Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
part 26


__ADS_3

Saya lanjut kisah masa lalu orang tua Puspa ya


baca pelan-pelan biar paham


Malam harinya, pak Ilham mendatangi rumah orang tua Arum, pak Ilham bertemu dengan kakak dan juga adik dari istri sirinya.


Setelah pak Ilham menceritakan tentang dirinya dan Arum,keluarga besar Arum, sangat marah, tapi mereka berusaha sabar, karena ini merupakan takdir Tuhan


Pak Ilham kembali ke rumah dengan raut wajah yang memprihatinkan.


"Assalamu'alaikum bu"


"Walaikumsalam pak"


Pak Ilham masuk, berjalan ke arah sofa, lalu duduk dengan tangan memijat pelipisnya. di ikuti bu Retno yang sebelumnya telah menutup pintu terlebih dahulu.


"Bagaimana pak"


"Arum sudah meninggal bu"


"Apa pak, arum sudah meninggal?


Pak Ilham menganggukan kepala


"Dia meninggal beberapa bulan setelah melahirkan anak kedua"


Disini bu Retno diam terpaku, dia merutuki dirinya sendiri. Jika saat itu dirinya tidak memaksa Arum untuk pergi meninggalkan suaminya, pasti Arum masih hidup.


"Maafkan ibu pak, ini gara-gara ibu"


"Tidak perlu menyalahkan diri ibu, di sini bapak juga salah, yang harus kita pikirkan adalah anak-anak bapak bu"


"Kalau begitu pak, kita cari anak bapak dan Arum, kita bawa pulang, ibu akan menerima mereka sebagai anak ibu"


"Bapak juga berniat seperti itu"


"Apa mereka memberitahu di mana anak-anak?"


"Mereka ada di balik papan ikut pamanya bu"


"Kita jemput dia ke balik papan ya pak"


"Iya bu,Secepatnya kita kesana"


Keesokan paginya, saat bu Retno dan pak Ilham sedang menikmati sarapan


Sebuah benda tipis yang sudah di sediakan Puspa agar selalu bisa menatap wajah kedua orang tuanya berbunyi


"Dari siapa bu" tanya pak Ilham


"Puspa pak"


"Coba di angkat bu"


*****


"Ibu, Puspa saat ini sedang di jalan, mau ke rumah ibu"


"Iya nduk ibu tunggu"


"Bu, Puspa pengin makan sayur asem buatan ibu, nanti siang tolong masakin ya bu"


"Iya nduk, nanti saat kamu sampai, sayur asem sudah sedia di meja makan"


"Bu, ibu ngga apa-apa kan, dari pertama ibu jawab salam Puspa, ibu seperti orang yang sedang mencemaskan sesuatu"


"Nda apa-apa ndu, ibu sama bapak baik-baik saja"


"Ya sudah makasih ya bu, 3 jam lagi Puspa sampai"

__ADS_1


...______...


"Pak apa kita perlu memberitahu Puspa tentang semuanya"


"Itu harus bu, sudah bapak pikirkan matang-matang, lagi pula kita tidak bisa menyembunyikan ini darinya"


"Iya pak, Puspa harus tahu, kalau dia punya saudara, nanti kita beri tahu Puspa, kita cari waktu yang tepat pak"


...**********...


Jam menunjukan pukul 12:40, Sebuah mobil memasuki pelataran rumah pak Ilham.


"Bu, Puspa sudah sampai"


Mereka bergegas keluar dan menyambutnya di depan pintu.


"Assalamu'alaikum pak, bu?


Pak Ilham dan bu Retno menjawab salamnya seraya mengulurkan tangan, dan memberi Puspa kesempatan mencium punggung tangannya.


"Pak Anan mari masuk" ucap pak Ilham


"Pak Anan makan siang dulu, lalu istirahat sebelum kembali ke jakarta ya pak" sambung Puspa lalu di iyakan oleh pak Anan.


Beberapa jam setelah pak Anan berpamitan untuk kembali ke jakarta, bu Retno, pak Ilham dan Puspa berkumpul di ruang tamu.


"Nduk, kamu kok kesini sendirian?" tanya Bu Retno "Kamu dan suamimu tidak ada masalah kan?"


"Tidak ada bu, Puspa sudah tidak bisa menahan lagi pengin makan sayur asem buatan ibu, Puspa cerita ke bunda, terus bunda nyuruh pak Anan nganterin ke sini"


"Kamu tuh kalau ngidam mbok ya yang wajar-wajar saja nduk"


"Emang ini ngga wajar ya bu?"


