Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
67


__ADS_3

Tiga tahun kemudian...


"Sasa, nanti sekolah di jemput mami Bella ya"


"Why mami?"


"Mami banyak kerjaan sayang, terus nanti pulang sekolah tinggalah di rumah mami Bella, main-main sama Juna"


"Oke mami"


Khansa Laura Dhaniswara, gadis kecil berusia 2,3 tahun, penyuka boneka Cinnamorroll, bersekolah di P&G Montessory Kindergarten, seringnya berinteraksi dengan anak seusianya di sekolah, membuat dia pandai berbahasa inggris


Walaupun dia kesusahan dalam pengucapan bahasa Indonesia, namun dia mengerti dan paham jika maminya berbicara dengan bahasa Indonesia.


"Ayo cepat sedikit sarapannya, kita sudah terlambat" ucap Diana


Sasa segera melahap roti tawarnya, berlari menuju sofa dan meraih tas bergambar Cinnamorroll.


"Im ready mami"


"Sure?


"Yes mom, lets go" jawab Sasa


Diana menggandeng tangan putrinya, lalu berjalan menuju lift


"Ingat jangan nakal"


Ting, suara lift terbuka, Diana memasuki lift yang akan membawanya turun dari lantai 9 ke lantai dasar


"Ayo cepat sayang"


Langkah gadis kecil itu terlunta-lunta, karena maminya yang berjalan terlalu cepat


"Maaf Bell, menunggu terlalu lama, si Sasa lelet banget" ucap Diana saat sudah berada di dalam mobil temannya


"Tidak masalah Di, masih ada waktu


"Are you ready?" tanya Bella pada Sasa dan anak laki-lakinya Anjuna, Sasa biasa memanggilnya Juna.


"Yes mom"


"Oke Lets go" Bella yang mengemudi menyahutnya dengan semangat


Perjalanan ke sekolah memerlukan waktu setegah jam. Terdengar obrolan lucu dari kursi belakang, dengan suara khas anak kecil yang cedal dan cempreng


"Di, kamu tidak ingin menikah gitu?"


"Belum kepikiran kesitu Bell"


"Apa masih mengharapkan Anjar?"


"You knowlah, Jika aku menikah, apa kata Sasa, aku belum siap saja, mengatakan hal itu padanya"


"Three years ago loh Di, pasti dia sudah menikah lagi, dan kamu, masih belum bisa melupakannya, dokter Denis baik kok, tidak kalah tampan dari mantan suamimu, dia suka sama kamu, suka sama Sasa juga"


"Plis Bella, aku tidak cari yang tampan" Diana meyoroti dengan mata tajam


"Oke oke, Sampai kapan kamu seperti ini"


"Entahlah, aku hanya berharap aku akan tetap sehat, supaya bisa terus bersama anaku"


Mobil telah sampai di depan sekolah


"Kalian jangan nakal ya, Sasa tahu kalau nanti mami Bella yang jemput?", tanya Bella


"Tahu mami Bella"


"Ok kalau gitu masuklah, ingat waktunya tidur siang, harus tidur"


"papay mami Diana mami Bella"

__ADS_1


"Bye juga sayang" sahut Diana dan Bella bersamaan


Dua anak laki-laki dan perempuan berlari saling bergandengan tangan menuju kelas mereka


Diana dan Bella masih memperhatikan anak mereka masing-masing, setelah di pastikan anak-anak memasuki kelas, Diana dan Bella kembali masuk ke mobil milik Bella.


"Bell, aku nanti turun di stasiun Orchard, aku akan naik MRT dari sana" ucap Diana seraya memasang sabuk pengaman


"Ok Di, nanti malam pulang jam berapa, biar aku bisa jawab pertanyaan anak kamu, kamu tahu kan dia banyak tanya sekali"


"Katakan saja pulangnya kalau dia sudah tidur, aku juga belum tahu, undangannya si selesai setelah makan malam"


"Aku pergi dulu, titip Sasa ya" aku akan secepatnya kembali, Bye"


"Be carefull Di"


"Ok"


Diana turun dari mobil Bella dan setengah berlari menuju pintu stasiun kereta bawah tanah, ia akan pergi untuk acara workshop di International hotel. Tugas langsung dari direktur Rumah sakit tempatnya bekerja


Sesampainya di tempat acara, Diana mengambil posisi duduk di sisi paling depan, supaya dia bisa menangkap apa yang di katakan oleh narasumber.


Diana benar-benar konsentrasi mengikuti workshop, beberapa pertanyaanpun ia ajukan kepada narasumber, tentunya dengan menggunakan bahasa inggris.


Tiga tahun tinggal di Singapura, Dia terbiasa dengan bahasanya yang mayoritas menggunakan bahasa Inggris.


Saat jam istirahat, ia gunakan untuk menelpon putrinya. Puas berbicara lewat telpon, dia membuka gallery di ponselnya, walaupun ponsel berbeda dengan yang saat dulu, namun isi di gallerynya tetap sama, hanya saja ada tambahan foto milik Khansa, dengan berbagai pose. Ia melihat poto Azam dan Emyr.


