
Di sebuah rumah sakit, seorang dokter wanita sedang melayani satu persatu pasien yang berdatangan. Senyum tipis selalu terbit di sudut bibir dokter yang terkenal ramah dan cantik, meski sudah memiliki 4 anak. Dari raut wajahnya yang teduh, menggambarkan betapa tulusnya pengabdian dirinya sebagai pelayan kesehatan masyarakat.
Dokter Diana dengan senyum dan ramah tamahnya, mampu menghipnotis siapapun yang berhadapan dengannya. Dengan telaten dokter cantik itu memeriksa satu persatu pasien yang memasuki ruangannya. Mendengarkan keluhan mereka dengan sabar, dan memberikan solusi terbaik untuk para pasiennya.
Senyumannya yang menawan, dan lembutnya tutur kata yang terucap, membuatnya memiliki antrian pasien yang panjang. Namun siapa sangka, Dokter yang berkharisma itu memiliki masa lalu yang membuat dirinya berada di titik terendah.
Seorang yatim piatu, berjuang menjadi seorang dokter dengan beasiswa karena kecerdasannya.
Yang di awal pernikahan di abaikan oleh suami, perpisahan dan hidup sendiri di negara asing, dengan buah hatinya selama tiga tahun, serta kelumpuhan yang dialami oleh salah satu anak sambungnya, membuat dia semakin tegar menjalani kerasnya kehidupan. Tapi berkat kesabarannya, mami dari dua orang putra dan dua orang putri, saat ini menjadi wanita yang bahagia.
Karir yang terus memuncak, suami yang tampan dan berwibawa serta setia, kekayaan yang melimpah, dan anak-anak yang sehat dan cerdas, tidak membuatnya terbang di atas awan.
Diana Aisyah Rahmania, sebuah nama pemberian orang tua, yang tetap rendah hati meski memiliki kehidupan sempurna.
Satu tahun berlalu dengan cepatnya, Dia memilih kembali ke negara asal, setelah kesembuhan putranya. Mulai merintis karir di rumah sakit tempat dia bekerja dulu, bergabung kembali dengan kakak iparnya.
"Dok, pasien masih ada beberapa, tapi jam kerja dokter sudah habis, mau di lanjut atau di lempar ke dokter lain?" tanya seorang suster
"Tinggal berapa sus?"
"Masih ada 4 pasien lagi dok"
"Ok lanjutkan saja"
"Baik dok"
Diana segera memberi tahu sang suami yang sudah menjemputnya, untuk menunggu sedikit lebih lama. Dengan sabar Anjar menunggunya sembari menikmati alunan musik di dalam mobil.
"Di belum pulang?"
"Ini lagi siap-siap mba, mba Siska sendiri belum pulang?"
"Aku nunggu bang Rafa, dia sedang rapat. Akan ada kepala rumah sakit baru untuk menggantikan dokter Fahmi, dan abang di rekomendasikan untuk menggantikannya"
"Wah semoga menjadi rezeki abang ya mba?"
"Entahlah Di harus senang atau tidak, yang jelas, jika Rafa terpilih, sudah pasti rumah sakit ini akan menjadi tanggung jawabnya"
"Tidak masalah mba, kita akan berusaha membantu rumah sakit ini menjadi rumah sakit terbaik di jakarta"
"Tapi ada yang lebih membahagiakan dari ini Di?"
"Apa itu?" tanya Diana penasaran. Lalu Siska meraih tespek dari dalam saku snellinya dan menggesernya di atas meja. Gegas Diana meraih benda itu
"Garis dua, apa ini milik mba Siska?" wahh selamat kalau gitu, ahirnya Aurel mau punya Adek"
Siska tampak mengangguk, "Tapi aku sedikit takut memberitahu Aurel Di" sahut Siska
"Loh kenapa mba?" tanya Diana
"Dia sudah tiga belas tahun tapi baru punya adek"
"Kenapa harus khawatir, percayalah dia akan senang mendengar kabar ini, apa bang Rafa sudah tahu?"
"Belum Di"
"Ya sudah segera beri tahu bang Rafa"
"Dokter Siska, pak Waluyo memanggilmu" Sela seorang suster
"Ada apa ya Di?"
