
Karena pesawat mengalami delay, Anjar tiba di Singapura tidak sesuai jadwal. Diana sempat khawatir karena belum ada kabar dari suaminya. Pikirannya melayang kemana-mana, berkali-kali menelpon Bella, pun tetap saja belum sampai, Namun kekhawatirannya tidak berlangsung lama. Saat ponsel berbunyi, ia bergegas membuka, hatinya lega sesaat setelah membaca pesan WA dari sang suami, mengabarkan bahwa dia baru saja sampai karena pesawat sempat delay hingga beberapa jam
Saat tiba di singapura, sudah ada David yang menunggu di pintu keluar area bandara.
Anjar dan Davit bertemu untuk pertama kalinya, mereka saling melambaikan tanganya.
"Saya Anjar"
"Saya David, Mari papinya Sasa"
Mereka berjalan bersisian menuju mobil milik David.
Sesampainya di apartemen, Anjar di sambut oleh Bella dan mama Sarah, mamanya Bella.
"Ayo masuk nak" ucap mama Sarah yang kebetulan sengaja berkunjung ke apartemen anaknya karena ingin bertemu Anjar.
"Terimakasih bu"
"Panggil mama saja biar akrab, seperti Diana yang sudah mama anggap anak, so kamu menantu mama" ujarnya seraya tersenyum
Bella mengajak Anjar untuk langsung menuju meja makan, karena sudah waktunya makan siang.
"Kok telat kak, kata Diana sampai sini diperkirakan jam 9"
"Pesawatnya delay Bell"
Selesai makan siang, Anjar di antar ke unit milik Diana oleh Bella.
"Kak ini apartemen milik Diana", ucap Bella seraya memutar sebuah kunci untuk membuka pintu.
"Dia tinggal di sini Bell"
"Iya kak", Ayo kak masuk"
Anjar mengitari pandangannya ke seluruh ruangan
"Kak kamar Diana yang itu, ucap Bella, menunjuk dengan jarinya, kakak istirahat saja disitu, sudah aku bereskan"
"Terimakasih Bell"
"Yang ini, kamar Sasa" Bella menunjuk kamar berpintu warna pink, yang letaknya persis di sebelah kamar Diana.
"Tapi pintunya di kunci kak"
Anjar menautkan dahinya "Memangnya kenapa Bell, kok kamar Sasa di kunci?"
"Entah lah kak, mungkin ada rahasia yang di sembunyikan di dalam sana" Bella berjalan ke arah jendela dan menyibakan korden berwarna coklat
"Rahasia?" Dia merahasiakan apa lagi Bell? tanya Anjar serius, berharap Bella mau memberitahunya
Lalu Bella mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.
"Ya sudah, kakak istirahat, nanti jam lima kita jemput Sasa, aku balik dulu"
"Makasih ya Bell"
"Sama-sama kak, kalau ada perlu, tekan unitku saja di gagang telpon yang menggantung di sebelah pintu itu" lagi-lagi Bella menunjuk dengan tangannya "Unitku 9 A"
Anjar mengangguk
Setelah Bella keluar dari unit milik Diana, Anjar berjalan ke arah kamar Sasa yang pintunya tertutup rapat.
Anjar berfikir keras, rasanya ingin sekali mendobrak pintu itu
__ADS_1
"Sebenarnya ada rahasia apa di sana?" Batin Anjar, berusaha memutar knop pintu. Karena tidak berhasil, Anjar melangkahkan kakinya menuju kamar Diana, memeriksa seluruh tempat, membuka lemari yang isinya sudah hampir kosong. Setelah puas melihat-lihat suasana kamar, Anjar merebahkan dirinya di kasur, terdapat aroma khas Diana ketika ia menempelkan bantal pada hidungnya.
"Ahh aku jadi merindukannya"
"Sudah sampai kan mas?" tanya Diana setelah mengucap salam melalui sambungan telpon
"Sudah, Sudah di rumahmu"
"Lagi apa sekarang?"
"Lagi bayangin kamu di kamarmu sambil rebahan, Aku jadi merindukanmu, I miss you so much Dianaku"
"Tidak usah menggombal, gombalamu sangat datar, aku tidak merasakan feelnya, ya sudah aku tutup, kamu istirahat saja"
"Tunggu Di"
"Ada apa mas, aku sibuk" jawab Diana
"Sibuk ngapain Di, kan sudah ada Atin, bi Sumi sama bunda"
"Ya sudah cepat katakan ada apa?"
"Kamu kok dingin sekali si"
"Dulu kamu dingin aku tidak protes loh mas?"
"Karena kamu tidak berani memprotesku waktu itu"
"Karena wajahmu menakutkan mas, katakan ada apa?"
"Apa yang harus ku katakan pada Sasa nanti?"
"Kamu itu direktur mas, masa hal begini kamu tidak bisa, kamu bisa katakan kalau kamu papinya, ayo ikut papi pulang, atau apalah"
"Tidak mau, Kamu usaha sendiri, assalamualaikum" Tut tut
"HHHH bahkan dia tidak menungguku menjawab salamnya"
Anjar tertidur setelah melaksanakan sholat Dzuhur
Baginya kamar Diana sangat nyaman, tidak butuh waktu lama, ia terlelap dalam tidur siangnya.
