
Pukul 10 waktu Singapura, Diana terbangun dari tidurnya, ia melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Setelahnya, dia pergi ke dapur untuk melihat apa yang di lakukan mama Sarah, mamah dari sahabatnya.
"Tante"
"Eh Di, sudah bangun?"
"Apa yang sedang tante lakukan?"
"Panggil mama saja sayang, seperti Bella, mama sudah pernah bilang dulu kan, jangan panggil tante"
"Iya tante maaf"
Mereka tersenyum
"Mama lagi masak soup untuk makan siang, karena papa Hari biasa pulang dari kantor saat jam makan siang, Di, kamu belum sarapan, kamu ke meja makan, sudah mama siapin di sana, makanlah"
"Mah, boleh aku pinjam komputer om Hari?"
"Boleh Di, tapi sarapan dulu, isi dulu perutmu"
"Iya mah"
Setelah sarapan Diana menulis sesuatu lalu ia kirim ke pihak rumah sakit tempat ia bekerja saat di Jakarta.
..._______________________...
"Dari mana saja kamu semalam?" tanya Ayah menghentikan langkah Anjar
"Menginap di rumah teman" ucap Anjar dingin
"Kenapa bau alkohol, apa kamu minum?"
"Hanya sedikit, maaf yah aku naik dulu"
"Kenapa ayah bertanya padanya, biarkan saja anak itu, dia sudah dewasa yah"
"Bunda jangan seperti itu, biar bagaimanapun Anjar anak kita"
"Apa ayah sudah dapat informasi dari orang suruhan ayah untuk mencari Diana?"
Pak Dhaniswara menggelengkan kepala
Bunda dan Ayah menikmati sarapan dalam diam. Bagi bunda, ini adalah suasana sarapan terburuk sepanjang masa
"Ayah berangkat dulu bun?"
Tak lama setelah kepergian ayah, Anjar menuruni anak tangga, dia sudah siap dengan setelan kantornya.
Bunda hanya melirik, lalu pergi meninggalkan Anjar di meja makan. Sikap Anjar seolah tidak terjadi apa-apa. Selain fokus dengan pekerjaanya, dia juga fokus mencari Diana istrinya, dan Diana Puspita, tak lupa ia akan meluangkan waktunya untuk bermain bersama anak kembarnya, yang saat ini masih di rumah kakaknya.
Ting, sebuah notif pesan masuk dari Rafa
Anjar yang sedang fokus dengan pekerjaannya di kantor, mendengar ponselnya berbunyi, dengan cepat ia meraihnya
Abang Rafa
"Diana resign dari rumah sakit, surat pengunduran dirinya ia kirim lewat email"
Anjar sedikit hilang asa, dia tidak tahu lagi harus mencari Diana kemana, belum lagi urusan Diana Puspita yang sudah ia tiduri.
"Jika ayah tahu kalau aku belum menyentuh Diana, pasti mereka akan marah, di tambah dengan Diana Puspita"
Pikiran Anjar sedikit kacau, namun dia harus bisa berfikir jernih, ia berjanji tidak akan pergi ke tempat laknat itu.
__ADS_1
"Aku harus berjuang untuk Diana, aku harus bisa menemukan Diana sebelum sidang cerai ke dua"
"Aku pasti bisa menemukannya" gumam Anjar
Ia kembali fokus dengan pekerjaanya. Tugas ke luar kota akan di gantikan oleh Dirga.
Karena ayah ingin Anjar menyelesaikan masalahnya hingga tuntas.
Pintu di ketuk membuat Anjar mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara
"Ayah, Sialakan duduk yah, kenapa repot-repot ke ruanganku, ayah bisa menelpon dan aku akan ke ruangan ayah,
"Posisi ponsel Diana tadi malam ada di Bandara Soekarno-Hatta" tapi setelah itu tidak bisa di lacak sampai sekarang, ayah berharap dia baik-baik saja"
Ucapan ayah sontak membuat Anjar kaget
"Apa Diana keluar negri yah?"
"Bisa jadi"
"Tapi kemana yah?"
"Mungkin ke Singapur, menemui sahabatnya, ucap Ayah
"Aku akan mencari tahu tentang Bella?" sahut Anjar
"Tidak perlu, kamu tetap fokus pada pekerjaanmu dan anakmu saja, ayah sudah menyuruh orang-orang ayah untuk mencarinya"
"Terimakasih yah"
"Katakan pada ayah apa yang sudah kamu lakukan pada Diana?"
