
POV DIANA
Sesampainya di rumah mba Siska, ku hampiri dua anak lelakiku yang berada di dekat kakek neneknya, aku tak berani menatap ayah.
"Kalian sudah sampai disini?" tanya ayah
"Kalau belum sampai, ayah tidak mungkin melihat kami berdiri di sini"
Jawaban mas Anjar sangat tidak sopan. Masih berani dia menampakan wajahnya di hadapan ayah, padahal aku ingin segera kabur dari sini.
"Memangnya sudah tuntas urusannya?"
"Sudah" jawab mas Anjar sengit
Sesaat kemudian ku lihat mas Anjar meraih ponsel di sakunya, seperti ada telpon, dia pergi untuk mengangkatnya
"Memangnya dari siapa harus menjauh?"
"Terserah, besok akan ku tanyakan semuanya, akan ku keluarkan segala carut marut di hatiku"
Akan seperti apa reaksimu mas"
"Ayah, bun aku berangkat dulu ya, sayang, mami berangkat dulu ya, besok mami temanin main"
Kulajukan mobilku setelah berpamitan pada semua orang, kecuali suamiku.
Menepikan mobil ke area tempat parkir, saat menutup pintu mobil, terdengar bunyi ponsel Dari mas Anjar
"Hallo"
"Kenapa tidak menungguku?"
"Maaf sudah waktunya berangkat"
"Apa sudah sampai?"
"Baru saja sampai"
"Ya sudah hati-hati, ingat, pembicaraan kita belum selesai, urusan kita masih belum tuntas, kamu hutang penjelasan padaku"
"Penjelasan apa mas?" ucapku seraya berjalan menyusuri lorong rumah sakit
"Penjelasan kenapa kamu berbohong"
"Tapi mas tahu dari mana tentang jadwal malamku"
__ADS_1
"Itu tidak penting"
"Ya sudah mas, aku kerja dulu"
Hening, namun masih tersambung
"Aku tutup dulu ya mas, Assalamualaikum"
Sambungan ku putus secara sepihak, entahlah sedikit ada rasa bahagia, tapi juga ada rasa cemas. Teka-teki wanita taman kota masih belum terpecahkan.
Kalau memang mas Anjar bisa menjelaskan wanita itu bahwa dia bukan siapa-siapa, hanya teman misalnya, akan aku cabut gugatan ceraiku, aku akan terima dia.
Dering ponsel lagi-lagi mengagetkanku
Bella calling...
"Hallo bel"
"Diana" teriaknya "Saat ini aku di jakarta, aku merindukanmu Di"
"Kamu serius di jakarta?"
"Dua rius, ayo kita ketemu"
"Sekarang kamu ada di mana?"
"Ok Bell, aku ada pasien darurat, nanti kita sambung lagi, bye"
Aku berlari menuju ruang ICU, Awalnya aku deg-degan dan panik jika ada pasien darurat seperti ini, tapi karena sudah terbiasa, perlahan kepanikan hilang dengan sendirinya. Sudah menjadi makananku, tidak bisa menyelamatkan nyawa seseorang, pun tidak sedikit juga pasien yang aku selamatkan.
Setiap pekerjaan memiliki resiko masing-masing, aku akan tidak bisa tidur selama beberapa hari, jika pasien yang ku tangani tidak selamat.
"Maaf kami tidak bisa menyelamatkannya, pasien sudah meninggal saat di perjalanan menuju kemari" ucapku berat
Tangisan dari keluarga pun pecah
...🍁🍁🍁🍁...
Keesokan harinya, aku berniat mengunjungi hotel Gemilang untuk menemui sahabatku,
Sebelumnya, aku sudah menghubungi bunda kalau akan pulang sedikit terlambat.
Tepat pukul delapan aku meninggalkan area rumah sakit menuju hotel Gimilang. Jalanan sedikit macet, mungkin karena masih pagi
"Tahu begini tadi pulang dulu, putar balik juga tidak mungkin"
__ADS_1
Setelah hampir dua jam perjalanan ahirnya sampai juga di tujuan
"Bell aku di parkiran hotel, ucapku melalui sambungan telfon
"Aku jemput ke bawah Di?"
"Ok"
Saat sedang menunggu bella, lagi-lagi aku menyaksikan pemandangan yang membuatku sesak napas
"Kurang Ajar kamu mas, jadi ini yang katanya kamu meeting, karena sudah ku tolak tadi malam, kamu melampiaskan pada wanita taman kota.
Tadi malam kamu bersikap sangat manis padaku, tapi kamu menginap dengan wanita lain di hotel, apa kamu sering melakukannya, saat aku tugas malam?
Aku ingin sekali lari menghampirinya, tapi seolah kakiku mendadak lumpuh.
Disaat aku akan mencabut pengajuan ceraiku, Tuhan menunjukan kebenaran. fix Mas Anjar bukan yang terbaik untukku.
^^^"Aku ingin bercerai dengan adikmu bang"^^^
Send
Pesan ku kirim pada bang Rafa. Aku tidak peduli apa reaksi keluarga mertuaku, aku juga tidak perlu khawatir dengan Azam dan Emyr, mereka punya papi, nenek, dan kakek, serta Abang Rafa dan mba Siska
^^^"Pak tolong urus perceraianku dengan mas Anjar, aku tidak akan menghadiri panggilan sidang, aku hanya ingin segera bercerai dengan suamiku"^^^
Send
Aku juga mengirim pesan ke pengacara yang sudah aku tunjuk
Sebuah notif pesan masuk dari bang Rafa
*Ba**ng Rafa*
"ada apa ini Di, kalau ada masalah di bicarakan dulu, tadi malam abang lihat kalian baik-baik saja, kenapa mendadak kamu ingin bercerai?"
Balasan dari bang Rafa hanya ku baca, tidak berniat membalasnya
Berkali-kali panggilan masuk dari bang Rafa, Setelah menghubungi Bella, ku matikan telfonnya.
"Lebih baik aku tidak pulang dulu, aku akan menginap di sini untuk sementara, sekalian menemani sahabatku, sambil menata hatiku kembali.
"*Aku bisa terima sikap dinginmu selama ini, tapi aku tidak bisa terima jika ka*mu mempermainkanku mas"
"Aku tidak peduli dengan janjiku terhadap anak-anakmu, kau mematahkan hatiku"
__ADS_1
BERSAMBUNG