mandi"
Azam dan Emyr bermain di ruang tv, yang masih bisa terlihat dari ruang dapur, ada Atin yang juga menemani mereka. Pandangan mata Diana sesekali memindainya yang sedang asik bermain.
Sarapan sudah siap di atas meja, sudah ada bunda dan Ayah dengan pakaian formalnya, yang akan berangkat ke kantor.
Karena masih ada sisa cuti dua hari, Anjar masih betah berada di kamarnya.
"Aku panggil mas Anjar dulu bund?"
Ketika sudah di depan kamar, sayup-sayup terdengar suara musik, saat Diana membuka pintu. Musik yang selalu di putar oleh Anjar, You are not alone lagu milik Michael Jackson. Diana memindai pandangannya ke setiap sudut ruangan
"Kosong, ada di mana manusia salju itu?" Batin Diana
Setelah menyusuri ruangan, ternyata Anjar sedang berada di balkon, dengan jari tangan mengapit sebuah benda
"Baru kali ini aku melihatnya merokok" Diana membatin seraya menghampiri suaminya
"Mas kita sarapan sama-sama?" Ajak Diana
"Nanti" masih dengan menghisap rokok
Anjar menatap Diana yang menarik sebuah kursi untuk dia duduki
"Kalian duluan saja" lanjut Anjar
"Ya sudah aku tunggu mas, Aku mau sarapan bareng suamiku"
Anjar menatap Diana penuh lekat, tidak lama setelah itu, Anjar melempar rokoknya yang masih panjang lalu menginjak hingga padam
"Turunlah, aku akan mencuci tanganku dulu" ucap Anjar
__ADS_1
Baru saja Diana duduk di tempat makan, tak lama Anjar datang lalu menarik kursi di samping Diana
Diana bergegas menyendok nasi dan beberapa lauk untuk sang suami
"Maaf Ayah duluan sarapan"
"Tidak apa-apa yah, ayah harus ke kantor" jawab Anjar "Bi kopinya belum ada"
"Anu den" Belum sempat bi Sumi memberikan jawaban, Diana sudah menyambar ucapan bi Sumi
"Sarapa dulu mas"
Rasanya sudah lama sekali Anjar tidak makan bersama keluarga. Mereka berkumpul menikmati sarapan buatan Bi Sumi dan di bantu oleh Diana
"Kalian kapan selesai cuti" tanya Ayah
"Lusa yah" jawab Anjar seraya mengunyah makanan. Kantor tidak ada masalah kan yah?"
"Tidak ada...."Kamu juga lusa Di, mulai kerjanya?"
"Iya yah"
..."______"...
Selesai sarapan Anjar kembali memasuki kamar, Diana tengah mengurus Azam dan Emyr, menyuapi makan, memandikan, dan menemaninya bermain. Karena seringnya kebersamaan dan perhatian dari Diana, membuat Azam dan Emyr makin dekat denganya.
"Tin tolong jagain mereka dulu, aku mau buat teh buat papinya"
"Iya non"
Secangkir teh hitam akan di berikan untuk suaminya, Diana memilih teh hitam karena mengandung kafein 40 mg per cangkir, teh hitam bisa jadi pengganti kopi, untuk mereka yang tidak suka meminum kopi atau menghindari minuman berwarna hitam pekat itu
"Mas ini tehnya" ucap Diana sambil meletakan teh di atas meja kerjanya
"Aku minta bi Sumi buatkan kopi bukan teh"
"Mulai saat ini akan aku sediakan teh, tidak ada kopi lagi untukmu mas"
"Aku sudah terbiasa dengan kopi, kamu bawa lagi saja teh itu ke bawah"
"Sudah ku bilang aku tidak akan mengijinkanmu minum kopi, jadi minum saja teh ini"
"Kamu tidak berhak melarang"
"Kata siapa?" aku istrimu, aku berhak memberikan yang terbaik untuk suamiku"
Anjar tidak bisa berkata lagi
"Kamu bermasalah dengan lambungmu, aku seorang dokter jadi menurutlah" ujar Diana lalu meninggalkan Anjar yang masih termenung.
Diana sedikit membanting pintu kamarnya
__ADS_1
Sudah dua kali, hari ini sikap Anjar yang membuatnya kesal
Bersambung