Seketika Anjar memindai pandangan ke wajah ayahnya
"Ayah"
"Jujurlah pada Ayahmu?"
"Ayah tahu darimana?"
"Ayah membaca gugatan dari Diana, ayah memintanya pada pengacaramu"
"Maaf yah"
"Sudah menikah selama hampir enam bulan, kamu belum memberikan nafkah batinmu? ayah pikir kamu sudah sering menyentuhnya, lalu apa artinya ciuman kalian saat di ruang makan?"
Apa kamu juga selingkuh?"
"Tidak yah, yang itu tidak benar"
"Astaga aku jadi takut tentang Diana Puspita, bagaimana kalau tiba-tiba wanita malam itu datang kerumah ayah, lalu meminta tanggung jawabku"
"Oh tidak"
"Anjar?"
"I-ya yah?"
"Kenapa melamun"
"Ti-tidak yah"
🏵
🏵
__ADS_1
🏵
Satu minggu telah berlalu, Sidang ke dua pun sudah di laksanakan, Anjar meminta hakim untuk menunda putusan cerai, dengan alasan Dia ingin benar-benar mempertahankan rumah tangganya, tidak ada yang bisa di lakukan oleh pengacara Diana, karena Anjar sudah menyogok pengacara itu dengan sejumlah uang. Pengacara Diana akan mengulur waktu, sesuai permintaan Anjar. Itu artinya, perceraian akan berlangsung lama. Tentu tanpa sepengetahuan Diana. Diana mengira dia akan menjadi janda beberapa hari lagi.
"Semoga Diana Puspita tidak hadir menjadi orang ketiga" gumam Anjar
"Aku juga harus segera menemukan wanita itu, agar dia mau membuat sebuah surat perjanjian"
Tapi sampai kapanpun usaha Anjar mencari wanita itu, tidak akan pernah berhasil, karena sebenarnya wanita itu adalah istrinya sendiri. Hanya petugas motel yang tahu.
Anjar baru saja pulang dari kantor, ia melihat Azam dan Emyr sedang mewarnai sebuah gambar namun Emyr terlihat begitu lesu, semenjak Diana pergi, Emyr sering menangis di tengah malam, tentu saja memanggil maminya, hingga tubuhnya tampak lebih kurus karena makan sangat sedikit.
"Azam Emyr, kenapa tidak ada yang menyambut papi pulang?"
Dua bocah itu mendongakan wajahnya lalu menunduk kembali
"Kalian kenapa, apa tidak senang kalau papi pulang?" tanya Anjar penuh selidik
"Papi bohong telus" sahut salah satu anak Anjar
Anjar tahu maksud ucapan anak-anaknya, Dia sudah sering berjanji akan membawa Diana Pulang.
"Maafin papi, tapi papi akan terus berusaha, papi juga sudah telpon tante Cantika, supaya nanti kalau lihat mami, tante Cantika mau langsung suruh mami pulang"
"Tante Cantika tahu mami dimana?" tanya Emyr dengan mata yang sedikit cekung
"Tante Cantika kan suka pergi-pergi sama om Ayash naik pesawat"
"Kalau gitu cekalang tepon tante Cantika"
Anjar tidak bisa menolak permintaan Emyr, dia merogoh saku celananya meraih ponselnya di dalam sana, lalu segera mencari kontak bernama Cantika di ponselnya
"Hallo mas Anjar" Anjar segera memencet tombol loudspeaker, agar suara Cantika bisa di dengar oleh kedua anaknya
"Tante" teriak Azam dan Emyr,
"Eh sayang, ada apa nih keponakan tante, sudah mandi belum?"
"Belum tante"
"Kok belum?"
"Tante lihat mami Diana tidak?" karena Emyr sangat merindukan Diana, dia yang lebih banyak bertanya
"Tante kalau lihat mami, suluh cepat pulang ya, bilang sama mami Emyl kangen"
"Iya pasti, nanti tante suruh cepat-cepat pulang maminya"
"Cantika" Panggil Anjar
"Iya mas"
"Siapa tahu kamu melihat Diana di sekitar bandara, segera hubungi aku ya"
"Di bandara mana mas?"
"Ya bandara mana saja, kamu kan sering kesana kemari, siapa tahu Diana ada perjalanan naik pesawat"
"Oo,, iya mas"
"Ya sudah aku tutup dulu, makasih Tika"
"Sama-sama mas"
BERSAMBUNG
__ADS_1