Diana bergidik mengangkat kedua bahunya, sedangkan Siska segera berlari menemui pak Waluyo, dan meninggalkan tespek miliknya.
"Eh mba Siska lupa membawa tespeknya, biar ku simpan, pasti nanti mba Siska kalang kabut mencarinya" Gumam Diana sambil menyunggingkan senyum.
******
Sudah selesai?" tanya Anjar saat Diana memasuki mobilnya
Diana mengangguk, lalu mencium punggung tangan suaminya yang di balas kecupan manis di keningnya. Jika di awal pernikahan, sentuhan hanya sebatas berjabat tangan, namun sekarang, bahkan berjalan saja, tangan mereka tak pernah lepas dari genggaman.
"Apa mau mampir?"
"Mampir kemana pi?"
"Siapa tahu ada yang mau di beli"
"Tidak ada sayang, kita langsung pulang saja"
Anjar segera menyalakan mesin mobil, melajukannya dengan kecepatan sedang. Mereka selalu berangkat dan pulang secara bersamaan, mengingat jam kerjanya yang selisih hanya beberapa menit. Dengan tujuan yang searah, walaupun harus melewati kantor Anjar terlebih dahulu, dia selalu mengantar Istrinya hingga depan rumah sakit.
Sesampainya di rumah, mereka mendapati anak-anaknya sedang bermain, dengan suasana yang riuh dan berantakan, tak membuat kakek neneknya risih dan bising, mereka sangat menikmati perannya sebagai kakek dan nenek bermain main dengan sang cucu. Di temani dua baby sister, dan dua ART di rumah, tidak membuat Diana dan Anjar khawatir meninggalkan orang tua dan anak-anaknya.
Karena asik bermain, mereka tidak menyadari papi dan maminya pulang, tapi itu bagus, dengan begitu, tidak ada drama peluk cium dalam keadaan kotor. Diana tidak mengizinkan anak-anaknya menghampirinya, jika papi maminya baru saja pulang kerja. Apalagi Diana yang bekerja di sebuah rumah sakit, yang rawan membawa kuman ataupun virus.
Anjar menggandeng tangan Diana berjalan menaiki tangga. Sesampainya di kamar, Diana akan mandi terlebih dahulu.
Anjar yang sedang duduk sambil memainkan gawainya, mendengar ponsel milik sang istri, Dia segera mencari dimana benda itu, saat hendak mengangkatnya, tiba-tiba ponsel Diana kehabisan daya, dan mata Anjar menangkap sebuah tespek bergaris dua
"Garis dua artinya positif, apa Diana hamil lagi?" Batinnya
Anjar merasa frustasi, jika benar Diana hamil lagi, itu artinya dia harus menyiapkan mental dari sekarang, mengingat dulu betapa paniknya saat menemani Diana melahirkan anak ke empatnya, Meira Nabiha Dhaniswara. Anjar menangis meraung-raung karena tidak tega melihat Diana kesakitan dalam proses persalinannya di Singapura beberapa bulan lalu.
Ketika membuka pintu kamar mandi, Diana mengerutkan dahinya, saat mendapati sang suami dengan raut wajah yang sedikit khawatir
"Papi, ada apa?"
Anjar memindai penampilan Diana yang hanya memakai jubah mandi, dengan kepala yang di lilit handuk. Sedangkan Diana melirik tangan sang suami, yang sedang memegang tespek milik kakak iparnya, sehingga ia mempunyai ide untuk mengerjai suaminya, Diana berjalan menuju lemari berniat memilih baju untuk ia kenakan, namun dengan sigapnya Anjar menarik pergelangan tangannya, dan mendudukan di atas pangkuannya
"Apa ini?" tanya Anjar sambil memperlihatkan benda tipis itu.
