Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
62


__ADS_3

Anjar kembali menghubungi temannya untuk melacak keberadaan Diana.


Karena kondisi ponsel Diana yang sedang tidak aktif, pelacakan sedikit mengalami kesulitan dan membutuhkan waktu lebih lama. Hampir dua jam Anjar menunggu kabar dari temannya.


Sebuah panggilan masuk dari Rafa


"Ada apa bang?"


"Kenapa kamu belum membawa pulang Diana?"


"Dia sudah check out saat aku kesana?"


"Ini semua karena kamu njar"


"Abang jangan melulu menyalahkanku bang, bantuin cari atau apa lah, aku juga pusing, aku menyesal bang"


"Dia ambil cuti dari rumah sakit selama dua minggu" ujar Rafa yang sedang tugas siang ini, dan tanpa menunggu jawaban dari adiknya, Rafa mematikan sambungan


Anjar mendengus kesal, ia mengetukan jarinya pada sebuah meja, Dia benar-benar tidak bisa konsentrasi bekerja.


Beberapa saat kemudian notif pesan masuk dari sang pelacak


"Posisi saat ini di area sekitar bandung bos"


"Bandung, mau kemana Dia?" gumam Anjar


"Halo bang, posisi Diana di bandung, apa abang tahu kira-kira tempat mana yang akan di kunjungi Diana?"


"Coba tanya ke ibu panti njar, siapa tahu ada kerabat di bandung, minta alamat ke dia"


"Ok bang"


...~...


"Eh pak Anjar, mari silakan duduk" ucap bu Milah, seraya memindai pandangan seolah sedang mencari keberadaan Diana


Anjar menyadari maksudnya


"Saya sendirian bu"


"Oh, gimana kabar keluarga pak?"


"Baik, Alhamdulillah, begini bu, sebelumnya saya minta maaf, saya telah membuat Diana pergi dari rumah"


"Apa?, Diana pergi dari rumah?"


Bu Milah seolah tidak percaya Diana meninggalkan suami dan anaknya, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, apalagi pergi tanpa pamit.

__ADS_1


"Ya Allah Diana, apa yang kamu lakukan nak, kenapa meninggalkan keluargamu"


"Sekali lagi saya minta maaf bu"


"Tidak pak, Diana yang salah, tidak seharusnya dia melakukan ini, maafin Diana pak, maaf"


"Tidak bu, ini salah saya. Dan saya datang kesini untuk meminta informasi, tentang kerabat Diana yang mungkin ada di bandung, karena menurut hasil pelacakan, bahwa posisi Diana saat ini sedang berada di sana"


"Bandung?" Kami tidak punya kerabat di Bandung"


"Apa Diana pernah bercerita tentang tempat-tempat yang sering di kunjungi saat sedang di sana?" tanya Anjar


"Tidak pak, saya tidak tahu kecuali tempat Diana kuliah dulu dan rumah kost nya"


"Boleh saya minta alamat rumah kostnya bu?"


"Sebentar saya ambilkan, saya pernah mencatatnya"


Setelah berhasil mendapatkan alamat ibu kost, Anjar menghubungi Rafa dan minta tolong padanya untuk menjemput Diana. Karena dia ada meeting mendadak dan sangat penting untuk kepentingan perusahaanya.


"Mau ya bang, tolong banget bang, sampaikan juga maafku" pinta Anjar yang ahirnya di iyakan oleh abangnya.


🏵


🏵


🏵


Sekembalinya dari Bandung, Rafa terus melajukan kendaraannya menuju kediaman. orang tuanya.


Rafa sangat penasaran apa yang sudah di lakukan adiknya terhadap Diana, namun dia enggan menanyakannya. Dia hanya berharap Diana kembali, dan memberitahu penyebab dia ingin bercerai.


"Assalamua'laikum bun" ucapnya


"Walaikumsalam"


Rafa meraih tangan bundanya yang sudah membesarkannya sedari kecil


"Apa Diana tidak ada di sana?" ucap bunda


"Anjar ada di mana yah?" Rafa tidak menyahut pertanyaan bundanya


"Dia masih ada pertemuan dengan beberapa klien"


"Rafa, bunda tanya tidak di jawab?" ucap bunda kesal


"Hanya ada mobilnya saja bun, yah. Saat aku sampai di sana, dia sudah pergi. Ibu kost bilang mereka akan menikmati liburan di Bali, dan kata ibu kost, usai liburan, Diana akan balik lagi karena mobilnya masih ada di sana"

__ADS_1


"Diana, apa yang sudah di lakukan Anjar sampai kamu melakukan ini" gerutu bunda


"Fa, jangan beri tahu Anjar kalau Diana ada di Bali, biarkan saja dia menyesalinya, nanti ayah akan suruh orang buat melacak keberadaan Diana, dan mengawasinya selama di Bali, bunda juga, jangan memberitahu Anjar. Kita beri waktu buat Diana menata pikirannya, siapa tahu dia butuh ketenangan"


"Baik yah" jawab Rafa


Suasana berubah menjadi hening, Ayah, bunda, dan Rafa, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak lama setelah itu sosok Anjar muncul dari balik pintu


"Abang, gimana bang, Diana mana bang?"


"Salam dulu ke, salim sama ayah bunda" sela Rafa


"Maaf"


Anjar pun menyalami kedua orang tuanya.


"Diana pulang bareng abang kan?"


"Tidak"


Saat mendengar jawaban Rafa, Anjar bergegas lari menaiki tangga, berharap saat ini Diana sudah berada di kamarnya, atau kamar anak-anak. Setelah meneliti semua ruangan, tidak ada sosok istrinya, Ia kembali lagi ke bawah menemui Rafa


"Bang Diana tidak ada?"


"Diana memang belum pulang, abang tidak bertemu dengannya"


"Kok gitu bang?"


"Ya bagaimana?", Abang telat kesana, Diana keburu pergi"


"Dia pergi kemana lagi bang?"


Rafa mengangkat bahunya "Aku pulang dulu bun, Ayah" kemudian pergi meninggalkan rumah ayahnya.


Dan Anjar membanting tubuhnya di Sofa


"Besok sidang perceraianmu kan?"


"Iya yah, jawab Anjar lesu, dia tidak semangat membahas tentang perceraiannya, dia tidak ingin pisah dengan Diana


"Ya sudah besok kamu tidak perlu hadir, Ayah akan bilang pada pengacara untuk mengabulkan tuntutan Diana, lebih baik kalian memang bercerai saja"


"Tidak yah jangan, aku tidak mau cerai"


"Pikirkan matang-matang, jangan sampai dia kembali untuk kamu sakiti lagi" ucap ayah yang langsung pergi meninggalkan ruang tv, begitu juga dengan bunda ia mengekor berjalan di belakang suaminya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2