
Pagi-pagi sekali Diana sudah bangun, ia tengah bersiap-siap untuk membawa Emyr menemui dokter Denis, Diana sudah membuat janji sebelumnya.
Memandikan, memakaikan baju, lalu menyuapi Emyr dengan penuh kesabaran.
"Bell, aku sudah memesan taksi, kamu pergilah antar Juna ke sekolah, kita ketemu di rumah sakit"
Sebuah pesan ia kirim pada sahabatnya. Setelah semua sudah siap, Diana membawa Emyr menaiki taxi.
Di sebuah rumah sakit, Diana sudah di tunggu oleh dokter Denis, dokter yang sangat mengagumi Diana, namun Diana tidak pernah memberikan harapan padanya.
"Masuk Di" ucapnya "apa ini anak suamimu?"
"Dia anaku juga dok"
"Baiklah sekarang langsung kita bawa ke ruang perawatan, kita akan melakukan observasi terlebih dulu, setelah itu, akan kita lakukan langkah selanjutnya"
"Baik dokter" jawab Diana
Walaupun Diana menyadari tatapan dari dokter Denis, tapi dia tak pernah menanggapinya, dan justru bersikap biasa saja.
Emyr terbaring lemah tak berdaya di ruang intensive, dengan selang infus dan oksigen.
"Emyr, ada mami di sini, Emry harus berusaha buat sembuh ya, mami dan papi selalu menyayangimu" bisik Diana di telinga Emyr.
Serambi merawat Emyr, Diana akan kembali bekerja, karena masa cuti Diana yang memang sudah habis. Saat dia berniat mengundurkan diri, dokter Denis yang juga anak dari pemilik rumah sakit ini melarangnya. Dia mengizinkan Diana untuk tetap bekerja, serambi merawat Emyr.
Diana mengambil gambar Emyr, lalu ia kirim ke nomor Suaminya. Memberitahukan bahwa hari ini Emyr mulai perawatan.
Mas Anjar
"Terimakasih sudah berjuang untuk Emyr"
Balasan dari Anjar.
Siang harinya, Diana berkumpul dengan para dokter ahli yang akan ikut serta dalam mengobati anak sambunganya
"dokter Diana, disini saya menggandeng dokter Nelson, adalah dokter ahli ortopedi, Dokter Nelson akan membantu Emyr untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan otot dan struktur tulang"
Dokter Nelson tampak menganggukan kepala, begitu juga dengan Diana
"Ini Dokter Fransiska, Dokter spesialis mata, seperti yang dokter Diana ketahui, Beliau akan membantu menangani masalah penglihatan pada Emyr"
"Ini Dokter Freddy, ahli THT, Dokter Freddy ini akan membantu kita dalam penanganan medis yang berhubungan dengan pernapasan, dan gangguan makan, atau menelan, serta masalah hidung dan sinus"
"Kita juga menggandeng Dokter Bella sebagai ahli gizi, Dokter Diana pasti sudah tahu tugas dari dokter Bella. Dan saya akan menangani emyr dalam masalah syarafnya" ucap Dokter Denis panjang lebar
__ADS_1
"Dan Dokter Diana, saya menugaskan Anda untuk selalu memberikan laporan pemeriksaan kesehatan Emyr setiap harinya"
"Baik Dokter Denis" jawab Diana
Saat jam makan siang, Diana kembali ke kamar Emyr untuk memberikan nutrisi pada Emyr, berupa makanan sehat, sesuai intruksi dari Dokter Bella.
"Di, ini aku bawain makan siang, kamu belum makan kan?"
"Tidak perlu repot-repot Bell"
"Tidak masalah, sudah selesai menyuapi Emyr kan?" ayo kita makan sama-sama, sudah waktunya makan siang, Ingat Di, kita merawat orang sakit juga butuh tenaga"
"Ok Bell, thankyou so much"
"Welcome Di"
Diana dan Bella menikmati makan siang sambil mengobrol.
"Di, walaupun Dokter Denis sudah tahu tentang kamu, dia masih mengharapkanmu lho?"