Ia terbangun saat ada suara Adzan di alarm ponselnya menggema, tepat di dekat telinganya. Ia segera bangun untuk melaksanakan sholat Asar.
Menuju kamar mandi, ada sebuah sikat gigi mungil nan lucu milik Sasa
Anjar mengulum senyum memutar-mutar benda milik putrinya
"Tidak menyangka, aku punya seorang putri, tidak tahu kapan hamilnya, Ngidamnya apa, kapan melahirkan, tahu-tahu sudah besar" Gumam Anjar dengan gelengan kepalanya
"Maaf Di, kamu pasti menderita waktu itu,melahirkan tanpa di temani suami, begadang mengurus anak sendirian, kamu juga harus bekerja"
"Kamu memang istri yang kuat Di, ternyata kedua pilihan ibuku memang tepat"
...--------------------...
Waktunya jemput Sasa ke sekolah, Anjar sudah bersiap sedari tadi, dia sedang menunggu Bella memencet Bell.
Dada Anjar semakin bergetar, bagaimana tidak, ia akan bertemu putri kandungnya, yang baru pertama kali ia temui. Satu hal yang mengganggu pikirnannya saat ini, adalah ketika Sasa menganggapnya orang asing atau bahkan culik yang menyamar jadi papinya. Tapi Dia sudah mempersiapkan diri, jika nanti Sasa akan sulit di dekati.
Bell berbunyi, Anjar segera membukakan pintunya.
"Kak, sudah siap jemput Sasa?"tanya Bella
__ADS_1
"Sudah"
"Kalau begitu, Ayo kita berangkat"
Anjar mengikuti langkah Diana mengekor di belakangnya
"Gimana perasaannya kak, setelah bertemu Diana?" tanya Bella saat sedang menunggu lift
"Senang Bell"
Pintu lift terbuka, mereka segera masuk, tangan Bella memencet tombol no 1
"Dia cinta banget sama kamu kak, Dia sampai menolak beberapa pria yang ingin menikahinya"
Obrolan berlanjut di dalam lift
"Aku juga sangat mencintainya Bell"
"Aku percaya kak, kata Diana sampai kakak mengulur waktu supaya hakim tidak mengetuk palunya"
ting suara lift menandakan sudah berada di lantai dasar
"Ayo kak"
"Dia cerita semua ya Bell?"
"Di antara kita tidak ada yang di sembunyikan kak, ayo kak masuk mobil"
Sesampainya di sekolah Sasa, dada Anjar semakin tidak karuan, dia seperti tidak sanggup jika Sasa tidak mangakuinya sebagai papinya.
Dia ingin sekali menelpon istrinya, tapi percuma, pasti akan menyuruhnya usaha sendiri.
Tak lama kemudian dua bocah kecil laki-laki dan perempuan, berlari menuju ke arahnya, mata Anjar fokus pada gadis kecil dengan rambut di kepang dua, menggendong tas, raut wajahnya terlihat sangat bahagia.
Semakin dekat, binar wajahnya semakin menampakan kemiripan di antara mereka, mata sipit, hidung mancung, dan bibir tipis, tidak di ragukan lagi, dia memang anak kandung dari Anjar Dhaniswara.
Saat sudah tepat di hadapannya, Sasa tidak menampakan raut muka terkejut, bingung apalagi takut
"Papiiiii" Sasa menghambur ke pelukan Anjar
"Papi I muss you papi, I love you my beloved papi" ucapan Sasa dengan senyum riangnya
Anjar tidak bisa bergeming, dia memindai wajah Bella yang sedang tersenyum penuh haru. Berbeda dengan Anjar dia menampakan mimik bingung di wajahnya, anak yang belum pernah ia temui justru sangat merindukanya, dan malah langsung memeluknya
Sasa terus menggandeng tangan papinya seolah tidak ingin melepaskannya. Saat sampai di depan unit mereka, Bella menyerahkan kunci kamar milik Sasa.
"Kak, ini kunci kamar Sasa, kakak boleh membukanya, di sana sudah ada dua koper satu milik Diana, dan satunya milik Sasa, semua sudah aku siapkan, kakak tinggal membawanya besok"
Anjar menerima kunci itu
"Baik Bell, terimakasih banyak"
"Tidak perlu berterimakasih kak, aku dan Diana sudah seperti saudara, kami sudah terbiasa saling membantu, oh iya, nanti kakak tolong mandiin Sasa, Bajunya sudah aku siapkan di atas kasur Sasa, nanti kalau aku sudah selesai masak, kita makan malam bersama di apartemenku"
"Aku tinggal dulu ya kak, selamat membuka kejutan rahasianya" ucap Bella tersenyum
Anjar segera memasuki hunian milik istrinya, ia segera membuka pintu kamar milik Sasa,
Betapa terkejutnya Anjar saat melihat poto dirinya tertempel di dinding, bukan hanya satu tapi banyak, bahkan poto Azam dan Emyr, ayah dan bunda, serta Rafa, Siska dan Aurell pun ikut memenuhi dinding.
"Rahasianya luar biasa sayang, aku tidak sabar ingin memelukmu Diana" ucap Anjar seraya menggendong Sasa
"Kali ini, kamu tidak akan pernah aku lepaskan Di, sampai kapanpun kau akan berada dalam dekapanku"
__ADS_1
BERSAMBUNG