Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
Part 32


__ADS_3

Cuaca panas akhir-akhir ini, banyak di keluhkan oleh sebagian warga di Ibukota. Gerahnya udara juga menjadi tantangan bagi aktivitas keseharian manusia.


Puspa beserta Ayah dan adiknya, siang ini akan mendatangi alamat yang di tempati oleh adik perempuannya.


Dia berharap masalah orang tuanya selesai hari ini juga, dan pak Ilham membawa serta merta kedua adiknya untuk tinggal di Semarang, bersama bapak dan ibu.


Mulai menginjak pedal gas, Puspa melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang sedikit ramai. Dengan pikiran yang bercabang kemana-mana, entah apa yang menganggu pikiranya, kali ini Puspa merasa begitu cemas akan pertemuan dengan adik perempuannya. Tidak seperti saat bertemu dengan adik lelakinya, perasaan Puspa begitu tenang.


Setelah sampai di depan sebuah rumah yang tergolong mewah, Puspa menepikan mobilnya


"Akbar apa kau yakin ini rumah bibimu?" tanya Puspa seraya melepas sabuk pengaman


"Betul mba, dulu aku dan mba Tika tinggal disini bersama bibi dan suami bibi" jawab akbar


"Ya sudah ayo turun" pak Ilham menimpali


Mereka bertiga turun dari mobil, sesekali menengok ke kiri dan kanan, Suasana sedikit sepi, mungkin karena suhu udara yang begitu panas, membuat orang-orang enggan untuk beraktivitas di luar rumah.


Setelah beberapa kali Akbar mengetuk pintu, muncul sosok wanita seusia Puspa di balik pintu


"Maaf mau cari siapa?" ucapnya


"Saya mau ketemu bibi Ranti, apakah ada?


Puspa memindai pandanganya ke arah Akbar, dia heran dengan nama yang di sebut oleh adik lelakinya, seakan tidak asing dengan nama sang bibi, ia ingat kalau bibi Cantika juga bernama Ranti. Tapi Puspa segera menepis pikiran itu.


"Yang namanya Ranti itu banyak, ini hanya kebetulan" batin Puspa


"Oh maaf bu Ranti sudah tidak tinggal di sini, dia sudah menjual rumahnya pada suami saya"


Bapak, Puspa dan Akbar menatap wanita itu lekat


"Kalau boleh kami tahu, kira-kira bu Ranti tinggal di mana sekarang?" tanya pak Ilham


"Maaf saya tidak tahu" ucap pemilik rumah


"Kalau begitu kami permisi, maaf sudah menganggu? sambar Puspa


Mereka kembali menaiki mobil. Di dalam mobil, Puspa tidak lepas dari bayang-bayang Bu Ranti dan Cantika, Puspa terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, hingga suara bapak mengagetkan Puspa


"Nak, ayo jalan, kita pulang dulu, kita cari lain kali" ucap Pak Ilham


Puspa pun mengangguk lalu menyalakan mobilnya, melajukannya secara perlahan, karena pikirannya saat ini benar-benar sedang tidak fokus.


::::::::::::::::::


Beberapa sayur dan lauk sudah tertata rapi di meja makan, kali ini Puspa memasak sendiri karena bi Sumi sudah di jemput oleh pak Anan, untuk kembali bekerja di rumah sang mertua


Anjar yang tidak ikut makan malam, dan belum pulang kantor, di karenakan ada lembur di kantornya, Puspa, pak Ilham dan Akbar menikmati makan malam hanya bertiga.


"Nduk besok bapak dan Akbar pulang saja dulu, kasihan ibu sudah di tinggal terlalu lama"


"Begitu ya pak?" tanya Puspa


"Iya bapak akan coba bertanya ke keluarga Arum di Semarang, dimana tempat tinggal Bibinya serta Tika"


"Ya sudah kalau bapak maunya seperti itu, nanti bapak tinggal kasih tahu alamatnya biar Puspa dan Mas Anjar yang cari, jadi bapak tidak perlu kesini"


"Maaf Puspa bapak sudah merepotkanmu"


"Tidak kok pak, Tika kan adiku, itu sudah kewajiban Puspa mencarinya"


"Akbar Kamu sudah ada rencana mau melanjutkan dimana sekolahnya?" sambung Puspa


"Sebenarnya Akbar ingin ke SMA mba?"

__ADS_1


"Ngga lanjut di pesantren?" tanya Puspa lagi


"Ke SMA saja mba, dulu aku masuk pesantren karena ada beasiswa untuk anak yatim piatu, di situ tidak di pungut biaya sama sekali, karena aku kasian sama paman kalau harus membiayai sekolahku"


Mendengar ucapan Akbar, mata pak Ilham memerah menahan bulir bening yang siap terjun membasahi pipi.


Dia merasa bersalah pada anaknya.


