Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
65


__ADS_3

"Ayo bu bangun" ucap bi Sumi pada majikannya


Bi Sumi menuntun bunda untuk duduk di sofa, Atin sedikit berlari membawa segelas air putih. Tidak lama setelah itu, muncul Anjar dengan kondisi nafas yang tersengal-sengal, ia berlari memasuki rumah orang tuanya.


"Bun, Diana mana?"


Bunda berdiri, dengan gerak cepat


Plak, sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Anjar


"Kamu apakan menantuku?"


"Maksud bunda?" jawab Anjar seraya memegang pipi


"Dia sudah pergi membawa semua pakaiannya, apa yang akan kamu lakukan sekarang?", bahkan Diana tidak mau berbicara dengan bunda"


Anjar bergegas lari dan melajukan mobilnya, berniat menyusul Diana yang mungkin belum jauh. Dia mengemudi seraya melirik ke kanan dan kiri, berharap ada wanita yang mirip dengan istrinya.


Mengarahkan mobilnya ke panti asuhan tempat Diana di besarkan, namun ibu panti mengatakan, jika Diana belum kemari semenjak pergi satu minggu yang lalu saat Anjar datang menanyakan alamat ibu kost di Bandung.


Satu lagi tempat yang mungkin akan di kunjungi Diana, yaitu makam istrinya.


"Dia tidak di sini" gumam Anjar saat sudah berada di makam Puspa.


Andai saja Anjar, tidak bersikap dingin padanya, tidak mengabaikan saat Diana menggodanya, Andai saja Anjar menerimanya dari awal, pasti tidak akan seperti ini, anaknya akan bahagia walau bukan dengan ibu kandungnya, Anjar hanyut dalam penyesalan yang tidak ada artinya.


Beberapa panggilan dari Rafa, dan ayah, ia abaikan. Dia sama sekali tidak ingin menerima telfon dari siapapun, bahkan tidak berfikir bahwa dia sudah meninggalkan anak kembarnya.


Persetan dengan penyesalan, Anjar melajukan kendaraanya dengan kecepatan tinggi, hingga berhenti di depan sebuah bar.


Sekilas dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia turun dari mobil, lalu melangkahkan kakinya memasuki rumah setan.


Setelah hampir 2 jam berada di dalam bar, dengan kondisi mabuk berat, Anjar keluar dari tempat itu, meninggalkan para wanita malam, yang kerap menggodanya saat sedang minum.


Terseok-seok ia melangkah menuju mobil, kesadaran yang sudah tidak bisa ia kuasai, menggerutu tidak jelas.


Diana yang kebetulan menginap di penginapan dekat bar, ia melihat suaminya berjalan sesekali terjatuh lalu berdiri lagi, hingga sampai di samping mobilnya


"Jangan, mas Anjar tidak boleh berkendara dalam kondisi mabuk seperti ini, kalau terjadi sesuatu dengannya, kasihan anak-anak" gumam Diana


Diana segera berlari, merangkul tubuhnya dengan susah payah iya membawa suami menuju kamar tempat Diana menginap.


Anjar yang masih menggerutu tidak jelas, Diana membantu melepas jas yang masih ia kenakan, lalu beralih ke kaki melepas sepatu suaminya.


"Apa kamu wanita yang tadi menggodaku di dalam sana?, apa kamu sengaja membawaku kesini? kalau begitu ayo layani aku, aku akan membayarmu setelahnya" ucap Anjar tentu saja di luar kesadarannya

__ADS_1


Diana mengerti bahwa suaminya sedang mabuk berat, dia tidak tersinggung dengan apa yang di ucapkan oleh papinya anak-anak.


Diana membasuh muka Anjar, dengan handuk basah, mengoles minyak kayu putih, berharap kesadarannya kembali normal, Namun tangan kekar Anjar yang seolah memilik tenaga ekstra karena mabuk, entah bagaimana caranya Anjar mengungkung tubuh Diana. Ia berada di bawah kuasa Anjar.


Diana mendorong kuat-kuat tubuh Anjar,


"Diam" bentak Anjar


"Kedua istriku telah meninggalkanku, padahal aku sangat mencintai mereka" ucap Anjar masih dalam kondisi tidak sadar karena efek dari minuman keras. Diana masih berusaha melepaskan diri dari kungkungan Anjar, tapi sia-sia karena tenaganya tak sebanding dengan tenaga sang suami


Anjar merobek pakaian yang Diana kenakan, melakukan dengan paksa, suaminya melakukannya begitu kasar.


