
Setelah seharian berkumpul bersama keluarga, kini Diana berada di tengah-tengah keluarga Dhaniswara, mereka sedang duduk di ruang tv setelah sebelumnya makan malam bersama
"dr Diana, kami ingin mengutarakan sesuatu"
Dada Diana berdegup kencang, dia benar-benar tidak tahu apa yang akan di utarakan, keringat dingin membanjiri kening hingga leher.
tampak Siska yang duduk di samping suaminya yang sedang bersedakap, bunda dan ayah yang juga duduk berdampingan, Anjar yang memangku Azam sayup-sayup seakan matanya tidak kuat menahan kantuk, Emyr di pangkuan Diana memainkan ponsel milik papinya
Diana sedikit melirik ke arah ponsel Anjar yang sedang di pakai mainan oleh Emyr, terlihat layarnya menampilkan wallpaper seorang wanita cantik berhijab
"Dia pasti maminya si kembar, cantik sekali, pantesan papinya belum menikah sampai sekarang" batin Diana
"Di" panggilan siska membuyarkan lamunan Diana
"Oh iya maaf" tadi bapak mau ngomong apa? bisa di ulang, maaf maaf
"Begini dokter Diana, Saya selaku ayahnya Anjar, bermaksud ingin melamar dokter untuk Anjar, jika lamaran ini di terima, nanti keluarga kami akan datang ke panti, untuk meresmikan dan meminta ijin kepada ibu panti selaku wali dokter"
Diana diam tampak ragu, tepatnya tidak menyangka
"Dokter tidak perlu menjawabnya sekarang, dokter bisa memikirkan dulu sebelum menjawab"
Sekilas Diana menatap ke arah Anjar yang hanya diam menunduk
"Bisa kasih saya waktu?" ucap Diana
"Sangat bisa dok"
"Beri saya waktu 2 hari pak"
"Baik" apapun jawaban dokter, kami akan terima"
Mereka berbicara cukup lama hingga kedua bocah kembar sudah terlelap
"Diana, sini biar aku bawa Emyrnya ke kamar" pinta Rafa
Saat akan di gendong Rafa, Emyr menggeliat dan sejenak merengek
"Bang, biar saya saja yang bawa ke kamar, takutnya nanti kalau pindah tangan malah akan terbangun" ucap Diana
Saat akan menaiki anak tangga ke dua, Diana berpapasan dengan Anjar, yang akan turun ke bawah untuk memindahkan Emyr yang berada di pangkuan Diana ke kamar
Diana hendak menyerahkan Emyr ke gendongan Anjar, lagi-lagi bocah itu menggeliat, namun karena Anjar memaksa ahirnya Emyr terbangun dan menangis,
__ADS_1
"Sini pak biar saya saja yang menidurkan kasian dia"
Anjarpun menyerahkan Emyr kembali ke gendongan Diana. Di sini Anjar menatap mata Diana terlihat jelas bahwa sorot matanya mengisyaratkan rasa iba dan kasihan
"Mba Atin bisa tolong bikinin susu, sedikit saja?"
"Bisa dok" Atin setengah berlari menuju dapur
"Anjar, kamu si jadi terbangun kan" ucap bunda
Di dalam kamar si kembar, Diana sedang menidurkan Emyr, tidak butuh waktu lama, Emyrpun terlelap kembali. Saat hendak keluar kamar, Diana mendapati sebuah bingkai photo di atas nakas samping tempat tidur anak-anak
Di raihlah bingkai itu dan mengusap bagian wajah photo
"Kamu pasti mba Puspa, cantik sekali mba" Gumam Diana
...__________...
Diana akan di antar oleh Anjar, sebelumnya Siska dan Rafa sudah pulang terlebih dahulu
"Tante saya pamit dulu"
"Panggil bunda saja ya, kamu anak bunda sekarang"
"Eemmm, iya bund: jawab Diana " Saya permisi pak Dhaniswara"
"Anjar, setelah mengantarnya, langsung pulang,Hati-hati ya kalian"
Anjar melajukan mobilnya dengan kecepatan 70 kpj, membelah jalanan menyusuri lampu yang memancarkan cahayanya pada malam hari. Anjar mendengus kesal saat berpapasan dengan kendaraan berlampu sangat menyilaukan.
"Berapa usiamu?" pertanyaan Anjar mengagetkan Diana
"25 tahun pak"
Setelah itu tidak ada obrolan apapun hingga mobil sampai tepat di depan panti
Diana menatap heran ke arah Anjar yang juga melepaskan seatbeltnya
"Bapak mau mampir?" tanya Diana
"Saya hanya ingin meminta maaf pada bu panti karena mengantarmu terlalu malam"
"Tidak perlu pak, sebelumnya saya sudah ijin pada ibu"
__ADS_1
Tetapi Anjar tetap akan turun dan menemui ibu panti
Diana pasrah dengan sikap Anjar
"Dingin sekali dia?" batin Diana
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Pintu terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya
Diana segera meraih tangan ibu panti lalu mencium punggung tangannya
"Bu maaf, saya baru bisa mengantar Diana" ucap Anjar
"Tidak apa-apa pak, mari masuk"
"Lain kali saja bu, ini sudah sangat malam, saya permisi Assalamu'alaikum"
"Bu, saya di lamar oleh keluarga pak Dhaniswara untuk menjadi istrinya pak Anjar" ucap Diana saat baru selesai membersihkan diri
"Tadi, dia yang namanya pak Anjar Di?
"Iya bu"
"Kelihatanya orangnya baik, apa kamu menerimanya?"
"Aku belum menjawabnya bu"
"Kalau bingung dengan pilihanmu, sholat istikharah nak, yakinkan diri apapun pilihanmu semoga itu yang terbaik"
"Baik bu"
"Ya sudah pergi tidur, ibu juga mau tidur"
Diana tidak bisa memejamkan matanya, ia bingung harus memberikan jawaban apa
Jika menjawab iya, dia takut kalau Anjar terpaksa menikahinya, karena Diana berfikir Anjar masih sangat mencintai almarhumah istrinya, tetapi jika menjawab tidak, Dia tidak rela jika suatu saat si kembar mendapat ibu sambung yang jahat
"Aku benar-benar menyayangi anak itu" gumam Diana
"Benar kata ibu, aku harus sholat istikharah"
__ADS_1
Diana pun beranjak dari tempat tidurnya, mengambil air wudhu, lalu memulai sholat sunah dua rakaat