"Bukan,,


maksud ibu, ngidamnya yang sekiranya Anjar bisa memenuhinya" masa dari jakarta ke semarang cuma mau makan sayur asem"


"Beneran bu?"


Bu Retno tampak malu-malu


"Bener itu nduk, "hampir setahun ibu ikut pelajaran, saat akan kenaikan kelas, ibu melahirkan"


"Ihh ibu malu-maluin"


"Sudah-sudah jangan bahas itu, sekarang ibu tanya, apa kamu sudah ijin sama suamimu kalau mau ke sini?"


"Ngga ada bu"


"Nah kan, yang ini perlu di bahas" sahut bu Retno


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar


"Biar bapak yang buka"


Pak Ilham berdiri berjalan menuju pintu


"Nak Anjar?"


Anjar segera meraih tangan ayah mertuanya


Puspa dan Bu Retno turut berdiri


"Ayo masuk"


"Mas" Puspa meraih tangan sang suami


"Mas masih pake baju kerja, apa mas dari kantor langsung kesini"

__ADS_1


"Iya"Jawab Anjar datar


"Nak, sekarang pergi dan bersihkan badanmu, Ibu akan siapkan makan malam, Nduk bawa masuk suamimu, dan bantu siapkan piyama"


Puspa dan Anjar mengayunkan kakinya ke kamar mereka.


Saat di kamar, Anjar menutup pintu lalu menguncinya


Menggiring Puspa duduk di bibir ranjang


"Kenapa kamu pergi tanpa ijin dari mas"


Ucapan Anjar benar-benar seperti orang yang sedang marah, membuat jantung Puspa melompat-lompat seperti mau lepas dari tempatnya


"Mmm-ma-mas"


"Apa mas, mas" seru Anjar.


Tatapan Anjar sangat Tajam membuat Puspa reflek bergidik ngeri


"Mas"


"Apa?" Ada apa denganku?" tanya Anjar


Untuk menetralisir rasa takutnya, Puspa menangkupkan tangan di wajah suaminya lalu mengecup lembut bibirnya


"Maaf mas, mas jangan salahin aku, salahin anak mas yang masih di dalam perut, dia terus merengek pengin makan sayur asem buatan ibu"


Anjar terdiam seraya menatap bola mata istrinya, sesaat setelahnya Anjar menyadari bahwa keinginan orang hamil memang tidak bisa di tunda, ia juga ingat kakak iparnya saat ngidam, mba Siska minta kimchi yang fres langsung dari Korea, saat itu juga abangnya membawa mba Siska terbang ke korea.


Seketika Anjar memeluk Puspa


"Maaf"


"Aku yang minta maaf mas, harusnya aku ijin setidaknya menelpon"


"Kamu ngga salah, mas yang salah" seraya melepaskan pelukannya.


"Sekarang bagaimana?" apa ngidamnya sudah terpenuhi?, sudah makan sayur asem buatan ibu?"


Puspa menangguk "Tapi"


"Tapi apa?" sahut Anjar


"Aneh saja mas, sudah makan sayur asem, tapi ngga tau kenapa rasanya, malah bayinya kaya nolak"


"Nolak gimana"


"Itu yang aku ngga tau mas"


"Kamu mau nyuruh mas nyalahin anak mas lagi?"


"Tidak mas, ya sudah mas mandi, selesai mandi, makan"


Anjar mengecup kening Puspa sebelum memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di sini Puspa sedang menyiapkan piyama untuk suami, sambil memikirkan tentang ngidamnya


"Aku pengin makan sayur asem buatan ibu, sudah memakannya, tapi kok bayangan sayur asem masih ada di kepalaku, setauku kalau ngidam udah terpenuhi ya sudah puas, tapi kok aku ngga merasa puas" Batin Puspa lalu mengelus perutnya


"Dhede, apa kamu masih pengin makan sayur asem?" kalau iya, besok mami akan minta nenek buat masak sayur asem lagi"


"Dhe kamu ngomong sama siapa?" tanya Anjar setelah keluar dari kamar mandi


"Eh sudah selesai mas, ini bajunya"


"Kamu tadi ngomong sama siapa?"


"Sama anak mas, kayanya dia masih pengin makan sayur Asem, Ayo mas aku temenin makan"

__ADS_1


Puspa menggandeng tangan Anjar membawanya ke ruang makan.


Bersambung


__ADS_2