"Itu tespek alat untuk mendeteksi kehamilan" jawab Diana, ia menghindari tatapan suaminya yang terlihat panik dan takut. Rasanya, Diana ingin tersenyum ketika ingat para dokter di Singapura bahkan menertawai tingkah suaminya saat menemaninya melahirkan. Diana hendak bangkit dari pangkuannya, namun Anjar menahannya
"Apa mami hamil lagi, usia meira baru tujuh bulan, apakah tidak takut melahirkan dalam jangka waktu yang sangat dekat?" aku saja sangat takut melihatmu merintih kesakitan" ucap Anjar
Diana menggelengkan kepala "Kamu tidak senang, kita mau punya anak lagi lho" sahut Diana
"Senang, ucap Anjar lalu meraih handuk di kepala Diana dan melemparnya ke sembarang tempat, tangan lainnya, tak kalah jahil melepaskan tali bathrobe di pinggang diana sampai terbuka, "Baiklah, papi akan menyiapkan mental supaya tidak di tertawakan lagi sama dokter dokter sialan itu"
Diana tersenyum, telah berhasil mengerjai sang Suami. Anjar segera mengambil posisi berada di atas Diana.
"Papi mau apa?"
"Mau merayakan kehamilan mami", jawabnya seraya menciumi ceruk leher istrinya
"Mami sudah mandi pi?"
"Gampang mandi lagi, papi akan memandikannya nanti"
"Tapi pi, anak-anak menunggu kita"
"Ini cuma sebentar" jawabnya masih fokus menjelajahi tubuh sang istri
"Meira akan menangis nanti" Diana masih mencari alasan
"Jangan khawatir, ada bunda dan baby sisternya"
__ADS_1
Hingga Diana kehabisan kata-kata untuk beralasan. Akhirnya Diana mandi untuk yang ke dua kalinya.
Saat Anjar dan Diana baru saja keluar secara bersamaan dari dalam kamar mandi, dengan hanya menggunakan handuk yang melilit pada tubuh masing-masing dan rambut yang masih basah. Ada ketukan pintu yang membuat pasangan suami istri menoleh ke arah sumber suara
"Pasti anak-anak sayang" ucap Anjar seraya melangkahkan kaki untuk membukanya
"Papiii,, " teriak Emyr dan Sasa "Di bawah ada om Akbar pi" sambung Emyr
"Oh yaa, ya sudah nanti papi sama mami turun"
Kedua bocah itu lalu berlari menuruni anak tangga. Anjar menutup kembali pintu kamarnya, tampak Diana sudah memakai baju santainya dan menyerahkan setelan piyama untuk di kenakan suaminya
"Om akbar datang pi"
"Iya kata anak-anak"
"Ya sudah cepat pakai baju, mami turun dulu"
...***********...
"Om Akbar, Darimana saja, bagaimana kabarnya?" tanya Diana
"Baik mba, ada tugas dari kantor di jakarta, jadi mampir kesini sekalian nengokin Azam dan Emyr
Tak lama kemudian Anjar turun dari tangga
"Apa kabar om?"
"Baik mas, mas sendiri bagaimana?"
"Baik juga, bagaimana bapak sama ibu?"
"Mereka juga baik mas"
Diana beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum.
Terdengar suara Azam dan Emyr merengek minta ikut om nya ke Semarang
"Boleh ya pi, kan udah liburan semester, boleh ya" rengek Zam zam dan Emyr
"Tanya mami nak, kalau mami ngijinin, papi juga ngijinin"
Dua bocah kembar itu bergegas lari menuju maminya berada
"Mami boleh ikut om Akbar ke rumah nenek tidak?"
"Abang mau ikut ke Semarang?" mereka berdua mengangguk
"Jauh loh, memang tidak nangis nanti, tidak minta pulang?"
"Tidak mom" jawab mereka kompak
"Tanya papi, kalau sama papi boleh, oke kalian ikut om akbar besok"
"Papi udah ijinin mi"
"Ya sudah kalau begitu besok boleh pergi"
"Ye ye ye" teriak Azam dan Emyr. Diana melangkahkan kakinya dengan membawa nampan berisi 3 cangkir teh
"Om ayo di minum" sela Diana
"Om Akbar, nanti makan malam disini, dan tidur disini ya" pinta Bunda
"Sudah menginap di hotel bun"
"Aduh kalau pas di sini mbok jangan nginep di hotel, nginep saja di sini, kan bisa main-main sama ponakan"
"Ya sudah tapi nanti makan malam dulu di sini, bi Sumi sudah masak banyak"
...&&&&&&&&&&&&&...
