Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
47


__ADS_3

Di ruangan sebuah rumah sakit, Diana sedang memikirkan mimpinya, ia melihat sebuah matahari dengan menampilkan wajah polos Azam dan Emyr sedang tersenyum padanya.


"Aku semakin ingin terus bersamanya"


" Tidak peduli, Anjar masih mencintai mba Puspa, atau tidak, lagian buat apa aku cemburu pada seseorang yang sudah meninggal" Gumam Diana


Diana semakin terhanyut dalam lamunannya, ia ingat ucapan ibunya sebelum meninggal, bahwa orang baik pasti akan bertemu dengan orang baik. Selama ini Diana selalu di pertemukan dengan orang-orang baik seperti ibu panti, sahabatnya yang juga seorang dokter di singapura, dokter Rafa dan dokter Siska, dan kini ia di pertemukan dengan Anjar dan keluarganya. Tapi tetap saja ada keraguan dalam hatinya, terutama tentang perasaan Anjar.


Suara ketukan pintu membuat Diana tersadar dari lamunannya, seorang suster memberitahu ada pasien korban kecelakaan yang harus di tangani. Diana segera berlari dan menyambar sebuah alat yang selalu melingkar di lehernya untuk memeriksa pasien.


Setelah berada di dalam ruang ICU, Diana, di bantu oleh dua orang suster, membersihkan dan memasang perban pada luka pasien, ia juga menyuntikan sesuatu pada botol infus yang menggantung. Diana berjalan menuju wastafle mencuci tangan usai menangani pasien, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


Tepat pukul 4 sore, Dokter pengganti sudah datang, Diana segera bersiap-siap karena sudah waktunya ia pulang. Sebelum pulang Diana berniat mampir ke book shop untuk membeli beberapa buku tentang cinta, rumah tangga, dan juga edukasi mengenai se*x


Malam harinya, saat semua anak panti sudah merajut mimpi, dalam suasana yang semakin sunyi, Diana meraih buku yang telah ia beli, membuka tiap halaman buku Qurratul uyun kitab syarah nazam. Berkali-kali Diana membaca pasal 18 hingga 20.


Saat sedang fokus dengan bukunya, suara ketukan pintu membuat Diana mengalihkan pandangan ke arah sumber suara, tampak pintu terbuka menampilkan bu Milah di balik pintu. Seorang ibu panti yang dengan sabar merawat anak-anak yang bukan darah dagingnya


"Bu"


"Maaf ibu menganggu, ibu melihat sorot lampu kamarmu masih menyala, jadi ibu masuk"


"Iya bu tidak apa-apa"


"Kamu belum tidur?" tanya bu Milah seraya memindai pandangannya ke sebuah buku yang berada di tangan Diana


"Aku belum ngantuk bu"


"Apa kamu sedang memikirkan lamaran dari keluarga Dhaniswara?"


Diana diam lalu menutup buku yang sedang ia baca


"Bu,, aku ingin sekali menjawab iya, tapi takut kalau nanti aku tersakiti, dan jika aku menjawab tidak, rasanya aku tidak rela Azam dan Emyr jadi milik wanita lain"


"Kamu takut tersakiti karena apa?"


"Pak Anjar masih belum bisa melupakan almarhumah istrinya bu, dia sangat mencintainya, itu sebabnya ponsel diapun menampilkan wajah cantik sang istri" ucap Diana seraya menundukan wajahnya


Bu Milah tersenyum tipis "Di apa kamu berniat melupakan orang tuamu yang sudah meninggal?" tanya bu Milah


"Itu tidak mungkin bu, mereka sangat berharga bagiku, walaupun sudah tiada, aku tidak ingin melupakannya, sampai mati pun"

__ADS_1


"Sama halnya pak Anjar, mungkin istrinya adalah seseorang yang sangat berharga. Seseorang yang sudah meninggal, itu tidak untuk di lupakan Di" Tanpa orang tuamu, kamu bisa melanjutkan dan menjalani hidup ini tanpa beban, iya kan?"


