
Menikah, adalah suatu keputusan yang dibuat atas kesepakatan kedua belah pihak, laki-laki ataupun perempuan. Dalam pernikahan, kesetiaan dan cinta akan diuji dengan berbagai ujian rumah tangga dari beragam aspek.
Bukanlah hal yang mudah untuk menjalani sebuah hubungan rumah tangga, apalagi untuk membuatnya selalu harmonis.
Selalu ada saja hal yang membuat hubungan suami istri ini menjadi penuh dengan persoalan.
Sepulang dari sekolah, Puspa dengan gontai melangkahkan kakinya memasuki rumah yang sudah ia tempati hampir dua tahun bersama sang suami. Pintu dalam kondisi terbuka, dia berfikir Akbar sedang ada di rumah.
Hari ini bu Retno akan menghabiskan waktu dengan ibu mertuanya, dan akan pulang setelah makan malam
Saat sudah berada di ambang pintu, Puspa tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia menatap tajam pada dua orang yang sedang terlibat pembicaraan di sebuah ruang tamu.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Ini rumah kakak kita mba, ternyata bapak kita masih hidup" ucap Akbar
Puspa bisa menangkap suara Akbar, seketika ia menjatuhkan buku-buku yang ia bawa, bersamaan itu, dua pasang mata mengarahkan pandangannya ke arah Puspa
"Mba Puspa?" sahut Akbar
"A-apa yang kau katakan barusan Akbar?" tanya Puspa dengan terbata
Akbar menghampiri Puspa lalu memunguti buku-buka yang berserakan di lantai
"mba, dia mba Tika" jawab Akbar
"Ti-ti-ka, ja-di Cantika adiku?" ucapan Puspa yang masih bisa di dengar oleh Cantika
Mendengar hal itu, Cantika lari keluar meninggalkan Puspa dan Akbar yang diam mematung. Ada banyak pertanyaan di benak Cantika.
"Seseorang harus menjelaskan tentang ini" gumam Cantika seraya masih terus berlari
Malam saat Anjar baru saja sampai rumah, Rumah terlihat seperti tak berpenghuni. Anjar berjalan melewati ruang tamu, menaiki anak tangga satu persatu, saat membuka handel pintu, lagi-lagi ia harus melihat raut wajah Istrinya yang sedang melamun, bahkan Puspa tidak menyadari jika suaminya masuk ke kamar, dan memanggilnya beberapa kali.
"Sayang, kenapa?"
"Eh mas sudah pulang?"
"Ada apa?"
Puspa menggeleng, masih mengunci rapat mulutnya.
"Ok, mas mandi dulu, setelah itu kita bicara" ucap Anjar seraya berdiri lalu mengarahkan kakinya ke kamar mandi
Selesai mandi, Anjar melihat Puspa masih berada di tempat semula.
"Dhe baju mas belum di siapin?" tanya Anjar yang masih melilitkan handuk di pinggangnya, dengan satu tangan mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil
"Oh iya mas maaf"
Anjar menatap istrinya heran, dia mengira pasti sedang ada sesuatu yang mengganggu pikirannya
Puspa menyerahkan satu stel piyama yang sudah di pilihnya untuk suami, namun dia tidak sadar telah memilih piyama miliknya
"Dhe, apa mas harus memakai ini?" tanya Anjar penuh heran
"Maaf mas"
Puspa berbalik, hendak membuka lemari kembali, namun gerakan Anjar meraih tangan Puspa membuat Puspa menghentikan langkahnya, pinggang Puspa yang di pegang oleh kedua tangan Anjar, membuat Puspa tidak bisa bergerak
__ADS_1
"Kamu tidak lupa kan, kalau mas ini suamimu?" tanya Anjar sambil mendongakan dagu Puspa
"Tolong jangan sembunyikan apapun dari suamimu, meskipun hanya seekor nyamuk yang menggigitmu" ucapnya lagi "Duduklah di kasur biar mas ambil baju sendiri, setelah itu kamu beri tahu mas apa yang mengganggu pikiranmu"
Puspa menurut lalu berlenggang menuju ranjang, Anjar yang masih menatap punggung Puspa, menggelengkan kepala seraya menghirup oksigen dalam-dalam
"Apa sudah siap mendiskusikan masalahmu?" tanya Anjar seraya duduk di samping Puspa
"Ternyata filing kita tentang bu Ranti dan Cantika itu benar mas?"
Anjar membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegap
"Maksud kamu?
"Cantika itu Tika, orang yang kita cari, anak kandung bapak dan bu Arum"
Gegas Anjar meraih tangan Puspa, memegangnya erat
"Bagaimana kamu mengetahuinya?"
"Tadi sore Cantika datang, dia bertemu Akbar, di situlah aku tahu kalau Cantika kakaknya Akbar"
"Tidak masalah sayang, dengan dia tahu yang sebenarnya, semoga Cantika tidak mengusik rumah tangga kita" ucap Anjar "Apa ibu sudah tahu??"