Selesai sudah acara workshop yang diadakan di hotel dekat bandara, Diana berjalan melewati lobi hotel, setelah dari sini, Diana akan langsung ke rumah sakit sebentar untuk memberikan laporan hasil workshopnya. Karena di hotel ia berjalan dengan tergesa-gesa, tidak sengaja ia bertabrakan dengan seorang wanita pramugari, yang akan check in di hotel tersebut, membuat berkas-berkas yang di bawa Diana jatuh ke lantai


"Im Sory" ucap Diana lalu memunguti beberapa kertas


Saat kembali berdiri ia menatap wajah seseorang yang tidak asing baginya


Begitupun sang pramugari, yang juga keget dengan wanita di hadapannya, tapi ia langsung bisa mengenalinya, walaupun belum pernah bertemu, tapi ia ingat betul dengan sosok Diana.


"Mba Diana?"


"Mba, aku tidak salah kan?" tanyanya


"Maaf aku buru-buru" sahut Diana


"Tunggu mba"


Diana mengurungkan niatnya


"Mba Diana kan, maminya Azam dan Emyr?" Mba sesekali datang ke rumah bunda, dan jenguk Emyr, kondisi Emyr sangat memprihatinkan, Azam juga masih suka nanyain mba Diana, dia selalu berpesan jika Tante Cantika bertemu dengan mami, harus bilang, mami suruh cepat pulang"


"Tante Cantika?" tanya Diana


Diana memindai pandangannya pada papan nama di dada kiri pramugari "Cantika Wijaya"


Tak lama setelah itu, seorang pilot memanggilnya Sayang


Dia memperkenalkan sang pilot sebagai suaminya


"O ya, aku Cantika mba, adiknya mba Puspa, dan ini suamiku


Diana masih diam mematung


"Maaf aku buru-buru" ucap Diana


Diana pergi meninggalkan Cantika dan suaminya, sebuah benda berbentuk lingkaran jatuh, berasal dari tumpukan kertas yang Diana pegang


"Mba sesuatu milikmu terjatuh" ucap Cantika sedikit berteriak, seraya memungut benda itu, namun Diana sudah pergi dan menghilang dari pandangannya.


Sebuah pin Berbentuk lingkaran, dengan gambar sebuah gedung sekolah tempat Sasa belajar, bertuliskan P&G Montessory Kindergarten


Benda itu Cantika simpan, dan akan di berikan pada Anjar yang masih ia anggap sebagai kakak iparnya sampai sekarang


..._________...

__ADS_1


Kurang lebih pukul delapan malam, Diana kembali ke Apartemennya, yang letak unitnya bersebelahan dengan milik Bella. Ia akan langsung ke unit milik Bella terlebih dulu untuk menjemput putrinya.


Tentu saja dengan pikiran yang masih traveling kemana-mana


"Kakak Ipar, dimana Bella" tanya Diana kepada suami Bella


"Dia lagi di toilet"


"Mamiiiii" teriak Sasa


"Sasa belum tidur"


"Sasa nunggu mami"


"Ok, tunggu mami Bella keluar dari kamar mandi dulu, setelah itu pamit"


"Gimana acaranya Di?"


"Lancar kak"


"Sudah makan belum, kalau belum, makanlah, tadi mama Sarah yang masak"


"Mama kesini kak?"


"Iya"


"Sudah pulang Di?" sela Bella


"sudah, Sasa pamit sama mami Bella dan papi David


"Mami papi, Sasa pulang dulu, Thanyou papi, thankyou mami, Papay


"Bye mei mei, sampai ketemu besok" sahut Bella


"Sasa sudah makan?"


"Sudah mom?"


"Tadi grand ma ada datang?"


Karena Sasa sedang gosok gigi, dia menjawab dengan anggukan kepala


"Ok kalau sudah, pergi ke kamar langsung tidur, mami mau mandi"


"Ok mami"


Selesai mandi, Diana mendapati anaknya belum memejamkan mata


"Sasa belum tidur?"


"Apa papi sayang sama mami, papi pernah cium mami?" tanya Sasa tentu saja dengan gaya bicara yang masih cedal


Diana kaget dengan pertanyaan putrinya


"Memangnya kenapa?"


"Tadi Juna bilang, papi David sayang sama mami Bella, makanya sering cium"


"Sudah malam lebih baik Sasa tidur"


"Sasa semakin besar, pasti akan semakin menanyakan papinya" Batin Diana


Malam, sudah hampir pukul 11, Diana belum bisa tidur. Ia memikirkan pertemuannya dengan Cantika saat di hotel. Tiba-tiba dia ingat pada Azam dan Emyr


"Dia Cantika, wanita yang juga keluar secara bersamaan dengan mas Anjar dari dalam hotel, adik dari mba Puspa, tantenya Azam dan Emyr?"


"Dia sudah bersuamikan seorang pilot"


"Lalu apa maksudnya kondisi Emyr memprihatinkan"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2