
Waktu terus bejalan maju, dalam kehidupan ada kalanya seseorang berada di atas, ada kalanya berada di bawah.
Diana mendapati suaminya berada di balkon sedang menikmati sebatang rokok, dia sedang berfikir bahwa apa yang terjadi pada Emyr sekarang adalah hasil dari kesalahannya di masa lalu. Andai dia tidak terlambat menyadari perasaannya terhadap Diana, melihat sisi lain dari sorot mata Diana, pasti mereka tidak akan melalui ini.
"Puspa maafkan aku, sudah membuat Emyr seperti ini, gumam Anjar lalu memainkan asap rokok menjadi gelembung-gelembung unik. "Aku sudah dapat wanita yang begitu tulus menyayangi anak kita, tapi aku menyakitinya, jika kau masih hidup, kau pasti akan sangat marah, kalian wanita yang berbeda, tapi bagiku kalian sama-sama hebat, kau mengorbankan nyawamu untuk dua bayi sekaligus, dan Dia merawatnya dengan baik, mengorbankan waktu dan karirnya untuk kesembuhan Emyr"
Tidak disadari bahwa Diana sudah berada di belakang Anjar, dan mendengar gumamannya. Diana melangkah mendekatinya, memeluknya dari belakang, mencium punggung suaminya, meresapi aroma maskulin yang melekat pada tubuh sang suami. Anjar terlonjak kaget, dia melirik tangan yang melingkar di perutnya, tangan lembut yang tak pernah mengeluh walau merawat anak yang bukan darah dagingnya.
Anjar segera membuang puntung rokok dan menginjaknya, lalu mengusap punggung tangan istrinya.
"Kenapa belum tidur?"tanya Diana masih dengan posisi memeluk suaminya "Apa papi sedang merindukan mba Puspa?"
Anjar membalikan badannya, menangkup wajah Diana "maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Anjar
Diana tersenyum, wajahnya sama sekali tidak menunjukan gurat kecemburuan "Tidak apa-apa, sampai sekarang mami pun masih merindukan orang tua yang sudah meninggal. Mba Puspa Adalah wanita yang tidak pantas untuk di lupakan, karena dia sudah melahirkan Azam dan Emyr. Jangan pernah melupakannya, apalagi membuat Azam dan Emyr tidak mengetahui tentangnya"
"Kau tahu, beberapa wanita di jodohkan denganku untuk menjadi mami sambungnya, tapi saat aku menceritakan tentang Puspa, mereka marah"
Diana mengernyitkan dahinya "Kenapa?" tanya Diana
"Mereka bilang, orang meninggal tidak perlu di ingat-ingat, apalagi di rindukan, padahal waktu itu papi baru menyebut nama Puspa, itu sebabnya wanita yang di kenalkan oleh bunda papi tolak. Berbeda denganmu, padahal jelas sekali di wallpaper ponsel selalu papi pasang foto Puspa, dan papi yakin waktu itu mami tahu, tapi tidak sedikitpun mami menegur papi, dari situ papi mulai menyadari perasaan papi terhadap mami, saat itu papi mencintai mami"
"Kapan itu?"
"Waktu mami berjanji pada anak-anak" malam saat mami pulang dalam kondisi basah kuyup. Waktu itu papi ingin sekali mendiskusikannya, tapi mami selalu menghindar, dan malah minta jadwal malam setiap hari"
"Terus papi tahu dari mana tentang jadwalku itu?"