Keesokan harinya, dua bocah kembar akan pergi ke Semarang menuju tempat kakek dan neneknya, yang tak lain adalah ibu dari Puspa
"Azam sama Emyr, tidak boleh nakal ya, minggu depan, mami sama papi jemput"
"Ok mom"
"Hati-hati akbar, kalau sudah sampai segera kabarin" sambar Anjar
"Siap mas, kami pergi dulu" sahut Akbar seraya membunyikan klakson
πΊ
πΊ
πΊ
Malam harinya, Setelah melakukan hubungan suami istri, Anjar bergegas mengenakan pakaiannya
"Papi mau kemana?" tanya Diana penuh selidik
"Mau ke ruang kerja ayah"
Diana melirik jam di atas nakas masih jam 9. "Ada yang mau di kerjakan memangnya?"
"Iya" jawab Anjar "Papi mau diskusi sama ayah, mau bangun perusahaan lagi rencananya"
"Buat apa bangun perusahaan, beberapa restoran di Singapura saja orang lain yang urus"
"Rencananya yang di Singapura buat Meira nanti, Azam dan Emyr cukup meneruskan punya papi disini, dan yang mau papi dirikan ini, buat Sasa. Ya sudah ayah pasti sudah menunggu" ucap Anjar lalu mencium kening istrinya singkat
"Mau di buatkan teh?" tanya Diana
"Tidak usah, mami tidur saja" jawab Anjar seraya berjalan menuju pintu. "Nanti kalau papi pengin, akan buat sendiri" ucapnya lagi
Anjar dan Ayah, mendiskusikan tentang rencananya mendirikan perusahaan yang akan di kelola oleh Sasa kelak, jika sudah dewasa, hingga pukul 11 lebih.
"Sudah malam nak, cukup untuk malam ini, ucap Ayah, istirahatlah besok harus ke kantor"
"Baik yah" jawab Anjar sambil membereskan beberapa kertas.
Sesampainya di kamar, Anjar mendapati istrinya sudah berkelana di alam mimpi, Anjar segera membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Sebelum memejamkan mata, Anjar membuka ponselnya, berselancar di dunia maya, saat membuka applikasi Whatsapp, beberapa pengguna, mengunggah story nya, termasuk Diana
"Wa story istriku?"apa lagi yang dia unggah?" Batin Anjar seraya menautkan kedua alisnya lalu menoleh ke arah Diana yang sedang pulas
Anjar sangat penasaran dengan unggahan sang istri, namun saat membaca captionnya, membuat Anjar menyunggingkan senyuman, lalu meletakan gawainya di atas nakas.
Segera ia menarik selimut hingga batas dada, dia menggigit bibir istrinya sedikit keras namun terasa lembut, hingga Diana terbangun
"Aduhh pi, sakit tahu?"
"Itu akibatnya kalau bohong sama suami, tespek itu milik mba Siska kan, bukan milikmu?"
"Iya mami cuma ngeprank papi tadi, udah pi tidur sudah malam ini"
*********
__ADS_1
Satu minggu telah berlalu, selama itu pula, Sasa kesepian karena abang-abangnya sedang menginap di rumah neneknya
Dan hari ini, Diana Anjar dan kedua putrinya hendak menjemput Anak kembarnya di Semarang.
Selama perjalanan ada sedikit drama, karena Sasa sering sekali bertanya, membuat maminya kewalahan menjawabnya, belum lagi baby meira yang sering rewel saat di dalam mobil.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, ahirnya sampai juga di rumah orang tua Puspa.
Kedatangan mereka sudah di sambut oleh bu Retno, pak Ilham, Akbar dan juga kedua putranya.
