
Kini Anjar dan Diana duduk berhadapan di sebuah kafe Sturbuck. Mereka tampak canggung satu sama lain
"Apa kedua anak itu salah satunya anakmu Di?"
Diana mengangguk, walau duduk berhadapan, dia tidak berani menatap Anjar
"Yang cewe atau yang cowo?"
"Cewe"
"Siapa namanya?"
"Sasa" jawab Diana masih menunduk
"Jadi kamu sudah menikah?"
Bukannya menjawab, Diana justru balik bertanya
"Ada apa mas kesini?"
"Sebenarnya aku ingin membawamu pulang, tapi malah kamu sudah menikah?"
"Bagaimana keadaan anak-anak? tanya Diana
"Azam baik, tapi,,,"
Diana mengangkat kepalanya, menatap Anjar penuh selidik
"Tapi apa?"
"Emyr tidak baik-baik saja, Dia sakit Di?"
Hening
Kapan kamu kembali ke Jakarta mas?"
"Sore ini rencananya" jawab Anjar
Anjar berniat membawa pulang Diana, tapi karena Diana sudah menikah, dia mengurungkan niatnya. Ia akan kembali membawa kekecewaan untuk anak-anaknya. Pernikahan yang di pertahankan selama tiga tahun, gugatan Diana tiga tahun lalu, yang belum di putuskan oleh hakim, karena permintaan Anjar untuk mengulur waktu lebih lama, akan sia-sia.
"Aku akan ikut denganmu" ucapan Diana membuat Anjar menatap bola mata wanita yang masih sah menjadi istrinya.
"Bagaimana dengan suami dan anakmu?"
"Sebenarnya aku...
Terdengar dering ponsel yang berasal dari dalam tas Diana,
"Iya Bell"
"Cepat datang operasi akan segera di mulai"
"Baiklah"
"Maaf mas, aku harus ke rumah sakit, aku akan ikut denganmu ke Jakarta, aku akan menjenguk Emyr"
"Baik, aku akan memesan dua tiket untuk kita" jawab Anjar
"Iya mas, ini kartu namaku di situ ada nomor telfonku, nanti bisa telpon ke nomor itu" ucap Diana seraya menyerahkan kartu nama miliknya, dan bergegas meninggalkan laki-laki yang saat ini masih di cintainya
Anjar menatap kepergian Diana, setelah hilang dari pandangannya, dia meraih sebuah kartu nama di atas meja.
Operasi berjalan lancar, Diana dan Bella melangkahkan kakinya menuju toilet
"Bagaimana pertemuanmu dengannya?"
"Sepertinya mas Anjar belum menikah Bell"
"Benarkah" Bella terkejut dengan ucapan sahabatnya "Apa kamu sudah mengatakan tentang Sasa?"
Diana menggeleng "Malah dia mengira aku yang sudah menikah
"Kenapa tidak kamu katakan kalau Sasa adalah anak kandungnya Di?"
"Aku belum siap, saat itu Dia tidak sadar sudah melakukannya padaku, aku takut dia tidak percaya Bell?"
"Kenapa kamu harus takut Di, jika mereka tidak percaya, kamu bisa melakukan tes DNA"
"Iya, tapi aku belum siap saja, tadi juga waktunya sangat sedikit, kami lebih banyak diam"
"Kapan kamu akan mengatakannya?"
"Aku akan mengatakan di hadapan bunda dan ayah nanti,,, Bell aku berniat ke Jakarta sore ini, aku nitip Sasa bisa kan?"
"Kok mendadak Di?" ucap Bella seraya menatap mata Diana
"Aku sudah tidak tahan ingin bertemu Azam dan Emyr"
"Kenapa kamu tidak ajak Sasa?"
"Nanti setelah mereka mengetahuinya, aku akan menjemput Sasa, itupun jika mereka mau menerima anak di luar pernikahan"
"Ya sudah, pergilah, ku harap kamu tidak akan mengulur waktumu untuk mengatakan tentang Sasa"
"Iya Bell"
"Apa kamu juga mau rujuk dengannya?"