Diana menghentikan kunyahannya sejenak, menatap sahabatnya, lalu kembali mengunyahnya
"Tidak boleh seperti itu seharusnya Bell" Sahut Diana lalu meneguk air mineral, "aku punya Suami dan 3 anak, aku tahu dari tatapannya juga"
...-----------------...
Setelah makan malam, Diana berniat menghubungi suaminya melalui sambungan telfon
"Bagaimana kabar anak-anak" tanya Diana di balik telfon
"Kabar mereka baik, bagaimana dengan mu dan Emyr?"
"Kami juga baik, Saat ini Emyr sedang berada di rumah sakit, dia sedang di observasi, nanti setelah ini kita akan melakukan fisio terapi"
Anjar dan Diana saling diam
"Kenapa diam?" tanya Anjar
"Apa yang sedang kamu lakukan, apa sedang berkutat di depan komputermu?"
"Tidak, aku sedang menemani anak-anak di kamar mereka, Abang sedang menggambar, dan Sasa sedang mewarnai, apa mau melihatnya?"
"Tidak usah mas, nanti malah jadi sedih"
"Apa kamu merindukan kami?"
__ADS_1
"Menurutmu bagaimana?" kalian suami dan anak-anaku, apa seorang istri tidak merindukan suaminya?, apa seorang ibu tidak merindukan anak-anaknya?", aku tidak seperti itu" tanpa kamu tanya, sudah pasti aku merindukan kalian"
"Kamu dingin sekali Di?", aku hanya menanyakannya saja" maaf kalau salah"
Hening
"Diana" panggil Anjar, kenapa diam lagi?" apa yang kamu pikirkan?"
"Apalagi kalau bukan Emyr mas?"
"Apa dia membebanimu?"
"Tidak, aku hanya sedikit pesimis, aku berfikir bagaimana jika Emyr tidak bisa sembuh"
"Seberat itu bebanmu Di?" apa perlu kami menyusulmu?"kita akan tinggal di sana sama-sama?"
"Lalu ayah dan bunda bagaimana, perusahaan siapa yang mengurusnya?, aku tidak mau mengulangi keegoisanku lagi, Sudah dulu ya mas, aku harus istirahat"
Diana menutup telfon tanpa mengucap salam
"Ada apa denganku, kenapa aku jadi pesimis seperti ini" Batin Diana dengan mendaratkan sikunya di meja, menutup muka dengan kedua tangannya
"Hanya mendengar suaranya saja aku tidak tega, kasihan mas Anjar, harus berjauhan dengan istrinya, merawat dua anaknya, dan juga harus pergi bekerja"
Di tempat lain, Anjar pun berfikir hal yang sama,
"Apa aku membebani istriku dengan anak yang bukan darah dagingnya?" gumam Anjar seraya menyugar rambutnya "Kasihan sekali Diana"
Anjar berniat menelfon Bella. Tidak menunggu lama, Bella mengangkat panggilannya
"Iya kak ada apa?"
"Bell apa Diana baik-baik saja?"
"Memangnya kenapa kak? tanya Bella sedikit menautkan kedua alisnya di balik telfon
"Aku merasa dia sedang down"
"Ibu mana yang tidak down melihat anaknya terbaring dengan selang infus di rumah sakit?" kakak jangan mengkhawatirkannya, ada aku dan mama papa di sini, justru Diana lah yang sangat mengkhawatirkanmu kak, dia merasa membebanimu dengan dua anaknya" makannya kakak harus happy, dengan senang hati merawat anak kakak di situ, kalau bisa, jangan menampakan kesedihan di depan Diana, supaya dia tidak merasa bersalah"
"Makasih ya Bell, kalau ada apa-apa, tolong hubungi aku segera?"
"Tenang saja kak" sahut Diana
Anjar dan Diana, di tempat berbeda, sama-sama tidak bisa memejamkan matanya, rasa yang gelisah karena terpisah dari pasangan, dan anak-anaknya. Mereka terjaga hingga pertengahan malam
__ADS_1
BERSAMBUNG