Bu Retno segera mengambil alih baby Meira dari gendongan Diana
"Sini nduk, Meira ibu yang gendong, kamu ajak suamimu langsung ke meja makan, ibu sudah masak banyak, jangan sungkan"
"Baik Bu, terimakasih" Jawab Diana
Kini mereka sedang berada di ruang makan untuk menyantap makan siang. Ada sayur asem, sambal goreng ikan tuna, oseng cumi cabe hijau, ayam goreng, dan tongseng kambing.
"Mas, anak mas Anjar ini sudah ngeprank orang sekampung tahu" ucap Akbar seraya menyendokan nasi ke mulutnya
"Apa yang mereka lakukan bar?" tanya Anjar penasaran
"Tomat satu kebun milik bapak, masih ijo di petik buat lempar-lemparan, terus kemarin mereka ngeprank bapak sama ibu, sampai ibu nangis dan mau pingsan"
Anjar dan Diana menghentikan kunyahannya, lalu menatap Akbar
"Mau pingsan?" sahut Diana seraya memindai pandangannya ke arah putra kembarnya
Azam dan Emyr menundukan kepala saat mendapat tatapan menyelidik dari sang mami
"Ini semua ide Emyr mom" bela Azam cepat
"Eh, abang kan setuju, jadi ini ide abang juga lah" jawab Emyr tak mau kalah
"Coba critakan apa yang kalian lakukan, sampai bikin nenek mau pingsan?" tanya sang papi
Azam dan Emyr saling menyiku
"Ayo salah satu dari kalian harus menjelaskan" ucap Anjar
"Begini pi, mi, waktu itu Emyr nyuruh abang buat ngumpet di kolong tempat tidur, terus abang nurut" ujar Emyr "Lalu Emyr bilang ke uti sama kakung kalau abang Azam hilang di culik" Emyr menjeda kalimatnya, ia menyiku sang kakak meminta bantuan
"Lanjutkan abang Emyr" perintah Diana
"Ya gitu mi, jawab Emyr lesu"
"Gitu gimana bang?" tanya Diana lagi
"Nenek nangis-nangis, terus satu kampung ikutan nyari abang, pas nenek mau pingsan, ya udah kita berdua keluar terus kompak bilang PRANK begitu" penjelasan Azam membuat Diana dan Anjar menggelengkan kepala
Diana ingat, dia juga pernah kena prank sama anak-anaknya, saat itu Diana meninggalkan Meira bersama ketiga kakaknya dalam keadaan sedang bercanda. Diana berniat ke dapur membuat kudapan untuk mereka, namun Azam, Emyr, dan juga Sasa berlari sambil berteriak, kalau dedek Meira diam saja, tidak bergerak dan memejamkan mata, Seketika Diana berlari menaiki tangga di ikuti oleh ketiga anaknya mengekor di belakang, takut terjadi apa-apa pada bayinya, Diana terus berlari, namun saat sampai di kamar, tampak baby Meira sedang tertidur pulas, rasa gemetar dan takut masih menyelimuti Diana hingga ia menarik nafas panjang, dan melirik ketiga anaknya. Dengan santainya mereka membela diri
"Kita kan bilang dedek tidak bergerak dan merem mi, memang benar kan" ucap Azam
"Iya mi, kita gak ngeprank loh" sambar Sasa
"Dedek cuma sedang tidur mi" timpal Emyr
Diana menggelengkan kepalanya mengingat hal itu. Tidak berbeda dengan Anjar, dia pun pernah kena prank oleh Sasa, yang saat itu sedang asik bermain di kolam ikan milik sang kakek, Anjar lari terbirit-birit saat mendengar teriakan putrinya yang minta tolong, seperti akan tenggelam di kolam dengan kedalaman sepaha orang dewasa, Anjar lalu turun ke kolam dan meraih tubuh putri kecilnya, betapa terkejutnya saat Sasa dengan santainya, yey papi kena prank.
Kenakalan dan kejahilan anak-anaknya membuat Diana dan Anjar selalu berhati-hati Dalam memberikan nasehat.
Namun, di balik kenakalannya, mereka selalu membuat orang tuanya bangga. Dengan kejuaraan yang sering mereka raih di sekolah. Dan belum pernah membuat orang tuanya malu.
Mereka adalah anak-anak baik kebanggan Diana dan Anjar.