"Entahlah yang penting bagiku Sasa dulu Bell"
Bella mengangguk
Ting, sebuah pesan masuk ke ponsel Diana
"Aku sudah memesan tiketnya, nanti ikut penerbangan pukul empat" bunyi pesan Anjar
"Bell, jam empat aku harus di bandara, bagaimana ini, aku tidak bisa jemput Sasa"
"Kamu tenang saja, aku akan mengurusnya"
__ADS_1
"Makasih Bell, tolong juga ajukan cutiku, bilang aku ada urusan mendadak"
"Ok, akan aku urus semua, yang penting aku mau, nanti Sasa bahagia ketemu papinya" dia sudah sangat ingin bertemu dengannya"
Sebelum maghrib, pesawat sudah mendarat di Bandara Soeta dengan selamat.
Sudah ada pak Anan yang menjemput mereka
"Bu Diana sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarnya? tanya pak Anan memecah keheningan saat di dalam mobil
"Baik pak, pak Anan sendiri, bagaimana?"
"Alhamdulillah baik juga"
Mobil telah sampai di depan rumah Diana sudah di sambut oleh ayah dan bunda.
Bunda memeluk Diana erat
"Bagaimana kabarmu sayang?"
"Baik bun, bunda bagaimana?"
Setelah pertemuan yang haru, bunda membawa menantunya masuk. Anjar belum memberitahu pada orang tuanya, jika Diana sudah menikah dan memiliki seorang anak.
Saat Diana memasuki sebuah ruang keluarga, tampak seorang anak duduk di kursi roda dengan tubuh yang kurus, dan tatapan kosong
Diana memindai pandangannya ke wajah bunda, meminta penjelasan
"Dia Emyr Di"
Seolah tidak percaya, Diana menjatuhkan tasnya, membekap mulutnya dengan tangan kanannya, Anjar yang tidak sanggup menyaksikan pemandangan itu, ia setengah berlari menaiki tangga hendak menuju kamarnya.
"Emyr" gumam Diana, perlahan dia berjalan mendekati bocah yang dulu terlihat menggemaskan. Menatap penuh lekat memindainya dari atas hingga kaki. Diana berlutut di depan kursi roda, menangkup wajahnya, sesaat kemudian Diana tak sadarkan diri.
Bunda yang berada di sana, berteriak histeris memanggil siapa saja yang ada di rumah ini, bi Sumi dan Ayah membawa Diana ke kamar Tamu, yang letaknya lebih dekat dengan ruang keluarga.
Sedangkan Anjar masih betah di dalam kamar. pikirannya saat ini adalah bagaimana memberitahu ayah dan bundanya kalau Diana sudah menikah lagi, lalu akan mengikrarkan kata talak pada isrtinya, yang sempat tertunda
"Harus berahir sampai di sini" batin Anjar
Masih berdiri di balkon dengan tangan mengapit sebuah rokok, menghisapnya dalam-dalam, berharap aktifitasnya saat ini mampu mengusir rasa sakit dalam hatinya, tiba-tiba dia melihat sosok Diana berlari menuju gudang
"Diana" Anjar segera turun dari lantai dua lalu berlari hendak mengejar istrinya
Sesaat setelah sadar dari pinsanya, bunda bercerita bahwa Emyr Demam tinggi seminggu setelah kepergiannya, hingga mengalami kejang, dan kerusakan pada otak. Ketika bunda keluar dari kamar, bermaksud memberi ruang agar menantunya bisa sedikit lebih tenang. Diana beranjak dari ranjangnya, berlari menuju gudang yang ada di belakang rumah milik mertuanya.
Menatap sebuah cermin usang, Diana bermonolog
"Apa yang kamu lakukan Diana? kau membuat anakmu cacat.
Tanpa sepengetahuan Diana, sudah ada Anjar yang berdiri di ambang pintu gudang, mendengarkan dengan jeli apa yang di katakan Diana
"Padahal kau berjanji akan merawat dan menyayangi mereka di depan makam mba Puspa, sekarang apa yang akan kau katakan padanya?" kau membuat anaknya lumpuh,
Kau menyakiti suaminya, menuduhnya berselingkuh dengan adiknya.