Setelah Anjar menikmati madu yang sudah lebih dari 2 tahun tidak ia nikmati, ia merengkuh tubuh Diana, kemudian menjatuhkan dirinya di samping wanita yang ternyata adalah istrinya sendiri


Diana menangis di dalam kamar mandi, ia tidak menyangka, Anjar berbuat demikian, dia ingin marah, tapi masih bersyukur, yang menyentuhnya adalah laki-laki yang masih sah menjadi suaminya, setidaknya ini bukan kejadian menjijikan, walaupun ada penyesalan di benak Diana karena sudah membawa ke kamarnya. Ia tidak bisa membayangkan jika yang melakukannya adalah orang lain.


Ia segera mengenakan pakaian, meninggalkan Anjar yang sedang terlelap. Malam ini juga ia berniat terbang ke Singapura, menyusul sahabatnya, yang sudah menetap di sana.


Sekitar pukul 1 Dini hari, sebuah pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA256 lepas landas dari bandara internasional Soeta, menuju Changi International Airport, dan landing dengan sempurna.


Diana duduk termenung menunggu Bella yang sedang dalam perjalanan menuju kesini


Saat sosok sahabatnya sudah berada di hadapannya, Diana memeluk tubuh Bella, berharap beban yang ia pikul sedikit berkurang.


"Kita ke rumah mamah Di, kamu akan tinggal bersama mereka, mamah ku sudah menunggumu"


💥


💥


Di sebuah kamar penginapan perlahan Anjar membuka matanya, Cahaya lampu yang menyilaukan membuat dia menyipitkan matanya, Ia berusaha mengumpulkan sedikit demi sedikit kesadarannya, menyibakan selimut, lalu menutupnya kembali


"Kemana pakaianku?"


Ia mengedarkan pandangannya ke setiap ruangan, celana panjang dan jas yang tergeletak di lantai, kemeja yang berada di atas kasur, ada noda darah menempel di kemeja miliknya dan sprei


"Apa yang sudah aku lalukan, darah apa ini?" apa aku sudah merenggut kesucian seseorang?"


Anjar menjambak rambutnya kasar


"Bodohnya kau Anjar, di saat kamu sedang berusaha kembali pada istrimu, kamu justru menghianatinya, menyakitinya tanpa ampun"


"Aarrggghh...."


"Siapa wanita itu?" Anjar segera mengenakan kemeja, mencari sesuatu yang tertinggal di sana

__ADS_1


"Semoga ada jejak dari wanita itu, iya semoga dia meninggalkan sesuatu, yang bisa aku jadikan petunjuk" gumam Anjar masih terus mencari lalu beralih ke kamar mandi


"Tidak ada apapun"


Anjar merasa frustasi, datang ke bar berharap bisa melupakan masalahnya sejenak, tetapi malah menambah masalah


"Bedebah kau Anjar, kau sangat bodoh, bahkan kau sangat jahat, mengambil keperawanan seorang wanita yang sudah menolongmu" Anjar merutuki dirinya sendiri


Dia membenahi pakaianya menatap dirinya melalui pantulan kaca


"Saat ini kau bahkan tidak pantas untuk Diana, ini adalah hukuman untukmu Anjar"


Keluar dari kamar lalu menuju ke meja petugas motel.


"Mba siapa yang sudah memesan kamar Angrek?" tanya Anjar


"Maaf pak, saya tidak bisa memberitahu siapa nama wanita itu, saya sudah berjanji untuk merahasiakannya"


"Aku akan membayarmu, jika kau memberitahuku" sahut Anjar seraya menyerahkan uang sebanyak sepuluh lembar uang seratus ribuan


"Maaf pak tidak bisa"


"Kamu minta berapa?" tanya Anjar


"Maaf pak saya benar-benar tidak bisa"


"Katakan atau kau akan di pecat?"


"Tapi pak?"


"Katakan sekarang, aku akan memberimu dua juta, Cepat?"


Petugas itu ketakutan, jika ia tidak mengatakan, ia akan kehilangan pekerjaanya.


"Diana pak"


"Diana" sahut Anjar dengan mngerutkan dahinya


"Diana puspita" petugas itu berbohong Seolah nama itu meluncur begitu saja dari mulutnya


"Seperti apa orangnya?"


"Dia tidak begitu cantik, memiliki kulit kuning langsat, dan berambut ikal" Dusta sang petugas motel.


Ia begitu takut, karena Diana juga sudah membayarnya dua juta untuk merahasiakan tentang dirinya, jika ada yang bertanya

__ADS_1


"Ambillah" ucap Anjar seraya menyerahkan uang lalu pergi meninggalkan motel laknat ini.


BERSAMBUNG


__ADS_2