Diana mengangguk


"Jangan pernah kamu berfikir, atau menyuruh pak Anjar untuk melupakan almarhumah istrinya, cepat atau lambat, cinta akan tumbuh di hati kalian, seperti pepatah jawa "Tresno jalaran soko kulino" Cinta datang karena terbiasa"


"Menikahlah karena Allah Di, jangan sekedar karena keluarga pak Anjar ataupun karena anaknya, Allah lah yang akan menumbuhkan cinta dan rasa kasih sayang terhadap kalian, dengan begitu kita pasti akan merasa ringan menjalaninya, akan ikhlas menyayangi dan mencintai mereka tanpa embel-embel apapun"


"Makasih ya bu atas nasehatnya" sahut Diana seraya menggenggam erat tangan bu Milah


"Aku semakin yakin untuk menjadi ibu sambung dari Azam dan Emyr"


"Menikah bukan melulu soal cinta sayang, tetapi juga ibadah yang di dalamnya ada segudang pahala" urusan cinta, serahkan pada Allah, dan jangan lupa selalu berdoa padaNya"


"Iya bu, aku akan selalu ingat pesan ibu"


Mereka pun berpelukan sedikit agak lama


"Sekarang tidurlah, ini sudah malam"


"Iya bu"


Bu Milah mematikan lampu kamar Diana, sebelum keluar lalu menutup rapat pintunya.


"Dok apa kita sudah bisa memulai pemeriksaan sekarang?"


"Bisa, silahkan panggil pasien pertama"


"Baik dok"


Pasien pertama seorang lelaki muda, yang mengeluhkan sakitnya selama 2 hari


"Apa yang mas rasakan?"


"Saya merasa pusing dan sering mual dok"


"Sudah berapa hari?" tanya Diana seraya memeriksa dadanya dengan stetoskop"


"Sudah 2 hari"


"Saya kasih vitamin dan paracetamol, jangan telat makan, dan jangan keseringan begadang"

__ADS_1


"Baik dok terimakasih"


Lalu Diana memeriksa pasien kedua selama kurang lebih 15 menit, hingga pasien terahir.


Diana melemaskan otot-otot tangannya, lalu melirik jam di atas mejanya


"Dok ada pasien susulan, apa mau di periksa?" tanya suster tiba-tiba


"Oke suruh masuk"


Saat Suster mempersilakan masuk, Diana yang sedang menunduk sambil menulis sesuatu di atas kertas mengangkat wajahnya.


Memakai setelan kantor, dan sebuah jas yang bergelantung di lengan kirinya, membuat Diana terkesima dengan penampilannya


"Pak Anjar"


Setelah kepergian Puspa Anjar sering terlambat makan, sehingga membuat lambungnya bermasalah


"Diana?" batin Anjar, dia tidak menyangka akan di periksa oleh dokter Diana


"Silakan duduk, Apa yang di rasakan?"


"Perut saya sedikit mual"


"Emm maaf saya sedikit membuka bajumu?"


Anjar mempersilahkan Diana menarik kemejanya ke atas, Degup jantung Diana tak serileks sebelumnya, dia sangat gugup berhadapan dengan papinya si kembar. Lalu menempelkan ujung stetoskope di perut hingga sedikit naik ke dada. Wajah Diana memerah menahan rasa yang entah apa namanya


"Lambungnya sedikit terluka, tolong Jangan telat makan" ucap Diana masih dalam kegugupannya


Anjar hanya diam mendengarkan Diana bicara


"Saya kasih resep, dan habiskan obatnya"


Setelah kepergian Anjar, Diana memegang dadanya dengan kedua tanganya.


"Ada apa denganku, kenapa debaran jantungku sangat tidak nyaman"


Hari ini aku harus memberikan jawaban atas lamaran pak Dhaniswara" gumam Diana


Diana meraih ponselnya, dan mencari kontak atas nama Pak Dhaniswara yang sudah ia minta dari Siska.

__ADS_1


Ia sudah memberikan jawaban kepada ayah Anjar, Diana menyuruh mereka datang ke panti untuk meresmikan lamaranya.


"Tiga hari lagi keluarga Dhaniswara akan datang ke panti"


__ADS_2