Kau juga memisahkan putrimu dengan papi kandungnya
Ibu macam apa kau ini, tega sekali kau menyakiti ketiga anakmu dan suamimu, kau Bahkan lebih kejam dari pada si pembunuh berantai
Kau tidak pantas hidup Diana!!"
Prang, Diana melempar sebuah benda yang teronggok di atas meja ke arah cermin, membuat cermir hancur berkeping-keping, Dia memajukan langkahnya, meraih serpihan kaca hendak di sayatkan ke nadinya, Namun dengan gerak cepat Anjar menghampiri Diana, sekuat tenaga dia menenangkan istrinya
"Sabar Di, istighfar"
"Lepaskan aku mas"
"Tidak, tenangkan dirimu dulu?" ucap Anjar sedikit berteriak
"Bagaimana aku bisa tenang, anaku cacat, dia tidak bisa berjalan, bahkan tubuhnya sangat kurus, itu semua karena aku"
"Sudah Di, dia masih bisa sembuh, aku akan merawat dan mengobatinya, kamu tidak perlu khawatir, aku selalu ada bersamanya"
Diana sudah sedikit lebih tenang, Anjar menuntunnya menjauh dari serpihan kaca, mendudukan Diana dan dirinya di lantai, punggungnya bersender pada sebuah dinding. Anjar memeluk tubuh Diana dari samping
"Ini semua salahku Di, aku akan mempertanggung jawabkannya"
"Bukan mas, ini salahku"
Mereka sama-sama larut dalam penyesalan, Nasi sudah menjadi bubur, Emyr Cacat, Diana sudah menikah lagi, ini adalah hukuman terbarat bagi Anjar yang sudah mengabaikan istrinya saat dulu, mempermainkan sebuah ikatan pernikahan
Hingga akhirnya Diana tersadar telah berada dalam pelukan yang dia kira sudah menjadi mantan Suami.
"Mas Maaf" ucap Diana seraya melepaskan pelukannya, namun di tahan oleh Anjar
"Tetaplah seperti ini sebentar saja Di"
"Aku akan berdosa mas"
"Aku yang tanggung dosanya" jawab Anjar
"Tidak bisa mas"
"Plis Di"
Tak di pungkiri, Diana pun merindukan Anjar.
Keesokan harinya Karena ini adalah hari sabtu Anjar akan bekerja dari rumah. Diana yang sedang membantu bi Sumi memasak, tiba-tiba Anjar mengajaknya bicara di taman samping rumahnya.
"Di, bisa kita bicara?" tanya Anjar
Diana yang sedang mencuci sayuran menatap Anjar
"Aku tunggu di kolam belakang rumah Di, sekarang"
Flasback on
Semalam, karena Anjar tidak bisa tidur, ia terus memikirkan istrinya, yang masih sangat ia cintai, ketika Diana sudah terlelap dalam buaian mimpinya, Anjar mendatangi kamar tamu, dimana Diana saat ini tidur di sana.
__ADS_1
"Kau masih istriku, tapi kau juga istri orang" gumam Anjar saat sudah berada di kamar tamu. Menatap penuh lekat wajah Diana yang baginya sangat cantik, dengan kedua tangan ia masukan ke saku celananya
"Bagaimana kau bisa menikah dan mempunyai anak Di, sedangkan kau masih sah menjadi istriku" pungkasnya lagi
Setelah puas menatapnya, Anjar memindai pandangannya ke sebuah dopet milik Diana yang berada di atas nakas samping tempat tidur.
Dengan ragu Anjar membuka dompetnya, ingin tahu apa saja isinya.
"Tidak lancang Anjar, dia Istrimu juga"
Mata Anjar berbinar bahagia, ketika membaca sebuah kertas. Surat keterangan medical Chek up.
Pemerintah Singapura mewajibkan warga negara asing untuk memeriksakan kesehatanya secara menyeluruh, setiap enam bulan sekali.
Di situ tertulis jelas yang menerangkan tentang kesehatanya dalam kondisi sangat baik.