Puspa menggeleng
"Ya sudah besok kita beri tahu ibu"
"Mas"
"Hemm"
"Baiklah" jawab Anjar
Cuaca cerah berawan diperkirakan akan terjadi. menaungi keempat kota penyangga Jakarta, yaitu Depok, Bekasi, Bogor, dan Tangerang pagi ini.
Anjar, Puspa, ibu dan juga Akbar sudah berkumpul di meja makan, mereka akan menikmati sarapan buatan ibu.
"Mba, mas, kenapa mba Tika tiba-taba datang kemari?" apa kalian sudah saling kenal?" tanya Akbar
Puspa dan Anjar sama-sama menghentikan aktifitasnya, Puspa menatap Akbar penuh selidik, dan Anjar segera meraih gelas berisi air lalu meminumnya
"Cantika teman kita bar" jawab Anjar, mba Puspa juga membiayai sekolah pramugari dia"
"Kalian sudah bertemu gadis kecil itu?" tanya Ibu
"Gadis kecil mana bu?" tanya Puspa heran
"Ya itu anak bapak sama Arum, dulu ibu pernah bertemu sekali saat usia dia masih 2 tahun, dimana dia sekarang, coba suruh kemari, ibu ingin bertemu dan mengajaknya pulang"
Puspa dan Anjar saling pandang
"Iya mba Akbar kemarin belum sempet minta nomor ponselnya, apa mas sama mba tahu?" timpal Akbar
"Iya nanti mba hubungi mba Tika" jawab Puspa
"Dhe mas sudah selesai, mas antar kamu ke sekolah, mas tunggu di luar"
"Iya Mas"
__ADS_1
Anjar berdiri seraya meraih tangan ibu lalu berpamitan dan mengucap salam. Tidak lama kemudian Puspa pun ikut undur diri dari meja makan, berjalan menyusul suaminya
...&&&&&&&...
Tok tok tok
Suara pintu mengagetkan Anjar yang sedang melamun di dalam ruang kerjanya, membuat dia menoleh ke arah pintu
"Eh Ga , masuk"
Dirga masuk ke ruang kerja Anjar dengan alis yang saling bertaut, laki-laki ini cukup heran dengan Anjar yang sejak pagi hanya diam dan kurang fokus dengan pekerjaanya, seperti ada beban yang mengganggu
"Loe kenapa Njar, dari tadi gue lihat loe banyak diam, ada masalah sama bini?"
"Ngga ada Ga, lagi mikir aja kalau seandainya gue pindah ke luar negri"
"What?" loe mau pindah ke luar negri?
"Misalnya Ga, misalnya"
"Gue ngga rela loe pindah, hhhhhh emang ada apa si, sampai punya rencana pindah"
"Pengin cari suasana baru saja, yang lebih menenangkan mungkin"
"Emang di sini loe ngga tenang?"
"Dah lupain saja", ada apa loe ke ruangan gue?"
"Gini bos, besok loe ada tugas dari bokap loe, buat audit anak perusahaan di cabang Jogja"
"Berapa hari Ga?"
"Tiga hari, nanti loe akan di temani Melisa, pak Angger dan juga bu Mila"
"Tadi Melisa sudah gue suruh buat mempersiapkan semua"
Saat Dirga sedang menjelaskan, dia menatap Anjar yang lagi-lagi sedang melamun
"Eh loe kok diam si, loe denger gue ngomong kan?" "ada apa si, kepo deh gue?" ucap Dirga
"Lagi mikir saja, bisa ajak Puspa atau tidak?"
"Bisa lah loe kan bos, bos mah bebas?"
"Puspa ngajar bro?"
"Suruh resign saja?"
"Dia wanita mandiri Ga, dia terlalu pintar mengatur waktu, bayangin saja, pagi-pagi bangun bikin sarapan, berangkat ngajar, beres-beres rumah, belum malamnya ngurus gue" masa gue halangin cita-citanya, ngga tega gue nyuruh dia resign, biarkan dia yang memutuskan sendiri kapan mau resign" ucap Anjar
"Bentar lagi juga resign", sahut Dirga "Ngurus anak itu repot, apalagi dua sekaligus, gue yang satu aja pengin me time sama bini susahnya minta ampun, Dah lah gue balik ke ruangan"
Sepeninggal Dirga dari ruanganya, Anjar meraih benda tipisnya, berniat menelpon sang istri, tapi Anjar mengurungkan niatnya, setelah melihat story wa milik istrinya
Sebuah Photo yang sedang menampilkan seseorang seolah sedang presentasi di depan. Dengan Caption "Time to rapat, bayiku gerak terus, emaknya ngantuk"
Sesaat setelah itu, Anjar menyunggingkan senyuman, lalu membuka galery memandang lekat foto-foto istrinya yang selalu menggairahkan
Bersambung
__ADS_1