"Akbar kamu boleh tentukan sekolahmu, raih cita-citamu, pilih sekolah yang terbaik buatmu" ucap bapak


"Tapi apa tidak apa-apa kalau ada biaya dan biayanya mahal pak?" tanya Akbar


"Tidak masalah sama sekali" jawab bapak


"Apa boleh Akbar juga kuliah pak?"


"Sangat boleh akbar?"


"Akbar, di pesantren kan lebih bagus, bisa belajar agama juga?" tanya Puspa


"Iya mba, tapi Akbar ingin masuk SMA saja, nanti belajar agama bisa sambil sekolah"


"Memangnya setelah SMA kamu mau kuliah di jurusan apa bar? tanya Puspa seraya menyendokan nasi ke mulutnya


"Pengin ambil hukum mba?"


"Bagus itu, yang semangat belajar?"


"Iya mba"


Jam menunjukan pukul 9 tapi Anjar tak kunjung pulang


serambi menunggu sang suami, Puspa memeriksa laptopnya mempersiapkan materi yang akan di ajarkan besok pada muridnya,


Setelah lebih dari setengah jam, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Sedikit mengintip dari celah tirai jendela, yang ternyata Suaminya, Puspa segera membuka pintu


"Kok belum tidur?" tanya Anjar


"Aku kan selalu menunggu kalau mas lembur, jadi jangan tanya kok belum tidur?"


"Ya mas pikir kamu kan sedang hamil, siapa tahu bayimu ngga mau nunggu papinya pulang"


"Engga lah mas, tetep di tunggu sambil duduk depan tv, mas sudah makan?"


"Belum dhe?"


"Apa tadi tidak makan apa-apa di kantor?"


"Tidak, cuma minum kopi saja, hari ini kerjaan kantor banyak sekali, tidak sempat makan"


"Ya sudah mas naik ganti baju sama cuci tangan, aku akan panaskan lauk"


...######...


"Bapak sama Akbar sudah tidur sayang?" tanya Anjar saat sudah duduk di meja makan


"Sudah mas, mereka sudah masuk kamar dari jam 9 tadi"


Puspa menatap Anjar yang sedang menyantap makanan penuh lekat, ia menimbang-nimbang ingin mengatakan kejadian saat ia berkunjung ke rumah bibinya Akbar.


"Ada apa sayang, apa ada masalah?" tanya Anjar.


Anjar selalu menanyakan hal itu, karena dia tidak ingin istrinya di rundung masalah


"Hmmmmm"

__ADS_1


"Ada apa dhe?" kalau ada masalah, katakan sama mas" mas ngga mau kamu stres"


"Mas, tadi siang aku ke rumah bibinya Akbar?"


Anjar menghentikan aktivitas makannya, meraih gelas berisi air putih lalu meminumnya.


"Oo ya, kok ngga bilang kalau mau kesana?"


"Maaf mas, soalnya bapak minta cepat-capat kesana"


"Terus gimana? berati si Tika sudah di sini?" tanya Anjar penasaran


Puspa menggelengkan kepala


"Terus dhe?" tanyanya lagi


"Mereka sudah tidak tinggal di situ, jadi belum ketemu sama Tika?"


"Ooooh Kita bisa cari lain kali sayang" sahut Anjar seraya melanjutkan aksi makannya.


"Tapi aku sedikit terkejut mas?"


"Terkejut kenapa?"


"Saat Akbar bilang kalau bibinya bernama Ranti?"


Lagi-lagi Anjar menghentikan aktifitas menyendoknya


"Ranti?"


"Iya mas, ngomong-ngomong soal Ranti, aku jadi ingat Cantika,,


"Mas apa mungkin yang kita cari itu mereka?"


Sama halnya Anjarpun terkejut mendengar perkataan istrinya.


"Apa mungkin Cantika itu Tika mas?"


Seketika Anjar menatap bola mata Puspa, sepertinya Anjar juga sudah tidak berselera lagi untuk menghabiskan makanannya"


"Semoga hanya kebetulan saja sayang" balas Anjar seraya menggenggam tangan Puspa


"Bagaimana kalau benar mas"


Anjar menyenderkan punggunya di kursi, menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.


Anjar menyadari kekhawatiran Puspa


"Sayang kamu jangan terlalu memikirkannya, semoga bukan dia yang kita cari, dan kalau seumpamanya memang dia, kita juga harus siap terima dia kan?"


"Mas apa Cantika masih ingin memilikimu?"


"Kalau dia masih berfikir seperti itu, mas akan pergi jauh dari hadapanya, mas akan bawa kamu ke luar negri dan kita akan tinggal di sana,


"Sejujurnya mas ilfil sama cantika dhe?" dia begitu ambisius, membuatku merinding"


"Mas sudah selesai makan, kalau sudah, aku bereskan, mas naik ke atas lalu mandi" ucap Puspa


"Dhe, kamu tidak boleh stres ataupun cape, ingat ya, dalam perutmu ada dua bayi"


"Iya sayang" jawab Puspa sereya menyentuh pipi sang suami


Tak Ayal Puspa tetap saja memikirkan tentang Tika, Bu Ranti dan Cantika


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2