Atas nama Diana Aisyah Rahmania, berumur 28 tahun, dan berstatus single
Anjar tidak percaya bahwa penantiannya selama ini tidak sia-sia, ia ingin sekali menjerit mengekspresikan kebahagiaanya, ingin sekali menghambur ke pelukan Diana, mengecup bibir ranum milik istrinya, namun ia tidak ingin mengganggu istirahatnya.
Kemudian ia masukan lipatan kertas itu ke tempat semula, meraih kartu identitas WNA nya, dan kartu-kartu lainnya, Saat ia meraih sebuah kartu berwarna hijau muda, sebuah kartu identitas anak milik "Khansa Laura Dhaniswara"
Anjar menyimpan kartu itu ke saku clananya, berniat menanyakannya esok hari. Lalu ia letakan kembali dompetnya, dan kembali ke kamarnya di lantai atas. Di dalam kamar, ia mengingat tentang kejadian malam laknat tiga tahun yang lalu.
"Apa malam itu Diana yang sudah aku tiduri, merenggut keperawanannya dengan paksa?"
Flasback Off
Diana melangkahkan kakinya menuju kolam ikan, mengingatkan dia yang dulu sering menemani anaknya memberi makan ikan. terlihat sosok Anjar berdiri menghadap kolam, memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya
"Ada apa mas?"
"Apa anak-anak sudah bangun?"
"Belum mas"
Hening
"Diana" panggil Anjar "Siapa nama putrimu Di?"
"Khansa Laura Da,, Diana berhenti sejenak, Khansa Laura
"Lalu ini apa Di?" Anjar seraya memperlihatkan kartu milik Sasa
Diana mengalihkan pandangannya ke arah kartu yang berada di tangan Anjar
"Ka-kamu dapat dari mana mas"
"Katakan sejujurnya Di"
"Maksud kamu mas?"
"Apa kamu wanita malam itu?"
"Bu-bukan mas, aku bukan wanita malam itu"
"Malam yang mana?"
"Malam saat kamu mabuk" jawab Diana. pertanyaan Anjar adalah sebuah jebakan untuk Dirinya.
Karena Diana tidak bisa menguasai kegugupannya, ahirnya dia keceplosan
Anjar menautkan alisnya, "Kamu tahu aku mabuk?"
"Maksud aku, aku
Diana belum menyelesaikan ucapannya tapi Anjar sudah memotongnya
"Apa Sasa itu anaku Di?"
Diana tidak menjawab
"Jawab Di?" ucap Anjar membentak
Diana menunduk, pundaknya sedikit bergetar karena menangis
"Apa maksud ucapanmu, saat di gudang itu aku dan Sasa?, kau memisahkanku dengan anaku?
Diana mengngguk
"Aarrgggg..."Anjar menjambak rambutnya dengan kedua tangannya
Tidak lama setelah itu, ia menarik tangan Diana membawanya ke pelukannya, yang tidak di tolak oleh Diana. Pelukan yang hangat dan menenangkan bagi Diana. Anjar mengecup pucuk kepala Diana, membuat Diana mengurai pelukannya
"Mas jangan seperti itu, kita akan berdosa"
Anjar menarik kembali tangan Diana memeluknya lebih erat
"Sudah ku bilang, aku akan menanggung semua dosa-dosanya sayang"
Diana berusaha melepaskan lagi pelukanya
"Kita masih suami istri, gugatanmu tidak pernah di kabulkan oleh hakim"
Ucap Anjar membuat Diana mendongakan kepalanya
"Kamu istriku sayang, aku juga tahu kalau kamu belum menikah"
"Mas lepas dulu"
"Tidak mau, nanti kamu kabur lagi"
"Mas pak Yono nglihatin kita" bisik Diana
Anjar mengalihkan pandangannya ke arah pak Yono.
Benar saja, dia sedang menatap kemari, ia duduk di meja bundar, berada tidak jauh dari pos satpam, dengan kedua tangan menopang dagunya, seraya tersenyum pandangannya seperti sedang melamun
BERSAMBUNG
__ADS_1