Malam harinya, Anjar berniat membawa Diana menikmati kota malam di Semarang, tentu ke empat anak mereka di jaga oleh akbar, pak Ilham dan bu Retno
"Loh kenapa berhenti pi, katanya cuma keliling kota Semarang saja" ucap Diana
Anjar segera melepas sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil, berjalan mengitari depan mobil, dan membukakan pintu untuk Diana
"Maukah kamu pacaran denganku di taman ini mom?" tanya Anjar seraya mengulurkan tangannya
Diana mengerutkan dahinya "Pacaran?" tanyanya sambil melepas sabuk pengamannya lalu menerima uluran tangan Anjar
"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu" jawab Anjar lalu menarik dan mencium tangan Diana
"Tapi jangan lama-lama ya pi"
Anjar menganggukan kepala, dan menggandeng tangan Diana berjalan menuju sebuah bangku panjang.
"Kita duduk di sini sebentar sayang" ucap Anjar lalu berbaring mendaratkan kepala di pangkuan Diana sambil tersenyum dan memejamkan matanya
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Diana seraya mengusap kepala Anjar
"Aku ingat dulu, hidupku sangat datar sayang, yang ku tahu hanya bekerja dan merawat Azam dan Emyr, aku lupa bagaimana caranya tersenyum apalagi bahagia"
"Apa itu karena mba Puspa meninggalkanmu?" tanya Diana menundukan kepala menatap suaminya
"Entahlah sayang, tapi semenjak seorang wanita tiba-tiba menjadi istriku, dalam waktu kurang dari seminggu, dia selalu membuatku tersenyum saat dia mengenakan pakaian tipisnya dan berusaha menggodaku"
"Itu pasti aku sayang?"
"Anehnya sejak saat itu aku selalu ingin pulang cepat dari kantor, hanya ingin melihat wajahmu, aku ingin sekali mengungkapkan cinta padamu, tapi gengsiku lebih tinggi saat itu.
"Bahkan aku merasa ketakutan saat kau pergi meninggalkanku, dan kini lebih takut lagi jika aku tidak bertemu denganmu" Anjar mencium tangan Diana lalu meletakan di dadanya
"Aku juga memiliki ketakutan yang sama, saat aku hidup hanya berdua dengan Sasa waktu itu"
sahut Diana dengan tetesan air mata yang jatuh tepat di pipi Anjar "Aku sangat takut saat Sasa bertanya tentang papinya"
"Kamu menangis sayang?"
"Begitulah saat aku merasa ketakutan, aku hanya bisa meneteskan air mata"
"Sayang, aku pikir wanita sekuat kamu selalu bisa menutupi ketakutanmu dengan baik, ternyata kamu serapuh ini?" tanya Anjar "Di, berjanjilah untuk selalu berpegangan tangan seperti ini bersamaku"
Mereka hanya diam dan saling menatap, dengan genggaman yang sangat erat. Hingga Diana tak mampu lagi menatap bola mata Anjar. Diana membungkuk lalu mengecup kening suaminya lama, Anjar memejamkan mata menikmati sentuhan dari sang istri.
"Aku akan selalu bersamamu dalam suka dan dukamu" bisik Diana setelah melepaskan kecupannya "Ayo kita pulang, aku merindukan anak-anak" ucap Diana
Anjar mengusap pipi Diana yanga basah karena air mata.
Mereka berjalan bergandengan tangan menuju mobil.
Sesampainya di rumah, Anjar dan Diana mendapati anak mereka sudah tidur, lalu Anjar mencium kening anak-anaknya satu persatu, hal yang sama juga di lakukan oleh Diana
"Ayo kita tidur" ajak Anjar
Mereka sama-sama melangkahkan kakinya menuju kamar milik Puspa
End
***Terimakasih yang sudah berkenan membacanya, sebuah penghargaan tertinggi bagiku jika karyaku bisa di baca oleh readers. mohon maaf jika bahasanya terlalu vulgar, dan banyak typo, serta alur cerita yang receh
Thankyou πππ***
__ADS_1
setelah baca Diana, silahkan baca ini ya.. kisah Khansaπππ