Tik... Anjar menjentikan jari di kening Diana
"Tentu saja papi mengeluhkan jadwalmu pada bang Rafa, papi semakin panik, saat abang bilang kalau mami mau menyerah, makannya malam itu papi ngajak mami bicara, saat pembicaraan belum selesai, dan akan di lanjutkan keesokan harinya, malah mami keburu kabur"
Kalimat terahir Anjar membuat Diana mengerucutkan bibirnya
"Sudah jangan di bahas, aku semakin malu dan sakit mendengarnya"
__ADS_1
"Kenapa?' tanya Anjar
"Aku begitu kekanak-kanakan waktu itu, main kabur tanpa membicarakannya terlebih dulu, maafkan aku" ucap Diana
"Ssttttt, jangan lagi meminta maaf dan menyalahkan dirimu sendiri, papi merasa tersindir, sudah jelas papi yang salah"
"Mami juga salah pi"
"Baiklah, kita sama-sama bersalah" pungkas Anjar, "Berjanjilah akan selalu membicarakan apa yang mengganggu pikiranmu pada suamimu"
Diana mengangguk "Sudah malam lebih baik kita tidur, besok papi harus jemput Abang dan Sasa ke bandara"
"Oya sayang, besok mereka akan naik pesawat yang di bawa oleh suaminya Cantika, beserta Cantika, bunda bilang Cantika mau mampir kesini, ingin bertemu denganmu"
"Boleh sayang" jawab Diana
Anjar dan Diana masuk ke dalam kamar, Anjar menggeser pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon rumah, tidak lupa menutup tirainya
"Sayang tidur dulu papi ke kamar Emyr sebentar"
"Okey sayang"
🌺
🌺
Pagi hari Anjar sudah mendapati wajah Emyr yang sedang tersenyum senang sedang terlibat pembicaraan dengan maminya, walaupun Emyr masih terbata-bata dalam megucapkan kata demi kata, namun Diana tetap sabar mendengarnya.
"Lagi gibahin siapa pagi-pagi?" tanya Anjar mencium pucuk kepala Emyr lalu mengusapnya lembut
"Kata ma mi, papi mau jemput abang"
"Iya sayang apa bang Emyr mau ikut"
"Mau pi"
__ADS_1
"Coba tanya mami?"
"Mami boleh ya?" tanya Emyr yang di anggukan oleh Diana
"Ok, papi mandi dulu, setelah itu sarapan, kita langsung go"
*
*
Changi International airport, tepatnya pukul 10:50, Anjar medorong kursi roda yang di duduki Emyr, menuju gate tempat kedatangan penumpang pesawat. Duduk di sebuah bangku seraya megobrol sedikit dengan putra kesayangannya. Hampir tigapuluh menit mereka menunggu, terdengar suara operator memberitahukan bahwa pesawat yang ditumpangi oleh orangtua beserta kedua anaknya telah mendarat sempurna.
"Sayang nenek sudah di sini, sebentar lagi kita ketemu"
Emyr tersenyum senang, bertahun-tahun tidak memanggil kakek dan neneknya. Kali ini dia ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Beberapa menit kemudian, bola mata Anjar menangkap sosok yang sudah membesarkan dan mendidiknya selama ini, bundanya menggandeng tangan cucunya di sebelah kiri ada Azam, dan sebelah kanan Sasa yang tampak sedang mengoceh riang, sang ayah menyeret 1 koper, berjalan seraya menoleh ke kanan dan ke kiri, mungkin sedang mencari sosok putra ke duanya.
"Ayah bunda" panggil Anjar sambil melambaikan tanganya.
Laki-laki dan wanita paruh baya membalas dengan lambaian tangan saat mendapati sosok anaknya
Anjar mencium punggung tangan kedua orang tua dan memeluknya. Lalu beralih mengulurkan tangan pada Azam dan Sasa. mencium pucuk kepalanya, Merentangkan tangan saat berada di hadapannya, memeluk erat ke dua anaknya.
Di sisi lain ada bunda masih menciumi cucunya yang duduk di kursi roda. betapa bahagianya saat sekian lama cucunya tak pernah menyebut kakek ataupun nenek, kali ini melihat cucunya sudah bicara kembali bahkan tersenyum, tidak lagi menampakan sorotan mata kosong.
"Apa Diana tidak ikut?" tanya Ayah
"Dia sedang menyiapkan makan siang di rumah yah"
"Kita tunggu Cantika ya, dia dan suaminya mau ikut mampir" sela bunda yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Anjar.
Sesampainya di apartemen, terlihat Sasa tidur di pangkuan sang kakek, Anjar segera mengambil alih dan menggendong Sasa, menyandarkan kepala di dadanya, menepuk punggung putri satu-satunya yang masih tertidur pulas.
Ayah yang mendorong kursi roda Emyr, bunda menggandeng tangan Azam, dan Cantika yang membantu membawakan koper milik ayah dan bunda. Mereka berjalan menuju unit yang di tempati oleh Anjar dan Diana dengan sedikit obrolan serta tawa riang.
__ADS_1
BERSAMBUNG